
Amera merasa bingung kenapa Devan belum juga pergi padahal ini sudah 3 jam dia disini menemani Amera.
Orang tuanya sudah izin pulang dulu, kalau wanita yang tidak dikenalnya alias mama Devan juga sudah pulang. Devan yang melihat gelagat istrinya itu yang menatapnya bingung pun langsung bertanya.
"Ada apa sayang?" tanya Devan.
Amera sejujurnya kaget kenapa Devan sedari tadi memanggil dia sayang, padahal mereka bukan sepasang kekasih.
" Om, kenapa om sedari tadi memanggil Amera sayang?" ujar Amera.
"Kenapa? emang gak boleh ya" tanya Devan.
"Gak bolehlah, kita kan bukan sepasang kekasih" jelas Amera.
"Panggil aku mas, mas gak suka kamu panggil om. Dan dengarkan penjelasan om, terserah kamu mau percaya atau tidak" ujar Devan.
"Baik om, e...maksudnya mas" ujar Amera merasa tidak enak.
Devan mulai menceritakan pada Devan semuanya mulai dari pernikahan mereka.
"Sebenarnya kita udah menikah sayang, umur pernikahan kita baru jalan mau 3 bulan. Awalnya kita menikah mm...karena suatu kesalahan " ujar Devan.
"Kesalahan apa mas?" tanya Amera penasaran.
"Karena mas memperkosa mu" jelas Devan.
Amera seketika menutup mulutnya bagaimana bisa pria yang dicintainya itu memperkosanya. Dia langsung menangis, Devan yang melihat itu langsung menarik Amera pelan masuk kedalam pelukannya.
"Maaf sayang, mas saat itu diberi obat perangsang jadi mas tidak tahan" jelas Devan.
"Hiks..obat perangsang! apa itu obat perangsang mas?" tanya Amera polos.
Devan dengan senantiasa menjelaskan mengenai obat itu pada Amera, Devan kira Amera akan marah saat tau dia memperkosanya tapi tidak dia malah melihat Amera Malah tersenyum bahagia.
"Kenapa kau tersenyum sayang" tanya Devan Heran.
"Aku senang mas, berarti mas sekarang milik Amera seorang" tersenyum Bahagia.
Devan terkekeh akan jawaban Amera, dia bahagia Amera sudah sadar walau mengalami Amnesia yang penting dia tidak melupakan dirinya.
__ADS_1
"Mas juga senang menjadi milik kamu gadis yang cantik dan baik hati," ujar Devan sambil mengelus rambut Amera.
"Apa mas sama mbak Meli sudah putus setau aku mas sangat mencintai mbak Meli" ujar Amera menundukkan kepalanya.
"Mas sama dia udah lama putus, sebelum kita menikah pun mas sama dia juga sudah putus. jadi sayangnya mas gak usah memikirkan itu ya" tersenyum.
"Apa mas masih mencintai dia?" tanya Amera dengan penuh rasa penasaran. Dia ingin memastikan sendiri apa wanita itu masih ada diganti pria yang mengaku sudah menjadi suaminya itu.
"Sudah tidak ada lagi sayang, dia sudah dihapus dari sini. Sekarang hanya kamu seorang yang ada disini!! " menunjuk dada bidangnya.
"Ih...mas gombal" ujar Amera malu.
"Mas gak gombal sayang, mas emang cinta dan sayang sama kamu. Oh iya kamu lapar tidak?, ini sudah malam tapi kamu belum makan" ujar Devan.
"Tapi aku gak suka makanan rumah sakit mas" ujar Amera.
"Tidak apa-apa sayang itu agar kau sembuh, jadi selama di rumah sakit makan aja itu ya" perintah Devan.
Amera hanya menganggukkan kepalanya dia tidak ingin Devan sedih karena dia menolak makan makanan rumah sakit, apalagi Devan memberikannya dengan penuh cinta.
Amera sangat bersyukur jika yang Devan katakan benar, kalau pria itu mencintainya. Tapi dia tidak mau berharap, apalagi mendengar penjelasan dia dan dokter tadi kalau dia mengalami hilang ingatan. Takutnya saat dia ingat nanti hanya ada kekecewaan.
"Apa aku boleh terhanyut akan jalan cerita yang Allah tulus kan untukku, apa benar mas Devan mencintai aku seperti yang dia katakan sebelumnya" ujar Amera dalam hati.
#######
Keesokan paginya Amera terbangun lebih dulu dari pada Devan, dia melihat Devan tidur sambil duduk di kursi dan tangannya bertumpu pada ranjang miliknya.
Amera kasihan melihat Devan yang tidur meringkuk di kursi karena menemaninya, Amera mengelus rambut Devan yang menurutnya sangat bagus itu.
"Mas" panggil Amera.
Mendengar ada suara memanggilnya devan pun langsung bangun dari tidurnya, dan langsung menatap sumber suara itu.
"Ada apa sayang?" tanya Devan?
"Amera pengin minum mas tapi airnya jauh" jelas Amera.
Devan dengan sigap langsung mengambil air minum untuk istrinya itu, setelah itu langsung memberikannya pada Amera.
__ADS_1
"Mas Aiba dimana ya ? kok dia gak jenguk aku padahal aku lagi sakit Lo" ujar Amera.
"Aiba kan di Amerika sayang dia kuliah disana" jelas Devan.
"Amerika? jauh sekali mas. Kenapa dia harus ke jauh si di Jakarta kan ada" ucap Amera.
"Mungkin dia ingin mencari pengalaman sayang, makanya dia memilih kuliah diluar negeri" ujar Devan.
"Mm..mas apa Amera masih sekolah seperti Aiba?" tanya Amera.
"Tentu saja masih sayang kamu kuliah di kampus *** jurusan desainer sekarang udah semester 4 " jelas Devan.
"Ha...serius mas? jadi mas ngizinin Amera melanjutkan sekolah " ujar Amera tidak percaya, banyak kejutan menurutnya kemaren dan hari ini.
"Iya sayang mas gak masalah kalau kamu melanjutkan pendidikan kamu, mas malah bangga karena banyak cewek kalau sudah menikah gak mau lagi lanjut pendidikan" jelas Devan.
"Terimakasih mas" Ujar Amera berkaca-kaca.
" Hei jangan menangis, kamu gak boleh sedih mas merasa gagal menjadi suami kalau kamu menangis" ujar Devan.
"Ini air mata bahagia mas, bukan air mata kesedihan" jelas Amera pada Devan.
Saat mereka larut dalam perasaan tiba-tiba pintu terbuka menampakkan sepang suami istri yaitu Mama dan papanya Amera dan mamanya Devan.
"Pagi sayang" sapa mama Devan.
"pagi ma" ujar Amera tersenyum.
"Bagaimana keadaan menantu mama sekarang??" tanya mama Devan.
"Sudah lebih baik ma, perut Amera juga tidak terlalu sakit lagi" ujar Amera.
"Syukurlah kalau begitu sayang" ujar mama Amera.
"Nak Dev sebaiknya kamu pulang dulu terus mandi biar papa dan mama-mama mu yang menjaga Amera.
Awalnya Devan enggan meninggalkan istrinya itu, tapi karena bujukan Amera dia akhirnya mau pulang dia benar-benar bucin untuk saat ini pada wanita itu. Bahkan rasanya untuk berpisah sebentar itu sulit entah apa Yang akan terjadi kalau kemaren Amera benar-benar meninggalkannya seorang diri.
Mungkin dia tidak akan ada semangat hidup lagi, karena hanya Amera sumber kebahagiaannya bukan yang lain. Itu mengapa dia sangat bahagia waktu istrinya sadar kemaren, seakan energi yang hilang seperti kembali lagi.
__ADS_1
Dia Sangat bersyukur bisa memiliki wanita yang baik hati seperti Amera, yang tulus mencintainya sedari kecil.
...TBC....