
...^^^selamat membaca^^^...
Keesokan paginya papa Aiba datang ke penjara untuk menemui pria yang sudah melecehkan anaknya, ketika disana dia bertemu dengan papa damar yang merupakan pemilik perusahaan yang sedang papa Aiba suntikan dana.
"Oh jadi pria brengsek ini anakmu ya, aku akan mencabut semua dana yang aku suntikan pada perusahaan mu. Aku tidak Sudi Bekerjasama dengan keluarga yang ingin melecehkan putriku" ujar papa Aiba.
"Jangan tuan itu bisa membuat perusahaan saya bangkrut, tolong maafkan kesalahan putra saya" ujar papa damar.
"Enak sekali kau bilang minta maaf apa kau tau karena ulah anakmu ini anakku menjadi trauma keluar rumah" ujar papa Aiba.
Setelah itu papanya aiba pergi dari sana dan menuju perusahaan nya.
** 4 hari kemudian**
Devan dan Amera Baru saja tiba di rumah mereka, mereka langsung menunju kamar mereka. Amera langsung merapikan pakaian mereka dan yang kotor ia letakkan di tempat baju kotor.
Setelah itu Amera memutuskan untuk tidur sebentar dia sangat mengantuk karena dia dan Devan pulang menggunakan jet pribadi pukul 4 subuh.
Sekarang jam menunjukkan pukul 10.05 WIB, sedangkan Devan dia sudah pergi bersama Han. Dia bilang pada isterinya kalo dia akan kekantor padahal dia pergi menuju kantornya polisi tempat damar berada.
Kantor polisi.
Devan sudah didepan jeruji besi tempat damar berada, damar terlihat sangatlah menyediakan dengan tubuh penuh luka.
"Jadi kau yang berusaha memperkosa Aiba !! akan ku pastikan kau mendapatkan hukuman seberat-beratnya, Dan juga ini balasan untukmu yang tidak mau bertanggung jawab pada putri"
tegas Devan.
"Put ....putri" ujar damar lirih.
"Iya apa kau masih ingat siapa di?" teriak Devan.
"Dia adikku " ujar Han.
"Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, mungkin dulu aku diam saja saat kau tidak ingin bertanggung jawab pada dia. Tapi kali ini kau tidak akan kubiarkan lepas kalau bisa dikasih hukuman gantung kau" ujar Devan dingin.
"Tidak aku tidak mau mati tolong tuan lepaskan aku" ujar damar.
"tidak semuda itu" ujar Devan lalu pergi.
******
Di rumah Aiba .
Tampak Aiba kini sudah mau keluar dia juga sudah berusaha melupakan kejadian buruk yang menimpa dia. Saat dia duduk di taman Tiba tiba ada yang menyentuh rambutnya pelan.
__ADS_1
Aiba refleks menoleh kebelakang, saat dia melihat Devan dibelakangnya dia langsung memeluk omnya itu.
"Om hiks..." ujar Aiba.
"Kamu tenang om dan papamu akan memberikan hukuman setimpal pada laki-laki itu" ujar devan.
"Kenapa dia tega melakukan itu padaku om padahal aku sangat mencintai dan menyayangi nya" ujar Aiba.
"Kau tidak ada salah sayang tapi kau salah menaruh hati" ujar Devan.
"Aku malu om pasti berita itu sudah tersebar aku mau pindah kuliah saja, aku mau kuliah di universitas Amerika saja. Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi dan melupakan kejadian yang sangat pahit ini" ujar Aiba.
"Itu ide yang bagus, dari pada disini kau sedih lebih baik kau kuliah di Amerika, dan belajar yang giat lupakan saja sesuatu yang tidak penting" Ujar devan.
Setelah ngobrol panjang lebar akhirnya Devan memutuskan pulang karena hari sudah sore, kini sudah pukul 16.30 WIB.
"Om harus pulang sekarang kasihan bibi mu pasti kesepian" ujar Devan.
"Apa bibi Amera tau keadaan yang menimpaku om??" ujar Aiba.
"Tidak om tidak memberi taunya lebih baik tidak dikasih tau biar dia tidak kepikiran sama kamu" ujar Devan.
"Itu lebih baik om " ujar Aiba.
"Baiklah om" ujar Aiba tersenyum.
***
Amera sedang duduk santai diruang tamu sambil menonton televisi, Sedari tadi dia melirik pintu rumah tapi yang ditunggu gak datang datang.
"Mas Devan kemana si kok gak pulang pulang, sedari pagi tadi perginya. Apa dia lupa kalau udah punya istri di rumah" ujar Mera memanyunkan bibirnya.
Dia memutuskan kebelakang rumah tepatnya ke kebun buah-buahan, dia akan memetik buah selagi menunggu Devan pulang.
Amera menuju tanaman stroberi, dia sangat antusias karena banyaknya buah stroberi yang masak.
"Kenapa para pelayan gak mengambil buah stroberi yang sudah masak, nanti ini bisa busuk. Kan bisa disimpan di lemari pendingin"ujar Amera .
Lalu dia memetik semua stroberi yang masak dan dia mendapatkan banyak buahnya, walau Tanaman stroberi cuma satu pelang (satu tanah yang sudah dibentuk kayak kuburan).
Saat Amera duduk sambil memakan stroberi dia mendengar ada suara sepatu berjalan kearahnya, Dan diapun menoleh.
"Mas kok baru pulang Amera bosan Lo di rumah, apa pekerjaan di kantor banyak banget sampai mas gak bisa pulang lebih cepat??" tanya Amera.
"Iya sayang banyak berkas yang harus aku tanda tangani" bohong Devan.
__ADS_1
"Lihatlah mas kerjaan pelayanan di rumah kita ini, masa buah stroberi sebanyak ini gak dipetik kan sayang kalau busuk" ujar Amera sambil memperlihatkan stroberi yang sudah dipetik.
"Pekerjaan mereka banyak sayang mungkin karena itu mereka gak sempat mengurus kebun" ujar Devan.
"Kalau begitu kamu harus mencari pelayan atau tukang kebun yang akan mengurus kebun ini" perintah Amera.
"Siap sayang" ujar Devan tersenyum lalu menggandeng tangan Amera masuk menuju rumah.
Skip dalam rumah.
"Mas mandi dulu kamu disini aja gak usah naik keatas nanti mas turun" ujar Devan.
"Kenapa aku gak boleh ikut??" ujar Amera.
"Nanti kamu kecapekan sayangku" ujar devan.
Mendengar ucapan sayang dari Devan seketika pipi Amera bersemu mera, walaupun dia belum mendengar ungkapan cinta dari suaminya tapi dia sudah sangat bahagia.
Dia akan bersabar untuk menunggu pengakuan cinta suaminya itu, setelah kepergian Devan Amera memanggil pelayan untuk menyimpan stroberi hasil petikannya dan dia menyuruh pelayan itu membuat 2 gelas jus stroberi.
Lalu Amera menuju meja makan melihat makanan apa yang dimasak pelayan, dia berdecak wow melihat makanan yang segitu banyaknya.
"Gila makanan nya banyak sekali, apa mas Devan gak bangkrut kalau setiap hari makanannya sebanyak ini" batin Amera.
50 menit menunggu akhirnya Devan selesai mandi dan menuju tempat Amera duduk, dia melihat 2 gelas jus stroberi.
"Jus stroberi untuk siap sayang kok ada 2" ujar Devan.
"Untuk mas lah untuk siapa lagi, udah minum biar mas sehat " ujar Amera.
"Mas kan sehat untuk apa mas minum itu, lagian mas kurang suka jua stroberi"jujur Devan.
"Tapi mas harus minum pelayan sudah capek capek membuatnya" ujar Amera.
Akhirnya Devan terpaksa meminum jus itu karena desakan Amera, diujung dapur bibi ratu melihat Amera dan Devan.
Dia tidak menyangka anak yang selama ini dia asuh yang memiliki keras kepala tinggi, dan susah diatur takluk didepan wanita mungil yang kini menjelma menjadi istrinya.
.......
.......
.......
...TBC....
__ADS_1