
...-----------( * _ * )------------...
Kepulangan Venson tentu saja membahagiakan bagi keluarganya, terutama Jasmine yang merasa sangat rindu pada suaminya itu. Namun respon yang Venson berikan, tentunya menyentak batin Jasmine. Bagaimana bisa Venson melarangnya untuk mendekat, padahal sudah berminggu - minggu mereka terlibat dalam hubungan yang dingin.
"Daddy, Aura kangen." ucap Aura sambil memeluk erat tubuh ayahnya itu. Venson membalas pelukan itu sambil mengusap pelan kepala Aura dengan sayang. Ada kemarahan dan rasa bersalah yang hinggap dihati Venson.
Bagaimanapun juga, dirinya merasa ikut andil dalam kesusahan yang menimpa anak gadisnya itu. Sebab sudah berminggu - minggu dia jarang di rumah. Bahkan rasanya sudah lama dia tidak meluangkan waktunya untuk mengobrol dengan ketiga anaknya.
Jasmine menatap keduanya dengan perasaan campur aduk. Disatu sisi dia merasa senang dengan kehadiran Venson yang kini tengah memeluk anak gadisnya itu. Namun, disisi lain dirinya merasa semakin jauh dari suaminya sendiri. Terlebih saat Venson melarangnya untuk mendekatinya.
Jasmine masih setia menatap keduanya, hingga tatapan Venson terarah padanya. Namun tatapannya kali ini terasa berbeda dari sebelumnya. Didalam sorot mata itu terdapat kemarahan saat menatapnya. Entah kenapa perasaan Jasmine jadi tidak enak melihat tatapan seperti itu dari sang suami.
Venson sedikit mengurai pelukannya dengan Aura, namun keduanya masih berpelukan, tetapi tidak seerat sebelumnya. "Jadi seperti ini perlakukanmu pada anak - anakku." Ucapan itu tentu saja ditanggapi dengan raut bingung oleh Jasmine.
"Maksudnya Mas, gimana?" tanyanya tak paham.
"Dulu kau selalu bilang akan menjaga anak - anakku dengan baik. Tapi nyatanya apa? Bahkan putriku hampir celaka karena kelalaianmu itu." Ada banyak penekanan yang Venson katakan di ucapannya itu.
Jasmine tentu saja kaget dianggap tidak becus mengurus anak - anak. Padahal dia sudah menjaga dan merawat ketiga anaknya dengan semampunya. Tapi itu masih dianggap lalai oleh suaminya. "Tapi aku sudah menjaga mereka sebisa ku, Mas."
Venson berdecih keras, "Kalau kau memang menjaga mereka, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi." sindirnya dengan menatap Jasmine dengan tajam. "Lalu dimana kau saat putriku hampir celaka? Kau bahkan membiarkannya keluyuran sampai tengah malam."
__ADS_1
"Aku ada dirumah dan sebelumnya aku juga sudah melarang Aura untuk pergi, tapi Aura tetap memilih untuk pergi bersama teman - temannya."
Jasmine masih tak menyangka kalau suaminya itu menuduhnya macam - macam. Venson masih belum percaya akan kata - kata yang Jasmine ucapkan. Tatapan Venson tertuju pada putrinya itu. "Benar begitu, Aura?"
Ditanyai seperti itu malah membuat Aura diam. Dirinya bahkan sampai mengigit bibirnya untuk mengurangi rasa gugupnya itu. Bahkan rasanya dia tidak sanggup menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh ayahnya itu.
Melihat respon Aura yang tidak langsung menjawab pertanyaannya, membuat Venson kembali menanyakan terkait apa yang sebenarnya terjadi. "Apa benar dia sudah melarangmu, tapi ku tetap pergi dan mengabaikan larangannya?"
Aura masih diam dalam pikirannya. Disatu sisi dia merasa takut untuk mengatakan hal yang sejujurnya. Namun di sisi lainnya, dirinya pasti akan merasa sangat bersalah apabila harus berbohong pada ayahnya. "Kau tidak perlu takut. Katakan yang sebenarnya dan apa yang terjadi sampai kau bisa mengalami hal seperti ini."
Venson memberikan penekanan dalam kalimatnya yang membuat Aura gemetar. Perasaan takut serta bimbang terus melingkupinya. Bahkan tangannya sampai bergetar dan mendingin dibuatnya. "Aa-aaya..." Bahkan suaranya tidak bisa keluar sepenuhnya sangking gugupnya.
Tak mendengar adanya jawaban atas pertanyaan yang tadi dia tanyakan, membuat Venson menghela napas kasar. Dihadapkannya tubuh Aura agar tepat di depannya. "Sekarang jawab pertanyaan ayah. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa kau benar - benar mengabaikan larangan itu dan tetap memilih pergi bersama teman-temanmu? Iya atau tidak?" Aura menggeleng pelan dengan perasaan takut.
Venson menatap Jasmine dengan pandangan kecewa. Tentu saja dia kecewa, sebab dia sudah menaruh harapan besar pada Jasmine. Namun apa yang dia dapatkan? Kebohongan dan rasa kecewa yang begitu besar. Bahkan rasa kecewanya akibat kejadian sebelumnya belum sepenuhnya luntur. Sekarang malah di pertebal kembali.
"Kau dengar sendiri, kan? Jadi bagian mananya dari ucapanmu yang bisa aku percaya?" Tatapan kecewa terlihat jelas. Hal itu tentu saja menyakitkan bagi Jasmine. Ditambah lagi, saat ini dirinya sedang mengandung.
"Aura, kenapa kau menutupinya? Katakan yang sebenarnya pada ayahmu itu." Rasa sesak menghampiri Jasmine. Bukankah sebelum kejadian itu, Jasmine sudah melarang dan mewanti - wanti agar Aura tidak pergi, tapi kenapa sekarang Aura tidak mengatakan yang sebenarnya. Kalau seperti ini jadinya, Venson akan bertambah marah dan tak lagi percaya padanya.
Venson menatap percaya pada Jasmine yang masih mencoba mencari pembenaran. "Seharusnya kalau kau berbuat kesalahan, maka akuilah. Jangan mencari pembenaran seperti ini." tekan Venson sambil menatap lurus kearah Jasmine.
__ADS_1
Jasmine menggeleng cepat. "Tapi aku berkata jujur, Mas. Aku benar - benar sudah melarangnya pergi. Tapi Au---," Venson memotong ucapkan Jasmine. "Kau masih bisa mengelak, padahal sudah jelas kau yang tidak becus menjaga putriku. Untung tidak terjadi apa - apa pada putriku. Kalau sampai terjadi hal - hal yang buruk, kau yang harus bertanggung jawab atas semua yang telah kau lalaikan." Dari perkataan yang diucapkan tadi pun, terlihat jelas kalau Venson begitu marah. Apalagi saat mengetahui kebenaran bahwa Jasmine tidak pernah benar mengurus anak anaknya dengan baik.
Tak ingin dirinya disalahkan seperti ini, Jasmine lantas bergerak mendekati sang suami. Jasmine hanya tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut dan akan membuat hubungan pernikahan mereka jadi berantakan.
Jasmine memegang bahu Aura agar menghadap ke arahnya. "Aura, aku mohon padamu. katakan yang sejujurnya kalau aku sudah melarangmu pergi, namun kau tidak mau mendengar ucapanku."
Namun Aura tak membalas ucapannya, dirinya hanya menunduk sambil menangis. "Mas yang dikatakan oleh Aura itu tidak benar. Aku tidak pernah berbohong padamu, Mas."
"Aku lebih tahu anakku itu seperti apa. Dia tidak akan pernah bohong padaku?!" Jasmine terkejut karena bentakan yang dilontarkan oleh suaminya itu. "Bukan seperti itu maksudku, mas. aku hanya berkata jujur, tolong percaya padaku." Air mata Jasmine keluar begitu saja.
Venson menggeleng sambil menarik Aura menjauh dari Jasmine. "Harus berapa kali lagi aku percaya kepadamu? Berapa kali lagi, aku harus melihat kau menghancurkan kepercayaanku itu? Jawab aku, Jasmine?!" amuk Venson dengan perasaan sakit.
"Aura, tolong katakan yang sebenarnya pada ayahmu itu, agar dia tidak salah paham padaku." pintanya lagi dengan nada memelas. Jasmine masih meminta Aura untuk berkata jujur. Jasmine hanya tak ingin kesalahpahaman kali ini akan berdampak buruk pada pernikahannya.
Aura sama sekali tak berani mengangkat kepalanya. Dirinya semakin menangis karena tak bisa berbuat apa - apa lagi. Dan dia sadar kalau dirinya hanya bisa memperkeruh keadaan yang ada. Tapi Aura tak bisa jujur pada ayahnya, Atau dirinya yang akan diamuk oleh ayahnya itu. Dirinya belum dan tidak akan pernah siap bila harus menerima tatapan kecewa dari sang ayah. Biarlah, dirinya bersikap egois untuk kali ini saja. Itu semua dia lakukan untuk kebaikannya sendiri.
"Untuk sementara waktu, jangan pernah memperlihatkan wajahmu di depanku ataupun anak - anakku." ucap Venson sambil melangkah menjauh dari Jasmine sambil merangkul Aura dan membawanya menuju lantai atas. Hati Jasmine meraung keras begitu mendengar ucapan Venson.
"Mas," gumam Jasmine sambil terisak. Dirinya bahkan sampai terduduk di lantai setelah mendengar kalimat itu. Tangisnya terdengar begitu memilukan. Bahkan seseorang yang berada di ambang pintu, bisa merasakan perasaan pilu dibalik tangisan Jasmine. Dirinya menatap Jasmine dengan pandangan sulit.
...--------( * _ * )----------...
__ADS_1
...Terimakasih masih setia menanti💖...
...Maaf, karena jarang Update. Sebab masih sibuk dengan RL, ya😄. Maaf juga, komen kalian belum sempat aku balas🙏...