Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Datang Bertemu


__ADS_3

...( * * * )...


Suasana agak sedikit canggung dirasakan oleh kedua orang diantara keempat orang yang ada di ruang santai. Terlebih lagi sang nyonya rumah yang merasa seperti tertangkap basah melalukan hal tak sepantasnya dilihat oleh orang banyak. Walaupun apa yang dia lakukan bukanlah perbuatan yang aneh dilakukan oleh sepasang suami istri.


"Jadi ada keperluan apa hingga kau datang kemari, Drian?" Venson menatap sang sekretarisnya yang datang berkunjung kerumahnya. Padahal biasanya kalau Drian akan berkunjung pasti lebih dulu mengabarinya. Tapi kali ini dia sama sekali tak mengabari sama sekali kalau akan kemari.


Drian yang duduk di sebelah Jackson pun mulai menjelaskan kedatangnya kesini. "Maaf sebelumnya, Pak. Tapi saya sejak kemarin sudah mengabari Bapak kalau ada beberapa berkas penting yang harus segera di tanda tangani. Namun Bapak sama sekali tidak bisa di hubungi, makanya saya kemari untuk minta tanda tangan Anda, Pak."


Venson mengangguk atas penjelasan sekretarisnya itu. "Baiklah, kita bahas di ruang kerja saja." Kali ini Drian yang mengangguk. Pandangan Venson tertuju pada istrinya yang berada di sampingnya. "Mas ada perlu sebentar sama Drian. Nggak apa - apa kan kalau Mas tinggal?"


Jasmine mengiyakan ucapan suaminya dan kini tinggallah Jasmine bersama Jackson yang berada di depannya. Sebenarnya kalau dibilang hubungan Jasmine dengan Jackson sudah cukup dekat. Tapi ada beberapa moment dimana Jackson merasa sedikit canggung dengan Jasmine, lantaran jarak usia keduanya tak begitu jauh.


"Aku kira kau masing bersama teman - temanmu, Jack." Jasmine memulai pembicaraan begitu sepeninggalan Venson dan Drian tadi.


Jackson menatap kearah ibu sambungnya yang barusan melontarkan pertanyaan kepada itu. "Sebenarnya aku pulang hanya ingin mengambil laptop buat ngerjain tugas." Jasmine hanya ber'Oh' ria.


"Nanti malam kau ingin menginap dirumah temanmu atau pulang kerumah?" Sejenak Jackson berpikir sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya itu. "Paling aku menginap lagi. Soalnya deadline tugasnya juga harus di kumpulkan lusa."


Keduanya kembali mengobrol kecil sesekali diiringi dengan tawa. Hingga pertanyaan dari Jackson membuat Jasmine menatapnya lama. "Ma, boleh nggak kalau aku pegang perut mama?" tanyanya dengan mengalihkan pandangannya dari Jasmine.


Sebenarnya Jackson hanya ingin merasakan kehadiran calon adiknya. Terakhir kali dia mengelus perut ibu hamil adalah waktu ibunya mengandung si Wilson. Dan itu sudah 15 tahun yang lalu. Jackson sendiri memang senang memegang dan mengelus perut ibunya ketika tengah mengandung adik - adiknya.


Bahkan hal itu bisa dia lakukan hampir setiap hari di tiap kehamilan ibunya dulu. Mungkin karena saat itu Jackson masih kecil dan merasa senang akan keberadaan sang adik di perut ibunya. Makanya hal itu menjadi kegiatan favorit selama ibunya mengandung Aura dan Wilson.


Sejenak Jasmine berpikir untuk menyetujuinya atau tidak. Lagian kan hubungan mereka sudah membaik dan mereka ini juga adalah keluarga. Walaupun status Jasmine adalah ibu sambung dari Jackson, Aura dan Wilson.


"Baiklah, kau boleh memegang perut mama." Mendengar apa yang mamanya itu katakan, membuat Jackson tersenyum. Dirinya menatap binar pada perut Jasmine yang sudah membuncit. Jackson berjalan mendekat kearah Jasmine. Namun dirinya tak duduk di sampingnya, melainkan dibawahnya.


"Aku pegang ya, Ma." izinnya yang mendapat anggukan dari Jasmine. Dengan pelan Jackson mulai memegang perut Jasmine dari luar kaos yang dikenakan oleh Jasmine.


Jackson hanya memegangnya saja tanpa melakukan hal lain. Dia mencoba merasakan keberadaan sang adik yang masih berada di kandungan Jasmine. "Adik sehat - sehat ya didalam sini. Kakak pasti nungguin adik lahir." ucapnya yang menatap perut Jasmine.


"Oke, kak. Kakak juga sehat - sahat ya. Jangan sampai sakit." sahut Jasmine dengan suara yang dia buat seperti anak kecil. Jackson sedikit mendongak menatap mamanya itu dan memberikan senyum lembut.


Baru saja Jackson ingin menarik tangannya dari perut Jasmine. Namun lebih dulu ditarik oleh ayahnya yang kini memberikan tatapan cukup tajam kepadanya. "Ngapain pegang - pegang perut istri ayah?"


Jackson sedikit mendengus dengan respon ayahnya yang masih saja posesif terhadap Jasmine. Padahal kan Jackson ini statusnya adalah anaknya yang otomatis juga anaknya Jasmine. "Tapi dia kan mamaku." balas Jackson sambil tersenyum menyebalkan menurut Venson.


"Tapi tetap saja dia ini adalah istriku. Jadi jangan pegang - pegang sembarangan." Jackson hanya memutar bola matanya malas dengan apa yang ayahnya itu katakan. Lagipula Jackson hanya ingin menyapa sang adik yang masih di dalam perut Jasmine.


Tapi kenapa respon ayahnya terlalu berlebihan menurutnya. "Iya, ya ya. That I know." balasnya malas menanggapi tingkah posesif ayahnya itu. Bahkan Venson tak segan untuk memeluk Jasmine di depan putra pertamanya itu.

__ADS_1


Jackson berdiri dari posisi dan melangkah pergi mengabaikan panggilan sang ayah yang masih mendebatkan hal tadi. "Sudahlah Mas. Kau juga ngapain bersikap kayak gitu sama anak sendiri. Lagian kan Jackson hanya megang perut aku, itupun sebentar kok."


Terkadang Jasmine juga agak lelah dengan sikap posesif suaminya yany kadang tak kenal tempat dan waktu. Bahkan Jasmine sampai hapal atas alasan apa sikap posesif itu muncul. Apalagi kalau bukan cemburu.


"Tapi aku kan cemburu, Dek."


Nah kan, betul apa Jasmine ucapka. tadi.


( * * * )


Sudah seminggu berlalu dengan cepat. Kini Jasmine tengah berada di dapur untuk membuat jus buah. Saat dirinya sedang mencari buah - buahan di dalam kulkas, dirinya merasakan sebuah pelukan di pinggangnya. Sontak saja itu membuatnya agak tersentak.


"Mama, aku pulang." ujarnya sembari tersenyum menatap kearah Jasmine yang kini mulai membalikan badan menghadapnya. Senyum di bibir Jasmine begitu melihat siapa yang ada di hadapannya itu.


"Selamat datang, sayangnya mama." Keduanya saling berpelukan sebagai tanda pelepasan rindu, karena sudah seminggu mereka tak bertemu secara langsung. "Aura kangen banget sama mama." ucapnya di sela pelukan mereka.


"Mama juga kangen sama kamu. Gimana liburannya menyenangkan?" tanyanya yang membuat Aura sedikit melonggarkan pelukannya. "Seru sih, tapi ada yang kurang." ujarnya dengan raut sedikit masam.


Jasmine menatap anaknya itu bingung. Terlebih lagi dari ekspresi Aura yang dengan cepat berubah. "Memangnya apa yang kurang?" Jelas saja tak mungkin Aura kekurangan uang, kan?


Aura menatap mamanya itu dengan bibir mengerucut. "Kurang lengkap, karena mama, ayah, kakak dan adik nggak ikutan. Jadi rasanya agak berbeda."


Ekspresi Aura seketika berubah cerah begitu mendengar apa yang telah di ucapkan oleh Jasmine. "Makasih Mama. Aku sayang mama." ujarnya lagi sambil memeluk tubuh Jasmine.


Rasa hangat telah dirasakan oleh Jasmine begitu mendengar ungkapan rasa sayang dari anaknya ini. Jelas saja dia bahagia, sebab moment seperti inilah yang ingin dia rasakan sejak lama. Dimana dirinya bisa diterima secara baik oleh semua penghuni rumah.


"Mama juga kangen sama kamu."


( * * * )


Sebuah mobil mulai mengurangi laju kendarannya begitu tiba di sebuah tempat yang cukup sepi. Pada akhirnya mobil itu berhenti di sisi jalan yang memang digunakan sebagai parkiran. Setelah itu pemilik mobil mulai turun dari dalam mobil, sebab tujuan mereka sudah ada di depan mata.


Kelima orang itu mulai berjalan dengan posisi saling berdampingan. Dua perempuan saling berangkulan sedangkan ketiga laki - laki itu hanya berjalan biasa. Beberapa puluh meter sudah mereka lewati, kini kelimanya sudah berada di depan sebuah makam yang bertuliskan nama Larrisa Maudya Klein.


Nama yang tentu saja di kenal betul oleh keempat dari kelima orang yang ada disana. Kelimanya mulai mengelilingi makam itu sambil memposisikan diri dengan berjongkok.


"Ibu apa kabar disana? Aura kangen banget sama ibu. Sudah lama Aura nggak datang kesini nengokin ibu. Aura harap Ibu nggak marah sama Aura."


Kelima orang tadi tak lain adalah Venson, Jasmine, Jackson, Aura dan Wilson. Mereka berlima sedang berada dimakam ibunya dan istri Venson sebelum Jasmine. Dan ini kali pertama Jasmine pergi kemakam istri suaminya dan ibu dari anak - anaknya ini.


Kali ini giliran Jackson yang membuka suara. "Sama kayak Aura tadi, Ma. Aku juga kangen banget sama ibu. Maaf karena beberapa waktu belakangan, Jackson belum sempat kesini nengokin ibu." ucapnya dengan menundukan wajahnya.

__ADS_1


Bisa dibilang, kalau Jackson memang lebih sering kesini daripada adik - adiknya. Sesekali Jackson akan membawa kedua adiknya kesini agar keduanya selalu mengingat akan ibu mereka.


Wilson menatap lama kearah foto di depan nisan ibunya. Bila di bandingkan dengan kedua kakaknya, jelas saja moment kebersamaanya bersama ibunya lebih sedikit. Sebab dia kehilangan sang ibu sejak dia berusia 6 tahun. Usia dimana dirinya masih terlalu kecil untuk memahami keadaan yang sebenarnya terjadi.


"Ma, ini adik. Adik juga kangen banget sama mama. Kenapa mama ninggalin adik saat adik bahkan nggak bisa mengingat dengan jelas kebersamaan kita." gumam Wilson yang tentunya masih di dengar oleh keluarganya itu.


Hati mereka jelas merasa sakit atas apa yang Wilson gumamkan tadi. Dan Jasmine juga tahu seperti apa rasanya ditinggalkan oleh oranb terkasih saat diusia masih anak - anak. Tatapan Jasmine sedikit menyendu saat menatap kearah Wilson.


"Tapi sekarang rasa kangen adik buat mama bisa terobati dengan kehadiran mama Jasmine di hidup adik. Mama Jasmine adalah orang yang baik dan penuh perhatian. Adik merasa nyaman saat berada di dekat mama Jasmine. Sama seperti ketika adik dekat dengan mama waktu dulu."


"Adik harap mama bahagia selalu diatas sana. Dan mama jangan khawatir lagi soal kami disini. Pokoknya mama bahagia terus ya disana, karena disini adik dan keluarga juga sudah bahagia." lanjutnya dengan senyum di bibirnya. Tatapan Wilson masij tertuju pada figur foto mendiang ibunya yang terlihat tersenyum lebar di foto itu.


"Mbak, ini aku Jasmine. Mungkin ini kali pertama aku datang berkunjung kesini. Aku berharap semoga mbak bahagia selalu diatas sana. Aku secara pribadi ingin meminta izin untuk masuk didalam keluarga Mbak sebagai istrinya mas Venson sekaligus ibu untuk anak - anak."


Jasmine tampak mengulas pelan nisan tersebut setelah meminta restu pada mendiang istrinya Venson. Dan disini Jasmine tidak berniat untuk mengantikan ataupun merubah status Larrisa sebagai ibu dan istri dari Venson. Jasmine juga meminta agar suami dan anak - anaknya tidak melupakan kenangan mereka bersama Larrisa.


Venson menatap lembut kearah foto mendiang istrinya. Dirinya tak mengatakan apa yang ingin sampaikan terhadap Larrisa secara lisan. Dirinya hanya berbicara lewat batinnya sambil sesekali memeluk bahu kedua putranya itu.


Setelah selesai menaburkan bunga dan mengirimkan doa untuk Larrisa, kini kelimanya mulai beranjak dari posisi jongkok mereka. "Kali pulang dulu, Ma." pamit Wilson yang seakan mewakili mereka.


Para lelaki memimpin jalan lebih dulu, sedangkan Aura dan Jasmine menyusul di Belakang mereka. Jasmine sedikit menoleh kebelakang saat merasakan dirinya tengah di tatap oleh seseorang. Tak jauh dari makam Larrisa tadi, ada seorang wanita memakai baju putih tersenyum lembut kearahnya.


Sejenak Jasmine terpaku melihat wajah wanita itu. Senyum lembut yang wanita itu torehkan menjadi pemandangan pertama yang Jasmine lihat. Dari gerakan bibir yang sempat Jasmine tangkap, wanita itu mengatakan sesuatu...


...Aku titip mereka padamu. Tolong jaga dan sayangi mereka sepenuh hatimu. Terima kasih, Jasmine....


Baru akan merespon ucapan itu, tapi suara Aura lebih dulu terdengar memanggilnya. Hal itu tentu saja membuyarkan fokus Jasmine. Jasmine kembali menatap sosok yang sudah tidak lagi berada disana.


Tatapan Jasmine tertuju pada foto yang ada di depan nisan Larrisa. Wajah yang dia lihat sekarang adalah wajah yang sama seperti yang dia lihat tadi. Tatapan mata Jasmine melembut, "Aku pasti akan menjaga dan menyanyangi mereka sepenuh hatiku. Terimakasih atas izinmu, Mbak Larrisa."


Itulah yang Jasmine ucapkan sebelum benar - benar berlalu dari area pemakaman tersebut. Meninggalkan sosok tadi yang tersenyum bahagia sembari melihat kepergian mereka berlima.


"Sekali lagi terimakasih, Jasmine." ucapnya sebelum tubuhnya memudar terhembas mengikuti sang angin


...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...


Bakalan mencapai titik ending nggak sih?


Aku kasih bocoran sedikit, jawabannya adalah Iya...


Terimakasih semua yg sudah mau baca dan dukung cerita ini. :-)

__ADS_1


__ADS_2