
...๐ฟย ๐ย ย ๐ฟ...
Tepukan halus dirasakan oleh Jasmine, kala dirinya tengah melamun didepan rumah panti. Dan ternyata tepukan itu berasal dari ibunya.
"Kenapa malah duduk disini?"
Jasmine tersenyum tipis. "Lagi cari angin, Bu." Bu Lia ikut tersenyum sambil mendudukan diri di samping Jasmine.
Dielusnya pelan surai milik anaknya itu. "Lagi mikirin sesuatu, ya?" Gelengan pelan diberikan oleh Jasmine begitu mendengar pertanyaan dari ibunya itu.
Ingin rasanya berbagi kisahnya pada ibunya. Namun Jasmine kembali mengurungkan niatnya, sebab dia mereka tidak ingin membebani ibunya ini.
Setidaknya biarkan masalahnya hanya dia sendiri yang tanggung. Lagipula sekarang ini dia sudah menjadi seorang istri dan tentunya menjadi ibu sambung bagi ketiga anaknya itu. Terlepas dari apakah anak - anaknya itu akan menerimanya atau tidak.
"Kalau ada masalah, ibu siap jadi pendengar yang baik. Setiap orang memiliki batasannya masing - masing. Termasuk juga kamu, Jasmine."
Jasmine paham akan maksud dari perkataan ibunya itu. Tapi untuk sekarang ini, Jasmine rasa dia masih bisa menyimpannya sendiri. Bila waktunya sudah tepat, maka Jasmine akan menceritakan semuanya pada ibunya.
"Kau sudah makan?" Jasmine menggeleng pelan. Bu Lia pun mengajak Jasmine masuk kedalam untuk makan sekaligus melepas rindu dengan adik - adiknya yang lain itu.
...๐พ ๐ฟ ๐พ...
Suara ketukan dari pintu depan membuat Jasmine yang tadi sibuk mengajari adik - adiknya belajar itupun menoleh sejenak. Sebelum beranjak, dia pamit sebentar pada adik - adiknya untuk membukakan pintu.
"Kakak buka pintu sebentar, ya. Kalian lanjutin belajarnya."
Ketukan kedua pun kembali terdengar. "Iya, tunggu sebentar." Ketika pintu terbuka, Jasmine tersenyum begitu melihat keberadaan suaminya di depannya itu.
"Mas," sapa Jasmine sambil mengulurkan tangannya untuk salim pada suaminya itu.
"Mas sudah makan?" Gelengan pelan diberikan oleh Venson atas pertanyaan dari istrinya itu. Alis Jasmine terangkat satu. "Jam segini Mas belum makan? Ya, sudah. Mas makan ya sekarang. Tadi aku sudah masak bareng ibu."
Venson tersenyum hangat begitu merasakan perhatian yang Jasmine berikan padanya itu. Padahal kalau diukur, ini hanya perhatian kecil. Tapi kenapa efeknya sangat menyenangkan dihati begini ya.
"Kamu sendiri sudah makan?" Kini pertanyaan dari Venson untuk istrinya. Jasmine mengangguk pelan. "Tadi makan bersama ibu dan adik - adikku."
Kini keduanya berada di ruang tengah, dimana para adiknya Jasmine tengah belajar bersama. "Hai, Kak Venson." Itu sapaan dari para adiknya Jasmine pada Venson.
Venson tersenyum kearah adik -adiknya Jasmine yang kini secara bergiliran menyalimi tangamnya itu. Sungguh, melihat mereka semua begitu sopan seperti ini membuat lagi - lagi perasaanย Venson menghangat.
Bisa dikatakan kalau Venson itu sangat menyukai anak - anak. Dan melihat bagaimana sayangnya Jasmine pada mereka semua, membuat Venson yakin kalau cepat atau lambat, Jasmine bisa diterima dengan baik oleh ketiga anaknya itu.
"Kakak dan Kak Venson ke ruang makan dulu, ya. Kalian lanjutin belajarnya. Kalau sudah selesai, langsung pada istirahat, ya." Jasmine bicara seperti itu karena sebentar lagi adalah jamnya mereka semua tidur.
Karena itulah, tadi Jasmine sempat terkejut begitu tahu kalau Venson belum makan sampai jam segini. Padahal ini sudah jam 20.26 P.M
__ADS_1
Venson duduk di meja makan sambil memperhatikan sang istri yang kini tengah menyiapkan makanan untuknya itu. "Ini, Mas. Silahkan dimakan. Tapi maaf, hanya ada lauk ini saja."
"Tidak apa - apa. Lagipula ini juga sudah menggugah selera. Dan tentu saja akan enak, sebab yang masak dan nyiapinya adalah dari sang istri tercinta."
Pipi Jasmine menghangat hanya karena ucapan dari suaminya itu. "Sudah dimakan dulu, baru boleh ngegombal." Venson sendiri terkekeh pelan begitu melihat wajah malu dari istrinya itu.
Jasmine duduk didepan Venson sambil memperhatikan suaminya itu makan. Setelah selesai, Jasmine langsung mengambil piring dan gelas yang tadi digunakan oleh suaminya itu untuk segera dia cuci.
Setelah selesai barulah dia kembali duduk di depan suaminya itu. "Kamu mau menginap disini atau ikut aku pulang?"
Tadi sebelum kesini, Jasmine sudah izin ke Venson kalau dia mau ke rumah panti. Dan Venson juga menawarkan untuk mengantarnya. Tapi ditolak halus oleh Jasmine. Karena tawarannya mengantar ditolak, maka Venson berinisiatif untuk menjemputnya kesini.
"Aku ikut Mas pulang."
Venson hanya mengangguk. Kini Jasmine berdiri dari posisinya dan mengajak Venson untuk berpamitan pada ibu dan adik - adiknya.
Saat berpamitan pada ibunya, Bu Lia menawarkan keduanya untuk menginap. Tapi ditolak halus oleh Venson sebab besok dia harus berangkat kerja pagi - pagi sekali.
"Kalian berdua hati - hati dijalan, ya."
Keduanya mengangguk sambil menyalimi Bu Lia dan berpamitan pulang. Di dalam mobil, keduanya fokus pada kegiatan mereka masing - masing.
Jasmine menatap sekilas kearah sang suami yang tengah fokus menyetir itu. Sejujurnya setiap kali dia menatap Venson. Dia akan selalu merasa bersalah karena telah menyembunyikan rahasia besar darinya.
Rahasia yang hanya diketahui oleh dia sendiri dan kedua anak terbesar dari sang suami. Rahasia yang melibatkan orang - orang tersayangnya. Maka dari itulah, dia tidak bisa menyeritakan masalahnya pada orang terdekatnya termasuk ibunya.
Jasmine menggeleng. Sekalipun dia ingin sekali menjelaskan semuanya pada Venson. Semua itu hanya sekedar angan. Dia tidak mungkin mempertaruhkan ini semua demi kebenarannya.
"Sejujurnya aku pengen nanya sama, Mas."
Alis Venson terangkat satu. "Mau nanya apa? Kayaknya serius begitu?"
Jasmine mengigit pelan bibirnya, pertanda dia tengah gugup saat ini. "Mas nggak nuntut hak Mas ke Aku." Ada rasa malu yang dirasakan oleh Jasmine begitu mengutarakan hal tersebut.
Rasanya Jasmine ingin menghilang kala melihat suaminya itu menatapnya dengan pandangan bertanya. "Hak apa, ya?"
Nah, kan. Ini gimana Jasmine ngejelasinnya. Masa secara terang - terangan. Nanti di kiranya Jasmine yang kepengen. Padahal mah bukan itu tujuan Jasmine bertanya seperti tadi.
Dia hanya merasa tidak enak dan bersalah secara bersamaan pada suaminya itu. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan begitu saja isi perjanjian yang sudah mengikatnya itu.
"Yang it ... itu loh. Masa nggak tahu sih."ย Berusaha mencerna apa yang di maksud oleh istrinya itu, kini secara perlahan, Venson mulai paham akan maksud dari ucapan Jasmine tadi.
"Memangnya kenapa? Kau sudah siap?" Jasmine tak menjawab secara langsung. Tapi ada gerakan menganggukkan kepala yang dibuat oleh Jasmine tadi.
Secara mendadak, Venson mengerem laju mobilnya. Untung saja di belakang mobilnya tidak ada kendaraan. Kalau ada, sudah dipastikan akan terjadi kecelakaan.
__ADS_1
Jasmine bahkan sampai tersentak kedepan gara - gara rem mendadak itu. Untungnya dia pakai sabuk pengaman. Kalau tidak, dahinya yang mulus akan benjol terantuk dashboard didepannya itu.
"Kenapa ngerem menda---"
"Jadi kamu sudah siap?" Cahya menatap Venson yang sudah memotong ucapannya begitu saja. Apalagi kini dia di tatap dengan wajah sumringah milik suaminya itu.
"Apanya yang sudah siap, Mas?" Sepertinya Jasmine belum koneks dengan pertanyaan Venson tadi. Masih dengan arah tatapan yang sama. Venson kembali bertanya dengan raut antusias.
"Jadi kau sudah siap melakukannya denganku."
Tak butuh waktu lama bagi Cahya untuk mengerti akan pernyataan dari ucapan Venson itu. Dengan anggukan pelan disertai pipinya yang memerah, menjawab pertanyaan yang tadi diajukan Venson.
Tanpa aba - aba, Venson langsung melayangkan ciuman bertubi kearah Jasmine. Dengan gugup dan malu, Jasmine mulai membalasnya.
Selama beberapa menit, keduanya masih asyik namun mulai terganggu oleh dering ponsel milik Venson itu. Dengan tak rela, Venson menyudahi kecupan yang dia berikan pada istrinya.
Ternyata panggilan itu dari sekretarisnya. Dengan kesal, Venson mengangakatnya.
"Hal --" belum juga salam, ucapannya lebih dulu di potong oleh Venson.
"Ada apa? Kenapa telpon saya malam - malam begini?" Bukan maksud Venson pengen marah - marah. Tapi waktunya saja yang kurang pas. Dan nasib sang sekretaris yang kurang beruntung karena sudah menganggu kesenangan bosnya ini.
Dengan takut - takut, sang sekertaris kembali bersuara. "Begini, Pak Steve. Rapat besok pagi dengan klien terpaksa di undur. Sebab klien tidak jadi terbang kemari karena pesawatnya mengalami delay."
Sejujurnya sang sekertaris sudah menyiapkan mental untuk mendengar omelan dari bosnya itu. Tapi yang dia dengar selanjutnya malah membuat mulutnya mengangga.
"Ya, sudah. Kau atur kembali jadwalnya. Tapi ingat, untuk dua hari kedepan jangan berani menggangguku dengan urusan kantor."
"Tapi, Pa--"
"Saya tidak terima penolakan. Atau kau mau gajimu saya potong?" Ancamnya yang langsung dibalas gelengan oleh sang sekertaris.
"Baik, Pak. Saya janji tidak akan menghubungi bapak untuk 2 hari kedepan." Setelah itu panggilan tersebut di putus sepihak oleh Venson.
Jasmine yang mendengar percakapan itu, lantas menatap kearah sang suami yang kini malah menyeringai menatapnya.
"Ayo kita pulang." Setelah mengatakan hal itu, Venson kembali menjalankan mobilnya menuju kearah rumahnya.
Tapi Jasmine mengenyit bingung begitu menyadari kalau arah mobilnya bukan melaju kejalan biasanya. "Mas, katanya mau pulang. Kok tadi nggak belok ke kanan sih?"
Venson tak menjawab tapi menatap sekilas kearah istrinya. "Kita akan pulang ke apartemen Mas saja." Setelahnya Jasmine tak membuka suaranya.
Dalam hatinya saat ini sungguh sudah sangat gugup. Dia berusaha menghilangkan kegugupannya dengan cara memainkan ponselnya.
...๐พ ๐ฟ ๐พ...
__ADS_1
...๐ Terimakasih sudah menanti cerita ini๐๐...