
Suara seseorang yang memanggil namanya membuat Jasmine menoleh, begitupun dengan Naki yang berada di depan Jasmine. Dan kini Jasmine agak mengernyit begitu tahu siapa yang memanggil namanya. Ditambah lagi pencahayaan temaram di bar membuat Jasmine tak begitu melihat jelas siapa orang itu.
Ternyata dia adalah ...
"Bagas," ucap Jasmine sedikit terkejut dengan kehadiran Bagas ditempat ini. Begitupun dengan Bagas sendiri yang agak kaget melihat keberadaan Jasmine disini. Dia kira tadi hanya salah melihat, tapi ternyata memang benar.
"Sedang apa kau disini?" tanya Jasmine pada Bagas. "Aku hanya sedang menemui salah satu temanku. Kau sendiri sedang apa?" Jasmine agak bingung harus jawab apa. Terlebih lagi kalau dia jawab jujur, Aura bisa kena masalah. Bagaimanapun juga Bagas adalah guru Aura disekolah.
"Sama sepertimu." balas Jasmine seadanya. Bagas juga ikut mengangguk.
"Kalau begitu aku duluan, ya." Jasmine tak bisa lama - lama disini. Dia takut terjadi apa - apa dengan Aura. Setelah berpamitan dengan Bagas, Jasmine dan Naki bergegas naik ke lantai atas.
Sayangnya keduanya tak lagi melihat keberadaan Aura yang tadi di papah oleh temannya. Perasaan cemas semakin menggerogoti hati Jasmine. "Gimana nih, Nak." ujar Jasmine yang tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya itu.
Naki juga ikutan panik, "Kau tenang dulu. Siapa tahu dia sudah masuk kesalah satu ruangan." Ucapan Naki tak bisa menyurutkan rasa cemas yang Jasmine rasakan.
Kini keduanya mulai memeriksa satu persatu ruangan. Tapi sudah lebih dari 8 ruangan telah mereka periksa, belum ada tanda - tanda keberadaan Aura. Hingga suara dari dalam ruangan membuat Jasmine bergegas mendekat.
"Itu suara Aura." ujar Jasmine sambil mencoba membuka pintu di depannya itu. Namun sayangnya pintu itu terkunci dari dalam. "Naki, tolong dobrak pintu ini." mohon Jasmine sambil mencoba kembali membuka pintu tersebut. Tetap saja usahanya sia - sia.
Naki mengangguk, "Minggir, biar aku coba dobrak." Setelah Jasmine menyingkir, Naki kini mengambil ancang - ancang untuk mendobrak pintu.
...Satu ( Brakk )...
...Dua ( Brakk )...
...Tiga ( Brakk )...
Setelah dicoba tiga kali, pintu masih terkunci. Dengan satu tendangan kuat, pintu akhirnya terbuka. Melihat itu, Jasmine dan Naki langsung menerobos masuk kedalam. Pandangan terkejut menghiasi mata Jasmine.
Berhasil mengatasi keterkejutannya, segera Jasmine menyingkir pria yang kini berada diatas tubuh Aura. Dorongan yang Jasmine berikan pada pria itu mampu membuat pria tadi terjatuh dibawah ranjang.
Momen itu dimanfaatkan oleh Naki yang kini mulai memukuli pria itu. Bagaimanapun dia tidak bisa tinggal diam melihat pria itu berniat melecehkan seorang gadis. Apalagi gadis itu adalah anak dari sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Jasmine langsung menghampiri Aura yang kini tubuhnya bergetar hebat. Perasaan sesak hadir di hati Jasmine melihat keadaan Aura saat ini. Bahkan saat Jasmine akan menenangkan Aura, dirinya sempat di dorong oleh Aura yang masih terlihat ketakutan.
Suara pukulan mendominasi, kini Jasmine sudah merengkuh tubuh Aura dan berusaha membuatnya tenang. Bahkan isak tangis Aura semakin kencang terdengar.
Brakk!!!
Brukk!!!
"Naki, berhenti. Kau mau membunuh orang!" Teriak Jasmine begitu melihat hasil karya Naki di tubuh pria itu. Naki menghentikan pukulannya, tapi bukan berarti dia mau melepaskan pria ini.
Segera mata Naki berpaling kearah lain setelah tak sengaja menatap kearah Aura yang kini hampir tak mengenakan apapun. Dengan inisiatif sendiri, Naki memberikan jaketnya untuk diberikan kepada Aura.
Jasmine menerima jaket itu. "Terimakasih." Setelahnya dia memakaikan jaket itu pada Aura untuk menutupi tubuhnya. Jaket itu berukuran offsize, sehingga mampu menutupi sampai paha Aura.
Naki baru saja selesai menelpon temannya untuk meminta bantuan mengurusi pria ini. Dan temannya itu sedang dalam perjalanan kemari. Dan Jasmine bersyukur karena Aura sudah mulai tenang. Bahkan Aura memeluk badannya dengan erat.
Kehadiran teman Naki membuat Jasmine menatap ke arahnya. "Jadi mana yang harus diurus?" Naki mengarahkan pandangan kearah pria yang sudah tergeletak dibawah ranjang.
"Tolong loe bawa dia ke kantor polisi. Setelah nganter mereka, gue bakalan nyusulin loe kesana." Temannya mengangguk mengerti dan kini mulai mengangkat pria itu dan membawanya ke mobilnya untuk dibawa ke kantor polisi.
Helaan napas mulai terdengar, Jasmine menatap sendu kearah Aura yang kini tengah terlelap. Setelah menenangkan dan membawanya pergi dari Bar, Jasmine berniat membawanya pulang. Namun mengingat jam dan kondisi Aura saat ini, Naki mengusulkan untuk membawa mereka ke apartemennya. Terlebih lagi, lokasi apartemennya tak jauh dari posisi mereka saat ini.
"Maaf telah merepotkanmu, Naki." ucap Jasmine yang merasa tak enak pada Naki. Bagaimanapun juga, Jasmine jadi melibatkanya kedalam masalahnya. Apalagi, Naki sampai harus repot - repot mengurusi pria tadi.
Naki tersenyum simpul, "It's oke. Lagipula kau kan sahabatku, masa aku nggak mau nolongin kamu." Jasmine juga ikut tersenyum. Dia beruntung memiliki sahabat seperti Naki. Laki - laki yang bersikap gentle dan loyal pada orang di sekitarnya.
Naki beranjak dari posisinya membuat Jasmine menoleh kearahnya. "Lebih baik kau istirahat, nggak baik kalau harus begadang." saran Naki yang diiyakan oleh Jasmine.
Naki mulai keluar kamar meninggalkan Jasmine dan Aura dikamar tamu. Sebelum memposisikan tubuhnya di sofa, Jasmine menatap kearah Aura untuk memastikan apakah Aura sudah benar - benar tidur dengan nyenyak atau belum.
Barulah setelah itu dia mulai memejamkan mata untuk menyelami alam bawah sadarnya.
------------
__ADS_1
Disebuah kamar nampak seorang gadis yang mulai mengerjapkan matanya guna memfokuskan pandangannya. Beberapa kerjapan sudah ia lakukan dan mendapati dirinya berada dikamar yang asing membuat ingatan tentang kejadian semalam berputar kembali.
Gadis itu mulai merasa gelisah. Bahkan tangannya mulai menjambak kuat rambutnya sendiri. Suara isakan lolos dari bibirnya yang disusul oleh teriakan yang cukup kencang. Bahkan suara itu terdengar sampai ke telinga penghuni lainnya.
Gadis tadi tak memperdulikan sekitarnya. Rasa takut akan kejadian semalam terus menggerogoti pikirannya. Bahkan badannya sampai bergetar hanya karena membayangkannya.
Suara pintu terbuka membuat gadis tadi semakin ketakutan. Dia semakin beringsut ke sudut ruangan guna menjauhkan dirinya dari sumber suara yang dia dengar.
"Aura," panggilan itu sama sekali tak digubris oleh gadis itu. Dia semakin berteriak histeris karena orang yang memanggilnya semakin mendekat.
"Pergi. Pergi! Menjauh dariku!" teriaknya sambil melemparkan apapun yang ada di sekitarnya kearah suara itu.
Orang tadi yang tak lain adalah Jasmine segera menghampiri Aura yang kini berteriak memintanya untuk menjauh. Namun bagaimana bisa Jasmine menjauh begitu melihat kondisi Aura yang seperti ini.
Dengan mengesampingkan rasa sakit akibat terkena lemparan gelas, kini Jasmine mulai mendekat kearah Aura. "Aura, tenanglah. Ini aku, Jasmine."
Bukannya berhenti, Aura semakin histeris. "Pergi, jangan dekati aku. Pergi! Jangan menyentuhku!!" amuknya yang membuat Jasmine merasa sangat khawatir.
Butuh perjuangan ekstra hingga Jasmine mampu membawa Aura dalam dekapannya. Kalimat penenang telah Jasmine ucapkan agar Aura bisa kembali tenang. Usahanya membuahkan hasil, kini Aura tidak lagi berteriak.
Walaupun begitu, Isakan kecil masih bisa Jasmine dengar. "Stt, jangan takut. Tidak akan ada yang berani menyakitimu. Ada aku disini bersamamu." hibur Jasmine.
Aura menenggelamkan kepalanya di pelukan Jasmine. Entah dia sadar atau tidak kalau yang dipeluknya saat ini adalah Jasmine, sang ibu sambungnya. Jasmine mulai bernapas lega begitu merasakan tubuh Aura tak lagi bergetar.
Cukup lama keduanya dalam posisi berpelukan. Hingga Aura lebih dulu mengendurkan dekapannya. Jejak airmata masih terlihat di pipi Aura. Dengan perlahan, Jasmine menghapus jejak itu sambil memberikan senyum menenangkan.
"Tidak perlu takut, ada aku disini." ucapnya sambil tersenyum tulus. Aura yang mendengar hal itu tanpa sadar mengangguk sambil mengulas senyum tipis.
--------
Jasmine sedang membersihkan peralatan makan yang baru saja dia dan Aura gunakan. Mungkin karena sangking fokusnya, Jasmine sampai tidak menyadari tatapan yang dilayangkan oleh Aura padanya.
Namun yang sedikit ganjal dari tatapan Aura kali ini adalah tidak adanya kesinisan ataupun kemarahan pada sorot matanya. Ada setitik rasa bersalah dalam sorot tersebut.
__ADS_1
Mungkinkah Aura akan mulai menerima Jasmine sebagai ibu sambungnya?
...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...