
Waktu segera berlalu, setelah pertengkaran malam itu, Al dan Caca saling diam. Tak seorangpun yang berusaha mencairkan suasana. baik Al maupun Caca merasa enggan dan malas untuk memulai percakapan.
Caca sudah mengepak pakaiannya dalam koper. Malam ini dia akan terbang ke Indonesia, karena kakaknya akan melangsungkan resepsi pernikahan.
Sebenarnya gadis itu ingin mengatakan kepada sang suami, tapi Caca masih sangat kesal dengan Al. Hinaan yang di ucapkan Al padanya masih sangat membekas dan begitu melukai hatinya.
Al masuk ke dalam kamar, dia melirik ke arah Isterinya yang sedang berkemas. "Kita berangkat sore ini, jangan lupa siapkan pakaian ku."
Lalu dia melangkah keluar tanpa menunggu jawaban atau bantahan dari Caca.
"Dasar..." gumam Caca pelan. Namun dia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya.
Caca meraih koper Al dan membukanya, dia juga memasukkan beberapa baju Al kedalam. setelah semuanya siap, Caca menyeret koper tersebut dan meletakkan nya di samping koper miliknya.
Sejenak dia tertegun dan teringat, gara gara koper tersebut dia dan Al kembali bertemu, mungkin ini memang takdir dan jodoh yang dikirim Allah untukku, tapi....kenapa dia dingin dan kasar!!! batin Caca.
Gadis itu melangkah keluar apartemen, berniat mencari sesuatu sebagai oleh oleh. Diruang tamu dia kembali tertegun melihat banyaknya tas belanjaan tergeletak disana.
Caca mendekat dan melihat isinya, ada tas, dasi, parfum dan Jam tangan. Caca meletakkan nya kembali,
"Itu hadiah pernikahan kakakmu, ada yang kurang?" tanyanya masih dengan nada datar.
Caca menoleh karena terkejut, "Tidak, terima kasih." jawabnya ragu.
__ADS_1
"Jangan GeEr, ini semua aku lakukan hanya untuk menjaga image ku di depan keluargamu bukan karena aku mencintaimu."
"Aku tahu, tetap saja terima kasih," jawab Caca tersenyum lebar.
Gadis itu begitu bahagia. Ternyata Om Gi perhatian juga, dan dia juga menyiapkan semua ini,
Caca senyum-senyum sendiri membuat Al merasa aneh dan meninggalkan nya begitu saja.
...****************...
Sore hari mereka berangkat, Al sudah menyiapkan semuanya, tiket dan segala persiapan kepulangan mereka.
Walau dia cuek tapi dia tetap suami yang bertanggung jawab terhadap istrinya. Aku bahagia, batin Caca.
Al menarik kopernya dan berjalan cepat, meninggalkan sang istri yang berjalan lambat dan kesusahan. Bagaimana tidak, dia harus menarik koper dan membawa beberapa tas lainnya.
"Siput!" ucap Al saat Caca tiba didepan taksi yang sudah menunggu. Sedangkan dirinya sudah duduk manis di dalam menunggu Caca.
Caca ingin membantah, Tapi kata-kata itu nyangkut di tenggorokan karena Al sudah lebih dulu menyela, "Naik atau aku tinggal." Caca segera masuk dan membanting pintu dengan kesalnya. Sengaja dia menunjukkan kekesalannya pada Al.
Tak ada bantahan dan makian keduanya diam, hingga mobil melaju.
Sepanjang perjalanan keduanya kembali diam, Caca yang masih kesal menutup rapat bibirnya.
__ADS_1
Taksi terus melaju, hingga sesuatu menyadarkan Caca ini bukan jalan menuju rumahnya.
Caca menatap Al dengan tatapan protes, "Om, ini bukan jalan menuju rumahku?"
"Memang"
"Lantas!!!"
"Apa kau lupa, aku suami mu dan istri harus ikut suaminya,"ucap Al mengejek. Tak lupa tangannya menyentil kening sang istri.
"Auw..." teriak Caca.
"Sejak kapan Om Gi menganggap aku istri!" bantahnya lagi.
"Aku mau pulang ke rumah ku Om, kalau Om. mau pulang ke rumah Om, terserah. Tapi... antarkan aku dulu."
Al menjadi kesal, apa susahnya gadis itu menurut tanpa banyak pertanyaan.
"Jika kau tidak bisa diam, aku akan menurunkan mu disini" ancamnya.
Ancaman Al tidak main main, dia menatap tajam kearah istrinya. Caca sedikit bergetar dan takut, takut Al benar benar menurunkan nya disini, ini sudah malam dan sunyi. Gadis itu memilih diam. Hingga mereka tiba di apartemen Al.
Lagi Caca terkejut, bukannya ke rumah mertuanya, Al justru membawanya ke apartemennya.
__ADS_1
"Turun!"
"Iya, iya... bukannya dibantuin, malah ngomel." balas Caca. Namun bukan Al namanya jika dia peduli, pria itu terus melangkah meninggalkan Caca.