
...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...
Segala kemewahan yang diberikan, ternyata tak selamanya kesenangan bagi penerimanya. Buktinya Cessie merasa akan lebih senang kalau dirinya tak terjebak dalam pesta yang memuakan ini. Dirinya kembali dipaksa melakukan hal yang tak dia senangi.
Buktinya sekarang ini dia sudah di garet mendekati panggung dimana kue ulangtahun raksasanya berada. Terlebih setelah dirinya ditarik paksa untuk berkenalan dengan para kolega orangtuanya itu.
"Baiklah. Pertama, kami ingin mengucapkan terimakasih atas waktu Anda sekalian yang sudah hadir disini." Sambutan dari pak Cakra selaku ayahnya Cessie.
"Selain untuk merayakan ulangtahun ke-25 putri saya ini. Kami selaku tuan rumah juga ada pengumuman penting yang akan kami sampaikan ke kalian semua." ucapnya lagi yang kali ini sambari menatap kearah istrinya dengan mengembangkan senyuman.
Cessie yang menangkap arti senyuman itu di buat mendengus pelan. Untung saja dia bisa dengan cepat merubah mimik wajahnya. Setelah acara tiup lilin dan potong kue berlangsung kini tibalah diacara puncak.
Semua orang mulai bertanya - tanya akan apa yang tengah keluarga Ardhinata ini. Sayangnya rencana yang telah di persiapkan secara epic, mengalami sedikit masalah.
Lampu secara mendadak mati, menimbulkan sedikit kehebohan dari para tamu. Bahkan Cakra dan Sonya tak mengatur adanya acara memadamkan lampu seperti ini.
Tak lama, satu lampu menyorot kearah layar putih yang berada di samping panggung. Ternyata di layar itu mulai menampilkan beberapa cuplikan video yang mampu membuat orang - orang tercengang.
Semua mata fokus pada layar tersebut, apalagi tak hanya visualnya saja yang ditampilkan melainkan dengan audionya juga. Setelah video selesai, lampu kembali menyala seperti sebelumnya. Dan kini semua mata tertuju pada satu objek.
Mulai terdengar cibiran yang dilontarkan secara terang - terangan. Bahkan sang pemilik acara juga ikut menatap objek tersebut. Merasa dirinya ditatap oleh semua orang, membuatnya bdrtambah panik.
"Itu tidak seperti yang kalian pikirkan. Semua itu rekayasa. Itu palsu! Siapa yang berani - beraninya menfitnahku seperti ini!" sentaknya yang tak terima kalau semua rencana yang sudah dia susun secada matang, malah terbongkar sia - sia begini.
Tatapan menghakimi hadir di mata para istri yang hadir di pesta ini. Semua istri mulai melontarkan kalimat yang menusuk hati. "Tahu darimana kalau itu palsu? Padahal sudab jelas itu adalah dirimu!" ujar salah satu istri yang memiliki kedudukan cukup tinggi dalam status sosial di negeri ini.
__ADS_1
Kecaman bernada sindiran itu kembali terlontar, saat melihatnya tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Wanita yang menjadi objek sindiran itupun menoleh kearah kanannya.
"Mas Venson ini semua tak benar. Pasti ada orang yang sengaja menjebakku!" ucapnya dengan cukup lantang, agar semuanya mendengar apa yang dia ucapkan.
Bila ditanya siapa orang di samping Venson, tentu saja si Mertha. Memang Venson diundang hadir di pesta keluarga Ardhinata ini. Dan dia sengaja mengajak Mertha untuk menghadiri pesta ini. Tentu saja ada alasan di balik semua ini.
Dan inilah alasan kenapa sampai Venson mengajak Mertha kemari. Mertha sendiri awalnya begitu senang diajak pergi ke pesta oleh Venson, sebab jarang - jarang bahkan mendekati kata tak pernah Venson berinisiatif untuk mengajaknya pergi duluan.
Namun sepertinya sekarang dia menyasal karena telah diajak pergi kesini. Terlebih dia hanya jadi bahan caci maki para wanita kelas atas ini. Dirinya tak bisa bertindak gegabah dengan mendebat para istri miliarder ini.
"Semua ini palsu, video tadi pasti dibuat untuk menjatuhkanku. Aku yakin dialah pelakunya." tunjuknya kearah Jasmine yang berada beberapa meter darinya.
Sontak hal itu membuat banyak pasang mata menatap kearah yang di tunjuk oleh Mertha. Tak lain tak bukan mengarah kepada Jasmine. Pernikahan yang terjadi diantara Venson dan Jasmine memang bukan lagi rahasia umum.
Sebab acara pernikahan mereka di hadiri oleh banyak orang kalangan atas. Bahkan saat tadi Venson datang bersama Mertha, sudah membuat tanda tanya besar di kepala banyak orang. Banyak yang menduga kalau hubungan pernikahan mereka sedang tidak baik - baik saja.
Padahal seingatnya dia sama sekali tak pernah mengirimkan hasil rekaman itu kepada siapapun. Dia bahkan hanya menunjukkannya saja pada Shifah, Wilson dan Cessie. Satu yang ada di pikiran Jasmine saat ini, kalau salah satu dari ketiganya adalah dalang dibalik cuplikan tadi.
"Janga asal menuduh orang! Kalau sudah ketahuan, jangan mencoba mencari kambing hitam!" sentakan itu berasal dari mulut Aura yang merasa tak terima atas tuduhan Mertha pada mamanya itu.
Jasmine menatap tak percaya akan tindakan pembelaan yang dilakukan oleh Aura kepadanya. Perasaannya jadi campur aduk, antara kaget dan tak percaya. Tapi lebih dominan ke rasa haru.
Mertha yang mendengar ucapan itu semakin dibuat tak tenang. Disatu sisi dia sama sekali tak mempunyai dukungan disini. Kalau saja keponakannya itu ada disini, pasti setidaknya dia bisa membalas ucapan itu.
"Ternyata selama ini, kau dan Yoela yang menjadi dalangnya. Sungguh permainan yang begitu sempurna. Bahkan aku hampir terjebak dalam rencana yang kalian buat itu."
__ADS_1
Kalau ditanya bagaiamana perasaan Aura saat ini. Tentu saja dia sakit hati, marah dan kecewa. Marah pada dirinya sendiri yang gampang percaya pada omongan Yoela. Dan kecewa karena orang yang telah dia anggap sebagai sahabatnya, tega memghianati kepercayaannya.
"Ini semua itu rekayasa yang sengaja dia buat untuk menjebakku. Kalian harus percaya kepadaku. Ini semua adalah tipuannya karena suaminya lebih memilihku!"
Jasmine menggeleng pelan. "Bahkan aku tak tahu apapun mengenai video itu." ucapnya tegas karena yang tak ingin dianggap remeh oleh Mertha. Semua orang terus menyaksikan perdebatan itu yang seakan tak ada habisnya.
"Bohong! Kau pasti dendam padaku karena Mas Venson datang kesini bersamaku dan bukan denganmu."
Apa yang Mertha ucapkan tentu saja mengiring opini publik bahwa ucapan itu bisa saja memang benar. Jasmine sedikit menatap kearah suaminya yang semenjak tadi belum buka suara. Jasmine memang tak membutuhkan belaan dari sang suami. Namun tetap saja, dia ingin agar suaminya itu percaya kepadanya.
Venson menatap kearah istrinya yang saat ini juga tengah menatap kearahnya. Bisa dia lihat tatapan dalam yang istrinya berikan kepadanya. Mertha mengikuti arah tatapan Venson yang saat ini tertuju pada Jasmine.
Tanpa sadar, Mertha mengepalkan kedua telapak tangannya itu. Rasa marah menguasi hati Mertha saat ini. Mecoba mencari cara agar fokus Venson bisa teralihkan kepadanya. Dengan lancang, dirinya menarik paksa lengan Venson untuk dia genggam.
Aksi yang di lakukan oleh Mertha tentu saja membuat publik kembali bertanya - tanya akan hubungan keduanya. "Benar kan, Mas. Kau lebih memilihku dari pada istrimu itu?"
Venson menatap tajam Mertha yang berani mengenggam lengannya tanpa seizinnya. Sentakan yang Venson lakukan membuat lengannya terbebas dari tangan Mertha. "Jangan melebihi batasmu. Seharusnya kau bisa tahu dimana posisimu berada saat ini."
Penekanan pada setiap kata yang Venson ucapkan, membuat suasana kembali tegang. "Mustahil aku lebih memilihmu dibandingkan istriku yang paling aku cintai."
Kalimat itu telak menghunus hati Mertha akan pengakuan Venson tentang hubungan yang tak akan pernah ada diantara Venson dan Mertha sendiri. "Sudahi drama yang kau buat dan nikmatilah hadiah yang sudah aku janjikan sebelumnya."
Begitu ucapan itu selesai, terlihat 3 polisi muncul dan mengangkap Mertha yang masih blank akan situasi yang terjadi. "Anda kami tangkap atas laporan pembunuhan berencana dan pengeroyokan yang mana korbannya adalah Nyonya Jasmine. Bawa dia!"
Mertha yang mulai sadar situasinya oun langsung memberontak. "Pak, saya tidak bersalah. Disini saya lah korbannya, Pak. Bapak nggak bisa menangkap saya begitu saja. Mas Venson tolongin aku, Mas!"
__ADS_1
Mertha terus memberontak sambil mrminta pertolongan pada Venson yang tak mengubris ucapan Mertha itu. Lagipula dia pantas menerima hadiah ini, atas apa yang telah dia lakukan pada keluargannya.
° { < ¥ > } °