
Beberapa menit kemudian Al melepaskan pagutan nya guna mengisi oksigen yang banyak pada paru-paru nya.
Dan tanpa di komando keduanya kembali larut dalam pusaran gairah dan cinta,
"Sayang, jangan disini." bisik Al setelah dia melepaskan tautannya kembali, sungguh gadis kecil ini sangat-sangat menggoda. Dan dia harus bisa menahan rasa itu yang dengan cepat menghantam dirinya, pusaran gairah yang sulit untuk dia kendalikan.
"Kenapa kau suka sekali memancingku, Ca!" maki Al mengusap wajahnya kasar, kemudian dia memasukkan tangannya ke air dan mencuci mukanya dengan air sungai yang terasa dingin.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu mas,"
"Tetap saja aku yang tersiksa, karena dia sudah berdiri tegak, akan sangat sulit untuk menidurkan nya kembali,"
"Hahahaha, maafin aku mas, tapi kan kamu nya sih yang agresif," gadis kecil itu tak mau di salahkan.
"Oh jadi aku yang salah, Ok!"
"Ok? kenapa Ok?" tanya Caca ikutan bingung.
"Terus aku harus bilang apa? Wow gitu!" ucap Al mengikuti gaya seorang artis.
"Ya enggak gitu juga kali mas, cuma aku heran aja kamu kok jadinya selalu kayak gitu, berarti kamu tuh suka ya yang begituan."
"Ca,jangan mulai," Al berusaha melepaskan dirinya.
"Aku itu pria normal Ca, apalagi saat ini kita berdua ini udah halal, jadi kita mau ngapa ngapain juga enggak masalah, kita bebas, lalu dimana salahnya?"
Pertanyaan Al begitu menohok, dan menusuk tepat di dadanya.
"Iya tapi mas?"
"Sudahlah ayo kita pulang," ucap Al mengakhiri perdebatan mereka berdua
"Mas...." pangggil gadis itu membuat tubuh Al kembali meremang.
__ADS_1
"Hmm.." jawab Al
"Mas,"
"Kok cuma Hmm...?" protes Caca, dia terpaksa mengikuti langkah lebar Al yang berjalan dengan cepat.
"Mas,"
"Udah buruan naik, kita harus pulang, masih ada yang harus kita selesaikan,"
"Loh memangnya kita lagi sedang dalam masalah ya mas, kok aku bisa nggak tahu, masalah apa mas,"
"Masalah rumit, urusan rumah tangga dan mas pusing dibuatnya!"
"Masalah apa sih?"
"Nanti juga tahu,"
"Mas!"
"Tunggu, aku-"
"Ca!"
"Oke," sahut gadis itu dengan senyum di paksakan
Kali inilah perjalanan pulang terasa berbeda, sangat berbeda. Caca dengan berani memeluk pinggang suaminya, dan menyandarkan kepalanya di belakang pundak sang suami.
Al tersemyum tipis, melihat tingkah lucu Caca, "Peluk Ca," Al menginterupsi dari depan.
Dengan senang hati Caca memeluk Al dari belakang.
Sepanjang perjalanan pulang Al dan Caca tak hentinya tersemyum, seperti pasangan pengantin baru.
__ADS_1
****
"Ca.."
"Ya mas," sahut Caca yang sedang asyik dengan buku komik di tangannya.
"Balik yuk,"
"Mau ngapain?"
"Lomba 17an,!" sahut Al Enteng
"Males ah, enakan disini
"Jadi bener nih enggak mau pulang, ya udah kita unboxing nya disini juga enggak masalah,"
"A...apa?" wajah Caca pucat seketika, dia nggak salah dengarkan, suaminya mau mengajaknya main pasaran untuk yang pertama kalinya.
'Apa aku memang harus menyerahkan diriku sekarang? tapi kenapa aku merasa ragu? aku yakin mas Al enggak main -main dengan ucapannya."
"Sayang, kok bengong?" ucap Al memeluk sang istri cari belakang, dia menghirup aroma wangi tubuh sang istri yang terasa begitu memabukkan.
"Eh mas," Caca sedikit menoleh dan sesaat tubuhnya menegang, Al sudah melingkar kan tangannya di pinggang dan perut Caca.
"Santai dan nikmati, ini juga yang pertama untuk ku ca." bisik Al
Setelah itu dia melepaskan pelukan dan membalik tubuh Caca agar menghadap wajahnya.
Mata sayu sang suami membuat Caca yakin jika suaminya sedang di landa kabut gairah.
Tanpa menunggu Al menyatukan bibir, Caca memejamkan.matanya menikmati setiap sentuhan yang Al berikan, dia pasrah, bahkan gadis itu kini berani membalas dengan gerakan amatirnya, hal itu membuat Al semakin bergairah.
Tangan Al mulai menyusup pelan di pinggang dan perut suaminya, begitu juga dengan Caca yang refleks mengalungkan tangannya di leher Al.
__ADS_1
Keduanya tanpa sadar telah menyatukan hati, jiwa dan cinta.