
Hai guys terimakasih atas dukungannya, berkat dukungan kalian Arthur jadi semangat buat bab selanjutnya 🥰.
******
Setelah acara makan sate kini Amera Dan Devan kembali melanjutkan perjalanan mereka ke rumah.
Setelah menempuh perjalanan 45 menit akhirnya mereka tiba di rumah mereka, Rani yang melihat rumah yang lebih besar dari rumah neneknya jadi melongo karena ini 2 kali lipat lebih besar dan mewah dari rumah orang tua Devan.
"Ada apa sayang kok kamu melihat rumah kita begitu?" ujar Devan terkekeh melihat tingkah Rani yang menurutnya menggemaskan.
"Rumah papa besar sekali, ini seperti istana yang ada di flm" ujar Rani pada Devan.
"Kau ini hahaha, sudah ayo kita masuk dan lihat kamar kamu disini" ujar Devan.
Amera yang melihat interaksi mereka pun hanya tersenyum, entah mengapa dia sedih melihat kedekatan mereka.
"Ada apa sih sama aku, mas Devan baik begitu karena Rani tanggung jawabnya selama ibunya dipenjara. Lagian dia gak akan rebut kasih sayang mas Devan, dia kan orang asing gak mungkin mas Devan lebih sayang dia dari pada anak kami kalau misalnya aku hamil nantinya.
Lalu mereka masuk kedalam disambut langsung oleh bibi ratu, bibi ratu sangat senang saat tau tuannya sudah kembali dengan selamat.
"Selamat datang tuan, anda apa kabar?" tanya bibi ratu.
"Alhamdulillah baik bi, bibi sendiri apa kabar?" tanya Devan pada wanita paru baya itu.
"Alhamdulillah baik juga tuan" ujar Bibi ratu tersenyum. Lalu Devan memperkenalkan Rani pada semua orang yang ada di mansion mewah itu, ada yang senang dan ada juga yang tidak senang pastinya karena itu bukan anak kandung tuan mereka.
Setelah acara perkenalan Amera mengantar Rani ke kamar yang sudah dipersiapkan, Rani pun ikut saja saat diajak naik kelantai atas.
Kamar Rani bersebelahan dengan kamar Devan dan Amera, jadi Rani bisa dengan cepat ke kamar Devan kalau ada perlu nantinya.
(Didalam kamar)
"Apa kamu suka sayang?" tanya Amera. Rani hanya menganggukkan kepalanya tanda dia suka, dia masih enggan bicara banyak pada Amera.
Setelah dirasa cukup dan Melihat Rani tidur Amera langsung meninggalkan Rani dikamar Dan pergi menuju kamarnya bersama suami. Saat dikamar Amera sudah dapat pertanyaan dari Devan, pertanyaan itu pastinya tentang Rani.
"Bagaimana sayang apa Rani menyukai kamarnya?" tanya Devan penasaran.
__ADS_1
"Iya dia menyukai kamar itu mas, jadi mas gak usah khawatir. Oh iya mas KTI aku sudah selesai dan bulan depan aku sudah wisuda"Ujar Amera bahagia. Dia wisuda 4 bulan lebih cepat dari teman-temanya, karena dia cukup pintar dan dipercepat wisudanya.
*****
Di Amerika saat ini masih pagi Aiba dan Olivia sedang berada di kampus, Aiba baru saja mendapatkan kabar kalau omnya sudah pulang. Dia bersyukur sekali karena om nya sudah ditemukan dan sudah berkumpul kembali bersama keluarga mereka.
"Ada apa ba? kulihat sedari tadi wajahmu berseri begitu, apa ada kabar bahagia?" tanya Olivia.
"Iya oli, om aku sudah ditemukan karena itu aku bahagia. Ini masih seperti mimpi" ujar Aiba.
"Wah benarkah? itu bagus dong" ujar Olivia tersenyum. Tidak lama kemudian bel pun berbunyi tanda kalau masuk jam pertama perkuliahan.
####
Paginya Amera baru bangun setelah sholat subuh tadi Amera kembali tidur jadi dia bangun agak kesiangan karena dia merasa kurang enak badan.
"Bagaimana sayang apa kamu masih merasa gak enak badan?" tanya devan.
"Iya masih sedikit pusing jelas Amera akhirnya pada Devan.
Devan langsung berinisiatif untuk memijat kepala Amera agar pusingnya berkurang, dia kasihan melihat istrinya itu sakit.
Amera memutuskan untuk mandi menggunakan air panas agar dia kembali segar, setelah mandi Amera turun untuk sarapan.
Skip meja makan.
"Bi Rani sudah makan?" tanya Amera.
"Sudah nyonya" ujar bibi Ratu.
Amera hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu dia melanjutkan makannya. Setelah selesai makan Amerapun meminum obatnya, setelah itu baru menemui Rani dikamarmya.
Tok...tok...// bunyi pintu diketuk.
Rani pun membuka pintu saat mendengar suara kamarnya diketuk.
"Bibi...ada apa?" ujar Rani.
__ADS_1
Amera cukup senang karena rani sudah tidak berbicara ketus lagi padanya, biarlah dia menjadi bibinya agar dia maupun Rani sama-sama merasa nyaman.
"Bibi ingin mengajakmu ke kebun buah, kamu mau gak?" tanya Amera.
"Kebun buah? mau...tapi apa papa ngizinin untuk kebun buah?"Tanya Rani polos.
"Pasti dong sayang, lagian kebun buahnya ada dibelakang masih di rumah kita juga papa gak bakal marah" ujar Amera.
"Benarkah? wah..Rani bisa makan buah setiap hari dong bibi" ujar Rani.
"Tentu saja, ayo kita pergi. Kita bisa memetik buah apel, anggur, stroberi dan masih banyak lagi" ujar Amera.
Mendengar apa yang dibicarakan oleh bibinya membuat Rani begitu senang karena dia akan segera memetik banyak buah-buahan. Mereka langsung pergi bergegas kekebun buah dengan keranjang ditangan mereka.
"Rani nanti mau petik buah apa duluan?" tanya Amera pada Rani.
"Rani suka buah stroberi jadi Rani akan petik buah stroberi bibi" ujar Rani sambil tersenyum.
"Bagus sekali " ujar Amera lalu mereka berjalan dengan muka bahagia, setelah menempuh beberapa menit mereka tiba di kebun buah.
"Wah...ternyata yang bibi bilang benar, ada banyak buah-buahan disini" ujar Rani pada Amera dengan berbinar.
"Sudah kau boleh petik buah sepuasmu gak akan ada yang larang" ujar Amera lalu mulai memetik buah anggur salah satu buah kesukaan Devan.
Tampak di wajah Amera terlihat gurat kebahagiaan, hal itu disadari oleh rani.
"Apa yang mama katakan itu benar ya kalau bibi Amera itu jahat, tapi kalau jahat dia pasti akan memukulku saat papa pergi kerja. Tapi bibi tidak pernah memukulku bahkan dia sabar banget sama Rani walau Rani sadar omongan Rani sangat kasar pada bibi Amera" batin Rani Sambil memetik stoberi.
"Hei sayang kamu lagi melamunkan apa?" tanya Amera saat melihat Rani sedang melamun.
"E...tidak bibi" ujar Rani.
Setelah puas memetik buah-buahan Rani dan Amera kembali ke rumah mereka dengan menjenjeng keranjang buah yang telah mereka petik sebelumnya.
Setelah itu mereka memutuskan untuk istirahat diruang tamu sambil minta dibuatkan jus dari buah-buahan yang mereka petik sebelumnya.
"Pasti jusnya nanti akan sangat segar, apalagi kita sendiri yang memetiknya" ujar Amera sambil memandang Rani.
__ADS_1
"Iya bi" ujar Rani setelah itu kembali pokus pada film kartun ditelevisi. Tidak lama kemudian jus pesanan mereka jadi, Amera dan Rani sangat senang karena itu.
...TBC....