Menikah Dengan Paman Sahabatku

Menikah Dengan Paman Sahabatku
Sadar


__ADS_3

Setelah Amera dipindahkan keruangan rawat, Devan dan keluarganya pun memasuki ruangan Amera. Terlihat kepala Ampera diperban dan wajahnya pucat Pasih, hal itu membuat Devan meneteskan air matanya.


Dia terduduk di kursi sebelah ranjang lalu tanpa sadar tangannya bergerak menelusuri wajah dari wanita yang amat dia cintai itu.


"Sayang" lirih Devan.


Dia tak kuasa menahan laju air matanya, Devan langsung menghambur di pelukan Amera sambil terisak. Orang tua Amera yang melihat menantunya menangis juga ikut menangis, begitu juga mama Devan dia sangat sedih melihat nasib putra dan menantunya.


"Yang sabar nak Devan yuk, sebaiknya kita ke mushola terdekat dan kita doakan Amera agar cepat Siuman. Dan berdoa untuk diberikan kesabaran atas kepergian calon anak kalian " jelas papa Mera.


"Iya pa" ujar Devan.


Lalu Devan dan papanya Amera keluar dari ruangan Amera untuk melaksanakan sholat di mushola.


Setelah kepergian para laki-laki mama Amera dan mama Devan langsung mendekati Amera.


Mereka menitikkan air mata, mereka benar-benar gak menyangka kenapa nasib anak mereka sangat mengenaskan begini.


"Bagaimana cara kita menjelaskan pada Amera soal bayinya yang sudah meninggal! dia pasti akan sangat sedih nantinya" ujar mama Devan.


"Kau benar jeng, aku juga takut bagaimanapun Amera sangat menantikan anak itu" lirih mama Amera.


******


4 jam sudah berlalu setelah operasi tapi belum ada tanda-tanda Amera sadar, Devan terus berdoa bahkan mengaji untuk Amera.


"Sayang kapan kamu bangun? mas sudah kangen banget sama kamu. Apa kamu tidak merindukan mas sayang" lirih Devan sambil mencium tangan mungil Amera.


"Dev, yuk kita cari makan sedari tadi kamu belum makan" ujar papa Devan.


"Tidak pa Devan akan tetap disini menunggu Amera, Devan gak mau nantinya setelah Devan pergi dia bangun dan mencari Devan" jelas Devan.


"Nak pergilah dulu mencari makan, kalau Amera sudah sadar nanti mama telpon" ujar Mama Devan.


karena Devan tidak ingin membuat mama yang sangat dicintainya menangis maka dia mau pergi mencari makanan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi minta disi makanan.


Mama Amera mengusap lembut rambut putri semata wayangnya, dia begitu sangat menyayangi putrinya itu.


"Cepatlah sadar sayang, apa kamu gak kasihan sama Devan suami kamu mm...dia sangat mencintai kamu, dia sampai tidak rela meninggalkan kamu hanya untuk membeli makanan. Bangunlah sayang hiks..." lirih mama Amera.


Melihat pemandangan itu Mama Devan pun berlinang air mata, dia menatap menantu kesayangannya itu hingga matanya melihat pergerakan kecil dari jari-jari lentik milik Amera.


"Jeng tangan Amera bergerak" jelas mama Devan.


Mendengar itu mereka langsung mendekati Amera, dan benar saja tidak lama setelah itu mata Ampera terbuka perlahan.


"Sayang kamu sudah sadar nak" ujar mama Amera.


"Ma, Amera dimana?" tanya Amera pelan.


"Kamu di rumah sakit sayang, kamu baru saja mengalami kecelakaan" ujar mama Amera.


" Sayang kamus sudah sadar ada yang sakit?" tanya Mama Devan.


"Kamu siapa?" tanya Amera spontan.

__ADS_1


"Sayang kamu lupa sama mama?, hiks...ini mama mertuamu sayang" Ujar mama Devan.


"Mama mertua? apa maksud semua ini aduh....kepala Amera sakit ma" ringis Amera.


Mama Amera yang melihat Amera kesakitan langsung memanggil dokter untuk menangani menantunya itu.


10 menit kemudian Mama Devan sudah bersama dokter memasuki Kamar rawat Amera.


"Halo non Amera" ujar Dokter Ramah.


"Halo dok" ujar Amera.


Setelah menyapa Amera, dokter langsung memeriksa Amera.


"Berapa umurmu sekarang?" tanya Dokter.


"17 tahun dok" ujar Amera.


"Tahun berapa sekarang?" tanya Dokter lagi.


"2019 dok, kenapa dokter menanyakan hal itu pada Amera" bingung Amera.


Sedangkan mama Amera dan mama Devan kaget mendengar jawaban Amera.


"Apa yang terjadi pada putri saya dok hiks..." lirih mama Amera.


"Nona Amera mengalami Amnesia ringan" Ujar Dokter menjelaskan.


"Amnesia dok?, apa bisa disembuhkan?" tanya mama Devan.


"Bisa nyonya, Amnesia ringan masih bisa disembuhkan tapi secara bertahap jangan dipaksa" ujar dokter.


Setelah kepergian Dokter mama Amera dan mama Devan memandang Amera.


Amera:


*kenapa mama dan wanita paruh baya itu memandang ku begitu? terus kenapa aku bisa masuk rumah sakit, bukannya aku tadi disekolah terus kenapa aku bisa kecelakaan.


Aiba mana lagi, kan aku sekolah bareng dia, apa dia juga dirawat seperti ku.


saat aku melamun dan memikirkan semua yang terjadi ini tiba tiba pintu ruangan ku dibuka, terlibat papa masuk aku langsung tersenyum pada papa tapi ada satu orang yang bikin aku terdiam.


Itu kan om Devan, omnya Aiba kenapa dia keruangan aku apa dia mau menjenguk aku setelah dari ruangan Aiba.


Semua kebingungan itu berputar di kepalaku hingga satu kata dari om Devan membuat aku kaget sekali.


"Sayang kamu sudah sadar " ucapnya bahagia setelah memasuki kamar rawat ku.


Aku tidak menjawab pertanyaan om Devan karena aku masih bingung mencerna semuanya.


Hingga om Devan kembali bertanya padaku, yang semakin membuat jantungku berdetak.


"Sayang kok kamu diam saja" tanyanya lagi.


"Aku baik om, terimakasih sudah menjenguk Amera" ujar ku mencoba tersenyum*.

__ADS_1


****


Devan yang melihat Amera sudah sadar Sangat bahagia, tapi dia merasa aneh kenapa Amera memanggilnya om.


Devan:


Saat aku memasuki kamar *rawat Amera aku sangat senang melihat istriku itu sudah sadar.


"Sayang kamu sudah sadar " ucapku bahagia.


Dia tidak menjawab pertanyaan ku dan malah diam seperti orang kebingungan, sebenarnya Amera kenapa? kulihat mama dan Mama Amera melirikku iba.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Amera? itulah pertanyaan yang ada dibenak ku.


"Sayang kok kamu diam saja" tanyaku lagi.


"Aku baik om, terimakasih sudah menjenguk Amera" ujarnya mencoba tersenyum.


mendengar jawabannya aku semakin bingung hingga mamaku mengajakku bicara diluar, akupun mengikuti mama kulihat Amera menatapku sedih seperti tidak rela aku pergi*.


(Diluar ruangan)


Langsung aku tanyakan pada mama ku semua yang membuatku bingung setengah mati sedari tadi.


"Ma, apa yang terjadi sama Amera kenapa dia bersikap begitu? biasanya dia akan memanggil ku mas ini dia memanggilku om" ujar Devan.


"Itulah yang membuat mama sedih Dev, dokter bilang Amera Amnesia" jelas mama Devan.


"Apa amnesia!, terus apa itu bisa disembuhkan ma? wajar saja Amera bersikap Canggung begitu" Ujar Devan.


"Dia mengalami Amnesia ringan Dev, dia terjebak di tahun 2019" jelas Mama Devan.


"Maksud nama?" tanya Dev.


"Dia hanya ingat dari tahun 2019, dia tidak tau mama siapa tapi dia mengenalimu sepertinya kalian sudah lama kenal ya? tanya mama Devan.


"Iya lah ma dari dia masih SD Devan sudah kenal sama Amera" ujar Devan terkekeh.


"Apa!!" kaget mama Devan.


"Dia kan sahabat Aiba, dan sedari SD mereka memang udah sahabatan mereka sering nginap bareng kadang ke rumah Ampera kadang ke rumah Aiba. Devan kenal saat Devan main ke rumah Aiba" ujar Devan.


Setelah merasa semua sudah cukup Devan kembali masuk, Devan lihat Ada raut bahagia di wajah istrinya itu. Diapun terkekeh, dia tau Sekarang apa yang dirasakan istrinya itu.


Dia pasti sedang kasmaran sekarang, secara Devan adalah cinta pertamanya.


Devan duduk di bangku Yang ada di samping ranjang Amera.


"Apa ada yang sakit?" tanya Devan.


"Di...diperut om, Amera gak tau kenapa perut Amera sakit sekali" rengek Amera.


Hal itu membuat Orang tua disana sedih, bagaimana jika ingatan Amera kembali.


"Tidak apa-apa nanti kalau sudah diberi obat sakitnya hilang" ujar Devan lalu mengusap rambut Amera.

__ADS_1


Hal itu membuat Amera begitu gugup dan jantungnya berdetak cepat.


...TBC....


__ADS_2