
...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...
Jasmine menatap tak percaya pada apa yang telah suaminya ucapkan itu. Bisa - biasanya suaminya itu menuduhnya seperti itu. Hati istri mana yang tak akan sakit saat dituduh berselingkuh secara tidak langsung. Sama halnya dengan Jasmine, tentu saja Jasmine sakit hati.
"Jelas saja ini adalah anakmu, Mas! Aku bahkan sama sekali tidak pernah melakukannya dengan pria lain." tekannya pada dua kata terakhir itu.
Venson menatap Jasmine dengan pandangan menilai. Tentu saja Venson bisa berspekulasi seperti itu lantaran bukti foto yang di terimanya, membuatnya bisa menyimpulkan kalau Jasmine telah berselingkuh darinya.
"Kau yakin?" Jasmine mengangguk cepat. Dirinya masih tak habis pikir, Kalau suaminya masih saja mempertanyakan hal yang sudah pasti. Lagipula Jasmine bukan orang bodoh yang mau menyiayiangkan suami seperti Venson. Sudah baik, pengertian, royal, tampan bahkan sangat mapan.
Venson mengambil beberapa lembar foto yang terletak di atas meja. "Lalu kau bisa jelaskan tentang foto di tanganku ini?" Jasmine mengamati foto itu, matanya membulat melihat potret dirinya dan sosok lelaki yang sangat dia kenal tercetak di foto itu. Walaupun foto itu tak menampilkan secara jelas, namun wajah Jasmine masih bisa dilihat.
"Itu," ucapan Jasmine terhenti begitu sadar akan sesuatu. "Darimana Mas dapatkan foto itu?" Venson tersenyum miring sambil menatap Jasmine yang nampak mengernyit bingung itu. "Apa itu penting? Bukankah yang terpenting adalah penjelasanmu tentang foto ini."
Venson bahkan melempar foto - foto itu kearah Jasmine. Foto - foto itu jatuh ke lantai setelah mengenai wajah dan badan Jasmine. Bahkan Jasmine sampai memejamkan mata begitu merasakan lemparan foto itu. Walaupun tidak sakit, namun Jasmine hanya merasa tak percaya dengan tindakan Venson barusan.
Jasmine menunduk untuk mengamati foto - foto itu. Tatapannya jatuh pada satu lembar foto yang menunjukan dirinya dan sosok pria masuk kedalam kamar yang sama. Diambilnya foto itu, sejenak dia mengamati foto itu. Lebih tepatnya mengamati angel dari foto itu diambil. Jasmine yakin ada orang yang mengawasinya saat di bar kemarin.
Jasmine mendongak menatap kearah Venson. "Ini memang aku, Mas." akuinya yang membuat ekspresi Venson sedikit berubah. Begitupun dengan wanita disampingnya itu. "Jadi kau mengaku kalau kau sudah berselingkuh dariku." Jasmine menggeleng cepat.
"Ini bukan seperti yang Mas pikirkan." terangnya berusaha membuat Venson tak semakin salah paham. "Lalu?" Jasmine mengambil napas panjang sebelum menjelaskannya. "Itu memang aku dan Naki. Dia adalah sahabatku dan Cessie. Kami memang ketempat ini, tapi bukan untuk berselingkuh. Kami kesana untuk menyelamatkan Aura saat kejadian di bar terjadi. Kamar yang kami masuki itu adalah kamar dimana Aura hampir dilecehkan. Mas harus percaya padaku."
Tak ada respon berarti dari Venson membuat Jasmine mengigit bibirnya gelisah. Dirinya takut kalau Venson sama sekali tak percaya akan penjelasannya. Apalagi yang harus dia buktikan pada Venson, kalau dia masih belum mau percaya padanya.
"Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Lalu kalau memang apa yang kau bilang barusan itu benar, kenapa kau tidak langsung memberitahu soal kehamilanmu itu?" Venson tak habis pikir pada Jasmine yang tega menyembunyikan kabar kehamilannya itu.
Padahal kalau Jasmine dulu memgatakannya secara langsung, mungkin saja dia bisa mempercayai ucapannya. Tapi, kalau sudah seperti ini apa Venson harus mudah percaya pada istrinya, setelah banyaknya kebohongan yang Jasmine katakan padanya.
"Mas bila tanyakan pada Aura, kalau memang belum percaya akan ucapanku barusan. Apa Mas perlu ngomong secara langsung dengan Naki untuk memperjelas semuanya. Baik, akan aku telpo-"
__ADS_1
"Tidak perlu. Untuk apa aku bicara dengan selingkuhan istri ku sendiri!" Jasmine berusaha menahan gejolak emosinya. Perasaan sakit, kecewa, marah tengah Jasmine rasakan. Suaminya sendiri tak mempercayai ucapannya. Lalu siapa yang akan percaya, kalau orang terdekatnya saja tak mau percaya kepadanya.
Venson masih memperhatikan Jasmine yang kini terdiam sambil menatapnya. Bisa Venson lihat, ada kesedihan dan kekecewaan dari balik mata Jasmine. Namun sayangnya dia tak akan mudah luluh begitu saja. Kalau boleh jujur, hati Venson sama sakitnya dengan apa yang Jasmine rasakan.
Namun dirinya tak mau menunjukan hal itu. Lebih baik seperti ini, biarkan keduanya menanggung rasa sakit yang sama. "Baiklah, kalau Mas masih tak percaya padaku itu terserah Mas. Tapi yang jelas aku sudah berkata sejujur - jujurnya."
Jasmine melepaskan foto yang tadi ada di tangannya begitu saja. Dan foto itu jatuh tepat di depan sepatu Venson. "Ku harap mas tidak akan menyesali karena sudah menuduhku berselingkuh." Jasmine menghela napas panjang dan menormalkan ekspresinya.
Ekspresi Jasmine berubah datar saat matanya menatap kearah si wanita yang kini tersenyum miring ke arahnya. "Setidaknya aku tidak pernah membawa pria lain masuk kedalam rumah ini. Bukan sepertimu, Mas yang secara terang - terang membawa wanita pelakor itu kesini. Kalianlah yang lebih pantas di sebut berselingkuh." sindirnya secara lansung.
Wanita tadi merasa tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh Jasmine. "Hei, jaga mulutmu!" Jasmine sama sekali tak menggubris si wanita itu. "Kalau bukan pelakor, lalu kau sebut apa dirimu itu?" Wanita tadi semakin meradang mendengar ucapan Jasmine yang seolah menilai remeh dirinya.
"Apakah telingamu itu bermasalah, bukannya tadi Mas Venson sudah bilang kalau aku ini adalah tamunya." sindirnya sehalus mungkin. Wanita itu tak ingin Venson merasa ilfeel dengannya. Padahal dia sudah susah - susah mendekati Venson kembali.
"Mana ada tamu penampilannya seperti jal@*g begini. Kau lebih pantas berada di pesta bikini saat ini." Hormon ibu hamil begini banget, ya. Jasmine yang selalu menjaga tutur katanya, bisa mengeluarkan kalimat pedas dari mulutnya. Bahkan Venson agak speechless dengan perkataan Jasmine barusan.
"Beraninya kau menyebutku jal@*g. Kau itu yang jal@*g nya, sudah ketahuan selingkuh tapi tak mau mengaku. Aku sampai tak habis pikir, bisa - bisanya kau berselingkuh dari Venson yang sangat sempurna ini. Sungguh nasib Venson begitu buruk, mendapatkan istri tak tahu malu sepertimu" ujarnya tak kalah pedas.
Jasmine tak mau dia anggap lemah dihadapan Venson maupun wanita ini. Walaupun faktanya dia memang merasa hancur, namun setidaknya dia tak akan menangis dihadapan suaminya dan wanita yang tak jelas asal usulnya itu. Bahkan Jasmine tak tahu siapa nama si wanita itu. Toh, Jasmine tak peduli siapa wanita itu. Kalaupun dia memang selingkuhan Venson, Jasmine tak akan peduli.
Untuk apa Jasmine menaruh harapan besar pada orang yang jelas - jelas tak mau mempercayainya. Jasmine juga lelah dengan segala masalah yang dia hadapi ini. Jangan kira Jasmine sekuat itu, tetap akan kuat meski diserang berbagai masalah yang bertubi seperti ini.
Dia juga hanya manusia biasa yang bisa merasakan sakit. Jasmine tak sekuat itu untuk tetap bertahan. Rumah ini bukan lagi tujuannya untuk pulang. Tak ada alasan dirinya harus bertahan di dalam rumah, yang para penghuninya bahkan masih tak mempercayainya.
"Beraninya kau bicara seperti itu padaku." Tanpa aba - aba, wanita mendorong Jasmine. Jasmine sendiri reflek menutup matanya, dia sudah mempersiapkan diri bila harus merasakan sakit. Tapi ternyata ada yang menahan tubuhnya. Venson sendiri hampir jantungan melihat Jasmine yang hampir jatuh.
Untungnya ada yang menolong Jasmine. Jasmine menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang menahan tubuhnya itu. Dan apa yang dia lihat membuat Jasmine cukup kaget dan tidak menyangka.
"Aura," ucapnya yang masih tak percaya kalau Aura lah yang menahan tubuhnya. Aura memposisikan tubuh Jasmine seperti sebelumnya. Ada sorot terkejut yang Aura tangkap dari raut wajah Jasmine begitu melihatnya. Dan entah kenapa Aura jadi gugup sendiri.
__ADS_1
Aura tak berani menatap lama pada mata Jasmine. Ada banyak rasa bersalah di hati Aura untuk Jasmine. Bahkan kebenaran yang belum bisa dia ceritakan, membuat rasa bersalah itu semakin menguat. Aura masih mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan itu semua.
Tapi tanpa sadar, kediaman Aura malah semakin memperparah hubungan antara Jasmine dengan Venson, ayahnya. Sudah sejak tadi, Aura mendengar pembicaraan mereka. Bahkan Aura terkejut mendengar Jasmine hamil. Kalau benar apa yang Jasmine katakan, maka Aura akan mendapat adik baru. Aura sama sekali tidak memikirkan akan memiliki adik selain Wilson.
Kalau ditanya bagaimana perasaan Aura saat mendengar kabar itu. Aura merasakan perasaan senang hinggap di hatinya. Sudah lama dia mendambakan seorang adik, terlebih lagi adalah adik perempuan. Tapi dulu, Wilsonlah yang lahir. Bahkan Aura kecil selalu meminta adik perempuan pada ibunya. Namun, tuhan berkehendak lain. Jangankan seorang adik, dirinya malah harus kehilangan sang ibu di usianya yang masih belia.
Aura menatap perut Jasmine yang memang sedikit membuncit. Tiba - tiba matanya memanas, rasanya Aura ingin menangis saat ini. Kalau ditanya alasannya, Aura juga tidak tahu. Apakah senang akan mendapat adik baru, atau merasa bersalah karena tidak berani jujur pada ayahnya.
"Terimakasih," ucap Jasmine tulus pada Aura karena telah menolongnya. Kalau tidak ada Aura, Jasmine tidak yakin bayinya akan baik - baik saja. Bukankah seorang ibu hamil jangan sampai terjatuh, karena itu sangat berbahaya bagi kondisi janin yang di kandungnya.
Aura terpaku begitu mendengar ucapan terimakasih itu. Untuk apa Jasmine berterimakasih padanya, padahal kalau Jasmine mau. Dia bisa memaki Aura sepuasnya, Aura juga tak akan marah sebab dia memang pantas mendapatkannya dari ibu sambungnya itu.
Arah tatapan Jasmine kembali bergulir pada Venson yang masih di posisinya itu. Jasmine tak bisa membaca ekspresi Venson saat ini. "Aku pamit." ujar Jasmine sambil tersenyum tipis. Dia merasa sudah tak ada alasan untuk tetap tinggal apalagi untuk bertahan.
Kini Jasmine mulai melangkah menjauh dari hadapan ketiga orang ini. Ketiganya menatapnya Jasmine dengan pandangan yang berbeda. Aura menatap bersalah pada Jasmine yang lebih memilih untuk pergi dari rumah ini. Sedangkan si wanita yang bernama Mertha itu menatap puas kearah kepergian Jasmine yang akan mempermudah jalannya untuk mendekati Venson.
Lain lagi dengan Venson yang menatap penuh makna pada istrinya yang sudah tak terlihat lagi olehnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Ada sedikit rasa bersalah yang tersorot dari kedua matanya. Dan sedetik kemudian, tatapannya berubah menjadi rumit.
Sejenak Jasmine menghentikan langkahnya begitu sampai di halaman rumah. Dia berbalik badan untuk melihat lagi rumah yang pernah dia huni ini. Rumah yang bahkan belum genap setahun dihuninya, namun memberi banyak kesan di hidup Jasmine. Tatapannya memyendu, "Ku harap kalian bahagia tanpaku." gumamnya pelan, kemudian Jasmine berbalik untuk melangkah keluar dari area rumah ini.
Namanya pilihan akan selalu berat, apapun pilihannya itu. Memilih satu diantara banyaknya pilihan, tak selalu berakhir baik. Dan Jasmine lebih milih untuk pergi, sebab alasanya untuk tinggal sudah tak ada lagi. Setidaknya luka yang dia rasa, akan mengurang setiap waktunya.
...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...
...Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa kasih 💜 ya😊....
...Akan ada alasan dibalik ekspresi Venson di detik - detik terakhir sebelum Jasmine keluar dari rumah. Jangan ditunggu, aku nggak mau dibilang phpin anak orang😄....
...Tolong minta next up - nya bisa di pending dulu, ya. Ini kan mau tahun baru, tentu kalian pasti juga sibuk. Begitupun dengan aku....
__ADS_1
...So, sampai bertemu di tahun 2022🙋🙌* :-) *....