
"Hei bocil" panggil Al
"Apa dia memanggilku bocil? kurang ajar, awas kamu Om!!!
Caca tak menyahut dia justru memilih mendaratkan pantatnya di sofa, duduk bersandar dengan nyaman.
"Hei, siapa nama mu?" tanya Al lagi.
"Bukankah Om sudah tahu, kenapa Om tanya lagi? Om amnesia ya!"
"Namamu ribet, Ok aku panggil kamu bocil aja," Caca bersiap untuk protes namun Al sudah melanjutkan kalimatnya.
"Dengar, ada aturan untuk tinggal disini, pertama kamu harus bisa jaga kebersihan, karena aku paling tidak suka kotor, kedua kita akan tidur terpisah, kamu tidur disana dan aku disana, tunjuk Al pada kamar yang berbeda. Ketiga, kamu nggak usah repot untuk masak dan beresin rumah karena akan ada bibik yang membersihkan nya dan aku akan makan diluar. Satu lagi yang terakhir, jangan ikut campur urusan pasangan, kamu bebas begitu sebaliknya."
"Ok, aku setuju tapi ada satu tambahannya Om, selama jadi istri Om, aku berhak mendapatkan apa yang menjadi hak ku,"
"Tentu saja," jawab Al cepat. Dia mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu kredit, lalu meletakkan nya diatas meja.
"Hanya itu!" ucap Chelsea mengejek.
"Aku juga punya bahkan lebih dari itu," ejeknya tersenyum miring.
"Lalu apa lagi! jangan harap aku bisa-"
"Aku cuma ingin Om memberiku kesempatan untuk melayani Om, Sebagai seorang istri yang sesungguhnya kecuali urusan ranjang. Satu lagi namaku Chelsea, bukan bocil. Om bisa panggil aku Caca, sama seperti yang lain."
"Ok, aku mau keluar sebaiknya kau duduk diam didalam, jangan keluyuran dan jangan menyusahkan ku"
"Om mau kemana?"
Al menatapnya tajam, seakan terganggu dengan pertanyaan Caca. "Apa kau lupa dengan ucapan ku tadi, jangan ikut campur urusan ku,"
__ADS_1
Setelah bicara Al keluar dan menutup pintu dengan keras. Caca hanya bisa menarik napas dalam.
Tenang Ca, perang belum dimulai dan kamu... jangan menyerah. Kamu harus bisa menaklukkan om sombong itu?
Semangatnya, bukan Caca namanya jika aku tidak bisa lagi membuatmu jatuh cinta padaku, Om!!
Caca kembali memperhatikan sekeliling, kemudian dia menatap kamar yang ditunjukkan oleh Al tadi, dengan langkah gontai dia memasuki kamar tersebut.
Caca tertawa melihat kamar yang akan dia tinggali, hanya ada tempat tidur dan lemari kecil. Sungguh berbeda dengan kamar miliknya yang luas dan mewah. Dia berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya disana..
Beberapa menit kemudian pikirannya berkelana, akhirnya Caca memilih menelpon sahabatnya, Ririn.
"Halo Ca"
"Halo Rin, ketemuan yuk. Aku gabut nih."
"Hello... pengantin baru, apa kabar malam pertama gabut!" ejek Ririn.
Gadis itu berjalan santai setelah turun dari taksi masuk menuju kafe Ode. Ternyata Ririn sudah menunggunya disana.
"Ca, sini.." panggil Ririn melambaikan tangannya. Caca berjalan menuju meja sang sahabat, duduk manis dihadapan gadis cantik seusianya itu.
"Mau minum apa?" tanya Ririn . "Biasa," Ririn langsung memesan minuman untuk nya dan Caca.
Caca membuka topi dan sweater yang dia pakai, duduk lesu didepan Ririn.
"Katakan ada apa, Ca?" tanya Ririn khawatir.
Caca pun menceritakan semuanya termasuk tantangan yang dia berikan kepada sang suami, Ririn terlihat manggut manggut.
"Aku harus apa Rin?"
__ADS_1
"Banyak Ca, kamu itu cantik, ku bisa gunakan itu untuk menarik perhatiannya. Kamu juga seksi," lanjut Ririn mengedipkan sebelah matanya.
"Maksudmu! Aku tidak mau..."
"Gunakan semua yang kamu punya, goda dia tapi ingat saat dia tergoda kamu harus jual mahal. Aku akan membantumu," lanjut Ririn bersemangat.
"Saat pulang nanti, kamu sambut dia, buatkan minuman atau apa.."
"Aku nggak berani, tatapan matanya saja sudah mampu meluluhkan semua keberanian ku, apalagi harus bersikap baik dan manis dan merayu."
"Caca kamu itu pinter tapi bodoh, kamu kan bisa cari tahu apa kesukaannya, dan untuk langkah pertama. Besok pagi, kau coba buatkan dia sarapan."
"Sarapan hahahaha yang ada aku bisa membakar dapurnya, lagipula dia bilang dia tidak akan makan di rumah."
"Ya udah, sekarang kamu balik, dan belajar masak," Ririen tergelak sendiri mendengar jawaban sang sahabat.
"Ririn!" Caca kesal bukannya memberi solusi justru mengejeknya.
Derrt...derrrrt ponselnya berdering menghentikan Omelan nya.
"Kamu dimana?".tanya Al ketus.
"Ini siapa?" Caca bertanya karena dia tidak mengenal nomor tersebut, dan juga tidak menyimpan nya.
"Aku beri waktu setengah jam, nenek ingin bertemu," Al langsung memutuskan panggilan.
"Rin, aku balik. Om Gi mau mengajak aku menemui nenek. Aku duluan ya..."
"Biar aku antar, yuk!" kedua gadis itu berjalan menuju mobil setelah Ririn membayar tagihannya.
"Ini kesempatan kamu Ca, ambil hati Nenek nya dan buat keluarganya menyukaimu, itu poin penting."
__ADS_1
"Siiip!"