
Pagi pagi sekali Al sudah bangun, tak lupa dia melaksanakan kewajibannya. Sedangkan sang istri masih terlelap.
Al berjalan mendekat dan membangunkan Caca, tangannya menggoyang tubuh mungil berbalut selimut tebal itu. Jangan bayangkan jika Al akan bersikap manis dan membangunkan Caca dengan lembut, justru dia membuat sang gadis terbangun secara tiba-tiba.
"Cil, bangun!" Al berteriak.
"Cil.. bangun!" ulangnya beberapa kali namun sang gadis masih saja terlelap.
"Apaan sih Ma, Caca masih ngantuk."
Al tak kehabisan akal, senyum devil muncul di kepalanya, Al teringat jika adiknya mika takut pada kecoa, mungkin ini bisa jadi senjata andalan untuk mengerjai Caca.
"Kecoa..." bisik Al kuat tepat di telinga Caca.
Gadis itu sontak terbangun dan melompat, dia memeluk erat Al tanpa sadar. "Mana kecoa nya, aaaa aku takut kecoa.. mana.. Aaa usir Om.." teriak Caca sekuat-kuatnya.
Telinga Al sampai berdenging saking kuatnya Caca berteriak ditambah posisi mereka yang begitu dekat.
"Berisik!" bentak Al tak kalah kuat.
"Mana kecoa nya Om, usir aku takut," gadis itu tanpa sadar memeluk tubuh atletis sang suami.
"Tidak ada, sudah pergi. Sekarang lepas," ucap Al ketus
"Om, aku takut..." gadis itu masih tetap memeluk tubuh Al tanpa berniat melepaskannya walaupun Al membentaknya tadi.
"Lepas, tidak ada kecoa."
"Om, jangan bohong Om, aku takut beneran," jawab gadis gugup jelas terlihat dia ketakutan, hingga tetap kuekeh memeluk Al.
Al mencoba melepaskan tangannya, kedua netra mereka bertemu, sejenak keduanya tertegun, Al merasakan sesuatu yang aneh saat Caca memeluknya, ada getaran dan debaran halus menelusup kedalam dadanya, namun dengan cepat dia menepis rasa itu.
"Mana kecoa nya, awas...aku takut Om" Ucap Caca mengusir rasa gugupnya , gadis itu segera menunduk dan mencari cari kecoa yang di katakan Al.
"Turun!" bentak Al tegas.
"Nggak mau Om, kecoa nya masih ada nggak?" bantah Caca masih memeluk erat Al dan tubuhnya menempel mesra.
"Kecoa nya sudah tidak ada, kamu modus ya mau nempel sama aku!" ucap Al dingin dan ketus.
Caca melihat dirinya sendiri, dia tersadar dan melepaskan pelukannya, namun tangannya masih memeluk erat lengan Al. Bahkan tanpa dia sadari tubuhnya menempel rapat dibelakang Al "Om nggak bohong kan, benarkan kecoa nya dah pergi?"
"Mana ada kecoa di apartemen mewah seperti ini!" ucap Al, tangannya melepaskan tangan Caca yang bergelanyut manja di lengannya.
__ADS_1
"Jadi Om Gi membohongiku!" teriak Caca penuh emosi. Gadis itu berkacak pinggang dengan mata melotot tajam. Siap menerkam sang suami.
Al hanya mengangkat bahu sebagai jawaban dan melangkah keluar kamar tanpa rasa berdosa.
Caca tidak terima, dia merasa telah dipermainkan, dengan penuh amarah dia menyusul Al. Tangannya menarik lengan Al agar berbalik menghadapnya, Caca ingin membuat perhitungan, namun sialnya dia justru terpeleset dan menarik lengan Al hingga Al ikut tertarik dan mereka jatuh dengan posisi Caca berada di bawah Al.
Kini jarak keduanya begitu dekat, tubuhnya menempel rapat dan wajah mereka bertemu, naas bibir keduanya bertemu.
Caca membulatkan matanya tak percaya, dia terdiam tubuhnya membeku dan menegang, begitu juga dengan Al yang sama terkejut dengan sang istri.
Al tidak menyangka, karena semuanya terjadi dengan cepat dan terjadi begitu saja. Tubuhnya juga terpaku dengan mata membulat sempurna.
Al lebih dulu menguasai dirinya, dengan berdehem dia menyadarkan Caca. "Kau sengaja menggodaku!" ucapnya dingin.
"Trik baru?" tanyanya lagi dengan senyum yang paling di benci Caca.
Tubuhnya masih belum bergerak dari posisi intim mereka saat ini, hanya tangannya dia gunakan untuk menyangga tubuhnya agar tak terlalu menghimpit tubuh sang istri.
"A-Awas Om!" ucap Caca pelan.
"Aku tau kau sengaja menggoda ku, kan? atau kau ingin aku-"
"Tidak" potong Caca dengan wajah memerah menahan malu.
Di dalam kamar mandi, Caca memegang dadanya yang berdebar begitu keras, gadis itu benar benar syok dengan posisi intim keduanya, ini yang pertama kali untuknya.
Perlahan Caca mengusap bibirnya yang tak sengaja menempel pad bibir seksi Al.
Caca mengusapnya pelan sambil tersenyum bahagia, hatinya berbunga-bunga, terasa ribuan kupu kupu berterbangan di perutnya, Caca bahagia. Wajahnya merah merona, sungguh gadis itu merasa malu. Berulang kali dia mengusap bibirnya dan tersenyum.
Al bangkit dan segera mengambil pakaian yang akan dia pakai ke rumah mertuanya.
Al sudah mengabari orangtuanya dan mertuanya tadi malam saat mereka sampai.
Setelah bersiap Al menunggu Caca di ruang tamu.
Tak lama Caca keluar, dia juga sudah terlihat rapi. Kebaya dan batik senada dengan kemeja batik yang di pakai suaminya. Pakaian itu dikirim oleh mertuanya pagi tadi saat Caca sedang mandi.
Al kembali tertegun melihat penampilan istrinya, yang terlihat sangat cantik dengan dandanan sederhana, begitu juga rambutnya dia gulung dengan bagian depan di biarkan sedikit. Tak lupa jepit rambut menambah cantik riasannya.
Al masih terdiam saat Caca berjalan mendekat kearahnya. Gadis itu tersenyum remeh, "Apa Om baru sadar jika aku cantik" ucapnya melewati Al.
Senyum puas terlihat jelas diwajahnya, apa kamu baru sadar Om! ini baru awal dan aku akan membuatnya terpesona hingga kau tak lagi mengingat kekasihmu itu, batinnya
__ADS_1
Al tersadar, wajahnya merah antara kesal dan malu. Tanpa banyak bicara dia mengikuti Caca keluar. Mengunci pintu dan turun.
Semua kado yang dia bawa sudah di titipkan kepada kurir pagi tadi yang datang mengantar seragam dari mertuanya.
Mereka menggunakan mobil Al menuju kediaman orangtuanya. Wajah Caca tersenyum bahagia, sebentar lagi dia akan bertemu dengan kakak dan kakak iparnya yang menurutnya keren dan gokil.
Jika Akila bisa membuat manusia kutub seperti kak Rasya mencair, aku juga bisa menjinakkan macam kumbang di sampingku ini! Nanti aku akan minta tips pada kak Akila, hehehe..
kamu memang pintar Caca,!" batinnya tersenyum girang.
Berbeda dengan sang istri, Al justru merasa canggung, kejadian tadi pagi sungguh memalukan untuknya, bisa bisanya bibir mereka bertemu dan seperti terhipnotis dirinya justru diam dan terus memandang wajah Caca yang terkejut dan memerah.
Rasanya menyenangkan dan menggemaskan.
Gadis polos bahkan dia belum pernah berpacaran, apa informasi itu benar! tapi apa peduliku?
Ingat Al kamu sudah punya Cintya, batinnya mengingatkan.
Mobil berhenti di halaman rumah orang tua Caca, gadis itu melompat turun dengan riang gembira.. Bagiamana pun rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang.
"Mama.." gadis itu berteriak dan berlari memeluk mamanya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia melihat kebahagiaan di wajah putrinya.
Setelah ber say hello sejenak, Caca menanyakan keberadaan kakaknya dan juga kakak iparnya.
Gadis itu kembali berlari dan memeluk kakak kesayangannya. "Kakak" teriak Caca, membuat Rasya menoleh dan tersenyum lebar.
"Caca" Rasya membalas pelukan adiknya.
"Mana kakak ipar?" tanya Caca.
"Mana suami mu? kata Papa kau sudah menikah? mana pria kurang ajar itu!" tanya Rasya dengan sedikit geram
Caca menoleh kesamping, Al sudah berdiri tegak di sampingnya.
"Kak, dia tidak seperti itu, kami.." Caca menggantung kalimatnya percuma juga menjelaskan nya sekarang.
Dia menoleh ke belakang, Al berjalan kearahnya, dia tersenyum pada Rasya."Kak, kenalkan ini suamiku." tunjuk nya pada Al.
"Gibran, Gibran Al Habsi? Suami mu?" tanya Rasya tak percaya. Dia berulang kali menatap Caca dan juga Al.
Dengan penuh percaya diri Al mendekat, mengulurkan tangannya pada Rasya
"Ya, kenalkan aku Gibran. Apa kabar?"
__ADS_1