
...**Selamat membaca**...
Keesokan paginya Amera berangkat ke kampus diantar papanya, karena Amera ingin berangkat bersama papanya.
"Bagaimana perasaan mu hari ini sayang?, apa baik-baik saja" tanya papa Amera.
"Iya pa Amera baik-baik saja, Amera juga sudah mulai menata hidup Amera seperti sedia kala " tersenyum.
"Papa tau sayang walau kamu bilang baik-baik saja tapi matamu gak bisa bohong, kamu sedang tidak baik-baik saja" ujar papa Amera dalam hati.
1 jam menempuh perjalanan akhirnya Amera tiba di kampusnya, dia langsung bersalaman dan masuk ke kampusnya.
"Belajar yang rajin ya sayang jangan bersedih" ujar papa Amera.
"Papa Ih..!! siapa juga yang sedih" ujar Amera.
Setelah berpamitan dengan papanya Amera langsung masuk ke kampusnya, lalu dia menuju kelasnya karena mata kuliah pertama akan segera masuk.
Di kelas Amera satu bangku dengan Aulia, karena Aiba sudah kuliah di Amerika. Amera sangat sedih karena harus berpisah dengan Aiba, dan juga dengan devan tentunya.
5 menit kemudian dosen yang ditunggu-tunggu pun datang, lalu mereka memulai perkuliahan MK pertama.
Amera memperhatikan penjelasan dosen, tapi saat sedang memperhatikan penjelasan dosen tiba-tiba kepala Amera begitu pusing dia pun akhirnya jatuh pingsan.
"Mera Lo kenapa ?" ujar Aulia khawatir.
"Kalian bawah Amera ke Uks kampus" ujar buk Dewi selaku dosen.
Aulia langsung menghubungi nomor mamanya Amera, Karena dia begitu khawatir karena bagaimanapun Amera adalah sahabatnya.
10enit kemudian mama Amera datang, dia begitu pucat karena mengawatirkan putrinya.
"Bagaimana keadaan putri saya dok??" ujar Mama Amera.
"Kalau berdasarkan yang saya periksa nona Ampera hamil buk, tapi kalo mau jelas nona Ampera tes pakai Tispek dan juga diperiksa ke dokter kandungan" Ujar dokter.
"Ha...hamil" ujar Aulia kaget.
"Amera memang pernah menikah dia baru beberapa hari ini berpisah dengan suaminya, tinggal menunggu panggilan pengadilan" ujar mama Amera yang melihat Aulia kaget.
"Oh...gitu ya Tan" ujar Aulia sambil menggaruk kepalanya.
Tidak lama kemudian Amera bangun dari pingsannya, dia kaget melihat ada mama disampingnya.
"Ma ada apa?? kenapa mama ada di kampus Amera ??" Ujar Amera.
__ADS_1
"Ini sayang kamu gunakan ini dulu" ujar mama Amera.
"Apa ini ma?" ujar Amera.
"Kamu pakai aja apa susahnya sayang" ujar mama Amera kesal.
Amera langsung menurut dan mulai mencoba tes yang dimaksud mamanya.
10 menit kemudian Ampera keluar dari WC dan langsung menuju hasil tesnya pada dokter, dokter tersenyum kearah Amera.
"Benar dugaan saya, nona Ampera hamil. Kalian dapat memeriksa di dokter kandungan aga bisa tau berapa Umur kandungan nona Ampera" ujar Dokter.
"Baik dok" ujar mama Amera.
Setelah pemeriksaan Amera izin pulang karena dia harus cek kehamilan di rumah sakit.
"Ma bagaimana kalau Amera benar-benar hamil, Amera dan mas Devan akan berpisah "ujar Amera.
"Kalau kamu hamil berarti kamu dan Devan gak bisa berpisah karena anak kalian butuh orang tua utuh" ujar mama Amera.
Amera hanya menunduk karena ia bingung harus apa, satu sisi ia bahagia jika hamil dan bisa kembali bersama Devan.Tapi sisi lain, dia masih sakit hati akan sikap Devan yang menyakitinya bahkan dia tidak melihat kebaikan Amera selama ini hanya karena kesalahan kecil yang dia lakukan.
"Aku tidak berharap akan kembali pada mas Devan ma, jika aku hamil aku gak akan memberi tau dia soal kehamilan ku" Ujar Amera.
"Baiklah ma akan Amera usahakan" Ujar Amera pada mamanya.
30 menit diperjalanan akhirnya mereka tiba di rumah sakit tempat langganan mama Amera waktu hamil dulu, di rumah sakit ini dia mengecek kandungannya setiap bulan.
Skip ruangan Dr.Kandungan.
"Baiklah ibu silahkan berbaring ditempat tidur yang sudah kami sediakan" ujar Dokter.
"Ayo turuti perintah dokter berbaring ditempat tidur" perintah mama Amera.
Amera mengikuti saja perintah mamanya dan mulai berbaring di tempat tidur, lalu dokter mulai menyingkap baju Amera keatas dan mulai mengoleskan jeli.
Setelah itu baru diletakkan Alat USG, dokter tersenyum sambil melihat layar monitor.
"Bagaimana keadaan putri saya dok??" Tanya mama Amera.
"Jeng Sarah tenang saja, putri anda memang sedang mengandung umur kandungan 2 Minggu. Lihat itu titik dilayar itu adalah janinnya, janinnya masih kecil" ujar Dokter.
"Benarkah dok??" Ujar mama Amera terharu.
"Iya jeng Sarah, selamat" ujar dokter.
__ADS_1
Amera yang mendengar nya menitipkan air mata, dia tidak menyangka sekarang sedang hidup satu nyawa di tubuhnya.
"Sayang kau benar-benar tumbuh diperut mama" batin Amera.
"Kamu dengar sayang !! kamu hamil dan mama
akan mempunyai cucu" ujar mama Amera.
"Iya ma hiks....Amera gak menyangka akan ada nyawa yang hidup ditubuh Amera, Apa dia bisa hidup di perut Amera yang kecil ma??" Tanya Amera.
"Tentu saja sayang kenapa gak bisa Umur kamu saja sudah hampir 21 satu tahun, 2 bulan lagi kamu ultah Lo" ujar mama Amera.
"wah...Aku mama muda ya ma, baru mau 21 sudah akan punya anak" Tersenyum bahagia.
"Wajarlah kamu kan sudah menikah" ujar mama Amera.
"Tapi akan segera bercerai" ujar Amera.
"Kamu kasih tau Devan kalau kamu hamil, siapa tau dengan adanya anak ini kalian bisa memperbaiki hubungan kalian sayang. Karena Pernikahan itu sangat sakral, sayang kalau baru berjalan seumur jagung sudah mau bercerai" ujar mama Amera.
"Iya ma besok Amera ke rumah mas Devan untuk Kasih tau kabar ini" Ujar Amera.
"Ini baru putri mama, Kamu harus berjuang untuk anak dalam kandungan mu" Ujar mama Amera .
"Iya ma, Amera juga gak mau anak Amera gak punya papa kasihan dia nanti" ujar Amera.
Setelah dari rumah sakit Amera dan mamanya memutuskan pergi makan ke restoran yang dekat rumah mereka, lalu mereka memesan banyak makanan.
"Ma ...apa semua ini gak terlalu banyak?? mana habis sama kita" ujar Amera.
"Pasti habis sayang, kamu kan lagi hamil pasti porsi makan mu banyak" Ujar mama Amera.
Ampera hanya pasrah saja ,setelah menunggu cukup lama akhirnya makanan mereka tiba. Melihat itu Amera menjadi Sangat bersemangat untuk makan, apalagi saat melihat banyaknya makanan.
"Wah....benar kata mama kenapa Amera melihat ini semua enak" Ujar Amera.
"Kalau begitu kamu makan yang banyak sayang,nanti kita mampir ke minimarket" ujar Mama Amera.
"Untuk apa ma??" tanya Amera yang masih sibuk makanan yang sudah dia dan mamanya pesan tadi.
"Ya untuk membeli susu ibu hamil dan buah-buahan untuk ibu hamil, Kamu gak sendiri Sekarang jadi kamu harus makan-makanan bergizi" ujar mama Amera.
Amera hanya pasrah karena mama selalu benar, itulah konsep yang sesungguhnya.
...TBC....
__ADS_1