
...π Happy Readingπ...
Semenjak Jasmine menerima lamaran Venson. Tak henti dia di telpon oleh calon suaminya itu. Mungkin banyak dari kalian yang berpikir kalau Jasmine terpaksa menerima lamaran Venson kemarin.
Jawabannya tentu saja tidak. Walaupun rasa cinta belum tumbuh dihati Jasmine untuk Venson. Tapi setidaknya dia menerimanya bukan karena terpaksa. Dia ikhlas dan menerima kalau Venson adalah jodohnya.
Lagipula, Venson selama ini baik padanya. Hanya saja ketiga anaknya itu yang belum bisa menerima Jasmine sebagai calon ibu mereka.
Seperti halnya saat ini. Kini Jasmine sudah ada di ruang makan keluarga Venson ini. Dia duduk di samping Venson dan di depannya ada si Jackson.
Venson mengajaknya untuk makan malam bersama. Dan disinilah Jasmine berada. Suasana yang sejak tadi tercipta hanya keheningan. Belum ada yang buka suara, hingga mereka berlima telah selesai makan malam.
Ketiganya baru saja akan beranjak, namun terhenti oleh panggilan dari ayah mereka. "Ada yang ingin Daddy bicarakan pada kalian bertiga. Tunggu Daddy di ruang santai."
Ketiganya hanya mengangguk sambil berjalan menuju kearah ruang santai. Pandangan sinis dilayangkan oleh Aurora untuk Jasmine. Sedangkan Jasmine hanya bersikap biasa, seolah hal itu tak dilihatnya.
"Mas," panggil Jasmine sembari memegang tangan Venson itu.
"Ada apa?"
"Saat bicara dengan mereka, pelanΒ - pelan saja. Jangan sampai membentak mereka, ya." Pinta Jasmine yang tak ingin Venson marah pada ketiganya itu.
Venson mengangguk sambil membalas genggaman tangan calon istrinya itu. "Iya, Mas janji." Kini keduanya melangkah bersama menuju ke ruang santai.
Melihat tangan ayahnya yang menggandeng tangan Jasmine itupun membuat Aurora mendengus pelan. Jasmine tentu melihat kelakuan Aurora tadi.
"Oke, Daddy ingin membicarakan hal penting dengan kalian bertiga."
"To the point saja, Dad. Kami bertiga juga butuh istirahat." Kali ini perkataan itu diucapkan oleh si sulung.
Venson menghela napas sabar. Dia tahu, topik yang akan dia bahas kali ini sangat sensitif bagi ketiganya. Terlebih lagi bagi Aurora. Maka dari itu, berat rasanya bila harus berterus terang pada putra - putrinya itu.
"Baiklah. Beberapa minggu dari sekarang. Daddy akan menikah dengan Jasmine. Jadi Daddy mohon, kalian bertiga merestui pernikahan Daddy ini. Dan kalian harus datang di acara akad pernikahan."
...Brak...
Aurora membanting ponselnya yang ada dipangkuannya itu. Dirinya sungguh tidak terima bila ayahnya itu menikah lagi.
Baik Venson maupun Jasmine tentu saja terkejut atas aksi dari Aurora itu. "Aurora!" Seru Venson begitu melihat ulah putrinya itu.
"Apa, Dad? Daddy mau marahin Aura, iya?" Jasmine menahan Venson saat akan berdiri dari posisinya itu.
"Daddy sudah tidak sayang lagi sama Aura. Daddy bukan lagi Daddy yang Aura kenal dulu." Isakan kecil itu muncul dibarengi dengan tetesan airmatanya itu.
__ADS_1
"Aur--"
"Bahkan Daddy nggak mau menuruti apa kemauan, Aura."
"Sayang, bukan begitu. Daddy sayang sekali sama Aura."
"Kalau Daddy sayang sama Aura. Saat ini juga, putusin dia dan batalkan rencana pernikahan Daddy dengannya!" Tunjuknya kearah Jasmine yang duduk di sebelah Venson.
Diam
Venson tak buka suara atas permintaan putrinya itu. Hal itu semakin membuat hati Aurora terluka. Diamnya sang daddy seolah menjelaskan, bahwa permintaannya itu tidak akan dikabulkan oleh daddynya.
Padahal Aurora berharap kalau daddynya mau membatalkan rencana pernikahannya dengan Jasmine itu. Tapi nyatanya? Daddynya tidak mau, bahkan buka suarapun tidak.
"Aura mengerti sekarang. Kalau Daddy sudah tidak sayang lama sama Aura." Setelah mengatakan hal itu, Aurora langsung pergi menuju ke kamarnya tanpa menyahuti panggilan dari ayahnya itu.
Pandangan Venson kini tertuju pada putra - putranya. "Kalian juga tidak setuju dengan rencana Daddy ini?"
Jackson melirik sebentar kearah ayahnya itu. "Kalaupun kita bertiga menolaknya. Daddy pasti tetap akan melanjutkan rencana Daddy itu, kan?"
"Percuma juga kita protes, kalau ujung - ujungnya Daddy tetap akan menikah dengannya." Setelah mengatakan hal itu, Jackson segera beranjak pergi dari hadapan mereka bertiga.
Venson menghembuskan napas frustasi begitu mendapat penolakan atas rencananya itu. Lalu dipalingkan wajahnya kearah putra bungsunya yang masih ada di hadapannya itu.
"Terserah Daddy. Benar apa kata kakak, seberapa keras kita protes. Daddy tetap tidak mau mendengarkannya. Jadi semua terserah Daddy. Aku pamit."
Kini Venson menatap putra bungsunya itu sendu. Dia tidak ingin hubungannya dengan ketiga anaknya renggang seperti ini. Tapi kenapa ketiganya tidak bisa merestui untuk menikah lagi.
"Mas, mungkin mereka butuh waktu. Jangan terlalu memaksa mereka untuk menerima rencana pernikahan kita. Biar seiring berjalannya waktu saja, ya."
Jasmine hanya berniat menenangkan calon suaminya itu. Sejujurnya dia mulai ragu akan keputusannya itu. Ragu kalau ketiga anak itu akan menerima kehadirannya.
Jasmine juga tidak ingin menjadi perusak hubungan ayah dan anak. Dia tentu saja mengerti arti pentingnya sosok ayah dimata ketiganya. Apalagi mereka bertiga sudah kehilangan sosok ibu juga sudah lama.
Jasmine rasa semuanya butuh waktu. Menerima kehadiran orang asing di hidup kita, tentu saja tidak mudah. Kita perlu adaptasi dengan perubahan itu. Mungkin itulah yang kini sedang di rasakan oleh ketiganya.
...πΒ πΒ π...
Saat ini Jasmine tengah termenung di kantor milik calon suaminya itu. Kenapa dia bisa ada disana? Tentu saja dia diajak oleh sang empunyanya.
Lantas kenapa dia termenung begitu? Jasmine baru saja kehilangan pekerjaan, sebab apotek tempatnya bekerja sudah ditutup. Sebab sang pemilik sudah menjualnya kepada seseorang.
Bukan hanya Jasmine yang kehilangan pekerjaan, namun kedua teman kerjanya juga ikut terkena imbas. Ternyata si pemilik toko menjual toko tersebut karena dia ingin memulai hidup baru di kota lain bersama istrinya. Makanya toko itu dijual dan uangnya untuk modal disana.
__ADS_1
Pelukan dipinggangnya membuat Jasmine tersentak kaget. Tapi begitu tahu siapa pelakunya, Jasmine berusaha biasa saja.
"Kenapa, huh?" Jasmine menggeleng pelan.
"Kamu sudah makan?" Jasmine membalikkan tubuhnya menghadap kearah calon suaminya itu.
"Belum. Aku maunya makan sama kamu." Jasmine tersenyum tipis begitu melihat melalukan manja dari calon suaminya itu.
Jasmine berusaha melepaskan pelukan itu, tapi Venson tidak mengizinkannya dan masih tetap memeluk erat pinggang calon istrinya itu.
"Lepasin dulu, aku mau nyiapin makan siang untukmu." Akhirnya Venson mau melepaskan pelukan itu.
Kini keduanya sudah duduk disofa sembari Jasmine menyuapi Venson makanan yang tadi dibawanya kemari itu.
"Kamu juga makan, ya." Kini sendok tadi berputar kearah mulut Jasmine, mau tak mau Jasmine memakan makanan itu dari sendok yang sama.
Setelah makanan itu habis, kini keduanya sudah saling berpelukan. Lebih tepatnya Venson yang memeluk Jasmine sambil menyenderkan kepalanya di bahu Jasmine.
"Aku pusing." keluh Venson yang membuat Jasmine reflek memijat pelan kepala Venson. Sedangkan yang di pijat tersenyum lebar.
Sebenarnya maksud Venson pusing disini itu adalah pusing memikirkan anak - anaknya yang belum juga merestui hubungannya dengan Jasmine itu.
Beberapa hari yang lalu, dia sudah berbicara baik - baik pada ketiga anaknya. Namun balasan mereka hanya acuh tak acuh. Makanya, Venson bingung harus dengan cara apalagi ketiga anaknya itu setuju akan pernikahannya itu.
Setidaknya mereka bertiga mau menerima Jasmine secara perlahan - lahan di hidup mereka. Hanya itu keinginannya.
"Kalau pusing seharusnya istirahat, bukannya kerja - kerja terus." omel Jasmine namun tak menghentikan pijatannya itu.
Venson tak menanggapinya sebab dia masih menikmati pijatan di kepalanya itu. Terasa lembut dan menenangkan secara bersamaan. Sudah lama rasanya dia tidak menikmati hal seperti ini.
Seingatnya terakhir kali hanya dengan ibu ketiga anaknya itu. Itupun sudah bertahun - tahun yang lalu.
"Apa sebaiknya aku batalkan saja rencana pernikahan itu?" Sebenarnya Jasmine hanya bergumam, tapi dengan jarak yang sangat dekat. Hal itu tentu saja di dengar oleh Venson.
Tanpa aba - aba, Venson langsung menegakkan tubuhnya membuat Jasmine terkejut. "Apa maksud perkataanmu itu? Kau ingin membatalkan pernikahan kita?"
Jasmine tergagap begitu melihat respon Venson dan juga pertanyaan yang dia ajukan padanya itu. "Itu---"
...Grep...
Tubuh Jasmine menegang lantaran di peluk erat oleh Venson itu. "Jangan sekali - kali berpikir untuk membatalkan rencana pernikahan kita. Aku tidak suka mendengarnya!"
Nada tegas jelas terdengar di setiap kata dalam ucapan Venson tadi. Jasmine hanya mengangguk pelan sebagai respon darinya itu.
__ADS_1
...π π π...