
Dua jam berlalu, dan meeting yang Al lakukan sukses. RikiTak banyak yang Al siap kan. Toh mereka juga cuma dua hari disana. Hanya satu buah koper untuk pakaian keduanya.
Lala jalan sambil cemberut, itu masih marah karena al mengeluarkan sebagian baju yang telah dia siapkan untuk dia bawa dalam perjalanan mereka.
Al melirik sekilas di dalam hatinya dia tersenyum lucu melihat sikap sang istri. sini Al baru tahu jika istrinya itu sangat manja.
Mobil yang mengantar mereka telah sampai di bandara, Al segera turun dan Pak sopir mengeluarkan koper mereka dari bagasi.
Caca juga menurun tapi masih dengan wajah yang ditekuk, membuat Al menjadi gemas.
"Sayang, kamu masih ngambek?"
Gadis itu tak menjawab pertanyaan Al malah melengos, sengaja agar sang suami tahu dia sedang kesal.
"Mas, minta maaf ya," ucapnya lagi coba mengalah
Caca mqsihbtak menjawab, dan membuang muka.
Al menghela napas, kemudian menarik koper dan berjalan meninggalkan Caca sendiri. Sementara sopir mereka telah pulang ke rumah.
Caca menghentakkan kakinya sebelum akhirnya mengalah dan ikut pergi menyusul Al.
'Dasar suami tidak peka, bukannya di gandeng, malah dicuekin kalau aku di culik orang gimana?' omel Caca di dalan hatinya
Al masih bersikap cuek, hingga akhirnya mereka naik kedalam pesawat.
Caca yng masih kesal berpura-pura tidur, hingga pesawat mereka sampai.
Tak mau di kacangin, Caca berjalan keluar lebih dulu, tanpa menoleh sang suami.
__ADS_1
Al menarik tangan istrinya saat berjalan keluar dari bandara, tak bersuara hanya terus berjalan sambil menarik kuat tangan Caca.
Beberapa kali Caca melirik tangannya yang di tarik sang suami, hatinya senang, Al perhatian.
Namun saat melihat wajah datar Al, Caca kembali menelan kata-kata yang sempat ingin dia ucapkan.
Bandara lumayan padat dengan lalu lalang orang, dan Al tak mau jika sampia ada yang mencelakai istrinya.
***
Al membuka pintu kamar hotel yang mereka sewa.
Sebuah hotel bintang lima dengan fasilitas mewah dan berkelas. Al sengaja memlilih kamar VVIP untuk mereka berdua.
Caca tak dapat menutupi rasa bahagia nya saat pintu kamar itu terbuka.
"Ini semua untukku om?"
Al mengerutkan matanya, Bisa-bisanya disaat romantis seperti ini sang istri memanggilnya Om, Al menjadi kesal.
"Kok diam aja, ini semua untukku?"
"Benar, kamu suka?"
"Sukaaaaa banget, makasih Om."
Lagi Al mengerutkan keningnya, kali ini dia bertindak, memeluk erat pinggang sang istri mengikis jarak hingga keduanya begitu dekat.
Tatapan matanya masih sama tajam dan menusuk. "A..ada apa mas?" ucapnya tergagap
__ADS_1
"Kamu tidak tahu apa kesalahan mu?" tanya Al dengan nada datar, namun Caca hapal betul jika saat ini suaminya sedang kesal.
"Apa?" tanya Caca dengan wajah polosnya. Matanya yang bulat menatap penuh tanya, dan bibirnya sedikit terbuka, justru menimbulkan rasa yang sama, rasa ingin membungkamnya dan memanjakannya.
"Benar, tidak tahu?"
Caca menggeleng, "aku-"
"Kamu memanggilku Om, dan untuk itu kamu harus di hukum." tak bicara lagi Al membungkam bibir merah muda sang istri.
Al mulai mengajaknya terbang menuju pantai yang indah, bermain ombak bersama dengan penuh cinta.
Al tidak memberikan kesempatan sang istri bicara, dia terus membuai dan membelai, hingga sang istri ikut terbuai dan mereka bersama menikmati indahnya cinta.
Caca tertidur setelah pergulatan panjang, tubuhnya sangat lelah.
"Sayang, mas pergi dulu ya, kamu tidur saja disini, jangan kemana-mana."
"Kamu mau kemana mas?"
"Aku mau ketemu klien, makanan sudah aku letakkan diatas meja, kamu istirahat lah."
"Iya mas, kamu nggak lama kan?"
"Enggak, nanti setelah selesai kita bisa jalan-jalan atau kita lanjutkan yang tadi "
"Mas..." pekik Caca karena kalimat terakhir Al yang diucapkan tanpa sungkan atau malu.
Al mencium kening istrinya, lalu pergi dan mengunci pintunya. Caca kembali melanjutkan tidurnya.
__ADS_1