
Halo guys terimakasih atas dukungannya selama ini , sampai cerita ini sudah masuk ke baba sekarang 😊.
**********
Dikamar Devan dan Amera saling mengobrol bersama, Bahkan Amera bermanja-manja dengan Devan karena tidak lama lagi Devan akan berangkat ke Amerika dan dia akan sangat merindukan suaminya itu. Dia bahkan enggan melepaskan Devan walau itu ke kamar mandi sekalipun.
"Sayang mas kebelet pengin berak kamu lepasin mas dulu ya, masa kamu ikut mas berak kan bau" ujar Devan tersenyum.
"Tapi..."tatap sendu Amera.
Karena melihat wajah menahan dari Devan akhirnya Amera melepas Devan ke kamar mandi, sedangkan dia mengambil hp dan menelpon Aiba.
(📞📞)
Aiba: Halo Mer ada apa??
Amera: Besok mas Devan ke Amerika, kamu awasi ya paman kamu jangan sampai dia kegatelan.
Aiba terkekeh mendengar ucapan dari bibinya itu, Aiba tau kemalangan yang dialami sahabat sekaligus bibinya itu dia kasihan kepada Paman dan bibinya padahal mereka sangat menanti kelahiran anak mereka tapi malah dapat musibah kemalangan itu.
Amera : Ba, kok lo diam aja si??.
Aiba: gue dengar kok, lo tenang aja gue bakal jagain suami lo.
Amera: Janji ya, Gue gak mau kehilangan mas Devan. Gue sangat cinta sama dia dan sayang, gue gak tau sehancur apa kalau gue pisah sama mas Devan.
Aiba : Iya bibiku yang tersayang, kau tenang saja om Devan akan aku juga dan ku awasi.
Amera: terimakasih ba.
Aiba: santai aja kayak sama orang lain aja.
20 menit kemudian Devan keluar dari kamar mandi, dia langsung mendekati Amera yang sedang memainkan hp Devan. Devan tidak marah kepada Amera walau dia membuka hpnya tanpa seizinnya, karena cintanya sangat besar pada istrinya itu jadi dia tidak bisa marah.
"Sayang" panggil Devan lalu duduk disebelah Amera dan langsung berbaring menjadikan paha Amera sebagai bantal untuk kepalanya.
"Mas" ujar Amera, dia langsung meletakan Hp Devan dimeja samping tempat tidur dan mulai mengganti kegiatannya dengan mengusap pelan rambut Devan.
__ADS_1
"Mm ... kenapa kamu berhenti memainkan hp sayang? apa mas ganggu" tanya Devan.
"Mas enggak ganggu kok, Amera emang udah selesai main hpnya. Sebenarnya Amera main hp hanya untuk membuang bosan menunggu mas dikamar mandi" jelas Amera.
"Kenapa kamu menunggu mas sayang?, kan kamu bisa langsung tidur ini juga sudah jam sembilan malam" ucap Devan.
"Gak bisa tidur kalau gak ada mas, oh ya mas kan nanti lama perginya gak kangen gitu sama Amera? kita gitu-gitu dong mas kayak yang sering pasangan lakukan" ujar Amera.
"Gitu-gitu apa sayang?" goda devan.
"Mas ih...kok gitu, mas jangan pura-pura gak tau, padahal mas tau apa yang Amera maksud" ujar Amera cemberut.
"cup ...cup..cup istri mas gak boleh marah, maafin mas ya udah nyakitin kamu" ujar Devan.
Amera hanya diam saja dia kesal kepada Devan, padahal dia ingin romantis-romantis kayak di drama korea tapi suaminya ini malah menghancurkan mimpi-mimpinya.
Devan yang melihat Amera kesal hanya tersenyum kecil, dia langsung mencium pipi Amera, terus berpindah ke kening, mata, dan akhirnya di bibir ranum milik Amera.
Dan mereka kembali meraih surga dunia diatas tempat tidur, Mereka melakukan itu dari jam 9 malam sampai jam 2 subuh.
****
Diperjalanan Amera terus memeluk lengan Devan takut kehilangan Devan, dia rasanya susah melepas Devan apa lagi sekarang mereka sedang bucin-bucinnya.
Bukan cuma Amera yang uring-uringan, Devan juga uring-uringan tanpa Amera sadari. Dia juga berat melepaskan istri yang amar dia cintai itu, tapi mau bagaimanapun lagi pekerjaan di Amerika harus dia sendiri yang turun tangan tidak bisa diwakilkan oleh siapapun.
30 menit kemudian mereka sudah tiba di bandara, Devan dan Amera berjalan bergandengan. Devan dapat melihat wajah sedih istrinya itu, dia langsung melepas genggaman tangan ditangan Amera lalu dia menggenggam wajah Amera.
"Sudah dong jangan sedih terus, Nanti kalo mas sudah sampai mas akan langsung Videocall sama kamu. Setiap hari kita Vidiocall jadi kamu bisa lihat mas setiap hari mas juga begitu" ujar Devan tersenyum.
"Baiklah mas" ujar Amera sedih.
Dengan berat hati Amera langsung melepas tangan devan, setelah 5 menit menunggu akhirnya pengumuman penerbangan disiarkan Amera hanya dapat menangis melihat dengan memasuki pesawat.
"Mas..."panggil Amera lirih.
Devan hanya melambaikan tangannya lalu masuk kedalam pesawat, dan setelah dirasa penumpangnya sudah cukup pesawat pun lepas landas.
__ADS_1
"Bagaimana aku menjalani 3 hariku tanpa mas Devan, itu pasti sangat membosankan dan juga menyedihkan" ujar Amera sedih.
Lalu dia dan sopir papanya memutuskan kembali ke rumah, diperjalanan Amera tak henti-hentinya menangisi Devan.
"Non sebaiknya berhenti menangisi den Devan gak baik non, pamali lebih baik Non doakan semoga den Devan sampai dengan selamat ditempat tujuan" Jelas sopir.
"Benarkah mang Diman?" tanya Amera.
"Iya non katanya gak boleh nangisi kepergian orang takut terjadi sesuatu yang buruk" jelas mang Diman.
mendengar itu Amera langsung menghapus air matanya dia tidak mau kalau Devan kenapa-kenapa, dia ingin suaminya baik-baik saja.
Setelah memakan waktu cukup panjang akhirnya mereka tiba di rumah kediaman orang tua Amera.
Amera masuk dengan mata sembab karena kebanyakan menangis tadi, hal itu membuta mama Amera khawatir.
"Sayang kau kenapa? kenapa kau menangis?" tanya mama Sarah.
"Enggak papa kok ma, ehehe....Amera hanya gak bisa berpisah sama mas Devan. Mama tau kalau Amera sangat bucin sama mas Devan" ujar Amera.
"Ya tapi gak usah nangis juga sayang, lihat mata kamu sampai bengkak begitu. Udah lebih baik kamu bantu mama masak kue" ajak mama Amera sambil menarik pelan tangan putrinya menuju dapur.
Lalu mereka mulai membuat kue yang akan mereka masak, mulai dari bahan-bahan yang harus disiapkan.
Amera langsung mengocok telur dan setelah tercampur telur putih dan kuningnya maka Amera mencampur tepung kue. Setelah itu menambahkan pengembang kue.
2 jam kemudian kue bolu khas Amera dan mama Sarah matang, Amera langsung memotretnya dan mengirimnya pada suaminya walau suaminya itu kemungkinan masih didalam pesawat dan belum bermain hp.
"Gak mau mencoba kuenya dulu sayang? kamu kan sudah bekerja sangat keras" ujar Mama Amera.
"Iya ma" ujar Amera semangat.
Lalu mereka mencoba kue yang mereka buat sebelumnya, dan terlihat di wajah Amera bahwa dia menyukai kue yang mereka buat.
"Bagaimana sayang? apa rasanya enak? " tanya Mama Amera?
"Iya ma, rasanya enak " ujar Amera sambil tersenyum.
__ADS_1
...TBC....