
...OoOoOoOoOoO...
Kepanikan yang sempat melanda keluarga besar Stevenson kini mulai berangsur lega. Sebab yang menjadi pemicu kepanikan mereka sudah melewati masanya. Tadinya mereka semua begitu panik saat Jasmine mengeluhkan kalau perutnya terasa sakit.
Bahkan tadi Venson sempat kalang kabut, padahal dirinya punya 3 kali pengalaman dalam situasi seperti saat ini. Untunglah tadi Venson langsung sigab membawa Jasmine ke rumah sakit. Sehingga Jasmine cepat mendapatkan pertolongan.
Karena terlalu panik, Venson bahkan tak sempat menghubungi ketiga anaknya. Untung saja ketiganya tahu keberadaan mamanya dari pelayan yang ada di rumah. Ketiganya langsung bergegas menuju ke rumah sakit bersama dengan kakek dan nenek mereka yang memang sedang berkunjung ke kediaman mereka.
Mereka semua merasa cemas bukan main atas kondisi Jasmine yang sempat drop. Bahkan mereka tak putus mendoakan kesehatan dan keselamatan Jasmine dan calon adik mereka itu.
Untunglah masa itu sudah berlalu, sehingga mereka semua sudah bisa menghela napas lega atas kelahiran adik perempuan mereka. Bahkan ketiganya tak sabar melihat adik yang sudah lama mereka nantikan keberadaannya.
Kini keluarga besar sudah berada di ruang rawat VVIP yang sengaja Venson pilih untuk tempat perawatan istrinya. Dia ingin yang terbaik untuk istri dan anaknya itu, jadi memilih ruangan yang lebih terkesan privasi.
"Syukurlah kalian berdua baik - baik saja. Mama dan yang lain sempat cemas dan khawatir begitu diberitahu kalau kondisimu saat itu mulai drop." ujar sang mertua kepada anak mantunya itu.
Jasmine yang saat ini kondisi sudah membaikpun tersenyum mendengar apa yang ibu mertuanya katakan. "Ini semua juga berkat doa mama dan yang lainnya. Jadi persalinanku bisa berjalan dengan lancar."
Jasmine tentu saja bahagia begitu melihat kehadiran keluarganya dan mereka dengan setia mendoakan persalinannya agar berjalan lancar. Arah tatapan Jasmine tertuju pada ketiga anaknya yang sedang mengerubungi adik mereka yang sedang berada dalam gendongan kakeknya.
Usapan lembut dirasakan oleh Jasmine pada bagian kepalanya. Dia menoleh kesisi kanannya dimana suaminya berada. Senyum lembut dan sarat akan ketulusan diperlihatkan oleh Venson untuk sang istri.
Diambilnya tangan sang istri untuk dia genggam, kemudian tak lama Venson mencium tangan Jasmine yang masih berada di genggaman Venson. "Terimakasih. Terimakasih sudah bertahan untuk anak kita dan juga untukku."
Jasmine mengelus pelan pipi suaminya itu. Bisa dia rasakan adanya airmata yang menetes di pipi Venson. Tentu saja Jasmine cukup terkejut saat mengetahui kalau suaminya itu menangis. Walaupun tak diiringi oleh suara tangisan tentunya.
"Mas kenapa? Aku kan sudah nggak apa - apa. Jadi mas nggak perlu khawatir lagi." Jasmine perlahan menghapus jejak airmata di pipi Venson. "Mas harus ingat, sekarang Mas sudah punya anak lagi loh. Jadi jangan jadi cengeng seperti ini."
Sebenarnya bukan karena Venson cengeng atau apa. Hanya saja dirinya merasa bersyukur atas kelancaran prosesi persalinan yang telah Jasmine jalani. Rasa syukurnya kembali bertambah kita melihat kondisi anaknya yang sehat wal'afiat.
Dikecupnya kening sang istri untuk menyalurkan kebahagian yang baru saja dia terima itu. Aksi keduanya di pergoki oleh ketiga anaknya yang tadi asyik mengganggu tidur adik kecil mereka itu. "Ayah." dengus ketiganya ketika melihat moment romantis keduanya orangtuanya itu.
Sedangkan Venson hanya menatap malas ketiga anaknya yang sudah tak lagi berfokus pada adik barunya itu. Alasan dibalik sikap Venson ini di picu oleh sikap menyebalkan ketiga anaknya yang sejak tadi terus mengerecokinya.
Bagaimana tidak, kalau tadi saat Venson sedang asyik mengendong putri kecilnya itu. Ketiganya tak membiarkannya menikmati moment tenang dengan sang putri. Padahal sejak tadi, Venson ingin bersama Jasmine. Namun Jasmine lebih dulu di monopoli oleh anak - anaknya. Lebih tepatnya sih hanya Aura dan Wilson yang terus memonopoli Jasmine.
__ADS_1
Dan baru sebentar dia besama putri kecilnya ini. Ketiganya sudah berbalik membuat kehebohan dengan ingin melihat adik mereka yang baru saja dimandikan oleh suster. Ayah Venson yang melihat putranya mulai kesal dengan tingkah cucunya, mulai memgambil alih cucu barunya itu.
Dan lihatlah, baru sebentar Venson bisa menikmati moment bersama Jasmine. Ketiganya ingin kembali merecoki moment tersebut. Jelas saja Venson tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Kalian diam saja disini bersama Opa dan Oma. Jangan ganggu orangtua kalian."
Kali ini ketiganya tak bisa membantah apa yang omanya katakan. Dan hal itu membuat senyum dibibir Venson tertarik menatap ketiganya yang mungkin saja sedang mendengus kesal kearahnya. Mereka bertiga menatap kesal kearah ayah mereka, sebab senyuman di bibir ayahnya itu terlihat sedikit menyebalkan dimata mereka.
"Oma, lihat ayah. Masa ayah meledek kami." ucap Aura sambil menatap sang ayah yang langsung mengangkat alisnya bingung. Bahkan dirinya saja tidak mengatakan apa - apa. "Ma, aku tidak bicara apa - apa loh."
Jasmine tertawa pelan dengan tingkah anak dan suaminya itu. Bahkan keempatnya mungkin tak
akan berhenti berdebat, kalau ayah mertuanya itu tidak menatap tajam dan memperingati keempatnya untuk diam. Sebab suara mereka membuat anggota baru dikeluarga mereka mulai mengeliat tak nyaman.
Oek Oek Oek
Dan terdengarlah suara tangisan yang semakin membuat ayah sekaligus opa dari keempatnya menatap mereka dengan tatapan menusuk. "Lihatkan, karena ulah kalian cucuku jadi menangis karena terganggu oleh suara ribut kalian."
Keempatnya tanpa sadar meneguk ludah mereka dengan berat. "Keluar dari sini. Kalian boleh masuk lagi kalau cucuku sudah berhenti menangis." ujarnya sambil menepuk pelan pantat cucunya agar membuatnya tenang dan tidak menangis lagi.
Walaupun tatapan mata opanya tidak terarah pada mereka. Tapi mereka tahu betul kalau ucapan itu tak bisa di bantah. Dengan gerakan cepat, keempatnya mulai berjalan keluar. Tapi sebelum itu, Venson masih sempat - sempatnya mencuri ciuman di bibir Jasmine sebelum dirinya mengikuti langkah ketiga anaknya itu.
( * * * )
Kepulangan Jasmine kerumah disambut hangat oleh semua pekerja di kediaman Venson. Bahkan tak jarang mereka memuji kecantikan dari anak majikan mereka itu. Padahal anak majikannya belum berumur seminggu, tapi semua orang bisa menebak kalau nantinya dia anak menjadi incaran para lelaki diluaran sana.
Kemarin malam, keluarga Venson ini sudah mengelar acara syukuran atas kelahiran anak Venson dan Jasmine. Diacara itu juga, Venson telah memperkenalkan nama dari sang buah hati. Tentu saja pemilihan nama untuk buah hatinya ini tak semudah kelihatannya.
Bahkan Venson sampai lelah menghadapi ketiga anaknya yang terus menyanggah atas nama yang ingin dia berikan kepada buah hatinya itu. Perdebatan yang panjang itu akhirnya terselesaikan dengan akhir yang cukup memuaskan. Dan keempatnya sepakat untuk menyematkan nama Jeevanila Asmira Klein pada nama anggota baru di keluarga mereka.
Nama itu diambil dari susunan nama dari tiap anggota keluarga. Seperti Jee diambil dari huruf awal nama (J)ackson. Van didapat dari nama tengah Venson yaitu Alex(Van)der. ila diambil dari penggalan nama W(il)son. Asmira diambil dari nama J(asmi)ne dan Auro(ra). Sedangkan Klein adalah nama marga keluarga mereka.
Dan mereka memanggilnya dengan nama Baby Jee.
Saat ini baby Jee sedang dalam pelukan Jasmine. Sebenarnya sejak dirumah sakit, ketiga anaknya yang lain ingin sekali mengendong baby Jee. Namun mereka takut melukai kulit ataupun tubuh adik kecil mereka. Tentu saja mereka tak lupa kalau kulit bayi cenderung lebih tipis dari kulit anak - anak ataupun orang dewasa.
__ADS_1
"Ma, aku boleh ngendong adik bayi?" tanya Wilson agak sedikit ragu. Jelas saja ada perasaan takut kalau seandainya dia salah pegang dan malah menyebabkan hal buruk terjadi pada adiknya itu.
Jasmine yang berada di sebelah Wilson tersenyum lembut. "Tentu saja boleh. Kamu kan kakaknya baby Jee." Ada raut berbinar yang bisa Jasmine tangkap dari sorot mata anak ketiganya itu. Dan dengan telaten serta berhati - hati, Jasmine mulai memindahkan tubuh baby Jee ke tangan Wilson.
Raut tegang jelas terpancar dari wajah Wilson. Bahkan tubuhnya mendadak kaku saat dirinya bisa merasakan keberadaan sang adik di kedua lengan tangannya. "Rileks saja. Jangan kaku seperti itu, nanti baby Jee malah merasa kurang nyaman."
Secara perlahan Wilson mencoba untuk merilekskan tubuhnya yang sempat tegamg. Namun gerakanya langsung berubah kaku saat merasakan adiknya mengeliat di lengannya. "Nahkan. Apa mama bilang, adikmu ini bisa merasakan kalau kakaknya tegang seperti ini."
Namun tak butuh waktu lama, sebab baby Jee kembali tertidur pulas dalam dekapan Wilson. Senyum dibibir Wilson nampak terulas secara sempurna. Dirinya merasa bahagia bisa mengendong adiknya ini. Walaupun dia hanya duduk diam sambil memegang sang adik di kedua lengannya.
Dari arah depan terlihat seorang gadis yang berjalan dengan sang kakak menghampiri adik dan mamanya. "Ciee adek yang sudah bisa mengendong baby Jee." goda sang kakak yang membuat Wilson tersipu malu.
Sejak kemarin memang hanya Wilson saja yang belum mencoba mengendong sang adik. Makanya Aura dan Jackson sempat pamer pada Wilson kalau keduanya sudah bisa mengendong adik kecil. Wilson tentu saja sebal di goda seperti itu. Dan hari inilah dia baru bisa mengendong adiknya ini.
"Wah, akur sekali kalian. Sampai ninggalin ayah di depan sendirian." dengus Venson yang memang baru saja ditinggal oleh kedua anak tertuanya itu. Memang hari ini Ketiganya sempat pergi untuk mengantar orangtua Venson ke bandara. Sebab mereka ingin kembali kerumah mereka sendiri.
Venson duduk di samping Jasmine. Dirangkulnya bahu sang istri agar bersandar kearahnya. Keduanya menatap ketiga anaknya yang berada disisinya dengan senyum lembut. Ketiganya terlihat bahagia bersama adik kecil mereka. Bahkan ketiganya tak keberatan bangun pagi buta untuk menjaga adiknya yang terbangun karena lapar.
Bahkan saat dirumah sakit, ketiganya bergiliran menjaga adik kecil mereka. Bukan Venson ataupun Jasmine yang menyuruh mereka, melainkan mereka bertiga berinisiatif sendiri dalam menjaga adik mereka. Terlebih ketiganya juga tahu kalau orangtua mereka cukup lelah.
Arah tatapan Jasmine bergulir kearah suaminya. Ditatapnya mata sang suami dengan tatapan hangat. "Terimakasih. Aku bahagia melihat mereka bisa menerima adik mereka dengan sangat baik." gumamnya pelan, namun terdengar jelas di telinga Venson.
"Aku juga bahagia melihat mereka saling menyanyangi seperti ini. Pada akhirnya apa yang kita inginkan bisa tercapai. Anak - anak sudah bisa menerimamu sepenuh hati mereka. Dan kebahagian ini di perlengkap dengan adanya baby Jee."
Keduanya saling berbalas senyum. Venson menarik sang istri kedalam pelukannya. Kini keduanya memperhatikan anak - anak mereka dengan senyum bahagia di bibir mereka.
Dan pada akhirnya semua hal berakhir baik. Semua masalah yang menimpa keluarga mereka juga sudah terselesaikan semua. Bahkan kini kebahagian mereka berlipat ganda sebab kehadiran baby Jee di tengah - tengah mereka.
...••• Happy Ending •••...
...( * * * )...
Ku ucapkan Terimakasih sudah bertahan sampai sini. Sebelumnya sempat overthinking pengen tetap lanjut ataupun selesai sampai sini. Tapi setelah dipikir matang - matang akhirnya memutuskan untuk namatin cerita ini.
Semua endingnya tak terlalu jauh dari ekpektasi, ya haha.. Selamat bertemu kembali di cerita yang lain ya.
__ADS_1
...Terimakasih semuanya :-)...
...( The End )...