Mengejar Cinta Om Jutek

Mengejar Cinta Om Jutek
air terjun


__ADS_3

"Mau minum itu?" tunjuk Al pada pedagang yang menjual makanan tradisional. Ada jajanan khas yang tak ditemui oleh Caca di kota bahkan namanya dia tidak tahu.


Makanan berbentuk lonjong dan kecil itu sangat menggugah selera, warnanya merah menyala, ditaburi kelapa parut dan disiram gula merah, enak sekali rasanya.


"Aku belum pernah makan itu mas, apa namanya?"


"Di tempat nenek namanya cenil, entah kalau disini. "


"Mbok, satu porsi," ucap Al pada pedagang tersebut. Dengan sigapnya wanita berusia senja itu menyajikan makanan pesanannya.


"Oh iya? namanya unik,"


"Coba nih cicip, pasti kamu ketagihan," ucap Al menyodorkan satu sendok cenil kedepan wajah istrinya.


Caca tak langsung membuka mulutnya dia menatap Al lama dan perlahan membuka mulut. Kini makanan itu sudah berpindah kedalam mulutnya, perlahan dia mengunyahnya dan mulai merasakan kenyal, gurih dan manisnya cenil itu di dalam mulutnya, "Gimana, enak?" tanya Al penasaran.


Caca mengangguk, "Enak mas,"


"Mau lagi?"


"Enggak," sahut sang istri dengan gelengan kepala, "Itu makanan manis,"

__ADS_1


"Makanan manis! memangnya kenapa?"


"Aku kan udah manis, nggak perlu di kasih gula lagi," sahut Caca tanpa sungkan, Al hampir tersedak dibuatnya. Secepat kilat Caca menyambar botol minuman yang terletak di samping sang penjual.


"Gimana??"


"Udah enggak apa-apa," sahut Al bersyukur. Sungguh istri kecilnya memang tak terduga, dengan begitu percaya dirinya dia menyebut kata manis, tak hanya di depan Al tapi di depan si penjual makanan.


"Mas pengantin baru ya?" ucap si mbok pedagang tersemyum.


"Iya, kok tahu nek?" sahut Caca dengan bibir tersemyum bangga


"Kelihatan banget, mesra dan serasi. Semoga bahagia dan langgeng ya mas, istri masnya cantik cocok dengan mas nya yang juga ganteng,"


Setelah makan makanan tersebut, Al kembali melajukan sepedanya menuju kolam mata air kecil yang tak jauh dari tempatnya tadi, hanya butuh waktu lima belas menit agar mereka sampai disana.


"Indah banget, tempat apa ini mas?" tanya Caca yang berlari ke tepi sungai Setelah melompat dari sepeda milik Al.


"Apa ya? mas nggak tahu masyarakat sekitar menyebutnya pancuran."


"Pancuran? dimana pancurannya mas?" caca mencari ke sekelilingnya, namun tak menemukan yang disebut pancuran.

__ADS_1


"Itu," tunjuk Al pada bagian kanan mereka, ternyata ada pancuran air yang terbuat bambu, dan airnya keluar dari celah bebatuan. Sungguh sangat unik, dan menarik.


"Mas, ini beneran air dari gunung ya?"


"Iya, tuh kamu bisa lihat kan airnya keluar dari celah batu, bening lagi."


"Iya benar mas," sahut Caca yabg sudah berlari menuju tepian sungai kecil yang di kelilingi bebatuan yang lumayan besar dan sedikit berlumut mungkin karena tidak ada orang yang kesana, hingga lumut tumbuh dengan subur.


"Mau mandi?" tanya Al yang sudah berdiri di belakang istrinya.


"Kamu nggak bilang, aku nggak bawa ganti mas!"


"Beneran mau mandi?"


"Iya," sahut Caca yang sudah memasukkan kakinya ke dalam air.


"dingin banget," ucap gadis itu yang terus berjalan menuju sebuah batu yang berada di tengah dekat dengan pancuran air.


Al mengikuti langkahnya, sebelumnya dia menggulung bagian bawah jeans nya hingga ke lutut


Air sungai ini tidak dalam, paling dalam hanya sebatas dada itupun di bawah air pancuran tersebut,

__ADS_1


"Auw..." teriak Caca saat dia tak sengaja terpeleset karena bebatuan yang licin. Refleks Al memeluk pinggangnya, dan Caca memeluk Al karena dia takut terjatuh, sejenak keduanya saling pandang dengan posisi intim, Caca bisa melihat dari jarak yang begitu dekat bahkan dia bisa merasakan hembusan hangat napas sang suami, begitu juga Al bisa menatap manik hitam yang menyiratkan cinta itu secara langsung.


__ADS_2