Mengejar Cinta Om Jutek

Mengejar Cinta Om Jutek
ke desa


__ADS_3

"Om kita mau kemana?" tanya Caca yang tak bisa menahan rasa ingin tahunya, dia sendiri pengen kencannya kali ini lebih berkesan.


"Kencan,"


"Iya, aku tahu tapi kita mau kemana?" lagi dan lagi Caca menanyakan pertanyaan yang tak memerlukan jawaban.


Sorot mata tajam Al tak menyurutkan rasa ingin tahu gadis itu, dia hanya tersedia canggung menunjuk kan deretan giginya yang putih bersih.


Al tak menjawab, hanya menoleh sekilas dengan tatapan tajamnya lalu fokus pada kemudi, "Om.." panggil gadis itu lagi.


"Hem..." hanya jawaban singkat yabg Caca terima, tentu saja dia merasa sangat tidak suka, dia butuh jawaban bukan deheman.


Sunyi, keduanya saling diam, Caca memainkan ponselnya untuk menguranginya rasa bosan yang saat ini menyerangnya, namun tampaknya cara itu tidak berhasil, gadis itu masih begitu penasaran dengan tujuan kencan mereka kali ini.


Kencan, dia mengulang kata-kata itu berulang kali di dalam hatinya dengan perasaan berbunga-bunga. Hatinya sangat bahagia, hingga tanpa sadar dia tersenyum-senyum sendirian.


"Kamu kenapa? kesambet?" tanya Al mengangetkan Caca dan menariknya kembali ke dunia nyata, padahal tadi dia berada di dunia indahnya.


"Is... kepo!" jawabnya jutek.


Al tergelak, "Lo lagi mikir jorok kan?'


"Kok tahu," jawab Caca polos, lalu dia menutup mulutnya karena keceplosan, "Eh enggak, mana ada" elaknya.


"Tuh buktinya Lo ngiler," refleks gadis itu mengusap sudut bibirnya, padahal tidak terjadi apa-apa.


"Hahahah" lagi Al tergelak, "beneran kan? masih kecil tapi pikiran kamu!" Al menonyor kepala istrinya, membuat Caca bersungut,


"Mana ada?" bantah gadis itu sengit.


Lagi suasana kembali hening, Caca yang masih kesal menatap keluar jendela, namun dia tiba-tiba merasa aneh, ini bukan jalan menuju mall atau pusat kota, tapi jajaran pepohonan dan kebun, eh ini jalan mau ke puncak' ucapnya dalam hati.


"Om, kita mau kemana? om nggak lagi niat ngerjain aku kan?"


"Enggak,"


"Om kan bilangnya mau nonton! kenapa kesini?"


"Nanti kita nonton,"


"Om bohong, ini jalan mau ke puncak bukan?"

__ADS_1


"Iya,"


"Om, jawabnya yang jelas donk!"


"Inikan udah jelas,"


"Iya, tapi kita mau kemana? Om nggak niat mau bunuh aku, terus om potong-potong dan buang di jurang kan?" ucapnya bergidik ngeri sendiri.


Al terkekeh, "Dasar bocah!" hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Al sepenuh dia hanya tersenyum lucu melihat tingkah sang istri.


Merasa tak menemukan jawaban, Caca kembali diam dan buang muka. Jajaran kebun yang dia lewati menarik perhatiannya, dan membuatnya begitu terpesona, gadis itu juga membuka kaca mobilnya, dia ingin merasakan dinginnya angin pegunungan yang segar.


Mobil mereka berbelok ke sebuah villa yang letaknya diatas bukit. Dan akhirnya mereka sampai disana, tak hanya satu villa, ada beberapa rumah yang mereka lewati sebelum sampai disana.


"Ayo turun, kita sudah sampai." ucap Al, dia segera membuka pintu mobilnya dan turun.


"Mas Al," panggil pria paruh baya yang berjalan tergopoh kearahnya.


"Mang Udin, apa kabar? sudah sehat?"


"Alhamdulillah, sudah mas, semua berkat bantuan mas, terima kasih mas,"


"Udin neng," sapa mang Udin dengan senyum ramah, "wah istri mas Al Cantik pisan,"


"Makasih mas,"


"Oh iya, mas mau menginap, mari masuk biar Nanang suapin kamar,"


"Enggak, kita singgah sebentar aja, bibik ada?"


"Ada lagi ke pasar, mari silahkan masuk." mang Udin mempersilahkan Keduanya.


"Ayo sayang," Al menarik dan menggenggam tangan sang istri memasuki villa, yang lumayan besar, namun bersih dan terawat.


"Ini villa kamu mas?


"Bukan, ini villa papa, tapi aku sering kesini."


"Sama nenek sihir juga?"


"Enggak, aku belum pernah mengajaknya kesini, baru kamu cewek pertama yang aku bawa kesini,"

__ADS_1


"Bohong,"


"terserah, kamu mau masuk kamar atau mau ikut aku jalan-jalan?"


"Ehm...ikut kamu aja deh,"


"Serius,"


"Iya,"


"Ya udah ayo,"


Al berjalan kebelakang rumah dan mengambil sepedanya, kemudian dia menaikinya keluar. "Loh untuk apa ini mas?"


"Katanya mau ikut keliling desa?"


"Naik ini?"


"Iya,"


"Aku naik dimana?"


"Disini." tunjuk Al pada batangan sepedanya, sambil tersenyum. "Ikut nggak,"


"Ikut," Caca langsung naik dan Al mulai mengayuh sepeda nya.


Sepanjang perjalanan keduanya tertawa dan bercanda, beberapa kali Caca mencubit lengan Al karena pria itu menjahilinya.


"Mau makan nggak?" tanya Al saat mereka tiba di pasar tradisional yang letaknya di kaki gunung, 1 km dari villanya.


"Boleh, tapi makan apa?" pasalnya Caca tak melihat adanya warung bakso atau restoran disana.


"Tuh," tunjuk Al pada pedagang keliling yang duduk menunggu pelanggan


"Ayo!" lagi Al menggenggam tangan nya, Caca sangat bahagia.


Al membawa istrinya mendatangi si penjual,"Eh mas, mau beli apa?".


"Sayang kamu mau apa?" tanya Al mesra membuat ibu pedagang di depannya ikut tersipu malu.


di tunggu ya keseruan mas Al dan caca

__ADS_1


__ADS_2