Mengejar Cinta Om Jutek

Mengejar Cinta Om Jutek
Ngambek


__ADS_3

Kicauan burung yang sedang bersenandung di pagi hari tak membuat pasangan yang sedang terlelap itu terusik.


Keduanya masih asik memejamkan mata dan saling berpelukan, berbagi kehangatan.


Padahal matahari sudah bersinar terang dan mengintip dari balik gorden kamar yang mereka tempati.


Jam juga sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi dan matahari juga sudah mulai meninggi.


"Non dan den Al kok belum bangun, pak?" tanya sang istri kepada mang Udin


"Kamu kayak nggak tahu pengantin baru aja, ya masih berduaan di kamar." jawab mang frontal membuat sang istri ikut tertawa.


"Kamu itu pak,"


"Loh bener toh Bu'e. Mas Al dan mbak Caca itukan pengantin baru,mana disini dingin lagi. Pas banget kan?"


"Wes, Ojo mikir yang aneh-aneh, kopi ku mana?" tanya mang Udin kepada istrinya


"Oh iya ibu sampe lupa, bentar ya." ucapnya kemudian membuatkan kopi mang Udin.


***


"Mas" Caca yang terbangun lebih dahulu menggoyang pelan dengan suaminya Setelah dia berhasil mengumpulkan nyawanya dengan penuh.


"Hmm..." Jawab Al dengan malas


"Mas, bangun sudah siang." ucap Caca lagi


Bukannya menjawab Al malah menarik Caca ke dalam pelukannya dan memeluknya semakin erat.


Caca merasa senang dan bahagia memang seperti inilah pernah pernikahan yang dia impikan sejak dulu, hidup bahagia bersama dengan pasangannya.


"Mas" panggil Caca pelan sambil mengusap-usap wajah sang suami.


Gadis itu kini tak lagi segan atau takut, Al sudah menjadi miliknya, dan dia bebas memiliki seluruh yang ada di tubuh suami, termasuk wajah tampannya ini.


Merasa terganggu, Al pun membuka matanya dan melihat pada gadis kecil yang sedang mengganggunya itu, bukan takut Caca malah tertawa,

__ADS_1


"Apa sih sayang, mas masih ngantuk." ucap Al kesal, baru saja dia memejamkan mata beberapa jam yang lalu. Karena aktivitas panjang mereka yang baru berakhir jam tiga pagi.


"Tapi ini udah siang Mas, lihat tuh matahari udah tinggi," Caca masih kekeh membangun kannya.


"Mas masih mau tidur," Al justru menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


"Tapi aku lapar mas," guman Caca pelan dengan ekspresi sefih


Dengan malas Al pun membuka matanya, perkataan sang istri membuatnya terbangun, pria itu langsung duduk, dan selimut yang menutup tubuhnya melorot hingga ke pinggangnya.


Caca dapat melihat dengan jelas bentuk tubuh suaminya, tubuhnya yang atletis dan kulitnya yang putih membuat sang istri tersipu malu. Apalagi saat bayangan penyatuan mereka tadi malam muncul tanpa diundang.


Gadis itu menunduk malu, pipinya jelas terlihat memerah.


Al terkekeh, "Mau lagi?" tanya nya membuat kepala Caca terangkat seketika dengan mata mendelik dan mulut menganga.


"A..aku enggak salah dengar mas?"


"Enggak,"


"Kamu enggak capek?"


Gadis itu menggeleng dengan wajah panik, "No mas, aku udah nggak bisa jalan, perih banget mas," jujurnya


"Sakit ya, maaf!"


"Mas laper?" lagi Caca mengingatkan Al


"Ya ampun mas sampai lupa, kamu mandi biar mas minta bibik buatin sarapan."


Al bangkit memungut pakainnya dan memakainya kembali, Bun hingga dia selesai Caca belum juga bergerak turun


"Mandi dulu Ca?"


"A..aku enggak bisa jalan mas, perih banget. kamu sih, kan udah aku bilang aku..."


"Shuuut;!!" Al meletakkan hati telunjuknya di bibir sang istri.

__ADS_1


"Maaf, mas sudah membuatmu begini. Sebagai gantinya mas akan menggendong mu."


Dengan sigap Al mengangkat Caca dan membawa nya kedalam kamar mandi yang ada di dalam kamar.


Tempatnya memang tak begitu besar, namun lumayan lengkap dengan shower di dalamnya.


"Mau mas mandiin"


"Enggak nanti bukannya mandi, kamu malah ngajak gelud."


"Gelud? apa itu?" tanya Al bingung.


'Hahaha masa' gitu aja enggak tahu,"


"Beneran enggak tau Ca."


"Hahaha..." Caca terus tertawa.


Al menurunkan Caca dan menghidupkan keran air, dia kemudian ikut mandi bersama sang istri.


Al hanya mandi, dan kemudian dia keluar untuk meminta bibik membuatkan sarapan. Al akan membawanya ke kamar, karena dia tahu istrinya pasti kesulitan untuk berjalan.


Selesai sarapan Al mengajak Caca melihat indahnya gunung di belakang villa.


Udara tang sejuk, angin sepoi-sepoi menambah indah nya suasana bagi pasangan muda ini.


Sore menjelang Al dan Caca berpamitan untuk pulang. Ditengah jalan Caca menagih janjinya untuk nonton di bioskop namun Al menolak.


"Ayo donk mas," ucapnya setengah merengek.


"Tidak, lain kali saja. Aku tidak mau dirimu jadi tontonan orang karena cara berjalan mu yang aneh.


"Aneh kenapa? biasa aja," ucap gadis itu dengan ekspresi bingung.


Al tak menjawab dia hanya tersenyum lucu.


"Apaan sih mas," Caca tak terima Al mentertawainya.

__ADS_1


"Maaf,"


__ADS_2