
...π π π...
Suara dering yang berasal dari alarm nampaknya belum mampu membangunkan kedua orang yang tengah menikmati hangatnya pelukan itu.
Di deringan kelima barulah berhasil mengusik salah satu dari dua orang tadi. Perlahan matanya mengerjab berusaha menyesuaikan cahaya yang terpancar dari sinar matahari.
Dirasa sudah tidak terlalu silau, kini arah pandangannya tertuju pada seseorang yang tidur di sampingnya. Ada perasaan senang dan lega di hatinya. Dia sudah memberikan hal berharga untuk sang suami.
Persetan dengan isi perjanjian yang telah mengikatnya itu. Di tidak peduli. Biarkan dia sejenak melupakan rahasia yang dia punya itu. Lagipula, dia tidak ingin ingin mengecewakan perasaan suaminya itu.
"Aku tahu kalau aku itu tampan." Ucapan itu membuat Jasmine mendengus pelan. "Mas terlalu pede." balasnya sambil mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya itu.
Venson yang mendengar balasan dari sang istri hanya terkekeh pelan sambil perlahan membuka matanya. Dilihatnya sang istri yang tengah duduk di sampingnya sambil memegangi selimut.
Tangan Venson membawa tubuh sang istri mendekat ke arahnya. Hal itu membuat posisi Jasmine menjadi bersandar di dada bidang milik suaminya itu.
"Mas," sedangkan Venson hanya berdehem sebagai balasannya.
"Terimakasih." Alis Venson terangkat satu. "Untuk apa?" tanyanya tak mengerti.
Masih dalam posisi yang sama, Jasmine sedikit mendongakan kepalanya agar bisa menatap wajah rupawan milik Venson. "Terimakasih telah hadir didalam hidupku."
Venson tersenyum lembut. "Seharusnya aku yang berterimakasih, karena kau sudah mau menerimaku untuk menjadi suamimu walaupun aku sudah memiliki 3 orang anak."
Jasmine balas tersenyum. "Kalian berempat sudah menjadi keluarga bagiku. Dan akan aku jaga serta sayangi dengan sepenuh hati."
Venson yang mendengarnya lantas memeluk erat tubuh sang istri. Entah kenapa rasanya dia sudah mengenal lama sosok istrinya ini. Baginya, Jasmine adalah berlian yang perlu dia jaga dan sayangi dengan sepenuh hati.
Lama keduanya dalam posisi seperti itu, membuat Jasmine sedikit melonggarkan pelukan mereka. Tapi Venson segera mengeratkan kembali pelukan mereka.
"Mas, lepasin dulu. Aku mau mandi." Bukannya melepaskan, Venson malah semakin mengukung tubuh sang istri.
"Mas." Panggilannya diacuhkan oleh Venson. Tak hilang akal, Jasmine langsung saja mendorong tubuh Venson agar menjauh darinya.
Setelah sekuat tenaga, akhirnya pelukan itu terlepas. Dan Jasmine langsung bangkit dari posisinya menjadi terduduk. Baru saja Venson ingin melayangkan protes, tapi lebih dulu di dahului oleh Jasmine.
"Mas, aku mau mandi." Ekspresi Venson yang sebelumnya merengut mendadak berubah menjadi seringaian. Dan secara tiba - tiba, Venson langsung bangkit dan menggendong Jasmine ala bridal style,
"Mas, turunin. Aku kan mau mandi."
"Iya, Mas tahu. Makanya, ayo mandi bareng." Venson langsung membawa istrinya itu kedalam kamar mandi.
Blam
Dan tak lama terdengar suara teriakan. "MAS?!!!"
...πΏΒ πΎΒ πΏ...
Sejak seharian ini, Jasmine hanya berdiam diri di dalam apartemen milik suaminya ini. Kalian bertanya dimana Venson berada saat ini. Jawabanya, dia sedang membeli bahan makanan.
Kenapa bukan Jasmine saja yang belanja atau minimal kenapa Jasmine tidak ikut? Tanyakan saja pada Venson yang dengan keras kepalanya melarang sang istri keluar dari apartemennya.
__ADS_1
Alasanya sih, karena Jasmine pasti kesusahan untuk berjalan. Apalagi kejadian semalam, baru pertama kalinya bagi Jasmine. Tentu saja, Venson lebih tenang kalau Jasmine berdiam diri di apartemennya daripada harus keluar rumah.
Ceklek.
Jasmine menatap kearah pintu masuk sekaligus pintu keluar, dimana kini menampilkan sosokΒ suaminya yang membawa dua kantong belanjaan.
"Biar aku saja yang menatanya, Mas. Mas duduk saja disana." Jasmine mengambil alih kedua kantong belanjaan itu dan menatanya di dalam kulkas.
Venson menurut, dia sangat lelah. Padahal hanya belanja bahan makanan dan beberapa camilan saja. Dia duduk di sofa sambil meluruskan kakinya.
Melihat sang suami yang seperti kelelahan membuat Jasmine berinisiatif membuatkannya minum. Setelah jadi, Jasmine langsung berjalan menuju kearah Venson.
"Diminum dulu, Mas." ucapnya sambil menyerahkan gelas yang dipegangnya itu. Venson mengubah posisinya menjadi duduk dan mengucapkan terimakasih pada sang istri.
"Capek banget, ya?" Sekilas Venson mengangguk. "Makanya, kan tadi aku sudah bilang pengen ikut. Tapi malah Mas larang."
Setelah menghabiskan segelas minuman itu, Venson menaruh gelas kosong itu diatas meja. "Bukan capek belanjanya." Perkataan itu malah membuat Jasmine merasa bingung.
"Tapi, ibu - ibu di supermarketnya yang bikin capek."
"Kenapa sana ibu - ibunya?"
Sambil menghela napas, Venson kembali buka suara. "Ya, capek karena diikutin mulu. Kan agak risih gitu. Belum lagi mereka bicarain kegantengannya Mas. Dan parahnya ada yang ngomong minta di halalin."
Mendengar hal itu membuat tawa Jasmine muncul seketika. "Hahaha, makanya punya wajah itu jangan terlalu tampan. Jadi diikutin kan sama ibu - ibu."
Venson mendengus pelan. Tapi tak lama senyum miring hadir di bibir Venson. Dan tak lama Jasmine berteriak kegelian akibat ulah tangan usil milik suaminya ini.
Sudah 3 hari Jasmine dan Venson berada di apartemen mereka. Seharusnya sih 2 hari, tapi semua berubah karena Venson masih ingin dekat dengan sang istri.
Ditambah lagi, dia baru dikabari oleh sekertarisnya kalau nanti siang, dia harus terbang ke london untuk bertemu dengan kliennya.
Salah sendiri, kenapa Venson menyuruh sang sekertaris untuk tidak menghubunginya selama 2 hari kemarin. Kan terkesan jadi dadakan begini. Padahal kalau saja Venson tidak bilang untuk tidak mengganggunya, pasti kabar ini tidak terkesan seperti mendadak.
Saat ini, Jasmine tengah menata pakaian dan keperluan yang akan dibawa oleh Venson. Sejak di beritahu kalau dia harus terbang ke london nanti siang. Venson sama sekali tidak melepaskan Jasmine.
Bahkan Jasmine yang sedang merapikan pakaiannya pun terus di gelendoti sejak tadi. Merasa semuanya sudah selesai, Jasmine menutup koper milik suaminya ini.
"Mas nggak capek daritadi melukin aku terus?" Gelengan dari Venson dirasakan oleh Jasmine, sebab Venson menumpukan kepalanya diatas bahu Jasmine.
Venson sedikit mendongak tapi masih tetap mempertahankan posisinya. "Kamu beneran nggak mau ikut?" tanyanya untuk kesekian kalinya pada sang istri.
Dan untuk kesekian kalinya lagi, Jasmine menghela napas sabar. "Mas kan ke London untuk kerja bukannya liburan. Jadi, aku disini saja jagain anak - anak."
"Tapi,"
"Mas, dengerin aku. Aku disini saja nemenin anak - anak sekaligus pendekatan sama mereka. Lagipula Mas disana hanya selama 2 hari. Itu tidaklah lama, Mas."
Venson mendengus pelan. Pada akhirnya dia mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau itu maumu. Padahal Mas ingin mengajakmu kesana sambil menikmati kota London bersama."
Jasmine terkekeh pelan melihat raut wajah suaminya itu. Perlahan dia menangkupkan kedua pipi sang suami di tangannya.
__ADS_1
"Jangan ngambek gitu. Kan kita bisa pergi kapan - kapan saja. Nanti sekalian ajakin anak - anak buat ikutan, pasti akan lebih seru, Mas."
Bukannya menanggapi, Venson malah kembali memeluk tubuh sang istri dengan erat. Bahkan sampai membuat Jasmine sedikit kesulitan bernapas.
...πΏ πΎ πΏ...
Jasmine baru saja mengantar suaminya itu ke bandara. Dan kini dia sedang dalam perjalanan pulang. Namun tak sengaja matanya melihat sosok yang cukup familiar baginya, ada di depan sebuah kafe.
Jasmine menyuruh sang supir untuk berbalik arah kearah kafe tadi. Dia hanya ingin memastikan, apakah yang dia lihat tadi itu benar atau tidak.
Mobilpun telah berhenti di depan kafe yang merangkap sebagai perkiraannya. Setelah itu Jasmine menyuruh sang supir untuk menunggunya sebentar. Tak lupa dengan mengucapkan terimakasih pada sang supir.
Lagipula Jasmine hanya ingin memastikan saja. Kalau ternyata bukan, dia akan segera pulang ke rumah. Setelah masuk kedalam kafe tadi, Jasmine mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Dan di sudut sana, Jasmine melihat seseorang yang dikenal dengan baik, tengah bermain ponsel. Dihampirinya orang itu yang masih sibuk memperhatikan layar ponselnya tanpa menyadari kehadiran Jasmine.
"Cessie!" Panggilnya yang membuat sang pemilik nama menoleh ke sumber suara.
"Jasmine." Orang yang dipanggil Cessie itu balas menyapa sang sahabat yang kini menemui tubuhnya.
"Kau kemana saja, Mine." Cessie membalas pelukan dari sang sahabat. Jasmine sedikit melonggarkan pelukannya agar bisa menjawab pertanyaannya itu.
Belum sempat menjawab, Cessie lebih dulu mempersilahkan Jasmine untuk duduk di depannya. "Aku tidak kemana - mana. Harusnya aku yang tanya begitu padamu."
"Kau kemana saja sebulanan ini, aku ke kosan mu tapi kau tidak ada disana." tutur Jasmine sambil menatap sang sahabat yang makin hari semakin berubah.
Berubah dalam artian dari segi penampilannya itu. "Aku mengunjungi nenek."
"Gimana kabarnya nenek. Sudah lama aku tidak bertemu dengan nenek." Nenek yang dimaksud oleh keduanya adalah nenek dari ayahnya Cessie.
Neneknya Cessie tinggal diluar kota. Dan Jasmine sendiri sudah beberapa kali datang kerumah neneknya Cessie. Dia sudah akrab dengan neneknya Cessie, sebab memang orangnya yang asik untuk diajak bicara.
"Syukurlah, nenek sudah baikkan." Mendengar hal itu membuat Jasmine menyimpulkan satu hal, yaitu kalau nenek baru saja sakit.
"Nenek sakit?" Cessie mengangguk lemah. "Tapi sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya." ucapnya dengan senyum lemah.
Jasmine tahu bagaimana kisahnya hidup dari sahabatnya ini. Bahkan dulu semenjak SMA, keduanya selalu bersama. Makanya sampai sekarang hubungan persahabatan mereka awet.
"Nenek masih belum mau kemari?" Lagi - lagi Cessie mengangguk. "Kau tahu sendiri gimana kekehnya nenek kalau sudah nyangkut dua orang itu."
Dua orang yang dimaksud oleh Cessie tadi tak lain adalah orangtuanya. Memang hubungannya dengan orangtuanya kurang baik. Begitupun neneknya dengan orangtuanya itu.
"Kau tenang saja, mungkin perlahan nenek bisa memaafkan orangtuamu. Kau jangan sedih - sedih begitu, ya. Senyum dong, nanti cantiknya hilang."
Diawal kalimat Cessie merasa terharu namun diakhir kalimat membuatnya mendengus. Sedangkan Jasmine tertawa pelan melihat reaksi sahabatnya ini.
Namun mendadak arah pandangannya tertuju pada salah satu meja yang diisi oleh 4 orang gadis berseragam sma. Melihat sosok yang familiar di matanya membuat Jasmine semakin menajamkan pandangannya.
Dan ternyata memang benar kalau sosok itu adalah salah satu anaknya. Dan yang membuat Jasmine bingung adalah kenapa jam segini anaknya itu sudah ada di luar sekolah. Padahal seharusnya jam pulang sekolahnya itu jam setengah 4.
...πΏ πΎ πΏ...
__ADS_1
...π Terimakasih sudah menanti cerita iniππ...