Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Pertemuan di Mall


__ADS_3

...Kemarin nggak jadi double Up, karena susah sinyal :-(...


...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...


Suasana cukup hening di antara keempat orang yang sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Shifah yang memikirkan tentang masalah sang kakak yang tidak dia ketahui. Sedangkan ketiganya entah memikirkan apa. Tapi yang pasti keempatnya masih terdiam tanpa suara.


"Kalian berdua habis beli apa disana?" tanyanya yang membuat Shifah dan Wilson saling berpandangan sejenak. "Beli minyak, Mbak." ucapan itu dibalas anggukan oleh sang kakak.


Kali ini giliran sang adik yang bertanya. "Tadi Mbak dari mana?" Shifah menanyakan hal itu, sebab dia sama sekali tidak melihat sang kakak membawa tas belanjaan. Dan Shifah pikir, kalau kakaknya itu belum masuk kedalam supermarket.


Cessie terdiam atas pertanyaan sang adik. Sebenarnya bukan bermaksud merahasiakan apa yang ingin dia beli, tapi Cessie hanya tak ingin Shifah tahu dengan siapa dia pergi kesananya. Kalau dia beritahu, maka sama saja dia melukai perasaan adiknya ini.


Sekarang saja Cessie yakin dia sudah membuat Shifah sedih. Dia tak bodoh untuk mengetahui perasaan adiknya terhadap orang di sebelahnya ini. Walaupun Shifah tak pernah mengatakan akan perasaannya itu. "Mbak dari rumah. Niatnya mau beli beberapa barang. Tapi nggak jadi."


Shifah tahu kalau kakaknya itu tidak ingin jujur padanya. Lagian dia sudah kenal lama sifat kakaknya, jadi dirinya cukup paham akan sifat Cessie yang tak ingin berterus terang padanya. "Lalu kalian berdua kenapa bisa barengan?"


Kedua orang yang Shifah maksud mulai bertatapan. Dan aksi keduanya telah Shifah lihat. "Tadi tak sengaja bertemu di parkiran." Shifah hanya mengangguk pelan. Dirinya tak ingin membuat suasana jadi canggung, apabila dirinya kembali bertanya sesuatu.


Arah tatapan Shifah tertuju pada seseorang yang duduk dibalik kemudi. "Bukannya Kak Jack bilang ada mata kuliah hari ini?" Seseorang yang dipanggil Jack itupun menoleh sejenak kearah Shifah, sebelum kembali memfokuskan pandangannya kearah depan.


Wilson menatap ketiganya dengan alis bertaut. Sejujurnya dia merasa bingung disini. Sejak kapan kakaknya itu dekat dengan kedua gadis di samping dan depannya ini. Bahkan dirinya baru kali kedua bertemu dengan Cessie.


"Tadi dosennya nggak masuk. Jadinya hari ini libur kuliahnya." Memang beberapa jam sebelumnya, Shifah menanyakan kabar pada Jackson dan dirinya berniat minta tolong untuk mengantarnya ke toko perlengkapan sekolah.


Tapi Jackson bilang kalau dirinya hari ini nggak bisa, karena ada matkul hingga sore. Sebenarnya Shifah tak bermaksud untuk merepotkan Jackson. Hanya saja, dia bingung ingin minta tolong pada aiapa. Terlebih dirinya tak begitu mengetahui jalanan di kota ini.


Hening.


Tak ada lagi yang membuka suara, hingga kini sampailah mereka di halaman gedung apartemen Cessie. "Makasih sudah nganterin kami kesini." Ucapan dari Cessie diangguki oleh Jackson. Shifah hanya memberikan senyum tipis sebagai bentuk rasa terimakasih.


"Kalau begitu kami berdua pamit pulang dulu, ya." Keduanya mengangguk membiarkan mobil Jackson berlalu dari hadapan mereka. Baru saja Cessie akan melangkah masuk, tapi lebih dulu ditahan oleh Shifah.


"Mbak," Cessie tak menoleh sedikitpun kearah Shifah. Dirinya hanya diam saja membuat Shifah menghela napas panjang. "Mbak. Nak mbak gadhah masalah, Mbak saged nembung kalihan kula. Boten sah ditutupi koyok ngenten, Mbak." Shifah menatap Cessie dengan sendu. (Kak. Kalau kakak ada masalah, kakak bisa ngomong sama aku. Tidak perlu di tutupi seperti ini, Kak.)

__ADS_1


"Wau Mbak ketemu kalihan Mas Dewo, kan? Ngopo rak jujur mbe aku, Mbak? Dhe e nembung nopo ning Mbak Cess?" Shifah memberikan tatapan rumit pada Cessie yang masih membelakanginya itu. (Tadi Kakak bertemu dengan Kak Dewo, kan? Kenapa nggak jujur sama aku, Kak? Dia bicara apa sama Kak Cess?)


Memang sebelum Shifah melihat Jackson memeluk Cessie. Dia lebih dulu melihat keberadaan Dewo, orang yang sangat Shifah kenal. Tapi orang itu tak meninggalkan kesan baik di hidup Shifah. Makanya Shifah sedikit merasa kecewa karena Cessie menutupi pertemuan itu darinya.


Cessie membalikan badanya membuat pegangan Shifah terlepas dari lengannya. "Mbak nggak ketemu sama dia, Fah." Shifah menggeleng pelan, "Mbak kenapa nggak mau jujur sama Shifah? Tadi dia pasti nyariin Shifah, kan? Makanya dia bisa ada disini. Iya, kan Mbak?"


"Mungkin kamu salah lihat, Fah. Mbak, cuma nggak sengaja ketemu sama Jackson aja. Hanya dia yang Mbak temui hari ini, selain kamu sama si Wil tadi."


Shifah masih memperhatikan kakaknya itu. Bahkan disaat dirinya melihat sendiri kebenaran yang ada. Kakaknya ini tak ingin jujur padanya. Sebenarnya apa yang coba kakaknya itu sembunyikan darinya.


"Mbak," belum sempat meneruskan ucapannya, Cessie lebih dulu memotongnya. "Fah, Mbak harus balik kerumah. Kamu naik keatas dan tolong jaga Mbak Jasmine, ya."


"Tapi, Mbak..." Cessie lebih dulu memotong ucapan itu. "Mbak minta tolong juga untuk tidak perlu memikirkan apapun yang tidak penting. Cukup sekolah dengan baik dan perbanyak teman, supaya kedepannya kamu tidak sering kesepian lagi."


Perkataan Cessie membuat perasaan Shifah menjadi tidak enak. Baru saja akan bertanya alasan dibalik ucapannya itu, Cessie lebih dulu pamit pergi, membuat Shifah menatap sendu kearah kakaknya itu. Pandangan Shifah tertunduk kearah paving yang di pijaknya itu. "Mbak Cess." gumam Shifah lirih diiringi dengan setes air mata yang jatuh dari matanya itu.


OoOoOoOoOoO


"Baiklah, hanya itu saja terkait pemeriksaan kali ini. Ingat apa yang saya katakan tadi. Sekalian ibu jangan terlalu memikirkan hal yang berat, karena itu bisa berdampak pada calon anak ibu."


Setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan, sang pasien pamit pulang. Setibanya di luar, si pasien sudah ditunggu oleh keluarganya. "Gimana tadi periksanya, Mbak? Dedek baik - baik saja, kan?"


"Alhamdulillah." Satu kata itu sudah mewakili perasaan dihati si pasien tadi. "Alhamdulillah, Mbak." balasnya sambil tersenyum. Kedua orang yang tak lain adalah Jasmine dan Shifah itupun mulai berlalu dari rumah sakit yang menjadi tempat Jasmine kontrol kandungan.


"Fah, Mbak mau ajak kamu makan ayam geprek. Kamu mau nggak?" Shifah menatap Jasmine dengan pandangan berbinar. "Mau lah, Mbak. Shifah nggak mungkin nolak kalau urusan makan." ucapnya dengan tersenyum lebar.


Jasmine mengelus pelan hijab yang Shifah kenakan. Dengan semangat Jasmine mulai mengandeng tangan Shifah dan mengajaknya ke tempat makan langganannya.


( *  _  * )


Shifah menatap kagum akan apa yang dia lihat saat ini. Dimana sekarang dirinya tengah berpijak pada lantai mall terbesar yang pernah Shifah datangi. Jasmine hanya tersenyum kecil melihat tatapan kagum yang Shifah pancarkan.


"Sudah, kagumnya di tahan dulu. Kita ketempat makannya saja. Dedek sudah laper banget ini loh." ucapnya sambil memgelus pelan perutnya yang sudah menonjol. Shifah yang mendengarnya tersenyum kikuk dan segera menggengam lengan Jasmine, seperti seorang anak yang takut kehilangan ibunya ditempat ramai.

__ADS_1


Setelah acara makan keduanya selesai, kini keduanya memutuskan untuk berkeliling sejenak. Sayang, kan kalau sudah jauh - jauh datang kesini, tapi langsung pulang begitu saja.


"Mbak, lihat deh. Itu bagus banget, kan?" Sudah sejak tadi Shifah tak berhenti bicara sambil menujuk beberapa objek yang menarik di matanya. Bukannya marah, Jasmine malah senang dengan sikap cerewet Shifah kali ini.


Sebab beberapa hari kemarin, Jasmine merasa Shifah lebih banyak diam. Bahkan saat dia bertanya pun hanya di jawabi seperlunya saja. Makanya selain untuk membuat Shifah kembali ceria lagi juga sebagai bentuk menuruti keinginan sang anak.


Tadi saja saat makan, Shifah melarangnya makan sambelnya. Padahal ciri khas gebrek ya di sambelnya itu. Tapi, daripada tidak jadi makan, lebih baik Jasmine menurut saja. Walaupun dia sempat iseng beberapa kali mencicipi sambel tanpa sepengetahuan Shifah tentunya.


"Kak, lihat deh. Itu bukannya si nenek lampir, kan?" tunjuk Shifah mengarah pada seseorang yang berada cukup jauh dari posisi mereka. Lebih tepatnya di sisi seberang mereka. Jasmine mulai menatap kearah yang sesuai dengan aah telunjuk Shifah.


"Yang mana?" tanyanya bingung, karena ada banyak orang disana. Dan Jasmine juga tidak tahu siapa yang Shifah panggil nenek lampir itu. "Ah, dia masuk ketoko pakaian yang itu loh, Mbak. Toko Unik lo!"


Bukannya melihat apa yang Shifah tunjuk, justru Jasmine malah tertawa mendengar nama toko yang disebut oleh Shifah itu. Shifah sendiri menatap bingung pada kakaknya yang bukannya melihat apa yang dia tunjuk, malah tertawa.


"Kenapa sih, Mbak? Mbak nggak kerasukan, kan?" tanyanya sambil mentap takut pada Jasmine yang belum berhenti ketawa itu. Bukannya berhenti, Jasmine makin tertawa melihat wajah Shifah yang terlihat lucu dimatanya.


Sejenak Shifah mundur selangkah dari posisi awalnya dan menatap ngeri kerah Jasmine. "Mbak, ojo medeni koyok ngono loh." Jasmine pun perlahan menghentikan tawanya begitu melihat respon Shifah yang seperti ketakutan. (Kak, jangan nakutin seperti itu.)


Jasmine maju selangkah dan mulai merangkul bahu Shifah. "Iya, Shifah." respon Jasmine. Keduanya kembali meneruskan langkah mereka dengan mata Shifah yang masih menatap kearah toko tadi. Dan tak berapa lama, orang yang dipanggilnya dengan nenek lampir itu pun keluar dari toko tersebut bersama seorang pria yang membuat mata Shifah terbelalak.


Shifah segera membawa Jasmine menuju kesalah satu toko untuk menghindarkan pertemuan yang tidak ingin Shifah lihat. "Fah, kenapa kesini?" tanyanya bingung saat Shifah mengajaknya masuk kedalam toko pakaian pria. "Mau beli pakaian buat mbak Cessie." Alis Jasmine terangkat sebelah. "Tapi ini kan toko pakaian pria, Fah. Kalau mau nyari buat Cessie, ya di toko pakaian wanita."


Shifah memang tak tahu kalau toko yang dia datangi itu adalah toko yang menjual pakaian pria. Pokoknya yang ada di pikirannya itu menjauh dari jalur yang berlawanan arah dengan dua orang yang dia hindari itu. "Nggak apa - apa, Mbak. Lagian mbak Cess juga kayak laki - laki." canda Shifah agar Jasmine tidak curiga padanya.


"Kalau mbakyu mu denger, bisa dijitak kamu, Fah." Shifah hanya cengengesan mendengar hal itu. Baru saja akan berjalan menjauhi pintu masuk toko, sebuah panggilan membuat keduanya menoleh.


Begitu menoleh, Jasmine dibuat terkejut dengan siapa yang berdiri di hadapannya saat ini. Sedangkan Shifah mulai meneguk ludahnya susah payah. Apa yang dia takutkan telah terjadi. Kalau tahu akan seperti ini, mungkin Shifah tak akan mengajak Jasmine masuk ke toko ini.


...° { < ¥ > } °...


...Ketemu siapa nih? Ada yang bisa tebak?...


...Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2