Menikah Dengan Paman Sahabatku

Menikah Dengan Paman Sahabatku
Pulang ke rumah


__ADS_3

Amera setelah berbincang dengan Rani dikamar tadi jadi lebih banyak diam, dia bingung bagaimana menjelaskan pada anak itu kalau cerita yang dia tau itu hanya rekayasa mamanya saja.


Sedangkan Devan dia baru saja pergi kekantor, karena dia harus mengerjakan perusahaan yang 3 Minggu ia tinggalkan.


Saat Amera termenung mamanya Devan mendekati Amera, dia bingung melihat wajah menantunya itu yang seperti ada beban pikiran dikepalanya.


"Ada apa sayang?, mama lihat sedari tadi kamu seperti memikirkan sesuatu" tanya mama Devan.


"Aku bingung ma" ujar Amera akhirnya, dia memutuskan untuk mengatakan pada mama mertuanya itu tentang apa yang mengganjal pikirannya sedari tadi.


"Bingung kenapa? apa yang kamu pikirkan?"tanya mama Devan.


"Begini ma, Rani tampak sangat membenciku. Dia bahkan mengatakan kalau aku adalah wanita jahat yang memisahkan dia sama papanya Devan ma. Sebenarnya apa yang wanita itu katakan pada putrinya itu, sehingga dia yakin sekali kalau Devan adalah papanya. Mas Devan juga kenapa gak jujur sama Rani kalau dia bukan papanya, karena itu akan menjadi masalah nantinya" ujar Amera.


"Kamu yang sabar ya nak, nanti mama akan bantu bicara pada Devan. Sebaiknya kamu bersiap katanya ada jam kuliah pagi ini, nanti kamu telat lagi" ujar Mama Devan.


"Iya ma, kalau begitu Amera siap -siap dulu" ujar Amera.


******


Sedangkan dipenjara Cantika dimasukkan didalam ruangan sel yang dimana isinya preman semua.


"Aku gak akan melepaskan kamu Devan, lihat saja kalau aku sudah bebas dari sini aku akan menghancurkan mu. Permainan ini sama sekali belum selesai " batin Cantika penuh kebencian.


"Hei anak baru cepat pijit aku, jangan cuma satai saja disini" teriak salah satu orang didalam sel yang tak lain pemimpin disana.


Cantika sama sekali tidak menggubris omongan orang itu, karena menurutnya sama sekali gak penting.


"Dia tidak mematuhi perintah mu bos" ujar salah satu anak buah wanita itu.


"Berani kamu tidak mematuhi saya" ujar wanita itu marah.


"Aku bukan budakmu sehingga aku harus menuruti keinginanmu, jadi jangan memaksa aku" ujar Cantika.


"Kau" marah wanita itu lalu dia menyuruh anak buahnya untuk memegangi cantika dan dia akan memukul wanita sombong itu.


Cantika hanya bisa meraung kesakitan dan menangis minta tolong tapi tidak ada yang datang, hingga ada polisi yang datang mereka langsung memberhentikan kehebohan.


"Ada apa ini?" tanya polisi.

__ADS_1


"Hanya masalah sepele pak polisi, mereka berebut bantal" ujar wanita itu.


"Tolong jangan buat keributan " ujar polisi lalu pergi.


Setelah kepergian polisi wanita tadipun mendekati Cantika yang sudah babak belur dan menarik rambutnya.


"Dengar kalau kau mau aman tinggal disini, maka kau harus mematuhi perintahku. Karena ini adalah wilayahku" ujar wanita tadi.


Cantik hanya menganggukkan kepalanya pelan, wanita tadi tersenyum puas melihat wanita sombong itu menurut.


"Aku harus kuat disini, dan harus mengikuti perintah dia atau mereka akan membunuhku. Bagaimana kabar Rani apa istri Devan memperlakukan putriku dengan baik" batin Cantika.


###


Sorenya, Amera baru pulang dan dia sudah melihat mobil Devan diparkiran rumah mertuanya. wajar Devan pulang cepat karena mereka ingin pindah ke rumah mereka hari ini.


"Sayang kau baru pulang?" tanya Devan baru saja menuruni tangga.


"Iya mas, oh iya Rani mana? apa dia sudah makan" ujar Devan.


"Iya sayang Rani udah makan, kata mama dia marah padamu?" ujar Devan.


"Kamu yang sabar ya, dia anak-anak tadi udah mas bilang padanya tapi dia malah ngambek sama mas" ujar Devan.


"Iya mas gak apa-apa, aku paham kok" ujar Amera.


Lalu devan dan Amera pergi kekamar mereka untuk besiap-siap untuk pulang.


Setelah dirasa barang miliknya sudah cukup, Amera memutuskan ke kamar Rani untuk mengemasi barang milik Rani.


skip kamar Rani.


Amera melihat Rani sedang menonton televisi, dia tersenyum melihat Rani.


"Halo sayang kamu udah makan?" tanya Amera.


Rani tidak membalas sapaan dari Amera dan tetap melanjutkan kegiatannya tadi.


"Kamu dengar ibu gak si?" ujar Amera pelan.

__ADS_1


"Mau bibi apa si? " Ujar Rani.


"Bibi ? aku ini ibumu RAN, kamu jangan jadi anak kurang ajar" ujar Rani yang mulai kesal.


"Kamu bukan ibuku berapa kali aku bilang, dan aku yakin pasti kamu yang menghasut papa untuk mengatakan kalau aku ini bukan anak kandungnya. Dasar bibi wanita jahat, aku benci pada bibi" ujar Rani sambil teriak.


"Aku sama sekali tidak menghasut siapapun, asal kamu tau ran, yang jahat itu mama kamu. dia udah bohongin kamu dan juga udah bohongi suamiku, oke kamu gak mau panggil aku ibu itu tidak jadi Masalah tapi kamu harus bersikap baik pada orang yang lebih tua apa kamu gak pernah diajarkan?" tanya Amera.


Mendengar itu ranipun terdiam dia tau dia salah karena sudah kurang ajar sama orang tua, diumurnya yang 5 tahun ini dia sudah cukup mengerti kalau tindakannya terhadap Amera sudah salah.


Tapi rasa kesalnya pada wanita itu membuat dia bersikap seperti ini, dia takut papanya berubah. Dia tidak tau yang mana benar kata papanya kalau dia bukan papa kandung Rani dan papa kandung rani sudah meninggal dunia.


"Ayo kita berkemas" ujar Amera.


"Mau kemana?" tanya Rani pelan.


"Kita akan pulang, disini bukan rumah kita. Ini rumah nenek, besok bibi akan daftarkan kamu kesekolah apa kamu mau sekolah?" tanya Rani.


Rani hanya menganggukkan kepalanya karena dia mau sekolah hanya saja dia malu untuk menyorakan keinginannya ini pada Amera.


"Baiklah, besok bibi akan daftarkan kamu" ujar Amera lalu dia mulai memasukkan baju mereka ketas.


*****


Malamnya setelah makan, Devan,Amera, dan Rani memutuskan pamit pulang ke rumah mereka karena mereka gak bisa berlama-lama disini.


Diperjalanan mereka hanya diam saja, hingga mata Rani tertuju pada sate dipinggir jalan.


"pa" panggil Rani pelan.


"Ada apa sayang?" tanya Devan pada Rani .


"Rani pengin sate itu" tunjuk Rani pada sate didepan mereka, Devan dengan cepat memberhentikan mobil mereka dan memutuskan untuk menuruti keingin si kecil untuk makan sate dipinggir jalan. walau sebenarnya dia gak yakin itu bersih atau tidak, karena biasanya Devan selalu makan di restoran mewah bukan dipinggir jalan.


Setelah menunggu cukup lama, Sate pesanan mereka tiba, Devan ragu-ragu untuk memakan itu karena dia gak pernah makan dipinggir jalan seumur hidupnya walau dulu hidup susah dia tetap makan di rumah.


"Ayo mas dimakan, satenya enak Lo" ujar Amera.


"Iya pa satenya enak banget" ujar Rani membalas ucapan Amera. Walau masih sedikit benci pada Amera Rani berusaha bersikap baik pada istri papanya itu.

__ADS_1


...TBC....


__ADS_2