Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Perhatian yang Terabaikan


__ADS_3

Aurora atau yang sering disapa Aura merupakan anak kedua dari Venson. Dia merupakan gadis yang baik dan juga ramah. Sikap manjanya kerap kali di tunjukan di hadapan sang ayah, adik dan kakaknya.


Apalagi dia merupakan putri satu – satunya Venson dan saudara perempuan tunggul dari Jackson dan Wilson membuat segala keinginanya mudah dia dapatkan. Namun sikapnya mulai berubah sejak kecelakaan yang menimpa ayahnya sendiri.


Sikapnya yang penurut berubah menjadi pembangkang. Bahkan sikap ramahnya hanya sebagai topeng di depan keluarganya. Entah apa yang merasukinya hingga membuatnya bersikap seperti itu.


Kini Aura tengah bergelut dengan pikirannya tanpa menyadari kehadiran seseorang yang kini melangkah mendekatinya. Tepukan sehalus kapas bahkan bisa membuat Aura berjengkit kaget.


“Kau kenapa?” ujar seseorang itu sambil meletakan dua gelas berisi cairan bening keatas meja di depan Aura.


“Tidak apa –apa.”


Seseorang itu menggeleng pelan. “Kau masih memikirkan kejadian waktu itu, ya?” tebak orang itu yang sepertinya tepat sasaran. Tapi sayangnya Aura berusaha mengelaknya.


Seseorang itu yang tak lain adalah Yoela pun tersenyum tipis. “Baiklah, kalau bukan itu yang kau pikirkan. Sebaiknya kau minum dulu, biar pikiranmu bisa lebih fresh.” ucapnya sambil mendorong pelan salah satu gelas itu kearah Aurora.


Tanpa bertanya, Aura langusng meminumnya. Namun dalam dua tegukan, alisnya berkerut begitu meraskan sensasi rasa pahit di minuman tersebut.


“Air apa ini?” tanyanya sambil meletakan kembali gelas kaca itu keatas meja.


“Itu hanya air soda yang di campur dengan perasan jeruk nipis dan juga daun mint.” jelas Yoela sambil tersenyum menjelaskan air apa yang barusan dia berikan padanya itu.


“Benarkah?” tanya Aura sedikit ragu.


Pasalnya air soda dan jeruk nipis bukan seperti apa yang dia minum barusan. Sebab dia sudah pernah membuatnya. Dan rasanya jauh berbeda. Ini malah seperti minuman yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dari apa yang dia kecap, malah mirip seperti minuman beralkohol.


“Masa kau tidak percaya padaku. Coba kau rasakan lagi, mungkin rasa jeruk nipisnya terlalu strong. Makanya menurutmu itu sedikit aneh.”


Mencoba percaya dengan apa yang Yoela katakan, kini Aura kembali meneguk air itu untuk meresapi rasa yang ada. Namun semakin banyak rasa yang di cicipi, kepalanya malah mendadak pusing. Tapi anehnya, dia merasakan sensasi lepas dari beban yang dia pikirkan sejak tadi.


Perasaannya lebih ringan daripada sebelumnya. Bahkan Aura tidak tahu kalau efek soda dicampur jeruk nipis dan daun mint bisa membuatnya serileks ini. Senyum dibibir keduanya memiliki makna yang berbeda, yang satu penuh akan kelegaan sedangkan yang satunya penuh dengan kepuasan.


❄❕❄❕☀❕❄❕❄


Kepala Aura masih sedikit pusing sepulangnya dari rumah Yoela. Bahkan tadi Yoela sampai mengantarnya pulang lantaran merasa khawatir padanya. Sungguh baik sekali sahabatnya itu.


Dan kini, Aura tengah bersandar di pintu rumah dengan tangan yang bertopang pada ganggang pintu tersebut. Suara kendaraan miliki kakaknya membuat Aura sedikit meoleh. Namun dia masih belum beranjak dari paosisinya tadi, akibat rasa pusing yang masih menderanya itu.


Jackson yang baru pulang dari rumah temannya mengernyit begitu melihat keberadaaan adiknya yang kini tengah menyandarkan kepalanya di pintu utama. Dengan khawatir, Jackson segera menghampiri adiknya itu. Tapi kurang beberapa langkah dari posisi sang adik, Jackson sudah bisa mencium aroma alkohol yang begitu menyeruak dari badan adiknya itu.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan, Ra?” Aura menatap kakanya dengan alis bertaut.


“Kak, kepala Aura pusing, sekali.” ujarnya sambil memegangi kepalanya itu. Ada rasa bersalah yang menyelimuti hati Jackson begitu melihat keadaan Aura yang seperti ini.


Jelas Jackson tahu kalau adiknya itu baru saja minum – minum. Jackson akui dia bukan kakak yang baik untuk dijadikan sebagai contoh oleh adik – adiknya, sebab kebiasaanya yang sering keluar masuk club. Walaupun begitu Jackson sama sekali tidak menyukai pergaulan bebas, karena menurutnya itu tidaklah sehat.


Hati seoarang kakak mana yang tidak akan teriris melihat adik perempuannya minum – minum seperti ini. Walaupun Jackson akui kalau dirinya sudah pernah mencicipi minuman yang kata banyak orang itu memabukan. Tapi melihat adiknya sendiri yang menengaknya, membuat Jackson merasa gagal menjaga adik perempuan satu – satunya itu.


Jackson segera membawa Aura masuk kedalam rumah. Untung saja, ayahnya masih ada urusan di kantor, sedangkan ibu tirinya itu pasti tengah berada di rumah sakit untuk menjenguk shifah.


Dibaringkannyaa tubuh sang adik keatas ranjang. Dia mulai melepaskan sepatu yang masih Aura pakai. Selesai dengan kegiatannya, kini Jackson mulai menatap wajah aura dengan sendu.


“Sebenarnya kau kenapa, Ra?”.


“Kenapa sampai begini. Apa kakak telah gagal untuk menjagamu?" tanyanya yang tak mendapat jawaban dari auroa yang tengah terlelap.


Kepalanya menunduk, ada helaan napas yang Jackson keluarkan. Rasanya sesak melihat keadaan adik kecilnya yang manis ini.


Selesai bergelut dengan pikirannya, Jackson mengecup pelan dahi Aura dan berlalu pergi setelah menyelimuti adiknya itu. Sebelum benar – benar pergi, jackson menatap sejenak kearah Aura.


”Maaf, karena telah gagal menjadi kakak yang baik untukmu.” gumamnya lirih, setelahnya dia benar – benar pergi dari kamar adiknya itu.


...( *  _  * )...


“Bro, loe lagi ngalamunin apa sih? Kelihatannya kek berat banget?” tanya salah satu temannya yang memakai kacamata berframe hitam itu.


Jackson tak menanggapinya, lebih tepatnya tidak menyadari kalau temannya itu tengah bertanya padanya.


“Jack?” panggil temannya yang kini mendapatkan tatapan bingung dari Jackson.


“Kenapa?” Jackson malah balik tanya membuat temannya itu mtndengus pelan.


“Loe lagi kenapa? Lagi ada masalah?” gelengan pelan menjadi jawaban dari Jackson.


“Beneran, gue lagi nggak kenapa – napa.” Para sahabatnya yang lain tak ingin memaksa Jackson untuk cerita, kalau memang Jackson tidak ingin mengatakan apa – apa. Lagian mereka juga tidak ingin ikut campur dengan masalah yang bukan urusan mereka. Kecuali sang empunyanya mengizinkan mereka untuk ikut begabung.


“Oh, ya. Si Ramos kemana? Tumben tuh anak nggak kelihatan.”


“Bukannya udah hampir 3 harian dia ngilang nggak ada kabar.”

__ADS_1


“Biarin aja, siapa tahu dia lagi punya urusan lain, sama keluarganya misalanya.” Semuanya mengangguk dan kembali larut dengan obrolan mereka.


...{ ¥ }• {✓}...


Jasmine menatap kearah kedua anaknya yang sejak tadi lebih banyak diam. Mungkin lebih tepatnya hanya putrinya lah yang diam saja sejak tadi. Jasmine malah merasa lebih khawatir dengan diamnya Aura.


Sejak awal, makan malam akan terasa panas apabila ada Aura yang selalu sinis dengan Jasmine. Tapi sejak kemarin, Aura tak mencari gara – gara dengannya.


Jasmine bukannya mengharapkan putrinya itu membuat masalah dengannya. Hanya saja diamnya Aura malah menimbulkan perasaan khawatir dihati Jasmine.


Bahkan Jasmine sadar kalau beberapa kali Aura seolah menolak untuk menatapnya. Padahal biasanya kalau dia tidak sengaja bertatapan, Aura permusuhan begitu kuat Aura lemparkan kepada Jasmine.


“Selesai makan, ada sesuatu sesuatu yang ingin mama tanyakan pada kalian.” Jasmine menatap keduanya yang dibalas anggukan oleh Wilson. Biasanya Aura akan langsung menolaknya mentah – mentah. Tapi hari ini, dia diam saja.


Setelah selesai makan, keduanya langsung beranjak ke ruang keluarga. Sedangkan Jasmine tengah membuatkan susu hangat untuk keduanya. “Minumlah,” ucap Jasmine ketika menyajikan masing – masing segelas susu pada keduanya itu.


“Gimana sekolah kalian?” Pertanyaan itu membuat Aura dan Wilson diam tak menjawabnya.


Jelas aura tak bersuara karena malas menanggapi omongan jasmine. Sedangkan wilson diam, karena bingung harus bilang apa pada mamanya itu.


Apakah dia harus jujur kalau orang – orang itu masih menganggunya? Atau harus bohong?


Pada akhirnya wilson lebih memilih untu berbohong. “Baik – baik saja, Ma. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.” ucapnya diselingi dengan senyum manis.


Jasmine ikut tersenyum mendengarnya.


Tatapannya kini terarah pada Aura yang malah melamun. “Aura,” panggilnya yang tak ditanggapi oleh aura. Dipanggilan ketilah Aura baru merespon panggilan Jasmine. Itupun karena Wilson yang menepuk bahunya untuk menyadarkan kakaknya itu.


“Kamu kenapa? Ada yang di pikirin?” Aura menatap malas kearah jasmine yang menampilkan raut khawatir itu.


“Memangnya itu urusanmu?” ucapnya ketus.


Jasmine tak tersingung dengan nada bicara putrinya itu. “Kalau ada masalah, kau bisa ceritakan padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu.” balas Jasnmine masih dengan senyumannya itu.


Aura berdecih mendengar kalimat itu. “Memangnya kau siapa, sampai aku harus bercerita padamu. Ingat kau bukan siapa – siapa bagiku. Tak tak lebih hanya sebagai penganggu dimataku.” Setelah melontarkan ucapan pedas itu, aura langsung berlalu pergi.


Tanpa menyadari kalau ucapannya tadi menyakiti hati Jasmine. Wilson yang mendengarnya saja dibuat kesal dengan kakaknya itu. Baru saja ingin berteriak memanggil sang kakak, tapi dihentikan oleh Jamine.


“Sudah biarkan saja kakakmu itu. Biarkan dia tenang dulu.” Wilson mengangguk tapi dalam hati merutuki sikap kakaknya itu. Kedua ibu dan anak itu kembali melanjutkan obrolan tanpa menyadari kehadiran sosok di belakang mereka yang menatap keduanya dengan sendu.

__ADS_1


..........................


...Salam untuk Semuanya...


__ADS_2