
Al sudah menyelesaikan sarapannya, begitu juga dengan Caca. Gadis itu tak bisa menahan senyumnya, apalagi setiap kali melihat wajah sang suami yang terlihat begitu masam.
"Mas..." panggil Caca mencari Al di ruang tamu, entah kemana suaminya itu padahal dia hanya meninggalkan nya sebentar saja, mencuci piring bekas sarapan mereka.
"Mas..." panggil Caca lagi
"Mas..." ulangnya sedikit lebih keras.
Al yang berada di belakang menyahut mendengar teriakan sang istri, "Ya"
Caca segera berjalan ke belakang mencari sumber suara, dan dia mendapati Al yang sedang asyik berolahraga. Gadis itu tersenyum dan terus menatapnya Al yang melakukan gerakan--gerakan senam.
"Mas...aku boleh keluar nggak?"
"Mau kemana?" tanya al.taoi dia tetap fokus dengan gerakan senam nya.
"Hang out, ketemu Ririn."
"Enggak boleh"
"Loh kenapa mas? boleh ya, bentar aja kok!"
"Tidak, aku bilang tidak ya tidak."
Caca cemberut, Al tak memberikannya ijin, dia menjadi sangat kesal.
"Bentar aja mas, boleh ya...." rayunya lagi dengan senyum dibuat semanis mungkin.
"Boleh," sahut Al
"Asyik, makasih mas," ucap Caca cepat.
"Asal mas ikut." lanjutnya
__ADS_1
"Kok! ngapaian mas, aku cuma bentar aja kok, suer!!!"
"Mau nggak?" jawab al seolah tak mendengar ucapan permohonan sang istri.
"Enggak, ketemuannya batal." sahut Caca ketus.
"Bagus, aku setuju. Dan sekarang bersiap lah,"
"Bersiap? mau kemana?" tanya Caca heran
"Nonton, dan aku sudah membeli tiketnya."
"Beneran mas?" tanya Caca tak percaya
"Kamu bisa lihat di kamar diatas meja, Sekar buruan ganti, dan kita berangkat."
"Sepagi ini?" tanya Caca heran
"Mau nggak?" tanya Al lagi membuyarkan semua lamunannya.
"Mau, tapi kamu sudah beli tiket, emangnya kita mau nonton apa?" tanya gadis itu lagi.
Al meletakkan barbel di tangan. kanannya dan menoleh, sungguh dia begitu kesal dengan sifat istrinya yang satu ini, istrinya selalu ingin tahu, dan tak akan berhenti jika dia belum mendapatkan kejelasannya.
"Mas hitung sampe lima, kalau nggak gerak juga berarti nontonnya batal." ancam Al
"Eh, jangan donk mas, iya...iya aku akan ganti. Tunggu ya."
"Jangan lama, waktumu hanya lima belas menit, jika telat aku tinggal."
"Iya...tunggu aku mas." Caca langsung menuju kamarnya, Menganti pakaian dan duduk di depan meja rias.
Al sendiri masih fokus melakukan olahraga nya, apa lah dia yakin jika Caca nggak mungkin akan selesai dalam lima belas menit.
__ADS_1
"Tiket apa ini?" tanya Caca heran melihat bentuk tiket yang tergeletak di atas meja.
"Hah..film horor!" ucap Caca melongo. Dia tak menyangka jika Al akan memilih film tersebut untuk kencan mereka.
"Mas Al kok tega banget, bisa bisanya dia sudah tahu se belum ya?" tanyanya dalam hati
Al baru saja selesai berlatih, dan masuk ke dalam rumah. Segelas air putih membanjiri kerongkongan nya yang terasa begitu kering.
"Aku sudah siap mas!" ucap Caca.
Al menoleh ke belakang, dia tak berkedip melihat penampilan istrinya yang sederhana namun terlihat sangat cantik
"Tunggu disini aku tidak akan lama," Setelah bicara Al berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
'Kenapa semakin hari Caca terlihat semakin cantik, apa ini karena dia.."
Lamunannya terhenti dan buyar karena panggilan Caca, "Mas Al, udah siap belum"
"Udah, eh belom" sahut Al dari arah kamar.
Pria muda itu memilih menggunakan kaos putih dan jeans panjang. Setelah memastikan dirinya sempurna, Al pun turun dan bersiap keluar kamar.
Caca begitu terpesona, Al memang sungguh memikat hati, tak hanya sikapnya yang bikin dia terlihat tampan, namun penampilan nya yang begitu keren, membuat Caca merasa menjadi wanita paling beruntung, bisa memiliki suami setampan Al.
"Kok bengong, jadi pergi nggak?"
"Eh jadi mas," sahut Caca,
Mereka segera berangkat, namun kali ini Al tak menggunakan motornya, dia lebih memilih menggunakan mobil.
"Kok nggak naik motor, Om!" ulang gadis itu
"Biar kamu nggak sakit lagi," sahutnya yang membuatnya Caca speechless.'Gadis itu sungguh tak menyangka mas Al akan sebaik ini.
__ADS_1