Mengejar Cinta Om Jutek

Mengejar Cinta Om Jutek
Apa Om cemburu?


__ADS_3

Langkah Al cepat menarik posesif sang istri dan membawanya keluar dari kerumunan.


Caca mulai berontak saat sudah tidak ada lagi orang disana. Saat ini mereka berada di lorong hotel, entah kearah mana Al akan membawanya Caca tidak tahu.


"Lepas!" Caca berusaha melepaskan diri dengan meronta.


Al menatap sengit, sontak Caca terdiam. Namun hanya sejenak, saat Al kembali menyeretnya, gadis itu kembali meronta dan melawan.


"Lepas Om, kamu menyakitiku, aku akan melapor kepada mama dan papa, lepas.." omel Caca tak henti sambil terus menarik tangan nya, hingga terasa sakit.


Al tiba-tiba berhenti, dia menatap murka. "Kau mau mengadu? adukan saja, apa yang mau kamu katakan!" ucap Al pelan dan penuh intimidasi.


"Om takut?" Caca masih berani meledek dalam situasi genting seperti ini.


Caca dapat melihat api kemarahan di wajah Al, namun dia juga tidak mau kalah, tidak mau diintimidasi seenaknya oleh sang suami. Dan benar Al terpancing dengan sikap galak sang istri.


"Apa kau mau bilang jika aku menyeret mu kesini! Aku melakukan KDRT? katakan aku tidak takut!"


"Dan aku akan katakan jika Puteri kesayangan mereka ini asyik mengobrol dengan pria asing, atau mungkin dia lupa jika sudah bersuami." sindir Al.


Bukannya takut gadis itu malah tertawa,


"Apa Om cemburu? Om takut aku dekat dengan James?"


"Tidak!" bantahnya cepat.


"Terus kenapa tiba tiba narik tangan aku pergi, jujur aja deh Om, Om cemburukan?" desak Caca bersemangat.


Al menatap tak percaya, gadis di depannya ini masih bisa mentertawakan dirinya. Dan apa cemburu? mana mungkin, yang ada aku malah membencinya, ucap Al dalam hati.


"Hahaha...in your dreams!" tutur Al dengan nada mengejek dan senyum devil.


"Lalu kenapa Om marah? udah ngaku aja deh Om!" tambah Caca santai


Al kembali menatap kesal, usaha menindas sang istri gagal total, malah dia yang tersulit emosi.


"Apa kau mau mempermalukan aku dengan ngobrol berdua dengan pria lain, sementara kau adalah istriku. Apa kau sengaja ingin menggodanya, ternyata ini kelakuanmu sebenarnya!" maki Al penuh emosi.


"Hehehe.." Caca tertawa. Membuat Al semakin geram.


Berhasil, om Gi jadi kesal dan marah, itu artinya dia perhatian padaku, dan tadi dia bilang apa, istri!!! aaaa...dia sudah mengakui aku istrinya, heheheh...

__ADS_1


"Istri?" ulang Caca bertanya pada Al dengan mata menyipit.


"Apa aku nggak salah dengar Om. Siapa yang tahu jika aku adalah istrimu? tidak ada bukan? jadi untuk apa takut!" ejeknya dengan tatapan remeh.


"Dan apa tadi Om bilang, aku menggoda James?" tanya Caca dengan nada tinggi, kali ini dia menunjukkan kekesalannya.


" Aku mengenal James dengan sangat baik, dia pria yang baik, tampan, mapan, dan humoris tidak seperti mu yang kaku, angkuh, seenaknya, sok ganteng dan kasar. Apa salahnya jika dia mengajak aku mengobrol?"


"Salah!" bentak Al


"Sudah lah Om, aku malas berdebat, awas!"


Caca mendorong Al namun sedikitpun dia tidak bergeming, tubuh besar Al menutupi tubuhnya yang memojokkannya di dinding. Pria itu semakin mendekat dan menghimpit tubuh istrinya dengan penuh amarah.


Al merasa sangat tersinggung, kata kata Caca cukup kasar dan melukai harga dirinya sebagi seorang laki-laki. Bisa bisanya istrinya sendiri memuji pria lain di depan suaminya, bahkan mengatai suami sendiri kaku, angkuh dan sombong.


Gadis itu Berani membandingkannya dengan James yang jelas sangat berbeda darinya.


James Casanova yang suka berganti ganti wanita sedangkan dirinya adalah pria setia.


Gadis bodoh, dia pasti tidak tahu sepak terjang James selama ini! Gadis bodoh, bodoh, bagaimana jika dia tahu siapa James sebenarnya dan


Berani sekali dia mengatai ku!


Jelas Al tak terima, tadi saat bersama dengan James dia begitu manis bahkan tertawa lebar.


Entah setan darimana tiba tiba Al menempelkan bibirnya pada bibir merah muda Caca. Gadis itu sontak menegang dan kaku. Tubuhnya bagai terkena sengatan listrik ribuan volt. Kesadaran nya terbang, dan dia pun terdiam.


Namun itu hanya terjadi beberapa detik, selanjutnya dia berontak, bahkan dia bisa merasakan bibirnya sakit karena Al menggigitnya. Al begitu kasar, dia semakin kesal karena Caca menolak ciumannya.


Al bisa merasakan anyir darah yang keluar dari bibir istrinya. "Kau akan mendapatkan hukuman yang lebih dari ini, jika berani menentang ku!" ancam Al penuh emosi.


Plaaaak. Caca menampar pipi Al. Dia memang mencintai pria itu, tapi bukan seperti ini cara Al memperlakukan dirinya.


"Kau!" Al masih menatap sengit.


"Kenapa kau lakukan ini padaku!" teriak Caca dengan tatapan marah.


"Agar kau tahu posisimu, Kau itu adalah istri ku!" ucap Al tegas.


"Dan agar kau tahu tidak ada yang bisa melawan ku. Jadi jangan coba coba untuk menentang" ucap Al mengejek. Tangannya menepuk pelan pipi Caca.

__ADS_1


Setelah itu Al berjalan meninggalkan Caca yang masih diam dan gemetar.


Caca mengatur napasnya yang naik turun menahan amarah. Tapi gadis itu juga sadar tidak ada gunanya melawan Al dengan cara kekerasan karena dia pasti akan kalah.


Caca mengusap bibirnya sekali lagi dengan kasar, masih tersisa rasa pedih akibat gigitan suaminya.


Aaaa... dia menciumku, aku tidak rela, tidaak... Kenapa juga harus mencium bibirku, apa tidak ada hukuman yang lain, aaaaa....


teriak Caca dalam hatinya.


Setelah merapikan kembali penampilannya, Caca kembali ke ruang pesta.


Mama dan Papanya sudah menunggu untuk photo bersama. Setelah itu dia juga harus berphoto dengan pengantin bersama sang suami.


Gadis itu mengedarkan pandangan nya dan tak sengaja bersitatap dengan manik hitam Al, debaran itu datang bersama ketakutan yang kembali menyerang dan bayangan kejadian beberapa menit yang lalu muncul, gadis itu bergidik ngeri membayangkannya.


"Kamu nggak apa-apa? kok bengong?" Akila yang berada di sampingnya bertanya.


"Eh, aku nggak apa-apa kak. Aku cuma mengantuk." Caca beralasan.


"Ayo kita photo keluarga," Mamanya memanggil. Dengan terpaksa dia harus berdekatan dengan Al, padahal Caca masih gemetar, apalagi semua nya baru beberapa menit berlalu.


"Senyum," bisik Al saat menyindir sang istri yang terlihat bengong.


Gadis itu tak mau kalah, dia menggandeng tangan Al dan tersenyum lebar di depan kamera.


Pesta berakhir tepat jam dua belas malam, semua keluarga menginap di hotel. Begitu juga dengan Al dan Caca.


Caca segera memasuki kamarnya, dia segera mandi. Mungkin dengan berendam air hangat bisa mengurangi kekesalannya pada Al.


Setengah jam kemudian dia keluar dengan memakai piyama tidur tipis. Hanya itu yang tersedia disana, Caca yakin ini pasti ulah sang kakak ipar. Mau tidak mau Caca harus memakainya, setelah itu dia menutup tubuhnya dengan kimono. Dan naik keatas tempat tidur. Tak lama dirinya pun terlelap.


Al masuk beberapa jam kemudian, dia sengaja menghindar dari Caca.


Ada perasaan canggung, dan menyesal atas sikapnya tadi.


Al sendiri tak habis pikir mengapa dia bisa melakukan hal itu, bukankah dia sendiri yang menyatakan tidak akan menyentuh caca, dan dia juga tidak menyukai Caca


tapi


mengapa dirinya marah, saat Caca berdekatan dengan James.

__ADS_1


Aku hanya kasihan jika nanti James hanya mempermainkan dirinya, ia masih terlalu polos untuk pria seperti James.


Ya aku hanya kasihan padanya, tidak lebih. bathinnya.


__ADS_2