
Hari ini adalah hari sabtu, dimana biasanya Venson dan keluarganya ada di rumah. Seperti halnya hari ini, Venson beserta anak dan istrinya sedang duduk bersama di sofa.
Untuk sekolah Aurora dan Wilson menerapkan sistem 5 hari sekolah. Jadi weekend mereka berdua libur. Sedangkan untuk Jackson, hari ini dosennya tidak bisa hadir. Makanya dia sekarang ada di rumah.
"Anak - anak, gimana kalau kita pergi liburan?" Perkataan dari sang ayah membuat ketiga anaknya menoleh dan ada binar bahagia di mata ketiganya.
Dengan semangat, Aurora langsung mengangguk. "Ayo, Dad. Sudah lama kita tidak liburan bersama."
Memang sebelumnya Venson agak jarang liburan bersama dengan anak - anaknya. Sebab waktunya habis untuk pekerjaan dan istirahatnya saja. Ditambah lagi, anak - anaknya memiliki kesibukan yang pasti membuat waktu mereka bersama jadi berkurang.
"Kalian mau kemana?" Aurora langsung mengusulkan ke pantai. Tapi Wilson menolak usulan itu, sebab setiap mereka liburan pasti tak jauh - jauh dari wisata air.
"Nggak mau. Dua bulan lalu juga kita ke pantai. Aku maunya ke pegunungan saja, Dad."
"Kalau kau maunya kemana, Jack?" Venson menanyakan hal itu. Sebab, anak tertuanya ini selalu menyetujui begitu saja, tanpa memberikan usulan.
Sebelum menjawabnya, Jackson mulai berpikir sejenak. Dan ada satu tempat dimana ada pegunungan dan juga pantai. "Kita ke Yogyakarta saja, Dad. Disana ada pegunungan dan pantai."
Jawaban yang diberikan oleh Jackson membuat Venson tersenyum. "Baiklah, kita ikuti kata kakak kalian. Hari ini kita langsung pergi kesana."
Aurora memekik girang dan langsung memeluk ayahnya itu. "Akhirnya kita liburan juga." Setelahnya Aurora langsung menuju ke kamarnya untuk mempersiapkan keperluan yang akan dia bawa.
Begitupun dengan Jackson dan Wilson. Mereka berdua langsung pergi ke kamar mereka untuk menyiapkan keperluan yang akan mereka bawa.
Jasmine tersenyum senang begitu melihat ketiga anaknya itu terlihat senang dengan ajakan ayah mereka. Dan melihat ketiganya bahagia, mampu membuat Jasmine sedikit melupakan rasa sakitnya itu.
"Ayo, kita juga bersiap. Biar nanti kita cepat berangkat liburan." Venson menyodorkan tangannya kearah Jasmine yang langsung di sambut olehnya.
"Kelihatannya mereka senang sekali kamu ajak liburan, Mas." Venson tersenyum kecil. "Begitulah. Dan aku yakin mereka akan lebih senang karena liburan kali ini. Mereka sudah punya kamu sebagai ibu mereka."
Jasmine ikut tersenyum tipis dan dalam benaknya mengamini apa yang diucapkan oleh suaminya itu.
Semoga saja, Mas.
Kurang dari 1 jam, mereka berlima sudah siap dengan barang bawaan mereka masing - masing. Dan kalian bisa tebak siapa yang paling banyak bawa barang kalau bukan si anak tengah.
Tentu saja banyak, bahkan Aurora membawa tas make up nya. Walaupun riasan Aurora tidak menor. Tapi, perlengkapan make upnya sungguh banyak. Tentu saja karena dia anak orang kaya, jadi mudah untuk beli barang seperti itu.
"Kalian sudah siap?" Mereka semua mengangguk atas pertanyaan Venson tadi. Selanjutnya mereka berlima masuk kedalam mobil, karena mereka akan berangkat.
Selama perjalanan menuju bandara, Jasmine hanya sebagai pendengar. Sebab percakapan hanya di dominasi oleh Aurora dan Venson. Sedangkan untuk Wilson dan Jackson hanya ikut menimpali bila ditanya oleh ayahnya.
Kini mereka telah berada di dalam pesawat. Mereka naik pesawat kelas ekonomi sebab tiket pesawat kelas eksekutif sudah terjual habis. Awalnya ada penolakan dari sang anak terkait masalah ini.
__ADS_1
Dan lagi, kenapa Venson tidak memakai jet pribadi saja. Itulah kenapa tadi Aurora sempat tidak mau pergi dan menolak naik pesawat. Dan dengan sedikit ancaman dari Venson terkait tidak boleh ke luar rumah. Akhirnya Aurora mengiyakan hal itu dengan terpaksa.
Di pesawat ini setiap deret di isi oleh 3 bangku. Dan Aurora memaksa untuk pindah duduk di samping ayahnya, sebab dia tidak terbiasa duduk dekat orang lain. Takutnya nanti malah jadi canggung.
Akhirnya Jasmine mengalah dan mengantikan posisi duduknya Aurora. Dan dia duduk di sebelah Jackson dan orang lain. Selama perjalanan, Jasmine hanya diam dan sesekali menanggapi ucapan orang di sebelahnya itu.
Untuk Jackson sendiri hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Jasmine melirik sejenak anak tirinya itu. Ingin sekali dia mengobrol dengan anaknya itu. Tapi, kesempatannya selalu atau bahkan hampir tidak ada.
Saat sedang bersama saja, hanya ada keheningan. Ketiganya tidak banyak berbicara dengannya. Apalagi bila tidak ada Venson. Jangankan ngobrol, menyapa saja tidak.
"Kenapa?"
Jasmine yang mendengar ucapan itu lantas menoleh. "Kenapa apanya?" tanyanya yang tak mengerti pertanyaan singkat yang diucapkan oleh Jackson tadi.
Sebelum menjawabnya terlebih dulu Jackson mendengus pelan. "Kenapa kau menatapku terus?" Barulah Jasmine paham akan apa yang ditanyakan oleh putra sulung dari Venson ini.
Jasmine tersenyum kecil. "Tidak kenapa - napa. Hanya penasaran saja." Alis Jackson terangkat satu. Dia kembali melayangkan tatapan bertanya. Dan kali ini Jasmine paham akan arti tatapan Jackson padanya itu.
"Penasaran, kenapa kau diam saja. Padahal adik - adikmu sudah seperti itu." Arah pandangan Jasmine mengarah pada bangku di samping mereka.
Dan Jackson mengikuti arah tatapan Jasmine. Dan disana, dia melihat kedua adiknya sedang sibuk mengobrol dengan ayahnya. Bahkan terdengar jelas tawa adik dan ayahnya dari tempat duduknya ini.
"Untuk apa aku berbicara sendiri. Bisa dianggap gila oleh orang lain." balasnya acuh sambil mendengarkan lagu.
"Kau kan bisa mengobrol denganku."
"Berbicara dengan kau?" gumamnya sambil menatap remeh kearah Jasmine. "Lebih baik aku mati kebosanan daripada harus mengobrol denganmu." Lanjutnya dengan suara datar.
Mendapati balasan yang tak terduga membuat Jasmine sedikit tertegun. Dirinya masih belum terbiasa dengan ucapan pedas ataupun tajam dari anak - anaknya.
Walau pada akhirnya, dia akan tetap memaafkan perkataan mereka yang kadang menyakiti hatinya. Dan kali ini, ucapan datar itu datang dari Jackson.
"Tapi sayangnya, sejak tadi kau sudah berbicara denganku." Setelah mengatakan hal itu, Jasmine lansung membuang pandangannya kearah lain.
Jackson hanya meliriknya sebentar sebelum mengendikan bahunya acuh.
...🌿 💖 ...
Akhirnya perjalanan mereka telah membawa mereka ke tempat tujuan. Dan mengingat hari sudah sore, Venson menyuruh anak - anaknya untuk membersihkan diri sebelum makan malam.
Venson memesan 3 kamar untuk mereka. Tentu saja Venson akan sekamar dengan Jasmine. Sedangkan Jasmine akan tidur sendiri. Dan untuk Jackson akan tidur bersama adiknya, Wilson.
Kini Venson tengah mendudukan dirinya di sofa yang ada di kamar hotelnya. Sedangkan Jasmine tengah membuatkan minuman untuk sang suami.
__ADS_1
"Ini, Mas." ucapnya sambil menyerahkan segelas air pada Venson. Setelah berucap terimakasih, Venson lantas meminum minuman itu guna menghilangkan dahaganya.
"Setelah ini, kau mau pergi kemana?" Venson menatap kearah Jasmine yang kini duduk di sampingnya itu.
Jasmine tersenyum, "Terserah anak - anak, Mas. Aku ngikut saja."
Venson ikut tersenyum sambil mengelus pelan surai sang istri dengan sayang. Keduanya menikmati kebersamaan mereka sambil mengobrol ria.
Jam menunjukan pukul 19.12. Dan kini keluarga Venson tengah menanti pesanan mereka datang. Ketiga anaknya tengah bermain ponsel. Sedangkan orangtua mereka tengah saling mengobrol.
Dan dering ponsel Jasmine membuat pandangan ketiga anaknya sekilas tertuju padanya. Tapi itu tak lebih dari lima detik. Mereka langsung kembali ke aktifitas mereka masing - masing.
Venson menatap kearah ponsel istrinya itu. "Dari siapa?" Jasmine lansung memperlihatkan ponselnya kehadapan suaminya itu.
Tertera nama Cessie di telepon milik istrinya itu membuat Venson mengangguk pelan. "Aku izin angkat telpon ya, Mas."
Venson mengangguk pelan. Jasmine langsung berdiri dari posisinya dan berjalan sedikit jauh dari posisi meja makan mereka.
"Iya, Ces. Ada apa? Ooh, begitu. Kebetulan aku nggak lagi di rumah. Lagi liburan sama suami dan anak - anakku. Oke, nanti aku sekalian mampir ke rumah nenek. Iya, sama - sama. Kamu hati - hati ya disana. Jaga diri baik - baik."
Setelah mengakhiri obrolan itu, Jasmine kembali melangkah ke meja makan mereka. "Ada apa?" Tanya Venson yang penasaran dengan obrolan Jasmine tadi.
"Hanya mengobrol biasa. Dan nanti sebelum pulang, kita mampir ke Solo sebentar ya, Mas."
Alis Venson terangkat pelan. "Kenapa?" Jasmine tersenyum pelan. "Mau nengokin neneknya sahabat aku. Sudah lama aku nggak ketemu dengan beliau."
Mendengar penjelasan itu, Venson tersenyum hangat. "Iya, sekalian silaturahmi." Jasmine mengangguk dan tersenyum senang mendengar persetujuan dari suaminya itu.
Makan malam mereka berlima berjalan lancar. Dan setelah makan malam, mereka menikmati malam bersama dengan beratapkan langit malam. Barulah setelah jam sudah pukul 22.30, Venson menyuruh ketiganya untuk kembali ke kamar mereka masing - masing. Begitupun dengan dirinya dan Jasmine.
🌿🍁🌿
Pagi hari yang cerah ini. Keluarga Venson sudah bersiap untuk memulai perjalanan wisata ke daerah pegunungan. Setelah sarapan bersama, mereka berlima langsung meluncur menuju ke destinasi selanjutnya.
Satu setengah jam berlalu dengan cepat. Kini kelimanya sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Senyum cerah langsung terpancar dari wajah Wilson. Sudah dari dulu dia pengen ke gunung. Tapi momentnya belum ada.
"Kau kelihatan senang sekali, Wil." Wilson lansung menoleh kearah kakaknya itu. Tak melepas senyumannya, Wilson menjawab pertanyaan kakak pertamanya itu dengan ekspresi bahagia.
"Tentu saja, Kak. Sudah lama aku ngerencanain ini. Dan baru terlaksana sekarang."
Jackson ikut tersenyum melihat raut bahagia di wajah adiknya itu. Dengan usapan pelan di kepala adiknya itu, Jackson lansung merangkul bahu Wilson agar berjalan mendekati ayah dan adik keduanya itu.
Jasmine diam - diam memperhatikan keduanya. Dia ikut tersenyum melihat keduanya yang terlihat saling menyayangi itu. Dalam hati dia bersyukur melihat Wilson bisa tersenyum lepas tanpa beban. Bukan seperti beberapa hari yang lalu, dimana hanya ada raut murung yang di tutupi dari semua orang.
__ADS_1
...❤ ❤ ❤...
...Terimakasih...