
...**Selamat Membaca**...
1 jam kemudian Amera sadar dari pingsannya, dia langsung memegang perutnya karena terasa ngilu Dan sakit.
"Ma bayiku gak kenapa-napakan ma??" tanya Amera.
"Kamu yang sabar ya sayang, kamu mengalami keguguran" ujar mama Devan.
"Ke... keguguran ma !! tidak hiks.... dokter pasti salah ma, Amera gak mungkin keguguran kan ma hiks...ini pasti salah" Ujar Amera.
"Kamu emang keguguran sayang dan ini semua karena Devan, apa yang dilakukan pria itu padamu ?? " Tanya mama Amera.
"Di...dia gak percaya kalau ini anaknya ma, dia lebih memilih pergi bersama Arum dari pada mendengar kan penjelasan ku" Ujar Amera.
Mendengar itu mama Devan merasa sangat bersalah pada menantunya, dia gak pernah menyangka putranya akan seperti itu.
Lalu mama Devan memutuskan pulang karena malu pada besan, sekalian ia mau memarahi anak gak tau dirinya itu.
**Skip malamnya**
"Mama aku pulang" ujar Devan.
Plak....plak...
"Mama kenapa menamparku?? apa salahku ma" tanya Devan.
"Apa salahmu kau bilang !! karena mu aku kehilangan cucuku, Amera keguguran" Marah mama Devan.
"Kan bagus ma, Devan juga gak yakin kalau yang dia kandung itu bayinya dengan ku" ujar Devan tanpa merasa bersalah.
"Devan !!! jangan keterlaluan kamu, itu adalah anak kamu" ujar mama Devan.
"Terserah apa kata mama tapi menurut Devan dia bukan anak Devan" ujar Devan.
"Dev ...!!! kamu keterlaluan" ujar mama devan lalu kembali menampar pipi Devan.
Lalu mama Devan langsung pergi dari sana meninggalkan putranya sendiri, sedangkan Amera dia sedang menangis dikamar inapnya ia masih berduka akan kepergian calon anaknya.
"maafin mama sayang" Ujar Amera.
Tiba-tiba Amera merasa kepalanya sangat sakit dan dia pingsan.
30 menit kemudian Amera bangun dari pingsannya, Amera kaget karena ada Devan di ruangan inapnya.
"M...mas kenapa disini??" ujar Amera.
__ADS_1
Hal itu membuat Devan memandang Amera dengan aneh, wajar saja dia disana karena dia adalah suami Amera.
"Tentu aku disini aku kan suami kamu" ujar Devan.
"Suami apa maksudmu mas, bukannya kamu sudah menceraikan aku. Dan kamu lebih memilih Arum" ujar Amera terisak.
"Amera ada apa denganmu?? setelah jatuh pingsan selama 1 hari kamu semakin aneh" ujar Devan.
"A...apa pingsan satu hari ,kamu jangan bohong mas, aku disini karena mengalami pendarahan" ujar Amera.
"Pendarahan apa, waktu aku menemukan mu di kebun buah kamu gak mengalami pendarahan hanya saja demam tinggi" ujar Devan.
Amera semakin pusing karena hal itu, jadi kejadian beberapa hari lalu hanya mimpi. Tapi kenapa rasanya kayak nyata begitu.
"Dokter bilang kamu harus menjaga kesehatan dan gak boleh kecapean karena kamu hamil" ujar Devan tersenyum.
"Mas tolong cubit tangan aku" ujar Amera dia harus membuktikan yang mana yang nyata yang mana mimpi dia takut terlalu berharap.
Devan menuruti keinginan istrinya dan mulai mencubit tangan Amera hal itu membuat Amera teriak kesakitan.
"Kau terlalu kencang mencubitnya" ujar Amera mengadu dia bahagia karena ini nyata itu artinya kejadian kelam itu hanya mimpi saja dan itu artinya bayinya masih ada didalam perutnya.
"mm...mas gak marah kan karena aku udah bohongi mas dan menjebak mas menikah dengan ku" ujar Amera.
"Gak mas gak marah kok" ujar Devan.
"Karena mas butuh waktu sendiri dan mencernanya, mas bersyukur menikahnya dengan kamu bukan dengan Meli" ujar Devan.
Mendengar ucapan Devan seketika perut Amera menghangat.
"Oh iya coba kamu jelaskan pada mas kenapa kamu begitu terkejut saat bangun ketika melihat mas, apa yang kamu alami ketika tidak sadar kan diri" ujar Devan.
Lalu Amera mulai menceritakan semua kejadian itu pada Devan, Mulai dari Devan menemuinya di kebun buah-buahan dibelakang rumah.
Sampai Amera keguguran dan masuk rumah sakit, hal itu membuat Devan terhenyak kenapa dia brengsek sekali di mimpi Amera.
"Mas jahat banget sama Amera hiks..." ujar Amera.
"Itu kan mimpi sayang, lagian mas gak kayak gitu" ujar Devan.
"Pokoknya aku kesal sama mas, mas ke ganjenan banget sama Arum bahkan meragukan bayi yang aku kandung" Ujar Amera.
"Ya Allah ..Amera sayang itu kan hanya mimpimu lagian mas kan gak begitu, kenapa kamu marah ke mas" ujar Devan Prustasi.
"Mas bahkan gak bertemu dengan Arum lagi, sebaiknya kamu istirahat lagi jangan terlalu banyak pikiran" ujar Devan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu mas, jangan tinggalkan Amera atau menceraikan Amera seperti di mimpi Amera" Ujar Amera.
"Iya sayang" ujar Devan sambil mengelus rambut Amera.
"Apa mas juga mencintai Amera??" ujar Amera.
"Apa kamu gak bisa melihat cinta mas ?? mas gak bisa mengungkapkan nya dengan kata-kata karena mas bukan pria romantis" Ujar Devan.
"Jadi mas udah cinta Sama Amera ??" tanya Amera.
"Iya mas udah cinta sama kamu" Ujar Devan.
Mendengar itu Amera sangat bahagia, Devan dapat melihat itu di wajah Amera.
Setelah itu Devan mengusap kepala Amera pelan agar Amera tidur dengan nyenyak, dia begitu kasihan saat melihat mata istrinya itu membengkak karena menangis.
"Kenapa juga aku harus sejahat itu di mimpi Amera, aku harus menanyakan pada dokter apa penyebab istriku mengalami mimpi seperti itu" ujar Devan.
setelah yakin Amera sudah tidur Devan langsung menuju ruangan dokter, dia harus menanyakan itu pada dokter.
"Selamat siang dok !! saya ingin bertanya sesuatu kepadamu dok" ujar Devan.
"Mau bicara apa tuan Devan" ujar dokter.
Lalu devan mulai menceritakan semua yang dia dapat dari istrinya, dia khawatir pada kesehatan istrinya itu.
"Jadi apa yang dialami istri saya dok??" tanya Devan.
"Pertama yang menyebabkan istri anda tidak sadarkan diri karena demam dan juga nyawanya yang sedang berkelana entah kemana, soal istri anda memimpikan apa yang anda ceritakan itu mungkin efek akan apa yang dikhawatirkan istri anda" Ujar dokter.
"Jadi maksud dokter mimpi istri saya itu akibat rasa takutnya yang berlebihan??" ujar Devan.
"Iya tuan Devan dulu juga saya mempunyai pasien yang mempunyai gejala hampir sama seperti istri anda hanya bedanya dia takut melahirkan" Ujar dokter.
"Baiklah dok terima kasih atas informasinya saya permisi dulu" Ujar Devan.
Devan mulai bernafas lega jadi itu semua dipicu karena rasa takut Amera yang berlebihan.
"Dev kamu disini Amera sama siapa??" tanya mama Devan yang tiba-tiba datang.
"Amera sedang tidur ma, dia sudah siuman tadi jadi Devan langsung menemui dokter"Ujar Devan.
Lalu devan dan namanya beriringan menuju kamar inap Amera, Disana mereka melihat Amera yang tidur begitu lelap.
"Kamu harus menjaga Amera dan calon bayi kalian, kamu jangan buat dia stress Dev"ujar mama Devan.
__ADS_1
"iya ma, tanpa mama perintah pun Devan tetap akan menjaga Amera" Ujar Devan.
...TBC....