
Semenjak mendapatkan kabar kehamilan sang istri, Al semakin protektif terhadap Caca.
Gadis itu tidak boleh melakukan apapun, tidak boleh capek dan tidak boleh kemana-mana.
Tentu saja hal itu membuat sang istri kesal, dia akan diantar jemput oleh sopir, dan jika setelah mata kuliah berakhir, Al akan menghubunginya dan memastikan dirinya pulang ke rumah.
Siang ini Caca baru saja keluar kelas, gadis itu berjalan menuju parkiran sebelum si mamang datang menjemputnya. Tentu saja itu semua atas perintah dari bos nya yaitu Al.
"Ca, tunggu." panggil Ririn yang berlari mengejar nya.
Caca menoleh dan berbalik, "Ada apa Rin?"
"Ngafe yuk? dah lama kita nggak hang out, aku lagi mau curhat nih!"
"Maaf aku nggak bisa." sahut Caca dengan wajah sedih.
"Lo kenapa sih Ca, belakang gue lihat Lo kayak ngindar gitu sama gue, apa karena gue udah punya pacar? atau karena Lo emang nggak mau lagi temenan sama gue."
"Nggak gitu Rin?" jawab Caca tak enak hati, dia bingung menjalaskan masalah ini kepadamu sahabatnya itu.
"Nggak gitu gimana? di bioskop lo milih ninggalin gue, ya kan?"
"Tunggu Rin,. sekarang Lo mau kemana?"
"Hang out lah, bosen."
"Kerumah gue aja gimana?"
"Males ah ntar ada Om jutek."
"Ya enggak lah, mas Al kan lagi di kantor mau nggak?"
Ririn tampak berpikir, "Ya udah deh, tapi beneran om jutek Lo nggak di rumah?"
__ADS_1
"Yang Lo katain itu suami gue, tau nggak?"
"Iya, iya.. dulu lo kan juga sering bilang gitu."
"Itu dulu Rin?"
"Ok, sorry beb, btw Lo udah hamil belum?"
"Kenapa?"
"Enggak, kok gue ngerasa Lo sekarang beda, pucat kayak orang lagi hamil gitu."
"Masak si!!.Perasaan gue juga dandan kok?"
"Ya udah kalau nggak percaya,"
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, dan mamang langsung melajukan nya pulang ke rumah sesuai dengan perintah sang majikan.
"Yang mana?"
"Yang tadi, Lo lagi hamil?"
"Iya, dan sudah satu bulan."
"Yeay...kok Lo nggak bilang gue sih ca?"
"Kok Lo senang banget!"
"Ya iyalah, bentar lagi lo udah jadi ibu, nggak sabar gue mau lihat Lo yang kerepotan mengurus anak dan bapaknya."
"Oh jadi Lo senang kalau gue susag?"
"Ya enggak gitu, Ca tapi suer gue bahagia, dan gue berharap agar gue segera hamil?"
__ADS_1
"Tunggu, lo kan belum nikah?"
Ririn tertawa, "Gue becanda kali, ya enggak lah," sahut gadis itu mengelak. Padahal dia memang tengah keceplosan.
"Ya udah deh Ca, gue turun di depan aja ya, gue baru ingat mau beli sesuatu untuk Ayang, gue duluan ya!"
"Loh nggak jadi?"
"Lain kali aja, maaf ya.. bye." Ririn turun di depan lampu merah.
Namun Caca tak ambil pusing, gadis itu justru tertegun melihat buah mangga yang menggantung di depan sebuah kantor. Buahnya sangat lebat dan juga sudah hampir matang.
Melihat buah mangga itu, air liur Caca menetes, muncul keinginan yang sangat kuat di dalam dirinya untuk mencicipi mangga muda yang sangat enak itu.
Mobil kembali melaju, dan Caca coba fokus melihat jalanan, namun tak mengubah keinginannya merasakan manisnya mangga muda itu.
Caca mengambil ponslwnya dan menghubungi sang suami.
"Assalamualaikum Om,"
"Waalaikum salam, sayang,"
"Om aku pengen mangga,"
"Ya udah beli aja, kenapa kamu bingung, atau kalau nggak suruh aja mamang yang beli nanti."
"Bukan, aku nggak mau yang beli."
"Nggak mau yang beli? jadi mangga darimana? dan siapa yang punya.
"Aku maunya kamu yang ambilin mangganya,"
"Hah!"
__ADS_1