
๐ Selamat Membaca ๐
"Kau kenapa?" Venson menatap kearah istrinya yang sejak acara sarapan tadi selesai, hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Jasmine menoleh kearah suaminya. "Tidak apa - apa. Memangnya aku kenapa?" Jasmine malah balik tanya. Venson hanya mengangguk mengerti.
Venson pikir pasti ada yang tengah Jasmine pikirkan saat ini. Lagipula Venson juga tidak ingin terlalu memaksa Jasmine untuk bercerita padanya.
Tak berselang lama, keduanya sudah sampai di rumah Venson. Disana sudah ada ketiga anaknya beserta orang tua Venson. Mengingat kalau rumah orang tua Venson berada di luar kota, membuat keduanya memilih untuk tinggal selama beberapa hari di rumah Venson.
Lagipula Maria dan Lian juga masih kangen dengan cucu - cucunya itu. Dan keduanya ingin lebih mengenal anak nantinya yang baru saja menikah dengan anaknya itu.
"Kalian sudah datang. Mari duduk sini." Ucapan itu datang dari mulut Lian pada Venson dan Jasmine yang baru saja tiba.
Keduanya mendekat dan duduk di sofa yang ada di depan kedua orangtuanya itu. "Ada apa, Yah?"
Sebelum menjelaskan maksud dan tujuannya mengumpulkan keluarga intinya ini. Lebih dulu, Lian menatap kearah ketiga cucunya itu. "Bisakah matikan ponsel kalian sebentar. Ada yang mau Opa bicarakan ke kalian bertiga."
Merasa kalau mereka yang di maksud oleh opanya, ketiganya lalu menaruh ponsel itu keatas meja didepan mereka. Ketiganya memang sangat menghormati kedua kakek dan neneknya itu.
Makanya sangat mudah membuat ketiganya menuruti apa keinginan kakek dan neneknya itu. Dan karena itulah, mereka menjadi cucu kesayangan pasangan paruh baya ini.
"Opa tahu, kalian bertiga masih berat menerima kehadiran mama Jasmine." Jasmine yang disebut namanya pun mulai mendengarkan baik - baik perkataan ayah mertuanya itu.
Namun ketiganya tak memberikan respon berarti dari ucapan opanya tadi. Ketiganya masih diam ditempat. Tapi, tentu saja mereka mendengar dengan jelas apa yang opanya itu katakan.
"Jadi, opa minta kalian bertiga untuk bisa menerima kehadiran mama baru kalian secara perlahan."
Jackson yang tadi menunduk itupun segera mendongak. Dan tatapannya bertemu pandang dengan mata opanya itu. Tatapan mata yang seolah memintanya untuk mencoba apa yang barusan diucapkan olehnya itu.
"Tapi aku tak bisa, Opa." balasan itu membuat semua mata menatap kearah Aurora. Helaan napas panjang di keluarkan oleh Lian, begitu mendengar ucapan cucunya itu.
"Kenapa tidak bisa, sayang?" Kali ini ucapan itu datang dari mulut Maria. Dia menatap lembut kearah cucu perempuannya itu. Aurora menatap omanya dengan pandangan sendu.
"Tidak ada yang bisa mengantikan posisi ibu, Oma." ujarnya dengan nada sendu yang begitu ketara.
"Sini duduk samping oma." Suruh Maria agar cucunya itu duduk di dekatnya. Aurora pun berdiri dari posisinya dan mendekat kearah oma dan opanya itu.
"Aura, cucu kesayangan Oma." Maria mengelus lembut surai milik Aurora yang kini sudah duduk di sampingnya itu. "Kamu tidak perlu mengantikan posisi ibu dihatimu."
Aurora mendongak menatap sang nenek. "Kamu hanya perlu membuka hati untuk menerima Jasmine sebagai mamamu. Tanpa menghilangkan arti ibu dihatimu."
Melihat senyum lembut milik omanya itu,ย Aurora tak menjawab. Dia malah memeluk sang oma dan mulai terdengar isakan pelan celah bibirnya.
Dengan telaten, Maria mengelus dan mencoba menenangkan cucunya itu. "Mulailah secara perlahan. Oma, Opa dan juga orangtuamu tidak akan memaksa. Tapi kami minta, kalian bertiga untuk mencobanya. Bisa?"
__ADS_1
Tatapan lembut milik Maria kini bergulir kearah kedua cucu laki - lakinya itu. Ditatap seperti itu oleh omanya, membuat keduanya mau tak mau mulai menganggukan kepalanya.
Maria tersenyum begitu melihat respon yang diberikan oleh cucu - cucunya itu. Kini tinggal meyakinkan cucu perempuannya ini. Maria tahu, agak sulit membuat Aurora mau menerima Jasmine.
Bahkan dulu, sebelum Venson menikahi Jasmine dan masih pacaran dengan perempuan di luaran sana. Aurora lah yang paling menentang keras dan sering kali berbuat yang tidak sopan dengan pacar ayahnya itu.
Sebenarnya Maria sendiri masih bingung sampai sekarang. Kenapa Venson bisa menikah, padahal Maria yakin ketiga anaknya pasti akan menolak gagasan menikah lagi itu.
Tapi, apa yang terjadi saat ini membuat Maria yakin. Kalau Jasmine memang cocok dengan putranya itu. Dan cepat atau lambat, pasti ketiga cucunya itu mau menerima Jasmine sebagai mama mereka.
...๐พ๐ฟ๐พ...
Pagi - pagi sekali bahkan sebelum sang surya memperlihatkan sinarnya itu, Jasmine sudah terbangun. Dan kini dia berada tengah berada di dapur.
Kini dirinya tengah memilah ingin membuat makanan apa yang cocok dimakan saat sarapan nanti. Dia masih diam di depan pintu kulkas yang terbuka.
Dia hanya bingung ingin masak apa. Dan masakan apa yang biasa dimakan keluarga ini ketika sarapan. Sungguh, Jasmine hanya takut salah memilih menu masakan.
Apalagi mengingat hari ini adalah hari pertamanya memasak untuk suami dan anak - anaknya itu. Dan jangan lupakan kehadiran kedua orangtua Venson.
Dulu, saat masih tinggal di panti. Boro - boro memilih menu masakan, masih ada bahan makanan saja itu sudah bersyukur. Yang terpenting mah bukan dari jenisnya, tapi seberapa banyak yang bisa diolah dan tentunya bisa dimakan secara bersama - sama.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Jasmine tidak menyadari kehadiran ibu mertuanya yang kini menepuk pelan bahu menantunya itu.
Maria terkikik geli lantaran melihat menantunya itu yang kaget melihat dirinya. "Kamu segitu fokusnya, sampai - sampai kaget begitu melihat ibu."
Jasmine tersenyum malu, bagaimana bisa dia sampai tidak mendengar suara langkah kaki ibu mertuanya itu. "Maaf, Ma. Tadi Jasmine sibuk milih bahan makanan."
"Memangnya kamu mau masak apa?"
Jasmine menggeleng pelan. "Jasmine juga bingung." Melihat raut wajah sang menantu membuat Maria tersenyum maklum.
"Kalau anak - anak bisanya sarapan dengan roti ataupun sandwich. Tapi kalau Venson sih apa aja juga mau dia mah."
Sebenarnya Venson bukan tipe orang yang pilih - pilih makanan. Hampir semua jenis masakan bisa dia makan. Tapi biasanya, ketika sarapan dia lebih cenderung makan makanan yang simple. Misalnya roti dan buah. Pokoknya makanan yang rendahย kolesterol.
"Mau mama bantu." Jasmine ingin mengatakan tidak usah, tapi dia sungkan untuk bilangnya. Pada akhirnya Jasmine mengangguk pelan.
"Apa tidak merepotkan mama?" Maria menggeleng pelan. "Tidaklah. Kamu kayak sama siapa saja sih."
Kini keduanya mulai memasak bersama. Menu yang dipilih pun hanya nasi goreng dan juga sandwich. Serta dengan tambahan topping telur, daging dan sosis.
Disela kegiatan, tiba - tiba pelukan mesra di dapatkan oleh Jasmine. Tentu saja hal itu membuat Jasmine terkejut. Dan ternyata sang suaminya lah yang tadi memeluknya itu.
"Kenapa turun sendirian, nggak nungguin, Mas." gumamnya sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.
__ADS_1
Jasmine berusaha menjauhkan kepala Venson dari lehernya itu, sebab dia merasa malu karena dilihatin sama Maria. Ditambah lagi, Lian juga melihat kemesraan keduanya dari arah tangga itu.
"Mas, nggak malu dilihatin mama sama papa." Venson menggeleng pelan. "Nggak. Biarin aja, kayak mereka nggak pernah muda saja."
...Tuk!...
"Aduh, Ma kenapa kepalaku di pukul." gerutu Venson karena kepalanya baru saja di pukul dengan sutil kayu.
"Makanya jangan ngangguin istrimu kalau lagi masak. Sana duduk sama papa saja." Usir Maria agar Venson tak menganggu acara masaknya bareng sang menantu.
"Tapi, Ma ---"
"Mau mama pukul lagi, ya?" Venson tak menjawab tapi langsung menuju ke meja makan, dimana ayahnya sudah ada disana sambil baca koran.
Kini Maria dan Jasmine kembali menyelesaikan masakan mereka. Hingga satu persatu penghuni rumah mulai datang.
"Selamat pagi Opa, Dad." Sapa ketiga anaknya Venson pada opa dan ayahnya itu. Sedangkan keduanya hanya tersenyum sambil menyuruh mereka untuk duduk di tempat mereka masing - masing.
Untungnya semua masakan sudah siap dihidangkan. Bahkan tadi Jasmine juga sudah membuatkan kopi untuk suaminya. Tak lupa teh untuk mertuanya. Dan untuk ketiga anaknya, Jasmine sudah membuatkan mereka susu.
Selama memasak tadi, Jasmine mendapatkan informasi mengenai makanan apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh suami dan anak - anaknya itu.
Semua menikmati makan dengan khidmat. Hingga ketiganya pamit untuk ke sekolah. Dan kini Jasmine sudah ada di depan pintu untuk mengantar anak dan suaminya menjalani aktivitas mereka masing - masing.
"Mas pamit dulu, ya. Kamu baik - baik ya dirumah." Jasmine mengangguk sambil tersenyum manis. Tak lupa di menyalimi sang suami yang akan berangkat kerja.
"Anak - anak, kalian tidak pamit sama mama Jasmine dulu." Itu suara Maria yang kini sudah berdiri di samping Jasmine.
Dia berkata begitu, karena melihat ketiganya ingin berlalu begitu saja setelah salim dengannya. Tapi malah melewati Jasmine begitu saja.
Raut datar di wajah ketiganya sebenarnya sudah menjelaskan semunya. Tapi mau tak mau, ketiganya berjalan menuju kearah Jasmine. Dan dengan cepat menyalimi Jasmine.
"Kalau begitu kami pamit dulu, Oma dan Dad." Ketiganya langsung berlalu tanpa mau menyebut nama Jasmine dalam pamitnya itu.
Jackson yang pergi ke kampus dengan motornya, sedangkan Aurora dan Wilson berangkat dengan mobil yang sama. Dan tentunya mereka di antar oleh ayah mereka.
"Ya, sudah. Mas pergi dulu. Ma, Venson pamit, ya." Setelah salim dan berpamitan, Venson segera menuju mobil sebab dirinya akan mengantar kedua anaknya itu ke sekolah.
"Yang sabar, ya. Mereka pasti akan menerimamu." Usapan pelan dirasakan oleh Jasmine membuatnya menoleh kearah ibu mertuanya. Tak lupa senyuman manis dia berikan.
"Yuk masuk." Ajak Maria begitu tak lagi melihat mobil Venson.
...โคย โคย โค...
...๐ Terimakasih sudah menanti cerita ini๐๐...
__ADS_1