Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Ruang Rawat


__ADS_3

Hari ini Jasmine kembali ke rumah sakit dengan ditemani oleh sang suami. Dia baru saja dikabari oleh Cessie kalau Shifah sudah sadar dan bisa untuk ditengok.


Venson sudah tahu perihal kejadian yang hampir melukai istrinya itu. Dan kini kejadian itu tengah diusut oleh anak buahnya. Apabila kejadian tabrakan itu disengaja, maka siap – siap saja pelakunya akan masuk penjara. Tapi kalau itu murni kecelakanan, Venson akan mencoba memaafkannya.


“Shifah, gimana keadaanmu?” Jasmine langsung mendekat kearah Shifah dengan tatapan khawatir.


Shifah tersenyum tipis, “Aku baik – baik aja, Mbak.”


“Tapi tangan dan kakimu?”. Masih dengan tersenyum, Shifah mengeleng pelan. “Ini nggak terlalu sakit kok, Mbak.” Baru saja bilang begitu, tiba – tiba Shifah menjerit lantaran tangannya di sengol oleh kakak sepupunya itu. “Aww, Mbak Cess.” Dengus Shifah menatap Cessie yang kini malah tertawa kecil.


“Tadi katanya nggak kenapa – napa.” Sindir Cessie yang malah membuat Shifah ikut tertawa pelan. “Kui kan wau, nak saiki yo loro.” (Itu kan tadi, kalau sekarang ya sakit.)


“Terimakasih ya Shifah, karna sudah menolong istri saya.” Ucapan itu membuat Shifah mengangguk sambil tersenyum cerah.


”Nggak masalah, Mas. Lagiann Mbak Jasmine kan kakak saya juga.” Venson ikut tersenyum mendengar hal itu.


Keempat orang disana saling membaur sambil sesekali tertawa. Perhatian mereka teralihkan begitu mendengar suara pintu terbuka.


“Selamat siang.” Ucap seorang pemuda yang ternyata adalah anak tertua Venson.


Seketika raut wajah Cessie berubah. Sebenarnya dia tidak membenci anak tertua dari Jasmine itu, hanya saja dia cukup bosan melihat keberadaan anak itu disekitarnya.


“Kau datang, Son.” sapa Venson pada Jackson yang kini mulai menghampirinya itu.


Ditangan Jackson sudah ada sekeranjang buah – buahan yang kini dia sodorkan kearah Cessie. “Untuknya.” ucap Jackson sambil melirik sejenak kearah Shifah yang cukup terkejut melihat kehadirannya disiini.


“Terimakasih, lain kali tidak perlu repot – repot begini." balas Cessie sambil menerima bingkisan tersebut.


Tak berselang lama Venson harus pamit karena ada kerjaan yang harus dia kerjakan. “Kalau begitu saya pamit dulu, ya. Cepat sembuh ya, Shifah.” ucap Venson sambil mengelus pelan kepala Shifah. Sebab Venson sudah menganggap Shifah sebagai anak snediri, apalagi usianya lebih muda daridapa putri tunggalnya itu.


Jasmine ikut mengantar sang suami sampai di depan halaman rumah sakit. Dan kini meninggalkan keheningan diantara ketiganya. Cessie duduk di sofa sambil berkutat dengan ponselnya. Sedangkan Jackson masih setia menatap kearah Cessie dengan pandangan kagum.


Shifah yang tentunya masih berada di bangkarpun hanya menatap keduanya dengan pendangan menilai.


“Mbak,” panggilnya yang menarik perhatian kedua anak manusia itu.


“Apa?” sahut Cessie sambil menatap adik sepupunya itu.


“Mbak orak ngeleh?” Cessie menggeleng pelan. (Kakak nggak lapar?)

__ADS_1


“Tapi o aku ngeleh, mbak.”


(Tapi aku lapar, Kak.)


"Yo mangan dhisek ra.” balasnya sambil menetap kembali kearah ponselnya.


(Ya makan dulu aja.)


"Orak iso, Mbak. Ki weruho astane aku kayak ngene. Maeme piye, mbak?” dengus Shifah sambol melirik tangannya yang sedang di gips itu.


(Nggak bisa, Kak. Lihat ini tanganku kayak begini. Makanya gimana, Kak)


“Lah terus aku kon piye?” ucap Cessie yang balik tanya pada adiknya itu.


(Lah terus aku harus ngapain?)


“Dulang, ya.” Pinta Shifah dengan muka melasnya itu. (Suapin, ya.)


“Emoh.” Tolak Cessie mentah – mentah.(Ogah). Sejujurnya itu hanya candaan saja, Cessie memang berniat enjahili adiknya itu.


“Mbak senenge ngono. Tak kandake mbah loh ya.” (Kakak sukanya gitu. Aku aduin neneh loh ya.).


“Kandakno. Mbak nggak wedi." balasnya acuh yang membuat Shifah mendengus kesal. (Aduin aja. Kakak nggak takut.)


Suara dering telepon membuat perhatian ketiga orang disana teralihkan. Ternyata suara itu berasal dari ponsel Cessie. Sang pemilik segera mengangkat panggilan itu. Setelah selesai, Cessie menatap kearah adiknya dan Jackson yang juga tengah menatapnya.


“Mbak meh ono perlu dhisek. Mangkeh mbah nyusul mrene, kono nak meh njaluk dulang mbah.” ucap Cessie dengan bahasa yang dipahami oleh keduanya. (Kakak mau ada perlu dulu. Nanti nenek menyusul kesini, sana kalau mau minta disuapin sama nenek.)


Tapi tidak dengan jackosn yang menatap keduanya dengan raut bertanya.


“Lah opo sui meni, Mbak?” Cessie menggeleng pelan.


(Apa lama sekali, Mbak?).


“Rak ngerti. Paling rong jam telung jam-an.” jawabnya sambil mengambil tas selempang miliknya. (Nggak tau. Paling dua atau tiga jam-an.)


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Cessie langsung menatap kearah Jackson membuat yang ditatap jadi salah tingkah. “Kenapa?”


“Kau tidak sedang sibuk, kan?" Pertanyaan itu membuat Jackson menggelng cepat. Dia kira Cessie ingin memintanya mengantar gadis itu ke suatu tempat, tapi ternyata...

__ADS_1


“Baguslah, aku minta tolong kamu untuk menjaga adikku sampai nenekku datang kesini, bisa?” Cessie menatap Jackson dengan pandangan menuntut jawaban. Mau tak mau akhirnya Jackson menganggukan kepalanya.


“Oke, kalau begitu. Terimakasih.” Setelah mengatakan hal itu, Cessie langsung pemitan pada keduanya dan berlalu untuk menemui seseorang.


Keadaan berubah menjadi hening, tidak ada yang bersuara sampai pintu yang sebelum tertutup kini kembali terbuka menampakan seorang suster dengan membawa troli makanan.


“Hallo, Mbak Shifah. Ini makan siangnya ya. Setelah makan, tolong obat ini diminum, ya. Biar cepat sembuh.” ujar suster tersebut yang diangguki oleh Shifah.


“Masnya, nanti Mbak Shifahnya tolong diingetin, ya.” Pertanyaan yang ditujukan pada Jackson membuat Jackson berdehem sebentar sebelum mengangguk pelan.


“Baiklah, kalau begitu selamat siang.” Suster itupun pamit untuk mengantarkan makanan siang bagi para pasien yang lain. Shifah berusaha untuk mengambil mangkok bubur yang suster tadi letakan diatas nakas samping tempat tidurnya.


Namun luka ditangannya kembali terasa nyeri akibat banyaknya pergerakan yang dia lakukan. Jackson yang melihat hal itu merasa sedikit kasihan. Dengan pelan dia mengambil mangkok itu dan memberikannya pada Shifah.


Awalnya Shifah kaget karena Jackson mau repot – repot membantunya. “Terimakasih.” Ujarnya dengan tersenyum simpul. Jackson hanya mengangguk kecil sebagai respon.


Walaupun sudah dibantu mengambilkan mangkok bubur, Shifah masih kesusahan untuk makan, sebab tangan kanannya lah yang di gips.


“Biar ku bantu.” Mangkok itu kini berpindah ketangan Jackson yang sejak tadi melihat Shifah yang kesusahan untuk makan. Shifah menggeleng pelan. ”Tidak usah. Biar nanti aku minta nenekku buat nyuapin aku.” Tolakan halus itu tak digubris oleh Jackson yang kini mulai menyodorkan sesuap bubur kehadapan Shifah.


“Memangnya kau tahu nenekmu kesini jam berapa?” Shifah diam mendengar perkataan itu. Sebab dia juga belum tahu neneknya itu akan kesini jam berapa. Bisa saja nanti sore, mengingat neneknya baru saja pulang beberapa jam yang lalu.


Dengan perasaan gugup, Shifah mulai menerima sesuap demi sesuap bubur yang disodorkan oleh Jackson keapadanya itu. Kini Jackson menyodorkan air minum dan juga obat untuk diminum oleh Shifah. Untungnya Shifah termasuk orang yang gampang dalam meminum obat dalam bentuk pil seperti sekarang ini.


“Terimakasih. Dan maaf karena sudah merepotkanmu.” Ucap Shifah dengan sedikit memalingkan mukanya karena malu.


“Sama – sama.”


Keadaan kembali hening. Baik Shifah maupun Jackson tidak ada yang membuka suara. Dengan memberanikan diri, Jackson mulai melontarkan pertanyaan pada Shifah. “Boleh aku bertanya sesuatu?” Shifah mengangguk pelan.


“Apa kak Cessie sudah memiliki pacar?” Shifah nampak berpikir sejenak.


“Sak ngertine aku rak ndhuwe.” (Setahuku tidak punya.)


Jackson mengernyit bingung dengan jawaban dari Shifah itu. “Ah, maksudku, setahuku mbak Cessie belum punya pacar.” Kali ini Jackson mengangguk paham dengan senyum tipis dibibirnya.


“Ooh, ya. Kenapa kamu nanya begitu?”


“Nggak ada apa – apa. Hanya penasaran aja.” Sedangkan Shifah hanya beroh ria. Walaupun ada setitik perasaan tak nyaman di hatinya.

__ADS_1


................................ ...


...Salam untuk semaunya...


__ADS_2