Mengejar Cinta Om Jutek

Mengejar Cinta Om Jutek
Tugas Caca


__ADS_3

"Ayo kita harus pulang sekarang, dan besok pagi kita akan kembali ke London." ucap Al saat memasuki kamar.


"A-apa maksud Om? kenapa tiba-tiba sekali dan Minggu depan adalah resepsi pernikahan kakak ku, bukan kah kita-" Caca tak melanjutkan kalimatnya, lidahnya kelu saat bersitatap dengan Al yang menatapnya dengan nyalang dan penuh marah.


"Aku bilang sekarang ya sekarang!" bentak Al. "Apa kau lupa, kau adalah istriku kemanapun aku pergi kau harus ikut, tanpa membantah dan tanpa banyak pertanyaan. cepat!" bentaknya


Caca sampai terlonjak mundur ke belakang, sungguh dia sangat takut dengan kemarahan Al, gadis itu tak menyangka jika Al akan semenakutkan ini saat marah.


Al menuruni tangga diikuti oleh istrinya, kemudian mereka berpamitan kepada Zahra. Tentu saja sang bunda merasa sedih, namun dia tak bisa berbuat apa-apa, Al sama keras kepalanya dengan suaminya, dan Zahra hanya bisa mendoakan agar kehidupan anak anak nya bahagia.


Mobil Al keluar dari halaman rumah megah Zein, dan menyatu dengan mobil lainnya membelah jalanan menuju ke apartemen Al. Sepanjang jalan hanya kesunyian yang menemani mereka, Caca masih ketakutan dan memilih diam.


Zein hanya diam menatap kepergian anaknya dari atas balkon kamarnya, Al memang keras kepala. Sebenarnya Zein tahu, jika putera nya tidak melakukan apapun dengan gadis itu, dia juga sudah menemukan bukti rekaman cctv hotel, namun ini adalah kesempatan untuk nya agar Al menikah, apalagi saat dia tahu gadis itu adalah putri rekan kerjanya dan dia adalah gadis baik baik. Bukan seperti kekasih Al yang hanya ingin memanfaatkan dirinya. Namun Zein tidak bisa mengatakan itu semua, karena dia yakin puteranya tidak akan percaya, Zein ingin Al mengetahuinya sendiri dan membuktikan siapa kekasihnya itu sebenarnya.


Papa hanya ingin yang terbaik untuk mu, Nak. Mungkin saat ini kau sedang marah pada Papa, namun suatu saat nanti kau akan tahu jika papa melakukan ini semua hanya untuk kebaikanmu.


"Pa*..." tanpa dia sadari istrinya sudah berada di belakangnya.


"Biarkan dia pergi Ma,"


"Tapi Pa, mau sampai kapan?" Zahra mengusap lengan suaminya. Kemudian menyandarkan kepalanya disana.


"Sampai anak itu tahu kebenaran nya, Papa ingin dia sadar dan kembali,"


"Tapi Pa, kasihan gadis itu, aku merasa bersalah padanya"


"Aku yakin Ma, Chelsea bisa menaklukkan Gibran, dia gadis pintar dan baik, sama seperti mama dulu. Ketulusan dan kebaikan nya akan membuka mata Gibran."


"Aku akan tetap mengawasinya, apa mama pikir aku melepaskan Al begitu saja, tidak Ma. Selama ini aku mengutus seseorang untuk terus mengawasinya dan pekerjaan nya itu aku juga yang mengaturnya tapi tanpa sepengetahuan anak itu." jelas zein.


Zahra menatap tak percaya, selama ini dia pikir Zein membiarkan anaknya pergi begitu saja. Matanya kembali berkaca kaca.


"Untungnya dia melamar di Perusahaan rekan ku dan dia langsung menghubungiku saat Al mengajukan lamaran," lanjut Zein.

__ADS_1


"Terimakasih, Pa." Zahra memeluk suaminya dan menangis bahagia. Zein membalas pelukan sang istri dan mengusap lembut kepala nya. "Aku tidak akan membiarkan anak anak kita tersesat Ma, untuk saat ini biarkan dia menjalani hidupnya sesuai keinginannya, percayalah dia pasti akan kembali."


...****************...


Al menyusun pakaiannya ke dalam koper, setelah itu dia duduk termenung. Pikirannya benar-benar kacau. Dia meraih ponselnya dan coba menghubungi sang kekasih, Al ingin menceritakan semuanya dan berharap kekasihnya mau mengerti Namun beberapa kali panggilan malah di reject. Apa yang dia lakukan mengapa panggilan ku di reject, batin Al semakin kesal.


Kembali dia coba menelpon sang kekasih, dan kali ini panggilannya diangkat.


"Ya, halo.' terdengar jawaban dari sana.


"Bagaimana kabarmu sayang?"


"Ada apa Al, aku sedang sibuk, saat ini aku sedang berlatih karena acaranya Minggu depan, oh ya kamu datangkan?"


"Aku usahakan!"


"Udah dulu ya, aku sibuk. I love you, bye." Panggilan terputus.


Apa kamu masih akan mengatakan I love you saat tahu aku sudah menikah? bagaimana aku menjelaskannya padamu? argh..


Dikamarnya Caca juga tidak bisa tidur, ingin rasanya dia lari dan kembali ke rumah orangtuanya, tapi tidak mungkin.


Jika aku pulang sekarang, berarti aku kalah. Tidak, aku tidak boleh kalah, aku akan tetap bertahan sampai Om Gi jatuh cinta padaku, Tapi bagaimana caranya?


Tanpa terasa waktu berlalu. Malam telah berganti pagi, Al sudah menunggu Caca di depan pintu kamarnya. Dia beberapa kali mengetuk pintu, Caca membukanya dengan wajah kusut dan rambut berantakan khas orang bangun tidur. Penampilan nya ini membuat Al kesal, bukankah sudah sejak kemaren dia mengatakan akan berangkat pagi ini, tapi ini apa! gadis ini bahkan baru bangun.


"Aku beri waktu sepuluh menit, jika terlambat aku akan meninggalkan mu." ucap Al dan terus berbalik.


Caca tersadar, dia langsung berlari ke kamar mandi, cuci muka dan mengganti pakaiannya. Kali ini dia kembali ke stylenya semula. Kaos ketat dengan hot pants dan hody. tak lupa dia memakai topi.


"Aku sudah siap Om," jawabnya


Al memindai penampilan istrinya, aneh tapi dia berburu waktu, jadi dia membiarkannya, tanpa bersuara dia berjalan keluar menyeret kopernya diikuti oleh Caca.

__ADS_1


Mereka singgah ke rumah Caca sebelum berangkat ke bandara. Dengan alasan pekerjaan Al membawa istrinya pergi. Orangtua Caca hanya bisa melepaskan kepergian putrinya dengan perasaan sedih.


Setelah perjalanan panjang dan melelahkan Al dan Caca tiba di London. "Kita akan tinggal di kediaman ku," ucap Al


"Tidak Om, kita tinggal di apartemen ku saja,"


"Tidak bisa," setelah bicara Al berjalan meninggalkan Caca yang terpaksa berlari mengejarnya. Gadis itu menurut dan mengikuti Al.


Tak butuh waktu lama mereka tiba di apartemen Al, apartemennya kecil jika di bandingkan dengan apartemen Caca. Gadis itu masuk dan menatap sekitarnya. "Dimana kamarku Om!"


"Itu." tunjuk Al


"Kamar Om Gi?"


"itu juga. Disini hanya ada satu kamar, kalau kau tidak mau berbagi kamar denganku, kau bisa tidur di sofa." lanjut Al


Neraka mu baru di mulai gadis kecil, kau akan menyesal dan memilih kabur, setelah itu kita akan bercerai dan aku akan menikah dengan Cintya.


Caca diam sejenak, walau dia takut Al akan berbuat aneh, tapi dia bersikap biasa saja. Dia tidak mau Al tersemyum puas.


"Oh ya, karena kamu istriku, semua menjadi tanggung jawabmu, bersih bersih dan mencuci. Untuk urusan masak, tidak perlu karena aku bisa makan diluar. Aku juga tidak mau keracunan karena makan masakanmu."


'Ok," Caca berjalan masuk kedalam kamar. Dia lagi lagi terkejut, hanya ada satu tempat tidur dan satu sofa kecil disana.


"Kau tidur disana." Al menunjuk sofa.


"Tapi Om..."


"Tidak boleh membantah. Apa kau lupa." ancam Al dengan tatapan tajam.


"Sekarang kau bisa mulai pekerjaan pertama mu yaitu bersih bersih, aku mau keluar sebentar. Ingat saat aku kembali semua harus sudah bersih, jika tidak aku akan menghukummu."


Setelah bicara Al keluar kamar dan keluar dari apartemen nya, dia akan menemui temannya James.

__ADS_1


Caca terdiam, membereskan rumah? seumur hidup dia tidak pernah melakukan nya, tapi jika aku menolak, Om Gi akan menghukum ku, bagaimana ini!"


Akhirnya gadis itu mulai membereskan rumah Al, mengambil penyedot debu, mengelap meja dan membereskan beberapa buku. Setelah itu dia membaringkan tubuhnya di kasur dan tertidur karena kelelahan.


__ADS_2