
Sesampainya di rumah Al merebahkan tubuh istrinya di ranjang, entah beneran tidur atau pura-pura tertidur, Al sendiri nggak tau, yang terlihat istrinya masih memejamkan matanya.
Al keluar dari dalam kamar Setelah menyelimuti Caca, lanjut keruang kerjanya, ada sedikit pekerjaan yang harus segera dia selesaikan.
Caca membuka mataku, seteleh mendengar suara pintu ditutup dan langkah Al yang berjalan menjauh, dia tersenyum dan menutup wajahnya dengan bantal, kemudian guling-guling diatas kasur.
"Manisnya.... " ucap Caca didalam hati.
***
Al dan istrinya baru saja menyelesaikan kewajiban mereka sebagai umat yang beragama.
Al melanjutkan dengan olahraga ringan di halaman belakang, sekaligus menikmati segarnya udara di pagi hari.
Caca, dia beranjak ke dapur dan membuat sarapan. Tak banyak yang dia masak, hanya nadi goreng dan telur dadar gulung.
"Masak apa sayang?" tanya Al tang tanpa di sadari sudah berada di belakangnya.
"Mas ..Ih bikin kaget aja," sahut caca mengusap dadanya.
"Loh kamu kaget?"
"Iyalah, mas tiba-tiba muncul, tanpa suara lagi "
"Kamu melamun?"
"Enggak?"
__ADS_1
"Terus kok kaget?"
"Ya kaget aja, dah sana buruan mandi terus kita sarapan."
"Sarapan dulu ya, mandinya nanti sekalian."
"Ya udah duduk dulu, biar aku ambilin makanannya, minum apa mas? teh atau jus?"
"Teh aja,"
"Ok, bentar ya." Caca membuatkan Al teh hijau kesukaan nya, dan menyajikan nya, namun entah mengapa dia merasa tidak suka dengan aroma teh tersebut.
Isi perutnya terasa seperti diaduk-aduk mencium aroma itu. refleks Caca menutup mulut dan hidungnya lalu berlari ke westafel. Dia memuntahkan cairan bening disana,
"Sayang, kamu kenapa?" tanya sang suami keheranan.
"Enggak tau mas, aku tiba-tiba mual aja,"
"Entahlah mas, tiba-tiba perutku bergejolak,"
"Al menyodorkan air putih hangat dan Caca langsung meminumnya "Makasih mas,"
"Sama-sama, ayok " Al menuntun istrinya kembali ke meja makan, Caca menutup hidungnya mencium aroma teh yang terasa sedikit menyengat, padahal biasanya dia tidak apa-apa dengan aroma itu.
"Inilah yang buat mual?" Caca mengangguk
Al mengangkat tehnya dan membawa nya ke dapur, meminumnya sedikit lalu meletakkan nya diatas tempat pencucian piring.
__ADS_1
"Sudah labuh baik?" tanya Al saat dia kembali, Caca mengangguk.
"Gimana kalau kita ke dokter! takutnya kamu kenapa-kenapa?"
"Enggak usah mas, aku baik kok, mungkin kecapekan aja, aku akan istirahat dirumah "
"Yakin?"
"Iya mas, nanti kalau masih enggak nyaman aku pasti hubungi kamu,''
"Dan kita ke dokter." sambung Al, Caca tersenyum dan mengangguk.
"Sarapan yuk, tapi sebaiknya kamu jangan makan nasi goreng, nasi hangat saja,"
"Mas aja yang sarapan duluan, aku lagi pengen makan lontong sayur "
"Lontong," ulang Al terkejut, selama menikah dan tinggal dengan gadis itu beberapa bulan, Al baru kali ini mendengar istrinya mau makan lontong .
"Iya mas, nanti aku pesan lewat gofood aja, kayaknya kok lontong berkuah pedas itu enak " sahut Caca lagi.
"Ada-ada aja kamu sayang, tadi malam sate, sekarang lontong, ntar siang apalagi?"
"Kalau sate itu emang makanan kesukaan aku mas, kamu aja enggak tau " sahut Caca.
"Udah mas buruan sarapan dah siang nanti kamu telat,"
Al mengikuti ucapan nya makan dan langsung berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Caca duduk diam, didalam hatinya dia membenarkan ucapan sang suami, 'Benar juga, aku kok jadi aneh gini ya! aku nggak biasanya muntah saat mencium aroma teh hijau apa jangan-jangan aku...hamil." ucapnya dalam hati.
'Apa aku hamil?' pertanyaan itu muncul dan terus menerus berputar di kepalanya.