
Al membawa istrinya berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
"Kamu mau beli apa? tinggal pilih saja, sayang " ucap Al dengan nada lembut, seulas senyum terbit saat Caca menatap lembut matanya.
"Aku...! aku nggak mau beli apa-apa mas,"
"Kenapa? bukankah biasanya cewek itu sukanya belanja. Brli baju, tas, sepatu, pokoknya semua macam ragam aksesori."
"Iya, tapi aku nggak seribet itu mas, aku bukan cewek yang suka koleksi tas branded, ya walau aku juga punya satu atau dua lah gitu," ucapnya tersenyum.
"Lalu kamu mau nya apa?"
"Jalan-jalan aja," ucap Caca yang masih bergelayut manja.
Entah sebuah kebetulan atau memang sengaja, tapi kali ini mereka tak sengaja bertemu kembali dengan Reina.
"Loh Al ketemu lagi, jodoh ya!" ucapnya tersenyum dengan penuh percaya diri.
"Hai mbak," Caca lebih dulu menyapa sebelum suaminya menjawab pertanyaan Reina.
"Kebetulan banget ya mbak, bisa ketemu disini." ucapnya lagi terdengar basa-basi.
"Eh iya," jawabnya tergagap
"Mbak sendirian?" tanya Caca lagi yang sengaja tidak memberikan wanita itu kesempatan untuk bertanya atau mendebat nya lebih dulu.
"Eh.. iya.."
"Duh kasihan ya mbak, ya kan mas." ucapnya dengan manja dan sengaja menyandarkan kepalanya di lengan suaminya mesra.
__ADS_1
"Biasa aja" sahutnya kesal, Caca telah menghina dirinya
"Oh ya mas, aku mau tas yang tadi. Kita kesana yuk. Duluan ya mbak." ucapnya meninggalkan Reina yang menggenggam tangannya menahan kesal.
Al mempererat pelukan di pinggang Caca, "Kamu nakal ya,"
"Apaan? enggak ah, aku kan nggak ngapa-ngapaian."
"Kamu pikir mas nggak tau kamu sengaja kan di depan Reina. Dasar," ucap Al mencubit hidung Caca pelan.
"sesekali boleh ya mas. Habisnya dia ganjen banget ke kamu."
"Hust, nggak boleh berpikiran kayak gitu," Lagi Al mengingatkan istrinya agar tidak berpikiran macam-macam,
"Ini beneran mas, aku bisa lihat dari cara dia natap kamu, dia itu suka sama kamu." sahut Caca tak mau kalah.
"Serius?"
"Iya, udah kesana yuk, katanya tadi mau beli tas."
"Oh itu, aku bohong mas, aku cuma malas aja lama-lama dekat dia."
"Kamu ya..." lagi Al mencubit hidung Caca saking gemes nya dengan sikap dan ulah sang istri.
Gadis itu memilih beberapa model baju dan beberapa warna, kemudian memasukkan nya ke dalam keranjang. Yang sangat menarik perhatian Al, pakaian yang Caca pilih adalah pakaian anak kecil.
"Loh, untuk siapa?"
"Lucu kan?"
__ADS_1
"Iya, tapi untuk siapa?"
"keponakan aku, "
"Siapa?" tanya Al masih bingung,
"Narnia, siapa lagi. Tuh cakep kan cocok banget sama dia yang imut."
"Tambahkan yang ini " ucap Al menambahkan sebuah gaun lucu berwarna pink.
"Kamu suka anak-anak,"
"Tentu saja, dan aku tuh suka banget sama Narnia, andai saja dia dekat dengan kita dan aku culik aja dia tiap hari."
"Mika pasti tidak keberatan, tapi aku yang keberatan,,"
"Kenapa?" tanya Caca dengan tatapan bingung
"Iyalah, aku seharusnya yang dapat perhatian kamu, harus terbagi dengannya, " ucap Al pura-pura sedih. Caca tergelak,
"Ada-ada aja kamu mas, sama anak kecil pun kamu cemburu. Aneh." ucapnya sambil geleng kepala.
"Yuk," Al menarik lengan sang istri meneruskan berbelanja oleh-oleh.
Jam.lima.sore keduanya kembali ke hotel. Malam ini juga mereka akan kembali ke Jakarta.
Bulan madu mereka memang singkat namun cukup berkesan untuk kedua nya.
Bulan madu bukan di tentukan dari jauh dan dekatnya mereka pergi, mahal atau tidaknya harga hotel.yang mereka sewa tapi dari kebahagiaan yang di rasakan oleh keduanya, nyaman dan bahagia.
__ADS_1