Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
10. Kantor Bertingkat


__ADS_3

...❇ ❤ ❇...


Saat ini Jasmine tengah berada di tempat kerjanya. Sudah sejak beberapa jam lalu dirinya berada disini. Dan sebentar lagi jam kerjanya sudah habis.


Dibenaknya masih terpikirkan masalah anak yang ditolongnya itu. Tidak seharusnya dia memikirkan hal itu. Tapi setiap kali dia mengenyahkan pikiran hal itu, bukannya menghilang malah semakin kepikiran.


"Aish, sudahlah. Jangan dipikirkan lagi." Sambil mengacak surainya pelan.


Beberapa menit lagi jam kerja Jasmine akan berakhir. Dan sebentar lagi akan digantikan oleh temannya. Sembari menunggu jam kerja selesai. Jasmine mulai membersihkan lantai di tempat kerjanya itu.


Beberapa menit kemudian.


"Aku pulang dulu, ya." ucap Jasmine sambil melambaikan tangan kearah kedua temannya itu.


Saat di perjalanan pulang, Jasmine tiba - tiba teringat dengan Wilson. Apalagi lokasi tempat kerjanya itu dekat dengan rumah sakit dimana Wilson dirawat.


Di langkahkan kaki menuju kerumah sakit itu. Lagipula tidak ada salahnya bila dia menjenguk Wilson.


...❤ ❇ ❤ ❇...


Begitu sampai di ruang rawat dimana semalam Wilson dirawat. Jasmine terkejut, sebab melihat bangkar yang kemarin digunakan oleh Wilson, saat ini sudah dihuni oleh orang lain.


"Sus, pasien yang sebelumnya tidur di bangkar itu ada dimana sekarang?"


"Ooh, pasien bernama Wilson itu. Dia sudah diizinkan pulang tadi."


Alis Jasmine tertaut mendengarnya, lantas dia kembali bertanya. "Apakah dia jemput oleh keluarganya?"


Sang suster tadi menggeleng. "Tidak, dia pulang sendiri." Mendengar jawaban itu membuat Jasmine menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih, Sus." Setelahnya, Jasmine melangkah menuju keluar rumah sakit. Didalam benaknya terpikirkan kalau mungkin Wilson tidak betah dirumah sakit.


Memangnya siapa yang akan betah berlama - lama dirumah sakit kecuali dokter dan para stafnya tentunya.


...❇ ❇ ❇...


"Kau sedang ada masalah, Nak?" Pertanyaan itu datang dari ibunya. Jasmine menoleh menatap kearah ibunya itu. Gelengan pelan diberikan oleh Jasmine kepada ibunya itu.


"Lalu kenapa?"


"Jasmine hanya sedang memikirkan sesuatu?" jawabnya dengan kepala tertunduk.


Sejujurnya Jasmine tidak ingin memikirkan masalah pelik yang menghampirinya itu. Lagipula dirinya tidak ingin bila masalah ini terus berlanjut.

__ADS_1


Apalagi kalau bukan masalah dengan keluarga kaya itu.


Beban hidup Jasmine itu sudah berat. Dan sekarang mau ditambah dengan masalah ini. Bahkan sampai sekarang, Jasmine belum cerita masalah kesalahpahaman yang menimpa dirinya itu.


Dia hanya tidak ingin menambah beban ibu angkatnya ini. Dia tahu, ibunya ini kerap kali kesulitan ekonomi untuk menghidupi dirinya dan anak lainnya.


Jadi, bukan pilihan yang tepat bila Jasmine harus menambah beban pikiran untuk ibunya itu.


Baru saja sang ibu ingin bertanya lagi. Namun terhenti ketika mendengar dering telepon dari ponsel putrinya itu.


"Jasmine angkat telepon dulu, Bu." Setelahnya Jasmine berdiri dan melangkah menjauh beberapa meter dari posisinya tadi.


Hal itu dia lakukan agar ibunya tidak mendengar pembicaraanya ditelpon itu. Apalagi ketika Jasmine tahu siapa yang kini tengah menelponnya itu.


"Halo, ada perlu apa ?"


"Besok daddy memintamu untuk menemuinya. Jangan sampai lupa. Ingat, kalau kau sampai tidak datang, maka jangan salahkan aku bila terjadi apa - apa dengan keluargamu itu."


"Baiklah. Tapi jangan berani ganggu keluargaku." ucap Jasmine pelan, takut terdengar oleh ibunya itu.  


"Itu tergantung padamu."


Belum sempat Jasmine menjawab, panggilan itu sudah lebih dulu di putus oleh sang penelpon. Helaan napas terdengar dari celah bibir Jasmine. Di normalkan kembali ekspresinya agar tidak membuat ibunya curiga padanya.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Bu Lia pada Jasmine.


"Memang kenapa rekan kerjamu itu?"  Jasmine sedikit tersenyum getir begitu tahu kalau ibunya itu percaya dengan perkataannya tadi.


"Hanya meminta gantian shift saja, Bu. Jadi besok Jasmine akan pulang malam, Bu. Ibu tidak perlu menunggu Jasmine pulang. Lagipula Jasmine juga bawa kunci cadangan."


Sudah beberapa kali Jasmine bilang pada ibunya itu untuk tidak menungguinya pulang. Tapi ibunya itu masih ngeyel, dan beralasan kalau dirinya tidak akan merasa tenang bila Jasmine masih belum pulang.


"Iya, tapi kamu harus hati - hati dan langsung pulang, jangan pergi kemana - mana lagi."


Jasmine terkekeh pelan begitu mendengar ucapan ibunya itu. Dia tahu kalau ibunya itu khawatir dengannya. Bukan sekali dua kali dia mendengar hal itu dari mulut ibunya.


Bahkan Jasmine sampai tidak bisa menghitung, lantaran sudah terlalu sering mendengarnya. Lalu sepasang ibu dan anak ini berlalu masuk kedalam rumah.  


...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...


Pagi ini Jasmine sudah bersiap untuk pergi. Awalnya ibunya menanyakan dia akan kemana, karena pagi - pagi begini sudah rapi. Bukannya semalam Jasmine bilang akan pulang malam, tapi kenapa pagi - pagi mau pergi?


Jasmine pergi pagi - pagi ini untuk bekerja. Soal dirinya yang akan pulang malam itu benar. Tapi bukan karna pertukaran jam kerja. Tentu kalian masih ingat dengan telpon semalam, kan? Nah itulah jawabannya.

__ADS_1


"Kak Jasmine pergi dulu, ya. Kalian semua harus rukun dan tidak boleh bertengkar. Paham, kan?" Pertanyaan itu dijawab tegas oleh adik - adiknya.


"Paham, Kak Jasmine!" seru mereka sambil mengangguk. Jasmine tersenyum melihat keakraban yang sudah terjalin diantara Rara, Raka dan adik - adiknya yang lain.


Senyum masih tersungging di bibir Jasmine. "Kalau gajian nanti, Kak Jasmine akan membelikan kalian semua makanan enak. Kalian mau, kan?"


Ucapan yang Jasmine lontarkan itu membuat kesembilan adiknya itu mengangguk semangat. "Mau, Kak!" Mendengarnya membuat senyum diwajah Jasmine semakin terukir manis.


"Kakak pergi dulu. Ingat jangan merepotkan ibu. Bila sudah selesai bermain, bereskan mainan kalian. Kalian mengerti." Kesembilan anak itu mengangguk paham.


Setelah berpamitan, Jasmine mulai melangkah menuju ketempat kerjanya. Dengan hati riang, Jasmine memulai pagi harinya itu dengan ceria.


...❤ 💙 ❤ 💙...


Jasmine baru saja berpamitan dengan rekan kerjanya. Jam kerjanya sudah selesai dari beberapa menit yang lalu. Dan kini sudah di gantikan oleh rekannya yang lain.


Langkah kaki yang seharusnya menuju kerumah itu, berbelok arah menjadi ke sebuah bangunan bertingkat. Dimana didalamnya terdapat banyak orang yang sedang berkerja.


Yups, Bangunan itu adalah sebuah kantor. Kira - kira Jasmine kemana mau ngapain? Jelas lah menemui si pemilik dari gedung ini.


Jasmine sampai di meja resepsionis. Dirinya mulai bertanya dimana letak ruangan sang direktur. Awalnya dirinya ditatap ragu oleh kedua resepsionis itu. Belum lagi salah satu dari keduanya tampak melirik kearah satpam, seolah mengisyaratkan agar Jasmine harus keluar dari kantor ini.


"Maaf, tadi Anda mencari siapa?" tanya sang resepsionis tadi sambil mengulang pertanyaan itu.


"Mr. Stevenson." jawab Jasmine.


"Anda sudah membuat janji dengan beliau?" tanya resepsionis yang satunya. Dia ini yang melirik kearah satpam yang berjaga didepan pintu kantor.


"Sudah. Bahkan putrinya yang menyuruh saya kemari untuk bertemu dengan beliau." Jasmine masih sabar dengan pertanyaan yang diajukan keduanya itu.


Sebenarnya Jasmine tahu kalau kedua resepsionis ini ragu dan tidak percaya, kalau dia kemari itu untuk menemui pemimpin mereka. Tapi sejujurnya kalau boleh memilih, Jasmine juga engan untuk datang kemari.


"Apa Mr. Stevensonnya ada? Kalau ada, bisakah saya bertemu dengannya?" Lama - lama Jasmine dibuat jengah juga dengan sikap keduanya yang seolah tidak memperbolehkannya menemui bos mereka.


"Kalau saya tidak bisa menemui beliau. Bisakah, kalian telpon kan beliau. Dan katakan padanya, Jasmine menunggu dilobby."


"Maaf, tapi beliau sedang sibuk sekarang. Dan lagipula, mbaknya juga tidak memiliki kepentingan disini. Jadi silahkan mbaknya pergi sekarang. Sebelum saya panggilkan satpam kemari untuk membawa mbak keluar dari sini."


"Baiklah, permisi."


Jasmine menghela nafas panjang. Sia - sia dirinya berdiri sejak tadi di depan meja resepsionis, kalau ujung - ujungnya juga diusir begini. Kalau tahu begini, lebih baik dia tidak kemari, membuang - buang waktu saja.


Baru beberapa langkah, sebuah suara memanggil namanya membuat langkah Jasmine terhenti. Dan dia berbalik untuk mencari siapa yang memanggil namanya itu.

__ADS_1


Dan ternyata yang memanggilnya adalah ...


...❇ 💙 ❇...


__ADS_2