
Mama Amera hanya diam saja, dia takut membuat anaknya terluka akan kenyataan yang terjadi.
"Ma,Bagaimana bayiku.....bagaimana keadaannya. Dia baik-baik saja kan?" lirih Amera sambil menyentuh perutnya.
Mama Amera lagi-lagi diam membisu, dia tidak bisa mengatakan sesuatu pada Amera.
"Ma" panggil Amera mulai terisak, dia sudah punya firasat kalau janinnya sudah meninggal.
"Kamu mengalami keguguran sayang" ucap mama Amera pada akhirnya. Mendengar ucapan mamanya Amera begitu terluka dia tidak menyangka itu akan terjadi padanya.
"Ma, Mas Devan mana?"Tanya Amera.
"Devan lagi dikantor sayang, kamu gak usah banyak pikiran" jelas mama Amera.
Amera hanya menganggukkan kepalanya tanda kalau dia mengerti, Mama Amera begitu sedih melihat nasib putrinya yang begitu malang. Dia berdoa semoga Devan segera ditemukan agar Amera tidak tambah sedih.
(Di jakarta).
Aiba sedang menyalahkan Amera atas menghilangnya pamannya, dia mulai memanas-manasi Keluarganya terutama mama Devan yang sedang berada di rumah Aiba.
"Lihatlah, Dan buka mata kalian. Jangan terlalu mempercayai Amera, dia itu bukan gadis yang baik untuk om Devan, jika saja dia tidak memaksa untuk liburan ke puncak kecelakaan ini gak akan terjadi dan om Devan gak akan hilang" ujar Aiba.
"Hentikan omong kosong mu itu Aiba" marah mama Devan.
"Kenapa aku harus menghentikan omonganku, apa yang aku katakan itu benar nek. Lihatlah karena dia Om Devan mengalami kemalangan apa nenek gak sadar" ujar Aiba.
plak/ tamparan dari papa Aiba.
"Jangan pernah menjawab dan menyela ucapan nenekmu" jelas papa Aiba pada putrinya itu.
Mama Devan gak habis pikir apa yang membuat Aiba yang dulu mati-matian membela Amera kini malah sangat membenci Amera.
"Tapi om itu semua benar, saya juga melihat om Devan seperti babunya Amera" jelas Olivia.
__ADS_1
"Cukup! hentikan omong kosong mu, kau hanya tamu di rumah ini jadi jaga batasan mu. Jangan bersikap seolah-olah kamu bagian dari keluarga kami" marah mama Aiba. Aiba diam saja saat melihat mamanya sangat marah karena dia tau bahwa mamanya di ambang kemarahan saat ini.
Olivia melirik Aiba tapi dia terlihat kesal karena Aiba sama sekali tidak memihak padanya.
"Kenapa juga Aiba tidak membelaku Aish....ini benar-benar menyebalkan" batin Olivia dengan sedikit kesal.
"Dengar Aiba kau beri tau pada sahabatmu ini untuk tidak ikut campur urusan orang, atau papa akan mengusir dia dari rumah ini " ujar papa Aiba.
*********
Seminggu kemudian Amera sudah diperbolehkan pulang, dan Devan sampai sekarang belum juga ditemukan.
"Ma dimana mas Devan? kenapa Sampai sekarang om Devan belum juga menjenguk aku" jelas Amera sedih, dia merasa ada yang janggal dan juga sesuatu yang disembunyikan oleh mama dan papanya.
"Sebenarnya sayang Devan itu menghilang" jelas mama Amera, dia bingung harus bicara apa pada putrinya itu.
"Menghilang!, maksud mama apa ma? kenapa mas Devan bisa hilang bukannya dia saat itu bersama ku saat aku di dorong Meli" lirih Amera pada mamanya.
Mama Amera pun mulai menceritakan apa yang dialami putrinya itu beberapa bulan ini. Amera yang mendengar semua itu hanya bisa terisak pelan, dia tidak menyangka mengapa ini semua terjadi padanya belum selesai ia dikagetkan dengan bayinya yang meninggal kini ia harus menerima kenyataan kalau suaminya kini menghilang setelah kecelakaan yang mereka alami kemaren.
"Kamu yang tabah sayang dan berdoa semoga suami kamu cepat ketemu" jelas mama Amera pada putrinya itu.
Setelah Amera tenang, ia dan orang tuanya memutuskan pulang sambil menunggu kabar dari anak buah papanya untuk suaminya Devan yang sedang menghilang saat ini.
*********
Di rumah Orang tua Amera.
Amera baru saja tiba dilamarnya setelah diantar oleh mamanya saja, dia berbaring sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Mas...kau dimana mas? aku kangen" lirih Amera.
Amera memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya setelah itu istirahat.
__ADS_1
Sedangkan ditempat lain Papa Aiba masih sibuk mencari keberadaan adiknya yang sudah menghilang selama satu Minggu.
"Bagaimana apa kalian sudah menemukan adikku dan mengetahui kabarnya dimana??" tanya kakaknya Devan.
" belum tuan, Sampai sekarang kami belum menemukan kabar apapun tentang tuan Devan Alexander" jelas salah satu anak buahnya yang dia suruh mencari tau kabar adiknya.
"Sial....Dimana sebenarnya keberadaan Devan" kesal kakak Devan.
######
(Rumah Aiba)
Malamnya Mereka semua berkumpul dimeja makan untuk makan bersama, Baik mama Devan maupun mama Aiba dan papa Aiba.
Mereka makan dengan hening tanpa ada pembicaraan sedikitpun, mereka sudah terbiasa makan tanpa ada pembicaraan dimeja makan. Setelah makan malam dimeja makan mereka berkumpul di ruang tamu.
"Bagaimana Bagas apa kamu sudah menemukan adikmu? mama begitu takut" tanya mama Devan pada anak sulungnya.
"Belum ma, sampai sekarang Bagas belum tau apapun kabar tentang Devan sama sekali. Tapi mama jangan khawatir Devan akan terus mencari dan mengusahakan apapun agar bisa menemukan Devan jadi mama jangan takut" jelas Bagas papa Aiba.
"Mama maunya tindakan bukan janji, kamu harus mencari tau dimana keberadaan adikmu" jelas mama Devan.
"Dimanakah om Devan sekarang? semoga doa baik-baik saja, aku gak akan bisa memaafkan diriku kalau om Devan kenapa-napa" batin Olivia.
"Apa om Devan akan baik-baik saja hiks ..." tanya Aiba tiba-tiba karena bagaimanapun dia begitu sangat menyayangi pamannya itu, dia gak akan bisa membayangkan bagaimana dirinya kalau omnya kenapa-kenapa. Itulah mengapa dia sampai rela menjebak omnya untuk menikah dengan sahabatnya yang dulu dia anggap baik.
"Apa yang kamu katakan? om kamu akan baik-baik saja, jadi berhenti mengatakan omong kosong seperti itu" marah mama Devan.
"Aku hanya mengatakan apa yang mengganjal di hatiku nek, apa itu salah nek?" tanya Aiba lirih pada neneknya dan juga orang tuanya.
"Sudah gak usah berpikir buruk seperti itu, semuanya akan baik-baik saja dan om kamu akan ditemukan" jelas papa Aiba pada akhirnya, dia tau bagaimana sayangnya Aiba pada adiknya itu, kalau bukan karena Devan adiknya mungkin putrinya itu akan sangat mencintai adiknya itu.
Sedangkan di rumah Amera dia kembali bersedih saat mengingat semua tentang suaminya itu, dia begitu sangat merindukan suaminya itu yang sudah hilang selama satu Minggu.
__ADS_1
"Cepatlah ketemu mas, baik itu kau selamat atau hanya tinggal raga saja Amera akan menerima. Setidaknya Amera tenang semoga saja mas sempat keluar sebelum mobil kita meledak waktu itu. Semoga mas ditolong oleh orang seperti diriku, sehingga kita bisa bertemu lagi nantinya" batin Amera dengan mata yang berlinang air mata.
...TBC....