
Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, tapi sepertinya itu tak membuat tidur ketiga orang ini terganggu sama sekali. Malah bertambah nyenyak, sebab di dukung oleh suasana langit mendung. Namun suara dari luar kamar membuat salah satu dari ketiganya terbangun.
Beberapa kerjapan mata dilakukannya untuk menfokuskan pandangannya. Begitu sudah sadar sepenuhnya, ditatapnya kedua sisi di kanan dan kirinya. Perasaannya kembali menghangat seperti halnya tubuhnya yang mendapatkan dekapan hangat dari kedua anaknya ini.
Tangannya mulai mengelus pelan surai kedua anaknya dengan lembut. Tak pernah dia bayangkan sebelumnya akan ada moment seperti ini di hidupnya. Dia, cukup sadar diri akan posisinya dan tak berani memimpikan hal saperti ini.
Suara dari luar pun kembali terdengar dan Jasmine kenal betul itu suara siapa. Sepertinya orang di luar sedang marah - marah, entah apa sebabnya. Jasmine berusaha bangun dari posisi berbaringnya dan sepertinya gerakannya membuat kedua orang di sebelah Jasmine mulai terbangun.
"enghh," erang keduanya sambil mengerjabkan matanya. Jasmine masih setia menatap keduanya dengan tatapan lembut. Salah satu orang yang tak lain adalah Aura pun semakin menyamankan diri dalam pelukannya.
"Sayang, kalian bangun yuk." ajaknya sambil mengelus rambut kedua anaknya yang berniat kembali meneruskan tidurnya itu. Namun hal itu di cegah oleh Jasmine yang mulai memencet hidung kedua anaknya.
Tentu saja hal itu membuat keduanya kesulitan bernapas. Namun hal itu ampuh membuat keduanya tak lagi menutup mata mereka. Jasmine baru melepaskan cubitannya sambil tertawa pelan. Ternyata begilah rasanya menjahili anaknya sendiri.
"Mama, adek kan mau tidur." keluh Wilson yang merasa terganggu atas kejahilan Jasmine itu Begitupun dengan Aura yang mulai mengerucutkan bibirnya, agak kesal karena waktu tidurnya jadi terganggu.
"Kalian harus bangun, ini sudah sore loh." Keduanya melirik malas kearah jam dinding. "Ini baru jam 3 lebih 8 menit, Mam. Belum begitu sore." sahut Aura sambil menatap mamanya itu.
Baru saja akan menanggapi ucapan anaknya, terdengar teriakan dari luar kamar. "Aku tetap tidak mau. Jangan pernah memaksaku lagi!" teriakan itu tentu saja mengagetkan untuk ketiganya.
Rasa penasaran mulai bersarang di hati ketiganya, perihal kenapa orang itu marah - marah. "Mama mau keluar sebentar, kalau kalian mau tetap disini juga nggak apa - apa." Jasmine mulai bangkit dari ranjang berniat menemui orang di luar kamar itu.
Aura dan Wilson saling berpandangan, keduanya seolah tengah berbicara melalui tatapan mereka, hingga keduanya berseru bersamaan. "Kami ikut, Ma." ujar keduanya sambil menyusul Jasmine yang sudah membuka pintu kamar.
Jasmine mengangguk sambil memberikan isyarat untuk mengikutinya dan bertemu dengan orang yang marah - marah itu. Kini ketiganya mulai berjalan untuk menemui orang yang tak lain adalah si Cessie.
Terlihat Cessie tengah duduk di ruang santai dengan rahang mengeras. "Kau kenapa, Cess?" tanyanya begitu sampai di depan Cessie. Cessie mendongak menatap Jasmine dan kedua anaknya itu.
Cessie berusaha bersikap tenang, "Suaraku membangunkan kalian, ya?" Dia memang tahu kalau ketiganya itu tengah tertidur, karena dia sempat memeriksa kamar Jasmine saat tak menemukan keberadaan sahabatnya itu di ruang santai atau dapurnya itu.
Jasmine beranjak duduk di samping Cessie yang nampak tak baik - baik saja. "Kau sedang ada masalah?" Cessie menggeleng pelan. Tapi sayangnya dia tak bisa percaya begitu saja. "Jangan membohongiku, Cess. Aku tahu kau sedang ada masalah. Kita sahabat bukan satu atau dua tahun saja. Jadi aku tahu kau akan seperti apa saat punya masalah."
Bukannya Jasmine ingin mendesak Cessie untuk menceritakan masalahnya. Hanya saja, rasanya tak adil bila Jasmine tak bisa membantu Cessie, padahal selama ini Cessie sudah banyak membantunya. Diberi tatapan seperti itu, pada akhirnya Cessie buka suara.
__ADS_1
"Sebenarnya orangtua itu memaksaku untuk datang di acara yang telah mereka buat." Jasmine sangat paham akan kata 'orangtua' itu di tujukan kepada siapa. Memang siapa lagi kalau bukan kedua orangtuanya Cessie sendiri.
Alis Jasmine bertaut, merasa bingung pada satu hal. "Mereka sudah pulang?" tanyanya yang diangguki oleh Cessie. "Makanya itu aku kesal, mereka memaksaku untuk datang diacara itu. Bahkan aku tak pernah mau dibuatkan acara seperti itu."
"Memangnya cara apa?" Cessie menghela napas kasar. "Ulangtahunku." Jawaban singkat itu diangguki oleh Jasmine. Sedangkan Aura dan Wilson hanya menyimak saja. Keduanya juga tak begitu paham akan pokok permasalahannya Cessie.
"Kapan pesta itu akan diadakan?"
"Nanti malam jam 8."
Sungguh Cessie tidak ingin datang ke acara itu. Kalau bukan karena desakan sekaligus ancaman dari orangtuanya, dia memilih untuk tidak datang. Tapi kalau dia benaran tidak datang. Bisa di pastikan ancaman itu jadi kenyataan.
"Lebih baik kau turuti apa kemauan orangtuamu itu. Kau tinggal datang, nikmati sebentar terus kau bisa pulang."
Jasmine memberikan saran seperti itu karena Cessie sering mangkir dari acara yang orangtuanya biar untuknya. Dan berakhir keesokan paginya Cessie akan kena marah oleh kedua orangtuanya itu.
Cessie menggeleng pelan. Ada alasan tersediri kenapa dia engan untuk datang di acara itu, selain karena dia malas bertemu rekan bisnis orangtuanya itu. Mereka semua terlihat fake dimatanya. Makanya Cessie lebih sering mangkir daripada harus menghadiri pesta kalangan atas itu.
Melihat gelengan yang Cessie berikan membuat Jasmine menghela napas pelan. "Cess, bagaimanapun juga mereka adalah orangtuamu. Seburuk apapun perlakuan mereka kepadamu. Kau tetap harus hormat kepada mereka."
Keheningan sempat melanda, hingga akhirnya Cessie kembali membuka suaranya. "Baiklah. Tapi kau harus menemaniku. Aku nggak mau sendirian dia sana." Jasmine nampak menimbang akan ucapan yang Cessie bilang kepadanya.
"Tapi mereka boleh ikutan juga, kan?" tanyanya sambil menatap kedua anaknya yang berada di hadapan Cessie. "Tentu saja, kau bisa ajak mereka." Mendengar hal itu membuat Jasmine tersenyum. Setidaknya dia berhasil membujuk Cessie untuk hadir di pesta itu.
...OoOoOoOoOoO...
Suasana yang terlihat gemerlap serta elegan terpancar jelas dari pesta yang telah orangtua Cessie buat untuk anak semata wayangnya itu. Namun suasana itu tak begitu di nikmati oleh sang pemilik acara.
Cessie yang baru saja datang bersama Jasmine, Aura dan Wilson nampak elegan dengan busana mewah yang telah mereka kenakan. Banyak pasang mata menyoroti keempatnya yang datang bersamaan.
Terlebih yang terlihat saat ini, sudah banyak juru pers yang telah hadir. Diam - diam Cessie mengumpat pelan, karena di pesta ulangtahunnya kali ini akan diliput oleh awak media. Padahal tadi sore, Cessie sudah menolak mentah - mentah akan rencana orangtuanya mendatangkan para awak media itu.
"Ayo," ajak Jasmine pada Cessie yang hanya diam saja. Padahal orang - orang yang memperhatikan mereka itu terpusat pada Cessie, si bintang acara.
__ADS_1
Kini keempatnya berjalan dengan beberapa kamera yang terus menyoroti langkah mereka menuju ke ballroom. Pesta ini memang diadakan di hotel mewah di kota ini. Bahkan biaya yang dikeluarkan bisa di taksir mencapai angka miliaran.
Sungguh nilai yang fantastis sekali..
Orangtua Cessie yang melihat anaknya sudah datang pun segera mendekat. Bahkan keduanya sempat memberikan pelukan pada Cessie yang dibalas masam olehnya. "Untunglah kau datang. Kalau tidak, Ayah akan mempercepat proses pernikahanmu itu."
Ucapan itu begitu pelan, mungkin hanya Cessie saja yang bisa mendengarnya. Entah sudah berapa ribu kata berisi makian yang telah Cessie ucapkan dalam hatinya untuk orangtuanya ini. Bisa - bisanya anaknya sendirian di perlakuan seperti ini.
"Anda tenang saja, aku pasti datang diacara yang sudah susah payah Anda buat. Ya, walaupun sejujurnya aku tak membutuhkannya." ucapnya pelan namun terdengar tajam. Bahkan Jasmine dan kedua anaknya itu bisa mendengar apa yang telah Cessie ucapkan.
"Selamat malam paman dan bibi." sapa Jasmine pada kedua orangtuanya Cessie. Bagaimanapun juga Jasmine harus sopan kepada yang lebih tua. Keduanya menanggapi sapaaan itu dengan ramah.
Walaupun mereka tahu kalau Jasmine itu adalah sahabat anaknya, tapi mereka tak begitu dekat. Bahkan hanya pernah bertemu beberapa kali saja. Makanya Jasmine bersikap begitu agar suasana tegang yang sempat terjadi bisa sedikit menghangat.
"Selamat malam juga Nak Jasmine." balasan itu membuat Jasmine sedikit terkejut. Bukannya apa - apa, hanya saja seingat Jasmine dia jarang mendapatkan perlakuan ramah dari orangtua Cessie. Walaupun mereka juga tak bersikap kasar kepadanya
Setelah berbasi - basi sedikit, orangtua Cessie mulai pamit untuk menyapa para tamu undangan. Cessie tak memperdulikan apa yang orangtuanya itu lakukan. Dirinya menatap keadaan sekitar dengan tatapan seperti tengah mencari seseorang.
"Sedang mencariku?"
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Cessie segera menoleh kearah belakang. Dimana disana dia mekihat keberadaan orang yang tak ingin dia lihat sampai kapanpun. Orang itu tak lain adalah si Dewo. Pemuda yang mulai berani mengusik hidupnya.
Jasmine dan kedua anaknya tak berada di dekat Cessie, karena tadi Cessie izin pergi ke toilet. Sebenarnya dia tak benar ke toilet. Itu hanya alasannya saja karna dia ingin mencari seseorang yang tak lain adalah si Dewo.
"Sini kau." ajaknya sambil menarik tangan Dewo menuju ke tempat yang lebih sepi.
Ada apa sebenarnya?
...OoOoOoOoOoO...
...Sore menjelang petang semuanya. ...
...Sedikit info aja, kalau cerita ini Up nya hanya 1 kali perhari. Jadi belum ada Double Up ataupun Crazy Up, ya....
__ADS_1
...Semoga bisa memaklumi. Sekian dan terimakasih para pembaca setia :-)....