Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
29. Masakan Buatan Mama Baru


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang diucapkan Jasmine kemarin. Hari ini Jasmine datang untuk mengunjungi anak pertamanya itu. Tak lupa dia membawakan makanan yang sudah dia tata di dalam rantang.


Setelah mengantar Aurora dan Wilson ke sekolah, Jasmine langsung kemari. Dan Jasmine yakin kalau semalam bahkan sampai pagi ini, Jackson belum makan.


Jackson itu tipikal anak yang pemilih. Dia tidak bisa makan makanan yang tidak sesuai dengan seleranya itu. Makanya jangan heran kalau sampai jam segini, Jackson belum makan juga. Padahal penghuni sel lain sudah menyelesaikan sarapan mereka.


"Anda datang lagi, Bu." ucap si polisi yang sempat membicarakan masalah Jackson padanya itu. "Iya, Pak. Saya ingin menemui anak saya. Boleh kan, Pak?"


Polisi tadi mengangguk pelan. "Boleh, Bu. Tapi hanya 20 menit saja, ya." Jasmine pun mengangguk kecil. Walaupun 20 menit itu pasti akan terasa cepat berlalu, tapi Jasmine bersyukur karena masih diperbolehkan menjenguk anaknya.


Kalau sesuai prosedur yang ada, mungkin Jasmine bisa memenui Jackson ketika hasil dan keterangan saksi sudah terkumpul.


Kini Jasmine sudah menunggu di ruang tunggu yang biasanya digunakan untuk menjenguk pehuni lapas. Tak lama menunggu, kini di depan Cahya sudah ada Jackson yang mulai duduk di kursi di depannya itu.


Jasmine tersenyum kecil dan membungkuk kecil kearah polisi yang tadi mengantar Jackson kemari itu. "Ada apa?" tanya Jackson tanpa ingin berbasa - basi pada Jasmine.


"Kau pasti belum makan, kan?" Bukannya Jasmine tak mendengar apa pertanyaan Jackson tadi itu. Tapi dia tidak ingin membuat waktu yang hanya kurang dari 20 menit ini, hanya dengan perdebatan yang tak berarti.


"Makanlah, aku sudah membawa makanan ini untukmu." ucap Jasmine sambil menyodorkan rantang tadi kearah Jackson. Namun Jackson tidak langsung menerima pemberian Jasmine itu.


Dia menatap sebentar kearah rantang di depannya dan kembali menatap kearah Jasmine yang ada di depannya itu. "Kenapa kau membawakanku makanan ini? Kau ingin terlihat baik di mataku?"


Jasmine tersenyum pelan mendengar ucapan Jackson itu. Ada sedikit rasa tak nyaman di hati Jasmine. Apakah hal yang dia berikan kepada anak - anaknya itu selalu di cap sebagai pencitraan semata?


Tidakkah sedikit saja mereka berpikir kalau Jasmine melakukan ini semua atas dasar ketulusan?


Sebelumya menjawabnya, terlebih dulu Jackson menghela napas pelan. "Terserah kau mau menganggapnya bagaimana. Aku melakukan ini semua karena bagaimanapun juga kalian bertiga sudah menjadi tanggung jawabku. Apalagi saat ayah kalian tidak sedang berada disini."


Jackson terdiam mendengar perkataan itu. Apakah Jasmine memang tulus padanya atau hanya pura - pura saja? Jasmine masih berada di posisi yang sama. Masih menunggu Jackson mengambil makanan yang telah dia masak.


Setelah berpikir cukup lama, mau tak mau Jackson mengambil makanan dari Jasmine. Lagipula dia tidak bisa memungkiri kalau perutnya telah kelaparan. Sebab sedari kemarin malam, dia belum makan.


Senyum di bibir Jasmine mulai terukir kembali, kala dia melihat Jackson mulai memakan masakannya itu. Setelah selesai sarapan. Kini keduanya tidak ada yang buka suara.


Hingga tiba - tiba Jasmine bertanya pada Jackson terkait kejadian yang membawanya sampai kesini itu.


"Apa kau sudah mau bercerita alasan kenapa kau bisa berada disini?" 


Keadaan hening, sebab Jackson sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan Jasmine tadi. Bahkan 5 menit berlalu, Jackson lebih memilih untuk menutup mulutnya itu.


Helaan napas panjang keluar dari celah bibir Jasmine. Sejujurnya dia cukup jengah dengan keheningan yang tercipta ini. Tapi salahkan saja si Jackson yang masih kukuh untuk diam.


"Kalau begitu, biar aku beritahu ayahmu kalau anak pertamanya ada di penjara."


Perkataan itu menyentak Jackson dari keterdiamnya itu. "Jangan!" cegah Jackson agar Jasmine tidak memberitahukan hal ini pada ayahnya. Jackson takut kalau ayahnya akan kecewa padanya.

__ADS_1


Jasmine menatap lama anak pertamanya itu. "Lalu, kau bisa ceritakan alasan kenapa kau bisa ada disini?"


Sebelumnya menjawab, Jackson lebih dulu menghela napas panjang. Sejujurnya dia juga tidak tahu kenapa dia bisa di tangkap, padahal dia merasa tidak melakukan hal seperti itu.


"Jadi kemarin aku pergi dengan teman - temanku. Dan santai bagaimana ceritanya polisi itu datang dan menangkapku. Awalnya ku pikir aku di tangkap karena ada di club malam. Tapi ternyata bukan karena itu."


"Jadi intinya kau tidak tahu apa - apa dan tidak terlibat dengan benda haram itu?" Jackson mengangguk pelan. Mendadak kepala Jasmine berdenyut memikirkan penjelasan Jackson tadi.


Kalau Jasmine tarik kesimpulan atas apa yang menimpa Jackson, maka Jackson hanya sebagai korban penjebakan. Tapi yang membuat Jasmine berpikir keras itu adalah siapa dalang dari semua ini.


Jasmine mencoba tersenyum hangat. "Bisa kau katakan padaku dimana tempat itu?"


"Bar Satnight Blue." Sejenak Jasmine berpikir mengenai tempat itu. Dia agaknya sedikit merasa familiar dengan nama bar itu.


Baru saja Jasmine ingin bertanya lagi, tapi lebih dulu di dahului oleh seorang sipir yang berjaga. "Maaf, Bu. Ini sudah lebih dari jam jenguknya. Anak ibu harus kembali kedalam sel."


Setelah mendengar hal itu, Jasmine mengangguk pelan. "Iya, Pak. Terimakasih." Arah pandang Jasmine kembali ke Jackson.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Kau jangan khawatir akan masalah ini. Biar aku yang urus masalah ini."


Jackson masih diam di tempat. Dia juga masih menatap kearah Jasmine, namun ada sorot percaya di balik mata Jackson yang dia tujukan pada istri muda ayahnya itu.


"Mari ikut saya." Anak sipir tadi kepada Jackson. Melihat Jackson yang sudah berlalu pun membuat Jasmine menghela napas pendek.


Sebelum berlalu terlalu jauh, Jackson menoleh kearah Jasmine. Dan Jasmine pun juga menatap kearah Jackson. Dengan suara pelan, Jackson mengatakan terimakasih kepada Jasmine.


Plak


Jasmine menampar pipi kirinya pelan. Dan ternyata tamparan itu cukup sakit dirasakan olehnya itu. "Jadi tadi aku tidak salah dengar? Jackson bilang terimakasih padaku?" gumam Jasmine pelan.


Senyum bahagia pun terbit di bibir Jasmine. Dia sangat tidak menyangka kalau Jackson akan mengatakan hal itu. Bisakah Jasmine anggap ini semua sebagai awal yang baik untuk kedepannya?


Semoga saja...


...*°*°*°*°*°*°...


Hari berangsur malam dan kini Jasmine berniat menemui Cessie. Tapi terlebih dulu dia memastikan kalau Aurora dan Wilson sudah tidur. Jadi dia tidak perlu terlalu khawatir pada kedua anaknya itu.


Tak perlu menunggu lama, kini Jasmine sudah berada di mobil Cessie. Keduanya melaju menuju ke bar yang tadi pagi diberitahukan oleh Jackson padanya itu.


Alasan kenapa Jasmine mengajak Cessie adalah untuk menemaninya kesana. Ada sesuatu hal yang harus Jasmine ungkap disana. Dan ini ada kaitannya dengan masalah Jackson itu.


Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah berada di depan bangunan yang tidak boleh dimasuki oleh anak di bawah umur.


"Kau yakin bar ini yang dimaksud oleh anakmu itu?" tanya Cessie berusaha memastikan agar mereka tidak salah tempat. Jasmine pun mengiyakan pertanyaan Cessie tadi.

__ADS_1


Setelahnya keduanya masuk kedalam bangunan itu. Begitu masuk, aroma alkohol sudah menusuk indera penciuman keduanya. Bukan itu saja, tapi suara musik yang memekakkan telinga membuat Jasmine terganggu.


"Kini menemui Naki dulu." aJak Cessie sambil menggandeng tangan Jasmine agar mengikutinya. Sedangkan Jasmine hanya pasrah di tarik oleh Cessie.


Sejujurnya Jasmine tidak terlalu menyukai tempat seperti ini. Kalau tidak terpaksa, maka Jasmine lebih milih berdiam diri di rumah saja.


Kini Cessie dan Jasmine sudah berada di depan bartender, siapa lagi kalau bukan di Naki. Sahabat keduanya saat berada di Sma itu. "Hai, Nak!" sapa keduanya sambil sedikit berteriak agar orang yang mereka panggil itu bisa mendengar panggilan mereka.


Naki melempar senyum kearah kedua sahabatnya itu. "Kalian perlu apa datang kesini?" tanyanya to the point. Inilah yang disuka oleh Cessie dan Jasmine dari sosok sahabatnya itu.


Sebab Naki bukanlah orang yang suka basa - basi. Walaupun begitu, pembawaannya yang dewasa dan pengertian itu membuat keduanya nyaman bersahabat dengannya itu.


"Kau lupa dengan apa yang aku bilang tadi sore?" Naki tampak berpikir sejenak. Kemudian dia mengangguk pelan begitu ingat apa yang tadi sore Cessie katakan padanya itu.


Naki tampak mengedarkan pandangannya ke penjuru bar. Dan pandangannya terhenti di sudut kiri dari posisinya saat ini. "Yang ingin kau selidiki ada disana." ucapnya pada kedua sahabatnya itu.


Seketika arah pandangan keduanya mengarah kearah yang dimaksudkan oleh Naki tadi. Terlihat ada 4 pemuda yang sedang menikmati minuman mereka serta di temani oleh beberapa wanita.


"Kau yakin, itu yang kami maksud?" tanya Jasmine pada Naki. Sebab Jasmine tidak ingin salah sasaran yang malah akan membuat mereka dalam masalah.


Naki mengangguk yakin. "Iya, aku yakin 100%. Dio kemarin bilang padaku, kalau cowok yang pakai baju merah itu menyuruhnya mencampurkan bubuk ganja di minuman temannya."


"Dan tak berselang lama, tiba - tiba ada polisi yang datang kesini dan menangkap salah satu pengujung disini. Dan yang di tangkap itu adalah target dari cowok yang disana." lanjutnya dengan yakin.


Jasmine percaya apa yang dikatakan oleh Naki adalah kebenarannya. Sebab, sejak Sma Naki memang di kenal orang yang jujur. Walaupun terdengar sedikit julid.


Pendengaran perkataan itu membuat senyum miring terbit bibir Cessie. Dia menatap kearah Jasmine sambil berucap "Kau tenang saja. Biar dia aku yang urus. Kau tetap disini dan jangan pergi kemana - mana."


Baru saja Jasmine ingin protes, tapi lebih dulu di hentikan oleh Cessie. "Tidak ada bantahan. Naki, awasi dia dan jangan beri minuman yang aneh - aneh padanya. Kalau kau berani melanggar, kau berurusan denganku."


Naki bergidik begitu mendengar nada ancaman dari sosok sahabatnya itu. "Iya, ya. Aku juga tahu tanpa kau beritahu." Cessie tak menanggapi hal itu. Kini dia berjalan sambil membawa segelas minuman yang sudah Naki persiapan sebelumnya.


"Cantik tapi galak. Dasar nenek lampir." Jasmine yang mendengar gumaman itupun terkekeh pelan. Sudah terlalu sering dia mendengar gerutuan seperti itu dari mulut Naki untuk Cessie.


Keduanya pun bagai tikus dan kucing. Tapi, ada kalanya mereka berdua begitu kompak bagai anak kembar menurut Jasmine. Kini Naki dan Jasmine memperhatikan aksi Cessie yang kini sudah duduk di sandaran kursi yang diduduki oleh seorang pemuda seumuran Jackson itu.


Keduanya tidak bisa mendengar apa yang Cessie katakan pada pemuda itu. Tapi tak perlu waktu lama, Cessie dan pemuda itu tampak berdiri dan berjalan menuju kearah lantai atas.


Sebelum naik tangga, Cessie mengedipkan sebelah matanya kearah Naki dan Jasmine yang kini menatapnya itu. Setelahnya keberadaan Cessie bilang dari pandangan keduanya.


"Cessie akan baik - baik saja, kan?" tanyanya pada Naki yang dibalas anggukan pelan dari sahabatnya itu. "Tenang saja, aku yakin dia akan cepat turun kesini dan tentu saja dalam kondisi baik - baik saja."


Benar apa kata Naki, sekitar 30 menitan Cessie sudah muncul di hadapan keduanya. Kini raut wajahnya seolah menggambar kerisihan yang begitu jelas.


"Ayo, kita pulang." ajak Cessie yang langsung menarik tangan Jasmine. Tanpa berpamitan pada Naki, Cessie sudah menarik tangan Jasmine agar ikut pulang bersamanya.

__ADS_1


"Kau sudah berhasil, kan?" Respon dari Cessie hanya anggukan pelan. Tapi itu sudah membuat Jasmine tersenyum bahagia.


...🍁 Terimakasih sudah menanti cerita ini💖🍁 ...


__ADS_2