
Helaan napas terdengar kala seorang ibu tengah mendengarkan permintaan anaknya. Sang anak terus memintanya untuk kembali kerumah, sedangkan sang ibu tidak langsung mengiyakan permintaan itu. Sebenarnya ada alasan kenapa ibu tersebut tak bisa kembali kerumah.
"Wil, dengarkan mama. Bukannya mama nggak mau pulang kerumah. Tapi ada hal yang membuat mama belum bisa pulang kerumah." Jasmine menatap Wilson dengan pandangan lembut.
Wilson yang duduk di samping Jasmine pun menghela napas panjang. "Alasannya apa, ma?" Jasmine menggeleng pelan membuat Wilson kembali murung. Sejujurnya Wilson hanya ingin agar Jasmine kembali kerumah, karena keadaan rumah tak baik - baik saja.
Dirumah Wilson sering sendirian, sebab ayahnya sibuk kerja. Sedangkan kedua saudaranya sibuk dengan urusan mereka masing - masing. Ditambah lagi hubungannya dengan kakak keduanya agak merenggang sejak kejadian Wilson membela Jasmine dihadapan Aura itu.
Jasmine mengelus pelan surai sang putra yang kini menunduk didepannya. Dia merasa kasian dan tak bisa tega pada Wilson. Namun dirinya juga tak bisa kembali, sebelum masalahnya dengan sang suami membaik. Apalagi sejak dia di rumah sakit, Jasmine belum mengabari suaminya itu.
"Wil, doakan saja semoga mama cepat kembali kerumah. Pasti mama akan pulang, tapi setelah semuanya terselesaikan." Wilson mendongak menatap mamanya. Walaupun dalam hatinya dia begitu penasaran dengan masalah yang Jasmine maksudkan.
Tapi Wilson tak bisa memaksakan kehendaknya untuk saat ini. Terlebih lagi Wilson tahu bagaimana tabiat kakaknya pada Jasmine. Wilson juga tak ingin membuat Jasmine banyak pikiran yang malah akan membahayakan kondisi calon adiknya.
Wilson hanya mengangguk sambil memberikan senyum lembut. "Tapi mama janji, ya. Harus cepat pulang ke rumah." Senyum tulus Jasmine berikan pada anak ketiganya itu. "Iya, mama akan usahakan."
"Tapi ingat pesan mama. Jangan sampai kau menjauhi atau bertengkar dengan saudaramu sendiri. Bagaimanapun juga, dia tetap kakakmu." lanjutnya yang membuat Wilson mengangguk kecil. Sejujurnya dia tak marah pada kakaknya, hanya saja dia sedikit merasa kecewa.
Tadi Wilson sudah menceritakan kejadian waktu dirinya bertengkar dengan Aura, perkata Aura yang tak mau jujur dengannya. Jasmine tentu saja terkejut karena Wilson sampai di tampar oleh Aura. Dan Jasmine yakin kalau Aura juga tidak dalam kondisi baik - baik saja sekarang ini.
"Lain kali, jangan sampai terpancing emosi saat menghadapi kakakmu. Mama hanya tidak ingin kalau hubungan jadi merenggang."
Baru saja akan membalas ucapan itu, sebuah suara lebih dulu menginterupsi. "Assalamualaikum," salam Shifah yang baru masuk kedalam rumah. Jasmine dan Wilson menjawab salam tersebut. Shifah yang mambawa tas belanja pun berjalan menuju kearah keduanya.
__ADS_1
"Mbak, ini bahan - bahan yang Mbak pesan." Shifah mulai meletakkan tas belanja itu di meja yang ada di depan Jasmine. "Semuanya sudah lengkap?" Shifah mengangguk sambil mendudukan diri di depan keduanya.
Arah tatapan Shifah tertuju pada gelas yang berisikan es teh manis. "Mbak, ini minuman siapa?" tanyanya sambil menunjuk kearah gelas itu. "Itu minumannya, Mbak. Tapi belum sempat Mbak minum. Kalau kau mau, minum saja."
Mendengar hal itu membuat senyum Shifah terbit. "Matur nuwun, Mbak." Setelah mengucap terimakasih pada Jasmine, Shifah mulai meminum minuman itu dengan semangat. "Ah, seger!" serunya begitu merasakan dingin di tenggorokannya.
Memang sejak tadi, Shifah menahan haus saat sedang berbelanja di minimarket yang dekat dari apartemen kakaknya itu. Sebenarnya kali ini Jasmine dan Shifah tidur di apartemen Cessie. Bukan di rumahnya Cessie. Sebab sudah dari kemarin kakak dan neneknya tidak berada di rumah. Melainkan berada di rumah utama, rumah orangtuanya Cessie.
Alasan kenapa tidak tinggal dirumahnya Cessie ialah, apartemen Cessie lebih dekat dengan sekolah Shifah yang baru. Dan rumah keluarga Venson juga tak terlalu jauh dari sini. Makanya Cessie berinisiatif untuk memindahkan keduanya kesini.
Jasmine mulai memeriksa kembali belanjaan yang tadi dia titipkan pada Shifah. Namun dahinya mengernyit saat tak menemukan satu bahan yang cukup kursial untuk masakannya nanti. "Fah, kamu lupa beli minyak, ya?"
Shifah yang baru selesai minum pun mulai mengangguk. "Iya, Mbak. Tadi nggak kebagian stock minyaknya. Jadi aku belum sempat beli ke toko lain, Mbak."
"Shifah berangkat dulu, Mbak." Baru saja Shifah bangkit dari posisi duduknya, dia kembali lagi ke posisi semula, yang tentunya membuat keduanya bingung. "Kenapa?" Shifah mengusap tengkuknya kikuk. "Shifah nggak tahu minimarket lain, selain yang di seberang apartemen, Mbak."
Jasmine nampak berfikir sejenak. "Wil, bisakah kamu mengantar Shifah ke minimarket?" Wilson mengangguk pelan yang membuat Jasmine tersenyum. "Nah, masalah sudah terselesaikan."
"Kalian hati - hati dijalan, ya." Keduanya mengangguk sambil berpamitan pada Jasmine.
...OoOoOoOoOoO...
"Minyaknya yang 1 liter atau 2 liter, ya?" tanyanya pada seseorang di sampingnya. "2 liter saja, biar banyak." Orang yang tadi bertanya pun mulai mengangguk. "Enaknya beli berapa pcs, ya?" tanyanya lagi. "2 saja." usulnya yang segera diangguki oleh seorang gadis yang ternyata adalah Shifah.
__ADS_1
Setelah memasukan dua minyak itu ke dalam keranjang. Kini keduanya mulai berjalan menuju kearah kasir. Keduanya berjalan beriringan tanpa obrolan. Setelah membayar belanjaannya, keduanya mulai berjalan menuju parkiran.
Parkirannya terletak di lantai bawah, sebab Wilson memang membawa Shifah ke supermarket bukan minimarket. Makanya kendaraan Wilson berada di basement. Keduanya sesekali memgobrol sambil meneruskan langkah mereka menuju mobil Wilson.
Shifah mulai menfokuskan pandangannya kedepan, karena sebelumnya tertuju pada Wilson yang berada di samping kirinya. Namun manik mata Shifah tertuju pada dua orang yang berada tak jauh dari mereka.
Wilson yang merasa orang di sebelahnya berhenti berjalan pun, mulai menoleh ke belakang. Tepat kearah Shifah yang nampak melamun. "Hei, kau kenapa?" Pertanyaan itu tak ditanggapi oleh Shifah yang masih memandang lurus kearah depan.
Penasaran akan arah tatapan Shifah, membuat Wilson menatap kearah depan. Bisa dia lihat tak jauh dari mereka, terdapat dua orang yang tengah berbicara. Namun sayangnya keduanya tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tak begitu lama, orang yang mereka amati berpelukan membuat Shifah cukup terkejut. Wilson pun mulai menoleh kembali kearah Shifah dan bisa dia lihat tatapan sendu dalam sorot mata Shifah. "Are you oke?" tanyanya yang dibalas anggukan oleh Shifah. "I'm Oke."
"Ayo," ajak Shifah yang mulai menghampiri kedua orang disana. Wilson hanya mengikuti saja tanpa memgatakan apa - apa. Kedatangan keduanya tak membuat dua orang itu mengurai pelukan mereka.
Namun setelah panggilan yang Shifah ucapkan, membuat keduanya menyadari keberadaan Shifah dan Wilson. "Mbak," panggilnya yang membuat keduanya menoleh. Begitu tahu siapa yang memanggilnya, orang itupun perlahan melepaskan pelukan mereka.
Shifah tambah terkejut saat melihat kalau kakaknya tengah menangis. "Mbak, kenapa nangis?" tanyanya dengan khawatir. Segera Shifah menghadap sang kakak yang kini mulai beralih memeluknya.
Shifah mencoba untuk menenangkan sang kakak yang kini terisak pelan. "Mbak ada masalah apa? Cerita sama aku, Mbak." Cessie hanya menggeleng pelan' dan Shifah juga tak ingin memaksakan kakaknya untuk bercerita.
° { < ¥ > } °
...Cukup segini dulu. Nanti dilanjut lagi......
__ADS_1
...{ Makasih :-) }...