
Seorang gadis berjalan dengan riang dengan senandung kecil yang keluar dari mulutnya. Sapaan ramah dia berikan kepada orang - orang yang dia lewati, walaupun sejujurnya dia tak kenal dengan orang yang dia sapa. Langkahnya mendadak terhenti begitu melihat seseorang keluar dari ruang rawat kakaknya.
Si gadis yang tak lain adalah Shifah ouj mengernyitkan dahinya karena tak begitu melihat dengan jelas wajah orang yang baru keluar dari ruangan Jasmine. "Siapa itu? Apa mungkin pak dokter, ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Tapi kan jadwal pemeriksaan bukan jam segini." Dengan langkah cepat, Shifah langsung berjalan menuju ruangan Jasmine yang berkisar 100 m dari posisinya. Dibukanya pintu ruang rawat dengan tergesa. Namun ternyata Jasmine masih dalam posisi yang sama sejak dia tinggal cari makan sebentar.
Shifah mulai memeriksa ruangan dengan teliti. Takutnya orang tadi mengambil atau menaruh benda berbahaya di dalam ruangan ini. Tapi sejauh yang Shifah amati, tak ada satupun yang mencurigakan. Nampak semuanya baik - baik saja dan tak ada yang berubah posisi dati sebelumnya.
"Aneh. Lalu orang itu siapa? Apa mungkin aku salah lihat, ya? monolognya sambil berpikir. Shifah meletakan kantong plastik yang dibawanya keatas nakas sambil mengamati Jasmine.
Jasmine memang masih berada di rumah sakit untuk proses pemulihan. Dan ini sudah terhitung hari ketiga Jasmine dirawat disini. Sejak masuk ke rumah sakit, baik Shifah maupun Cessie yang saling bergiliran menjaga Jasmine. Waktu pagi menjelang sore adalah bagian Cessie. Sedangkan Shifah kebagian jaga malam.
Biasanya dia di temani oleh Wilson yang ikut menjaga mamanya. Padahal waktu itu, Jasmine sudah menyuruh Wilson agar tidak menjaganya. Namun Wilson kekeh untuk menemani Jasmine disini. Kalau ditanya apa dia minta izin ayah atau saudaranya? jawabannya adalah tidak.
Sebab dia lebih sering menyelinap keluar saat orang rumah berada di kamar mereka masing - masing. Dan selama 3 hari ini, Wilson belum pernah ketahuan oleh ayah dan kedua saudaranya.
Diruangan hanya terisi suara Shifah yang sedang makan, karena Jasmine masih tidur akibat obat yang diminumnya tadi. Tiba - tiba pintu terbuka membuat Shifah menoleh menatap siapa yang membuka pintu itu. Ternyata itu adalah kakaknya, si Cessie.
"Baru pulang, kak?" Cessie mengangguk pelan tanpa menjawabnya, sebab dirinya sangat lelah. Seharusnya dia pulang jam 3 pagi, tapi ada sedikit insiden di bar yang mengharuskannya pulang jam 5 pagi. Baru satu setengah jam dia pulang ke rumahnya dan kini dia harus kerumah sakit untuk gilirannya jaga.
Shifah menatap kakaknya dengan pandangan khawatir. Dari penampilannya saja, Cessie terlihat agak sedikit berantakan. Ditambah lagi wajahnya begitu pucat, membuat Shifah menarik satu kesimpulan kalau kakaknya ini tidak baik - baik saja.
"Mbak, sudah makan?" Gelengan yang Cessie berikan membuat Shifah segera mengambil nasi bungkus di dalam kantong plastik tadi. Memang Shifah sudah membeli dua nasi bungkus, karena tahu kalau kakaknya sering melewatkan jam sarapan.
Shifah mulai menyodorkan nasi itu pada kakaknya. "Mbak, makan dulu, ya. Wajahnya Mbak Cessie kelihatan pucat banget." Awalnya Cessie berniat menolaknya, karena sejak kemarin lidahya terasa pahit. Bahkan Cessie hanya makan roti dan minum susu untuk menganjal perutnya.
"Lidahku rasanya pahit, Fah." Shifah menggeleng pelan. "Nanging Mbak kudu maem dhisek. Ngko malah gentenan Mbak sing mriyang. Shifah dadi kangelan nak kudu ngopeni Mbak Cess lan Mbak Jasmine." ucapnya sambil menatap Cessie. (Tapi Mbak harus makan dulu. Entar malah gantian Mbak yang sakit. Shifah jadi kesusahan kalau harus ngerawat Kak Cess dan Kak Jasmine.)
Cessie mengacak pelan kerudung yang Shifah kenakan. "Iya, wis. Mbak gelem maem." Akhirnya Cessie mau makan setelah dibujuk beberapa kali oleh Shifah. (Iya sudah, kakak mau makan.)
° { < ¥ > } °
Jasmine menatap lembut pada interaksi yang terjadi didepannya. Dimana anak ketiganya terlihat akrab dengan Shifah. Walaupun Jasmine yakin, kalau beberapa kali Wilson nampak bingung pada perkataan yang diucapkan oleh Shifah. Tentu saja bingung, Shifah kadang masih berbicara dengan bahasa jawa yang tidak dipahami oleh Wilson.
Beberapa kali Jasmine dibuat tersenyum hanya karena kalimat maaf yang Shifah ucapkan begitu menyadari kalau Wilson tak paham dengan apa yang dia bicarakan. Kedatangan Cessie yang barusan dari ruang administrasipun menyita perhatian ketiga orang disana.
"Semuanya sudah beres, kak?" Cessie mengangguk pelan. Dia tersenyum sambil menghampiri Jasmine yang sedang menatapnya. "Ayo kita pulang, aku yakin kau pasti rindu dengan nenek."
Memang sejak Jasmine dirawat, nenek Asha belum sempat membesuknya, sebab beliau sedang sakit. Tapi setidaknya beliau mendoakan kesembuhan Jasmine dan kesehatan si jabang bayi.
Setelah memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal, kini keempatnya mulai melangkah pergi meninggalkan ruang rawat tersebut. Jasmine dan Cessie berjalan di depan, diikuti oleh Wilson dan Jackson. Setibanya diparkiran, kini keempatnya masuk ke dalam mobil Cessie.
__ADS_1
° { < ¥ > } °
Seorang gadis nampak mengamati keadaan di sebuah rumah yang tampak sepi. Dia sudah berada tak jauh dari pagar rumah itu. Tujaannya hanya ingin melihat sosok yang sudah hampir seminggu tidak dia temui. Sebenarnya dia juga bingung kenapa sampai melakukan tindakan penguntitan seperti ini.
Bila ditanya alasannya, gadis itu juga tidak tahu. Gadis yang masih berada di dalam mobil itupun mulai menegakan badannya, kala melihat kedatangan sebuah mobil. Tak lama, mobil itupun masuk kedalam halaman rumah saat satpam telah membukakan pintu gerbang.
Gadis yang tak lain adalah si Aura itupun mulai menajamkan pandangannya untuk melihat siapa yang berada di dalam mobil. Bisa dia lihat seorang gadis yang sebaya dengan adiknya. Tak lama disusul kedua perempuan yang salah satunya dia tunggu keberadaannya.
Namun dahi Aura sedikit terangkat begitu melihat kalau gadis yang sebaya dengan adikknya itu, mulai memapah mama sambungnya. Kali ini pandangan Aura bergulir pada satu sosok yang baru saa keluar dari sisi kiri bagian depan.
Sorot mata Aura memancarkan rasa terkejut begitu melihat keberadaan adiknya disana. Aura hanya tak menyangka kalau Wilson ada disana. Bahkan dia terlihat akrab dengan gadis disamping Jasmine yang tak lain adalah Shifah.
Sampai keempatnya masuk kedalam rumah, barulah Aura mengalihkan pandangannya. "Apa itu Wilson? Tapi kenapa dia bisa ada disana?"
Banyak hal yang menjadi pertanyaan bagi benak Aura saat ini. Belum lagi kemungkinan - kemugkinan kalau Wilson akan memgetahui rahasi dari apa yang selama ini Aura sengaja tutupi. Dengan tancap gas, Aura langsung berlalu dari sana. Entah kemana dia akan pergi, tapi yang jelas ke tempat yang bisa menenangkan pikirannya.
( ^ ¥ ^ )
Wilson yang hari saja pulang dari rumah Cessie pun, mulai melenggang masuk kedalam rumahnya. Nampak senyum kecil menghiasi bibirnya. Dirinya terus melangkah menuju lantai atas, dimana kamarnya berada. Namun panggilan dari sang kakak membuat Wilson menoleh.
"Ada apa, Kak?" tanyanya yang kini menatap lurus kearah Aura.
"Kakak ingin bertanya sesuatu padamu."
"Kenapa, Kak?" tanyanya yang membuat Aura menoleh kearah Wilson. "Tadi sepulang sekolah kau pergi kemana?" Wilson menatap sang kakak dengan pandangan dalam. Sejujurnya dia bingung, kenapa kakaknya itu mempertanyakan hal itu.
"Aku langsung pulang ke rumah." jawabnya yang tak membuat Aura percaya. "Jawab jujur. Kemana kau setelah pulang sekolah? Atau kau tidak berangkat sekolah tadi."
Wilson menatap sang kakak dengan pandangan kaget. "Kakak kenapa sih? Tentu saja aku tadi berangkat sekolah. Kan tadi berangkatnya bareng sama kakak." Aura semakin menatap intens adiknya yang masih tidak mau berkata jujur padanya.
Aura menatap tepat dimata sang adik. "Bukannya kau tadi bertemu dengan dia." tekannya pada kata dia, diakhir kalimatnya. Sepersekian detik pupil mata Wilson nampak membesar, menandakan dia kaget. Namun itu hanya sebentar, sebab setelahnya Wilson malah terkekeh pelan.
"Jadi kakak sudah tahu, ya. Baiklah aku akan bicara jujur pada kakak. Memang tadi aku pergi menemui mama Jasmine sepulang sekolah." Perkataan itu membuat Aura sedikit terperangah, walaupun dia sudah menduganya.
Wilson yang semula hanya menatap sang kakak dengan pandangan biasa, kini berganti menjadi pandangan sinis. "Lalu setelah kakak tahu kalau aku menemui mama, kakak mau apa? Mengadu pada ayah begitu? Biar aku dimarahi dan tidak diizinkan bertemu kembali dengan mama Jasmine."
Aura menatap tak suka pada apa yang Wilson ucapan kepadanya. "Kenapa perkataanmu seperti itu? Memangnya apa ada ucapanku yang menjurus kesitu."
Wilson menggeleng pelan. "Memang tidak ada. Tapi bukanya kakak lebih suka menyembunyikan fakta yang ada dan melebihkan sesuatu yang tidak pernah terjadi."
Aura menatap marah pada apa yang dikatakan oleh sang adik. "Apa maksudmu, Wilson? Kau mau menuduhku kalau aku berbicara bohong begitu?!" Aura menaikan nada bicara pada Wilson yang masih bersikap tenang itu.
__ADS_1
"Bukannya kakak memang seperti itu, ya?" Wilson seolah bertanya dalam nada bicaranya. Namun aslinya dia mengucapkan pernyataan yang beralasan. "Kau mulai kurang ajar pada kakakmu sendiri ya, Wil."
"Apa yang kau dengar dari si Jasmine itu sampai kau bertingkah kurang ajar seperti ini." Aura melayangkan tatapan tajam pada Wilson yang kini mulai menatapnya dengan pandangan tak suka.
"Memangnya ucapan seperti apa yang kakak maksud? Lagipula mama Jasmine tak pernah mengatakan hal buruk mengenai kakak! Bukannya kakak yang selalu menjelekan mama Jasmine di setiap kesempatan!"
Aura bangkit dari posisinya. "Turunkan nada bicaramu, Wil. Aku ini kakakmu, Seharusnya kau bersikap sopan padaku. Bukannya malah meninggikan suaramu itu!" Wilson hanya mendengus cukup keras.
"Lalu pernahkah kakak sopan pada mama Jasmine selama ini? Bagaimanapun usia dia lebih tua dari kakak, tapi tak pernah sekalipun aku melihat kakak berperilaku sopan padanya."
"Memangnya kau tahu apa, huh? Kau itu hanya anak kecil. Jadi jangan bertingkah sok tahu. Semua yang terlihat baik, belum tentu baik, Wil." Aura masih berdiri dengan menatap adiknya yang memberikan respon diluar perkiraannya.
"Hahaha. Jadi seperti itu pandangan kakak terhadapku. Usiaku memang lebih muda dari kakak. Tapi setidaknya rasa kepedulian dan kedewasaanku jauh lebih tinggi bila dibandingka darimu, Kak."
"Kau," Aura sampai kehilangan kata - kata atas ucapan sang adik. Sejak kapan Wilson berani mendikte kakaknya. Bahkan selama Aura hidup, baru kali ini Wilson terlihat tak menghormatinya sama sekali.
"Kenapa kau bertingkah seperti ini? Apa ini ajaran dari si Jasmine itu? Iya, kan? Selain membawa masalah dalam keluarga dan rumah ini. Sekarang dia menularkan pengaruh buruknya kepadamu. Nanti kedepannya apa lagi yang akan dia ciptakan! Mungkin membuatmu menjauh dari keluarga kamdungmu!"
"Kakak!" bentak Wilson yang merasa kalau kakaknya sudah berbicara keterlaluan. "Kakak jangan bicara seenaknya saja. Kakak pikir apa yang kakak lakukan selama ini itu membawa pengaruh baik dalam rumah ini? Tidak, kak. Kakak hanya menciptakan masalah yang membuat ayah dan mama jadi berpisah begini!"
Plak
Sebuah tamparan melayang di pipi Wilson yang di lakukan oleh orang yang menyandang status sebagai kakak keduanya itu. Rasa panas mulai menjalar di pipi Wilson di akibatkan dari tamparan itu. Jika diperhatikan ada tatapan sendu dalam sorot mata Wilson yang mengetahui dirinya barusaja di tampar oleh Aura.
"Jangan berani kau membandingkan aku dengan dia. Kau pikir aku akan terima begitu saja bila kau hina seperti ini. Tindakanmu sudah sangat keterlaluan, Wil. Aku akan mengatakan semuanya pada ayah, agar kau tidak bisa lagi bertemu dengan dia! Camkan perkataanku ini di otakmu itu!"
Tanpa kata, Aura pergi dari hadapan Wil yang kini terdiam. Helaan napas keluar dari bibir Wilson saat menyadari kalau ucapannya sudah keterlaluan. Dia akui kalau dirinya salah, karena tak bisa menjaga ucapannya. Namun Wilson merasa tak terima kalau Aura menghina Jasmine sampai segitunya.
"Kakak pikir hanya kakak saja yang berat menerima mama Jasmine sebagai pengganti mama. Awalnya aku juga begitu, kak. Bedanya aku mau mencoba, sedangkan kakak tidak." gumamnya yang hanya dia bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
...( ^ ¥ ^ )...
.......
.......
.......
Hai, ketemu lagi kita.
Jangan lupa tuk baca juga cerita Nona Muda Boss Mafia, selagi menunggu Up - an dari cerita ini. Itupun kalau kalian mau membacanya, ya : - ) .
__ADS_1
...See you next part, [ • ^ \= ^ • ]...