
...~Happy reading~...
Setelah makan rujak buatan Devan, Amera kembali ke kamarnya untuk istirahat karena dia merasa sangat mengantuk hari ini. Devan dan mamanya Devan tidak mempermasalahkan itu karena mereka juga merasa kalau Amera itu aneh, dan mereka berharap kalau Amera nanti benar-benar hamil.
"Aku rasa yang mama katakan memang benar, Amera begitu aneh hari ini semoga saja Amera benar-benar hamil" ujar Devan pada mamanya diruang tamu.
"Apa mama bilang, gejala-gejala yang diperlihatkan Amera itu sama seperti gejala orang hamil" jelas mama Devan percaya diri karena dia begitu sangat yakin akan hal itu.
Mereka memutuskan menonton televisi dan juga mengobrol untuk menghabiskan waktu libur hari ini.
*******
Keesokan paginya seperti yang telah Devan katakan pada mamanya kalau dia dan Amera akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa apakah Amera benar-benar hamil atau tidak.
Mobil mewah milik Devan berjalan dengan kecepatan sedang membela jalan raya, Amera yang berada disebelah Devan tidak berhenti berdoa di dalam hati semoga ia benar-benar hamil.
"Kau tenang saja sayang, mas yakin kamu hamil. Dan jika kamu belum hamil kita bisa berusaha lagi sayang" jelas Devan.
30 menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit langganan mama Devan. Mereka langsung menuju ruangan dokter kandungan, Devan dan Amera begitu cemas dengan hasil pemeriksaan.
"Baiklah nyonya Amera, silahkan anda berbaring ditempat tidur kita akan melakukan tes USG untuk mengetahui anda Hamil atau tidak" jelas dokter.
"Baiklah dok" ujar Amera lalu dia berbaring ditempat tidur yang sudah diciptakan oleh dokter, lalu dokter tersebut mengoleskan jelly diperut rata Amera.
Setelah itu dia mulai menghidupkan alat USG tersebut, Amera dan Devan begitu cemas melihat hasil dari pemeriksaan itu.
20 menit kemudian pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter kandungan pun selesai, dengan langsing menanyakan hasil dari pemeriksaan itu kepada dokter.
"Bagaimana hasilnya dok? apa istri saya benar-benar hamil?" tanya Devan.
"Berdasarkan pemeriksaan yang kita lakukan nyonya Amera tidak hamil tuan Devan" jelas dokter.
Mendengar itu Amera begitu sedih karena dia ingin sekali hamil tapi inilah yang terjadi, melihat Amera sedih Devan langsung tersenyum untuk menghibur istrinya.
"Sudah sayang jangan sedih, kita bisa berusaha lagi. Lagian kamu juga belum tamat kuliah kan, gak usah cepat-cepat hamil sayang" jelas Devan.
Dokter yang mendengar itu hanya tersenyum melihat pasangan ini, Karena menurutnya mereka adalah pasangan yang serasi lalu Devan dan Amera izin pamit pulang.
__ADS_1
(Didalam mobil).
Amera terus murung didalam mobil, dia tidak terima belum hamil. Padahal dia dan Devan sangat menginginkan seorang anak sekarang tapi belum dikasih oleh Allah. Devan yang melihat istrinya bersedih sedari tadi juga bingung harus berbuat apa, apa yang harus dia lakukan agar Amera berhenti bersedih.
"Apa yang harus aku lakukan Amera sedih sedari tadi, jujur aku juga kecewa karena Amera tidak hamil tapi melihat Amera yang begitu terluka aku juga gak tega" batin Devan.
"Sayang" panggil Devan.
Amera yang sedang melamun tidak mendengar panggilan dari suaminya itu, Devan mencoba memanggil istrinya lagi.
"Sayang, kamu dengar mas gak si!!" ujar Devan sedikit keras agar istrinya itu mendengar panggilannya.
"Mas" lirih Amera.
"Kamu baik-baik saja??" batin Devan.
"Aku hiks....aku gak baik-baik saja mas hiks..." ujar Amera sedih.
Devan yang melihat Amera menangis langsung memberhentikan mobilnya ditepi jalan, dan langsung menghadap ke arah Amera dan menatap wajah istrinya itu.
"Sudah jangan menangis lagi sayang" jelas Devan, dia langsung menghapus air mata Amera.
Devan membawa Amera kedalam pelukannya dan mengusap rambutnya pelan.
"Sudah sayang jangan menangis lagi, itu berarti belum nasib kita untuk mempunyai anak. Lagian jika kita belum mempunyai anak sekarang bukankah itu bagus!" ujar Devan sambil memainkan matanya, hal itu membuat Amera bingung dan menatap Devan sambil menghapus air matanya yang jatuh diwajahnya perlahan.
"Maksud mas apa" tanya Amera akhirnya.
"Sayangku, cintaku, dan manis ku kita berdua kan baru merasakan yang namanya jatuh cinta dan juga kita berdua juga masih butuh waktu yang banyak untuk saling mengenal dan menghabiskan waktu bersama" jelas Devan panjang lebar.
Amera yang mendengar ucapan Devan hanya dapat tersenyum malu, dia tidak menyangka pria yang terkenal dingin dan cuek bisa mengatakan hal seperti itu padanya.
"Ada apa, kenapa kau sekarang malah tersenyum begini? tadi kau menangis sekarang malah tersenyum" ujar Devan pada Amera padahal dia sudah tau apa alasannya, dasar dia saja yang ingin menggoda Amera.
"Mas ih..." ujar Amera malu-malu.
Setelah dirasa Amera sudah sedikit tenang Devan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang kerumah mereka.
__ADS_1
***********
Devan baru saja memberhentikan mobil sportnya dirumah yang begitu mewah dan besar rumah siapa lagi kalau bukan rumah Devan dan Amera.
Setelah pintu gerbang dibuka Devan langsung melajukan mobilnya masuk kehalaman rumah Devan, setelah itu Devan turun dan membukakan pintu untuk Amera.
"Mas seharusnya gak usah membukakan pintu untukku, aku bisa kok" ujar Amera merasa tidak enak pada Devan.
"Tidak apa-apa sayang, mas suka kok manjain kamu" jelas Devan. Setelah itu Devan dan Amera langsung masuk ke dalam rumah.
Didalam rumah.
Saat Amera dan Devan masuk kedalam rumah mereka dikagetkan oleh keberadaan Aiba dan Olivia.
"Aiba kau disini?" tanya Amera.
"Iya, aku disini sudah satu jam kamu Sam om kemana kok lama banget" ujar Aiba sedikit kesal.
"Kami habis dari rumah sakit" jelas Devan, dia melihat kearah Olivia yang menatapnya dengan senyuman yang membuat Devan merasa risih.
"Kenapa dia menatapku begitu aku benar-benar merasa risih" batin Devan.
"kerumah sakit! siapa yang sakit om?" tanya Aiba.
"Gak ada yang sakit, kami hanya memeriksa kedokter kandungan" jelas Devan.
" terus gimana hasilnya" tanya Olivia tiba-tiba, dia ingin memastikan kalau istri dari pria yang dicintainya ini tidak hamil.
"Aku gak hamil" jelas Amera sendu.
"Sudah bi jangan sedih, bibi juga kan baru sembuh dari keguguran" jelas Aiba Yang melihat wajah bibi sekaligus sahabatnya itu.
Mendengar itu Olivia senang dan juga kesal, karena anak dari pria yang dicintainya perna hadir di rahim Amera.
"Sial, bagaimana caranya aku akan merebut om Devan dari wanita ini. Aku gak akan diam saja, Devan hanya milikku" batin Olivia.
Lalu mereka memutuskan untuk makan siang karena jam sudah menunjukkan jam makan siang.
__ADS_1
...TBC....