Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Pertengkaran Antar Cewek


__ADS_3

...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...


Seharusnya tadi dia tak mengajak kakaknya itu masuk kedalam toko itu. Seharusnya tadi dia langsung mengajak pulang saja. Bahkan kalau perlu, seharusnya dia menolak begitu diajak sang kakak kesini.


Kata seharusnya itu terus Shifah ucapkan dalam hatinya yang kini mulai terjebak dalam rasa sesal. Walaupun sekarang dia tak bisa mengulang waktu yang telah mempertemukan kakaknya dengan suami kakaknya itu.


Ya, suara yang memanggil nama Jasmine datang dari mulut Venson. Sayangnya kedatangan Venson bukanlah seorang diri, melainkan bersama dengan orang yang berada di urutan kedua dalam daftar hitam milik Shifah. Namun orang itu menjadi orang pertama dalam daftar hitam milik Jasmine.


Kedua orang itu saling bertatapan seakan telah berpisah sekian purnama. Meskipun faktanya memang begitulah adanya. Baik Jasmine ataupun Venson tak buka suara. Keduanya seolah saling terhipnotis satu sama lain. Hingga pandangan keduanya terlepas akibat tarikan Shifah pada lengan Jasmine.


"Mbak, sebaiknya kita pulang. Shifah mendadak ngantuk, Mbak."


Sebenarnya itu hanya alasan yang sengaja Shifah ciptakan untuk lepas dari situasi yang tidak dia inginkan ini. Apalagi untuk Jasmine. Pastinya dia akan salah paham dan memikirkan ada hubungan apa diantara keduanya. Dan Shifah tak ingin bila kakaknya ini mengalami stress karena memikirkan masalah ini.


Lagian Shifah mulai kehilangan respect terhadap suami kakaknya itu. Diluar masalah mereka yang Shifah tak ketahui. Tidakkah dia bisa meluangkan waktunya untuk mencari Jasmine yang pergi dari rumah. Apakah tidak ada rasa khawatir sedikitpun dalam benak Venson terhadap kondisi Jasmine diluaran sana.


Baru saja akan melangkah, suara Venson lebih dulu terdengar. "Lama tidak bertemu dan sepertinya kau hidup dengan sehat." Apa yang Venson katakan mampu membuat Jasmine menatap ke arahnya. "Seperti yang kau lihat saat ini." jawab Jasmine seadanya.


Bahkan Jasmine tak lagi menyematkan kata Mas dalam kalimatnya, kala menyembut nama suaminya itu. "Baguslah, itu berarti aku tak perlu merasa bersalah karena telah membiarkanmu pergi dari rumahku."


Ucapan itu tak hanya berdampak bagi Jasmine, tapi juga kepada Shifah dan orang yang datang bersama Venson tadi. Bahkan kini keempatnya sudah menjadi tontonan gratis bagi para pengunjung yang mampir ke toko itu.


Sayangnya ekspresi wanita yang bersama Venson menjadi cerah, setelah mendengar pengakuan itu. Apalagi ini dia dengar langsung dari mulut Venson. Shifah tak bisa tinggal diam, melihat suami Jasmine itu bicara begitu terhadap kakaknya ini.


"Maksud paman apa bicara seperti itu pada kakakku, huh?!" Shifah tak berusaha menutupi raut kekesalannya pada Venson. Bahkan dia tak memperdulikan ucapan Jasmine yang berusaha menyuruhnya untuk diam.


"Sudah, Fah. Jangan diladeni, kita pulang saja, ya." Shifah mengacuhkan ucapan Jasmine. Dirinya malah maju kehadapan Venson dan si wanita tadi. "Asal paman tahu, ya. Hidup kakakku menjadi semakin baik sejak keluar dari rumahmu itu. Bahkan semakin bahagia tanpa adanya paman dihidupnya!"


Shifah tak perduli akan pandangan orang - orang terhadapnya. Mungkin saja mereka menganggap Shifah sebagai gadis yang tak punya sopan santun. Sayangnya Shifah tak peduli akan hal itu. Sekarang ini dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada kedua manusia tak punya hati ini.


"Paman pikir kakakku akan menderita bila jauh dari paman? Sayangnya itu hanya mimpi!" Diakhir kalimatnya, Shifah memberikan senyum remeh pada Venson. Namun respon Venson hanya diam. Bahkan dia terlalu bersikap tenang dalam menghadapi kemarahan gadis remaja ini.


Arah pandang Shifah tertuju pada wanita di samping Venson. Seketika tatapannya berubah tajam kala melihat ekspresi cerah di wajah wanita itu. "Hei, nenek lampir. Bisa - bisanya kau tersenyum seperti itu. Kau pikir kau bisa lolos dariku, huh? Jangan kira aku akan melepaskanmu karena sudah membuat kakakku terluka!"


Si wanita yang tak lain adalah si Mertha pun mendelik menatap kearah Shifah yang kini tengah memberinya tatapan penuh intimidasi. "Hei, anak kecil. Kau tidak punya sopan santun ya, seenaknya saja berkata seperti itu pada orang yang lebih tua."


Bukan tersinggung, Shifah malah terkekeh pelan yang membuat orang - orang menatapnya bingung. "Hahaha. Mengaku juga kalau kau itu sudah tua, ya." Urat di dahi Mertha nampak sedikit menonjol begitu mendengar kalimat yang Shifah utarakan. Bahkan kalimat itu terdengar seperti ejekan di telinganya.


"Beraninya kau bicara begitu padaku. Kau pikir dirimu itu siapa, huh?"


"Lalu kau pikir dirimu itu siapa, huh?" balas Shifah sambil mengikuti ucapan Mertha tadi.

__ADS_1


Mertha menatap geram kearah Shifah yang dengan entengnya memberikan senyum remeh kearahnya. "Dasar tak punya sopan santun! Mau jadi apa kau kalau sudah besar nanti? Masih kecil sudah nggak punya etika!" ejek Mertha cukup pedas.


Shifah kali tersenyum polos, "Jadi apa saja lah, yang penting nggak jadi pelakor kayak tante!" tekannya pada kata pelakor yang membuat Mertha semakin geram pada Shifah. Apa yang Shifah ucapkan itu di dengar oleh orang - orang yang kini mulai berbisik sambil menatap kearah Mertha.


Mertha merasa panas saat ada yang terang - terangan menghinanya. Bahkan hinaan yang awalnya tertuju pada Shifah karena sikap tidak sopannya tadi. Kini mulai berbalik kearah Mertha.


Wah, kukira gadis itu yang buruk sifatnya. Tapi malah wanita itu sang antagonisnya.


Pantas saja gadis itu marah, ternyata kakaknya jadi korban pelakor.


Padahal nggak jelek -jelek amat, tapi kenapa mau jadi simpanan.


Semua butuh uang bos!


Maksudmu dia dia itu matre?


That's right!!


Sudah tua, tapi nggak inget sama umur.


Dasar pelakor!!


"Beraninya kau mempemalukan ku seperti ini!" Mertha tak tahan situasi yang berbalik menjadi menyudutkannya ini. Padahal awalnya dia ingin membungkam mulut gadis tak tahu diri ini. Sekaligus menarik perhatian Venson dengan cara membelanya.


Bukannya keberhasilan yang dia dapatkan, melainkan tatapan olokan yang dirinya terima. Ditambah lagi, Venson sama sekali tak berniat untuk membantunya dalam menyangkal alibi orang - orang disana.


"Dasar tak tahu malu. Gadis sepertimu beraninya menfitnahku. Pasti orangtuamu tak mengajarkan hal baik kepadamu, atau kau meniru hal buruk darinya, ya."


Arah tatapan Mertha tertuju pada Jasmine, seolah mengisyaratkan bahwa perilaku Shifah saat ini di dapatkannya dari pengaruh yang di berikan oleh Jasmine. Shifah semakin bertambah kesal begitu mengerti apa maksud dari ucapan tante di depannya ini.


"Jangan asal bicara ya, Tan! memangnya tante tahu apa tentang aku?" Nada bicara Shifah mulai naik beberapa oktaf. Dirinya tak terima kalau orang di sekitarnya dituduh macam - macam. Jasmine yang merasa keadaan semakin tak kondusif, segara turun tangan.


Dirinya menarik pelan bahu Shifah yang seperti berkeinginan untuk menjambak si Mertha. Terlihat jelas dari pandangannya saat, bahwa suaminya hanya diam ketika dirinya di hina oleh si Mertha. Hati Jasmine cukup perih melihat respon biasa saja dari sang suami.


Shifah menghadap kearah Jasmine untuk beberapa saat, sebelum dirinya mendengar dengan jelas hinaan yang Mertha lontarkan untuk kakaknya ini. "Ku sarankan agar tante diam saja. Jangan lagi menghina kakakku."


Mertha tak gentar untuk memancing keributan dengan Shifah. "Bukannya aku yang harusnya menyarankan padamu agar kau memberitahu kakakmu itu untuk menjauh dari keluarga Mas Venson."


"Tanpa tante ingatkan pun, kakakku sudah menjauh dari keluarga itu. Sayangnya mereka saja yang selalu membuat masalah dengan kakakku!" Shifah memberikan tatapan penuh permusuhan kepada Mertha yang seperti belum puas menghina keluarganya.


Mertha tersenyum lebar, "Baguslah kalau kakakmu itu sadar diri. Jadi keluarga Mas Venson nggak susah - susah ngusir hama kayak kakakmu itu." Diakhir kalimatnya ditutup dengan senyum sinis.

__ADS_1


Mendengar hinaan yang menyebut kakaknya sebagai hama bagi keluarga Venson, membuat darah Shifah kembali mendidih. Tanpa aba - aba, dia maju kehadapan Mertha dan langsung menjambak rambutnya. Teriakan kesakitan dari Mertha, sama sekali tak membuat Shifah mengendurkan jambakannya.


"Argh, lepaskan tanganmu itu, bocah sia*an!"


"Ini akibatnya kalau tante berani menghina kakakku!"


Semua yang menonton aksi Shifah itupun, dibuat tak percaya. Walaupun sebagian dari mereka mendukung aksi Shifah yanh menjambak rambut Mertha. Venson dan Jasmine menatap keduanya dengan rasa terkejut. Jasmine berusaha memisahkan keduanya yang terlihat semakin anarkis.


"Shifah, sudah. Lepaskan jambakanmu itu!" teriak Jasmine yang tak di perdulikan oleh Shifah yang sudah terlanjur emosi.


Jasmine hampir saja terjatuh saat berusaha memisahkan keduanya yang semakin brutal. Bahkan keduanya saling melemparkan hinaan yang membuat telinga berdengung.


Untunglah dengan sigap di tolong oleh Venson yang memang sejak tadi menatap intens istrinya itu. Sejenak keduanya membatu dalam keadaan Venson yang memeluk pinggang Jasmine. Mata keduanya saling menatap, seolah tengah membagi kerinduan dalam manik mata mereka.


Rasanya baru sebentar mereka bisa menikmati kebersamaan mereka. Moment itu dihancurkan oleh teriakan kesakitan dari mulut Shifah yang barusaja di dorong kasar oleh Mertha.


"Dasar nenek lampir!" umpatnya yang seolah melupakan kesopan yang pernah keluarganya ajarkan kepadanya. Barusaja Mertha ingin menampar wajah Shifah, tapi berhasil di gagalkan oleh Jasmine.


"Jangan berani menyentuh adikku dengan tangan kotormu itu!" tekan Jasmine pada setiap kata - katanya itu. Segera Jasmine menghempaskan tangan Mertha yang tadi sempat di cekalnya itu. Untungnya dia bisa mencegah tangan itu menampar pipi Shifah.


Mertha balas menatap tajam kearah Jasmine yang sedang membantu Shifah untuk berdiri. Baru saja dia berniat mendorong Jasmine agar jatuh tersungkur. Namun tindakannya di gagalkan oleh orang yang sejak tadi menatap ketiganya dengan kepala yang penuh akan rencana.


"Jangan berani coba - coba menyakiti istriku!" bisiknya yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua saja. Posisi keduanya saling berdekatan dan sepertinya bisa nenimpulkan kesalah pahaman nantinya.


"Sekali saja tanganmu itu berani menyetuh tubuh istriku, maka siap - siap kau terima akibatnya." Venson memberikan senyum misterius pada Mertha yang mulai bergetar dibuatnya.


Namun sayangnya posisi keduanya disalah artikan oleh Jasmine dan Shifah. Mereka pikir kalau keduanya sengaja memamerkan kedekatan keduanya di depannya. Sorot mata Jasmine terlihat sendu. Dirinya tadi sempat berpikir kalau suaminya mulai merindukannya, namun sayangnya itu hanya angannya saja.


"Kakak lihat sendiri, kan?" Ucapan itu menarik perhatian orang untuk menatapnya, tak terkecuali Venson dan Mertha. "Bahkan mereka tidak malu untuk berdekatan di depan umum. Memang mereka tidak tahu ma---"


Jasmine menarik tangan Shifah agar tidak meneruskan ucapannya itu. Baru saja akan melayangkan protes, Shifah sudah disuguhi tatapan sendu dari kakaknya ini. Dirinya paling tak bisa melihat para kakaknya menatapnya seperti itu, maka Shifah hanya bisa menghela napas kasar.


Melihat Shifah yang mulai tenang, membuat Jasmine mengulas senyum lembut. Dirinya tentu saja berterimakasih pada adik sahabatnya ini, karena sudah membantu membelanya di depan suaminya itu. Tapi Jasmine juga tak membenarkan sikap Shifah yang berkata kurang sopan pada orang yang lebih tua.


"Sebaiknya kita pulang saja, ya. Kakak sudah nggak mood belanjanya." Shifah tak menolak apa yanh Jasmine katakan. Mereka mulai berlalu dari sana meninggalkan kerumunan yang perlahan mulai menghilang. Sebelum benar - benar pergi, masih sempatnya Shifah memberikan tatapan tajam pada Mertha yang tentu saja membuat dongkol hati Mertha.


"Dah Dah, nenek lampir! Ku harap kita tak pernah ketemu lagi!" ejeknya sambil berlalu pergi. Bahkan Shifah masih sempat kena cubit Jasmine lantarakan kalimat yang dia ucapkan itu. Bukannya marah, Shifah malah tertawa seolah kejadian tadi bukan apa - apa baginya.


[ ^ \= ^ ]


Semoga nggak ada yg kesal atas tindakan Shifah, ya...

__ADS_1


__ADS_2