
Jasmine masih menatap kearah Aura yang hanya diam sambil menatapnya. Dari yang Jasmine lihat, Aura tampak seperti tengah memendam sesuatu. "Aura?" panggil Jasmine berusaha membuat Aura buka suara.
Bukannya bukaanaknyak Aura malah mendadak bersimpuh di depannya. "Maafkan aku." ucapnya di barengi dengan suara isakan dari mulutnya. "Maafkan aku atas semua hal yang telah aku perbuat. Tolong maafkan aku!"
Isakan tadi berganti jadi tangisan yang terdengar begitu memilukan. Bahkan Jasmine sampai tak tega mendengarnya. "Ra, kamu kenapa?" tanyanya sambil mendekat kearah Aura.
Aura masih menangis dan terus meminta maaf atas semua kesalahan yang telah dia lakukan terhadap Jasmine. "Maafkan aku. Aku memang bodoh karena terlalu percaya pada Yoela." ucapnya yang tak berani menatap kearah Jasmine.
Sungguh begitu tahu kalau Yoela tak aebaik yang dia kira. Aura semakin merasa bersalah pada mamanya ini. Andai saja dia lebih bisa memoercayai Jasmine. Pasti dirinya tak akan kemakan bujuk rayuan dari orang yang mengakui sebagai sahabat baiknya itu.
Jasmine memposisikan tubuhnya sejajar dengan Aura yang masih menyembunyikan wajahnya darinya. "Sudahlah. Jangan di pikirkan. Aku sudah memaafkan semuanya."
Apa yang Aura dengar membuatnya semakin larut dalam tangisnya. Rasa bersalahnya semakin kuat seakan terus memgerogoti jiwa Aura. "Aku benar - benar menyesal telah berlaku jahat kepadamu." sesal Aura di tengah tangisnya itu.
Memang awalnya Jasmine sempat marah dan kecewa pada Aura, karena sudah banyak memfitnahnya dan sering memutarbalikan fakta yang ada. Namun perasaan iba kembali hadir dari hati Jasmine untuk anak sambungnya ini.
Bukannya semarah apapun orangtua kepada anaknya. Mereka tentu tak bisa lama - lama mendiami para anaknya itu. Sama halnya dengan Jasmine. Walaupun bukan ibu kandungnya, tapi perasaan kasih sayang dan ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya telah Jasmine rasakan untuk ketiga anak sambungnya itu.
"Ra, tolong jangan seperti ini. Kita bisa lupakan semua kenangan yang tidak menyenangkan di masa lalu dan menggantinya dengan kenangan baik kedepannya."
Aura mendongak menatap Jasmine yang memberikannya tatapan tulus. Bahkan Aura tidak menemukan tatapan tajam ataupun permusahan dari balik mata Jasmine. Dalam artinya,, Aura terus bergumam kenapa hati mamanya bisa sebaik ini.
Kalaupun dia akan di hina, di maki bahkan di benci pun, Aura rela menanggungnya. Sebab bagaimanapun juga, dirinya pihak yang paling sering membuat hidup Jasmine jadi sengsara.
"Berdiri, yuk." ajak Jasmine sambil menarik tangan Aura agar bangkit dari posisinya. "Kita duduk dulu, ya." Aura tak membalasnya. Dia hanya diam sambil patuh pada mamanya ini.
Kini keduanya sudah duduk di sofa sambil bersisian. Jasmine yang melihat Aura masih meneteskan airmatanya pun, mulai menghapusnya secara perlahan. "Sudah jangan menangis lagi. Nanti cantiknya hilang loh."
Secara perlahan, Aura sudah tidak mengeluarkan air matanya lagi. Bisa dia rasakan tangannya yang kini berada dalam genggaman Jasmine. "Aura, kau tak perlu lagi memikirkan apa yang sudah terjadi. Sebab apapun yang sudah terjadi, tak bisa di perbaiki lagi."
Mendengar hal itu, sontak membuat Aura menarik kesimpulan sepihak. Padahal apa yang di pikirkan, belum tentu benar adanya. Jasmine pikir Aura akan merasa lebih baik, saat dirinya mengatakan hal itu. Tapi, apa yang sekarang dia lihat agak jauh berbeda dari apa yang di ekspektasikan.
__ADS_1
"Apa itu artinya semuanya akan berakhir begitu saja?" Walaupun merasa bingung atas apa yang Aura tanyakan, Jasmine masih memberikan jawaban berupa anggukan.
Sepertinya kebingungan yang Jasmine hadapi, mampu membuat dua orang itu salah mengartikan jawabannya tadi. "Jadi mama nggak mau memberikan ayah satu ke semua lagi?" Pertanyaan itu datang dari Wilson yang sejak tadi jadi pengamat diantara mereka berdua.
Jasmine menatap bingung atas apa yang Wilson ucapkan itu. "Tunggu. Maksudmu itu apa, Wil?" tanyanya yang masih tak paham akan kesalahpahaman yang terjadi.
"Bukannya tadi mama bilang 'apapun yang sudah terjadi, tak bisa di perbaiki lagi', bukankah itu artinya mama tak mau lagi berhubungan dengan ayah, kan?" jelasnya yang beberapa detik dapat dipahami oleh Jasmine.
Jasmine terkekeh pelan begitu menyadari, kalau kalimat yang dia gunakan tadi disalah artikan oleh kedua anaknya. Padahal bukan seperti itu yang ingin dia utarakan. "Kalian itu salah paham. Maksud mama adalah apa yang terjadi dimasa lalu tidak akan pernah bisa dirubah."
"Sebab, waktu yang sudah di lewati tak mungkin bisa diulang kembali. Bukannya mama nggak mau berhubungan lagi dengan ayah kalian."
Kalimat penjelas yang Jasmine ucapkan, membuat kedua hati mereka menjadi lega. "Makanya jangan salah paham dulu. Dengerin bener - bener apa yang ingin mama katakan." Jasmine masih terkekeh pelan, apalagi saat mengingat wajah kaget bercampur lesu dari kedua anaknya ini.
Wilson duduk di samping kanan Jasmine, sehingga posisinya Jasmine saat ini adalah berada di tengah - tengah, di antara Aura dan Wilson. "Jadi mama mau pulang kapan kerumah?"
Kalau kaliam berpikir yang barusan bicara adalah si Wilson. Kalian keliru, sebab Auralah yang bicara. Jasmine sendiri dibuat terkejut atas panggilan yang Aura sematkan kepadanya.
Tidakkah ini terlalu mengembirkan bagi Jasmine yang bisa merasakan kebahagianya menjadi seorang ibu yang diakui oleh anaknya. Tendangan kecil Jasmine rasakan dari dalam perutnya membuatnya meringis kecil.
Wilson dan Aura dibuat panik akan apa yang mereka lihat. Wilson menatap cemas mamanya itu. "Mama kenapa? Apa ada yang sakit?". Aura yang berada di sisi kananya juga tak tinggal diam. Dirinya juga ikut bertanya mengenai kondisi Jasmine saat ini.
"Mama tak apa? Mana yang sakit, Ma? Kita ke dokter saja ya, Ma?" Jasmine menggeleng pelan. Sebenarnya Jasmine tidak merasa sakit yang berlebihan. Dia hanya kaget saja, karena ini kali pertamanya mendapatkan respon dari calon bayinya itu.
Jasmine mengeleng pelan. "Mama nggak apa - apa. Cuma tadi adik kalian ini memberi respon berupa tendangan kecil. Jadi kalian nggak perlu khawatir."
Sesaat setelah mengatakan hal itu, Jasmine langsung terdiam. Tatapannya tertuju pada Aura yang kini juga tengah menatapnya. "Ra?" belum sempat diteruskan, ucapannya lebih dulu di potong oleh Aura.
"Mama nggak perlu panik begitu. Aura sudah tahu kalau saat ini mama tengah hamil. Dan untuk kedepannya, Aura janji akan terus sayang sama mama dan adik baruku nanti." Aura mengatakannya dengan raut berbinar.
Hati Jasmine menghangat kala mendengar ucapan dari Aura yang tak pernah dia sangka - sangka. Entah bagaimana cara Jasmine mengambarkan rasa bahagianya ini. Aura menatap mamanya itu, kala tak mendapat respon dari apa yang dia ucapkan.
__ADS_1
"Nggak apa - apa kan kalau sekarang aku panggil kamu mamaku?" tanyanya dengan ragu. Aura sudah menyiapkan mental bila harus menerima kenyataan yang tak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Kalaupun seandainya Jasmine tak mau dia panggil mama, Aura akan terima.
Tapi segala pikiran Aura terbuyarkan kala sebuah pelukan di dapatkannya dari mamanya itu. "Tentu saja boleh. Mama malah seneng bangat kalau kamu sudah mau menerimaku sebagai mamamu."
Jasmine mengatakannya dengan tulus. Tak ada kebohongan ataupun kepura - puraan saat dia bicara seperti itu kepada Aura. Aura sendiri begitu bahagia karena akhirnya dia bisa mendapatkan maaf dari Jasmine. Terlebih dia telah di izin kan memanggil Jasmine dengan sebutan Mama.
"Terimakasih, Ma. Aura janji akan memperbaiki semua kesalahan yang sudah Aura lakukan ke mama. Aura juga bakal bawa mama pulang kerumah." Di setiap kata yang Aura ucapkan, terkandung kesungguhan yang begitu mendalam.
Pelukan itu semakin erat, bahkan kini Wilson juga ikut berpartisipasi kedalam pelukan itu. Jika dilihat ketiganya sudah nampak seperti keluarga bahagia. Senyum ketiganya benar - benar terlihat tulus dan penuh suka cita.
"Mama harap kalian akan terus seperti ini pada mama. Mama juga berharap tak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka yang bisa kembali memisahkan ikatan yang sudah ada.
...° { OoOoOoOoOoO...
Suasana nampak berbeda dengan apa yang sedang terjadi di kediaman Cessie yang sekarang telah di tinggali oleh Jasmine dan Shifah. Tampak di sebuah halte bus, seorang gadis tengah merasa gelisah karena sejak tadi dirinya merasa seperti diikuti.
Dia sudah merasakan hal itu sejak dia keluar dari gerbang sekolahnya. Awalnya dia pikir itu hanya halusinasinya saja. Tapi keberadaan sosok berpakaian serba hitam yang berada tak jauh dari posisinya saat ini pun, membuat gadis itu semakin parno.
"Ya Tuhan, tolong lindungi hambamu ini." doanya sambil menatap awas keadaan sekitar. Dirinya semakin dibuat ketakutan, sebab orang berpakaian hitam itu semakin mendekat kearahnya. Dan gadis itu baru sadar, kalau hanya dia seorang yang masih berada di halte ini.
Tiba - tiba mobil hitam metalik berhenti tepat di depan halte bus, dimana gadis itu tengah menunggu bus. Jendela di bagian samping kemudi terbuka, menampilkan sosok yang gadis itu kenali. "Ayo masuk "
Tanpa berpikir dua kali, gadis itu langsung masuk kedalam mobil.
Mobil pun melaju meninggalkan halte bus dan meninggalkan kekesalan di hati sosok berpakaian hitam itu. "Sial, gagal lagi rencanaku ini. Siapa dia yang berani - beraninya membawa gadisku pergi. Argh!" teriaknya murka, karena rencaba yang dia susun tak berjalan sesuai dengan rencannya.
...OoOoOoOoOoO...
Mau ngucapin Terimakasih karena sudah mau stay nungguin cerita yg gk pasti ini.
...• Thank You, All •...
__ADS_1