
......*selamat membaca*......
****
Malamnya Devan Baru saja masuk kedalam rumah baru pulang dari kantor, Dia langsung saja dapat berita dari bibi ratu.
"Apa !! Amera menangis tapi kenapa??" tanya Devan.
"Saya tidak tau tuan, tapi sepulang dari kuliah dia menangis" ujar bibi ratu.
"Baiklah bi terimakasih atas informasinya" ujar Devan.
Devan langsung menuju kamar mereka dia ingin memastikan sendiri kenapa istrinya itu menangis, Saat tiba di sana dia melihat Amera sedang memainkan hp miliknya.
"Sayang aku pulang, kamu lagi ngapain??" tanya Devan.
"Biasa mas lagi lihatin ini" ujar Amera sambil memperlihatkan hp miliknya.
"Oh, iya kata bibi ratu kamu nangis tadi?? kenapa kamu menangis??" ujar Devan bertanya pada Amera.
"Aku gak nangis kok" elak Amera.
"Kamu gak usah bohong kamu gak pandai dalam hal berbohong, jadi kamu gak usah berbohong padaku" ujar Devan.
"Baiklah aku akan mengatakan kenapa aku menangis, aku menangis karena berita Aiba. Mas pasti tau kalau Aiba dilecehkan tapi kenapa mas gak kasih tau aku?? apa aku gak berhak tau soal itu" tanya Amera.
"Kamu tau dari siapa itu sayang ??" ujar Devan.
"Mas gak perlu tau aku tau itu dari siapa tapi kecewa sama kamu mas, kamu gak mau berbagi hal itu padaku. Apa aku bagimu, apa aku ini suatu beban yang tidak dibutuhkan di kehidupan mu??" tanya Amera.
"Gak sayang aku gak pernah menganggap kamu begitu, sudah jangan marah lagi mas minta maaf. Mas gak beritahu kamu karena mas gak mau kamu kepikiran sama Aiba" ujar Devan.
"Tapi Aiba itu sahabat aku dan juga sekarang dia keponakan ku kan? jadi wajar kalau aku mengawatirkan nya" ujar Mera.
"Iya maaf karena mas sudah menyembunyikan ini semua dari mu" ujar Devan.
Amera hanya menganggukkan kepalanya, dia juga gak bisa marah lama lama kepada Dev apalagi salahnya sangatlah besar kepada Dev.
LaLu Devan memutuskan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena dia baru saja pulang dari kantor, dan langsung bertanya pada istrinya itu Sejujurnya Devan sudah sadar kalau dia mencintai Amera.
Tapi cinta tidak harus diungkapkan dengan ucapan tapi dengan perilaku,Devan memang pria yang suka mengumbar janji dan rayuan.
Dia juga tidak bisa menggombal dan membual seperti pria diluar sana, tapi dia akan langsung bertindak.
__ADS_1
Selagi menunggu Devan mandi Amera langsung menuju lemari untuk menyiapkan pakaian untuk suaminya. Dia memilih baju yang menurutnya cocok untuk Devan.
40 menit kemudian Devan telah selesai mandi lalu Devan keluar dengan memakai pakaian yang dipilih oleh Amera.
"Wah...ternyata pilihan ku gak salah mas terlihat sangat tampan dengan baju ini" ujar Amera.
"Benarkah??" tanya Devan.
Setelah selesai memakai baju Amera dan Devan langsung menunju meja makan, lalu mereka makan dengan tenang tidak ada keributan .
***Satu bulan telah berlalu ***
Amera dan Devan semakin mesra dan itu membuat Amera senang, dia berpikir apakah sudah saatnya ia memberi tau rahasianya yang dia simpan rapat-rapat itu.
"Ada apa sayang aku lihat sedari tadi kamu gelisah terus??" ujar Devan.
"A...aku ingin mengatakan sesuatu" ujar Amera
"Katakan saja emang nya kamu mau bicara soal apa??" tanya Devan.
"Mas janji jangan marah ya" ujar Amera
"Iya mas janji, jadi katakan saja ada apa" ujar Devan.
Devan mendengar dengan seksama dan hanya diam saja, sampai selesai pun dia tetap diam.
"Mas maafin Amera ya, Amera sudah jahat banget sama mas" ujar Amera.
Devan tidak menjawab hanya diam saja.
"Mas" panggil Amera.
"Aku harus pergi" ujar Devan lalu meninggalkan Amera.
Amera hanya diam dia tau ini emang salah, nasib baik Devan tidak marah dan juga mengusirnya walau devan bersikap dingin padanya.
Amera hanya menatap devan dengan pandangan sayu, dia hanya bisa diam dan menunggu Devan tidak marah lagi.
Dia berharap suaminya gak akan marah terlalu lama, karena dia gak bisa didiamkan oleh Devan lama-lama karena Amera suka devan yang banyak bicara dan selalu memanggil nya sayang seperti biasanya.
Amera memutuskan kebelakang rumah lebih tepatnya kebun buah karena ditempat itu dia bisa, menenangkan dirinya.
"Apa yang akan mas pilih, aku hanya pasrah jika memang mas akan meninggalkan aku. Karena aku sadar sesuatu yang berlandaskan kebohongan tidak akan baik" batin Amera.
__ADS_1
Amera menatap hamparan buah-buahan dengan berlinang air mata, karena bagaimanapun dia sangat khawatir saat ini.
Amera langsung menuju buah manggil entah kenapa dia ingin sekali memakan itu saat ini, rasanya air liurnya mau menetes saat melihat buah manggis.
"Wah.... kayaknya buah manggis ini enak, pasti sangat manis"tersenyum.
Lalu mulai membela buah manggis dan memakan isinya, dan benar saja apa yang dipikirkannya rasanya sangat manis dan Amera sangat menyukainya.
Di tempat lain diruang kerja .
Devan sedang mencerna semuanya dia tidak menyangka Amera yang dikenal polos, bisa berbuat hal yang menurutnya sangat menjijikkan.
"Aku tidak terima dipermainkan begini, dia sudah mempermainkan perasaanku seakan-akan dia sangat terluka dan aku adalah pelaku dari semua yang bukan aku inginkan. Kenapa ini harus terjadi !!! kenapa??" teriak Devan marah.
Walau dia mencintai Amera tapi rasa kecewa dan bencinya lebih mendominasi sekarang, dia bertekad akan mengembalikan Amera pada keluarganya.
Dia langsung menuju kamarnya untuk menemui Amera, tapi yang dicari tidak ada. Tapi dia yakin Amera pasti berada di kebun buah karena Amera suka buah buahan.
Devan berjalan dengan cepat menuju kebun buah buahan, dan disana dia melihat Amera sedang memakan manggis.
"Cih....aku kepusingan dengan semua ini, dan lihatlah dia begitu menikmati makan manggisnya" ujar Devan kesal.
Dia langsung mendekati Amera dan mulai bicara pada Amera,Amera yang merasa diajak berbicara langsung menatap lawan bicaranya.
"Aku mau bicara penting !! " ujar Devan.
"M...mas mau bicara apa " ujar Amera takut takut.
"Aku sudah memikirkan ini sedari tadi, aku gak bisa hidup bersama perempuan yang sudah membohongi aku dan memfitnah diriku" ujar Devan.
"Ma....maksud mas apa??" ujar Amera.
" Aku mau kita berpisah" ujar Devan .
"Tidak mas aku gak mau pisah kamu jangan begitu mas, aku tau aku salah tapi apa aku gak bisa dimaafkan" ujar Amera yang mulai menangis.
"Keputusan ku sudah bulat besok aku akan mengantarmu pulang dan juga sekalian kau tanda tangani surat perpisahan kita" ujar Devan.
"Hiks...tidak mas aku gak mau pisah" ujar Amera.
Tapi devan tidak mendengarkannya dia malah meninggalkan Amera sendiri di taman dengan air matanya.
...TBC....
__ADS_1