Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Pertemuan


__ADS_3

Tampak seorang pria tengah menunggu kedatangan seseorang yang ditunggunya itu. Bila dihitung, sudah hampir 30 menit dia menunggu di restoran ini. Kalau saja orang yang akan dia temui itu tidak terlalu penting, sudah sejak tadi dia tinggal pergi.


Lima menit kemudian, datanglah seorang gadis. Tanpa permisi, gadis itu langsung duduk di hadapan orang yang tak lain adalah si Venson. "Jadi apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanyanya tanpa basa - basi.


Venson nampak menimbang akan apa yang ingin dia sampaikan lebih dulu. Belum sempat berucap, si gadis itu lebih dulu mengeluarkan suaranya. "Kalau Anda memintaku untuk kesini hanya untuk menjaga istri Anda, tanpa Anda mintapun pasti akan saya lakukan."


"Namun itu bukan berarti saya setuju untuk terus menutupi semua ini dari sahabat saya." ujarnya yang diakhiri dengan penekanan. Si gadis yang tak lain adalah Cessie pun menatap datar kearah Venson.


Bagaimana bisa Venson dan Cessie bertemu? Ada masalah apa diantara mereka berdua? Atau ada yang sengaja mereka sembunyikan?


Venson sejenak menghela napas panjang saat mendengar hal itu. Bukannya dia tak mau menutupi semua ini dari istrinya. Dia hanya perlu waktu untuk memperkuat semua bukti kejahatan yang orang - orang lakukan terhadap keluarganya. Dia sebenarnya sudah lelah bersikap pura - pura megacuhkan dan terkesan membenci Jasmine.


Tapi kembali lagi, dia melakukan ini untuk kebaikan keluarganya kedepannya nanti. "Tunggu sebentar saja, sampai semuanya kembali normal." pintanya yang dibalas gelengan oleh Cessie. "Sampai kapan? Kau tak kasihan melihat istrimu itu selalu memikirkanmu?"


Sorot mata yang tadinya datar, berubah menjadi tajam. "Sahabatku selalu memikirkan kondisi kalian? Tapi apa yang dia dapatkan? Tidak ada!" Venson paham akan apa yang Cessie bilang. Hanya saja, dia tak punya cara lain selain ini.


"Kau tahu sendiri bagaimana kondisiku saat itu? Aku tak bisa memilih diantara istriku atau putriku sendiri." Jawaban dari Venson membuat Cessie tertawa hambar. "Lalu kau memikirian bagaimana perasaan Jasmine begitu melihat suaminya sendiri tak membelanya di depan wanita lain."


Ada sedikit kemarahan di hati Cessie pada orang didepannya ini. Dia tahu kondisi Venson memang sulit untuk memilih percaya pada Aura atau Jasmine. Ditambah lagi atas insiden perjanjian pernikahannya itu.


Keadaan sempat hening sebentar, hingga suara ponsel yang di letakan di meja mengalihkan fokus Venson. Alisnya sedikit bertaut, dari tatapannya terlihat sorot kebingungan yang terbaca oleh Cessie.


"Didalamnya terdapat rekaman video yang bisa jadi bukti kuat atas tindakan si Mertha dan si Yoela itu."


Venson mulai membuka isi rekaman berdurasi hampir 9 menitan itu. Didalam rekaman itu terdengar jelas bagaiamana rencana yang ingin Mertha dan Yoela lakukan. "Darimana kau dapatkan semua ini?"

__ADS_1


Cessie tengah menyeruput minumannya yang sempat dia pesan saat Venson fokus pada rekaman video itu. "Rekaman itu aku dapatkan dari ponsel Jasmine. Bahkan Jasmine sendiri yang merekam hal itu."


Venson tampak mengingat - ingat akan laporan anak buahnya. Dan tatapannya berubah tajam begitu ingat apa yang telah di laporakan kepadanya itu. "Jadi mereka lah pelakunya?" tanyanya yang mendapat anggukan dari Cessie.


"Kurang ajar. Beraninya mereka main - main denganku! Jangan kira mereka akan lolos begitu saja." Setiap kata yang Venson ucapkan terdengar tajam dan menusuk. Cessie sendiri tak merasa di intimidasi akan apa yang Venson ucapkan.


Bisa dibilang Cessie tak kalah marahnya pada kedua oknum yang berani - beraninya menganggu sahabatnya itu. Untunglah Tuhan masih menyanyangi Jasmine dan calon bayinya itu. Jadi tidak ada diantara keduanya yang harus merasakan kehilangan.


"Kurasa semua bukti cukup untuk membuat mereka mendekam lama di dalam penjara." Cessie memberikan senyum miring di bibirnya diikuti oleh Venson. "Bukan hanya itu saja, akan ada hadiah spesial dariku untuk mereka yang berani menganggu keluargaku.'"


Aura di sekitar mereka tampak berbeda saat keduanya saling melepar senyum miring. Bahkan beberapa orang disekitar mereka, dibuat merinding akan kehadiran keduanya di restoran itu.


° { < ¥ > } °


Jasmine tengah memperhatikan sebuah potret berukuran 15 x 8 cm itu. Dimana di dalamnya terdapat gambar agak abstrak yang berasal dari dalam rahimnya. Ya, iyu adalah foto usg bayinya yang tengah di kandungnya ini. Ada perasaan haru, senang dan sedikit gelisah dalam hati Jasmine saat menatap gambar itu.


"Maafin mama yang belum bisa ngasih tahu papamu soal keberadaan kamu saat ini." monolognya dengan bayinya itu. "Sebenarnya Mama pengan ngasih tahu papamu, tapi sampai sekarang mama masih belum menemukan waktu yang tepat."


Jasmine mengelus pelan perutnya yang sudah menonjol. "Doain Mama ya, Nak. Biar semua masalah diantara Mama sama papa cepat selesai. Biar kamu bisa ketemu sama papa." Diakhir kalimatnya Jasmine tersenyum lembut. Perasaannya mulai agak ringan, setelah dia mengajak anaknya itu ngobrol.


Seseorang di balik tembok pembatas antara ruang tamu dengan ruang santaipun, menatap sendu kearah Jasmine. Ada perasaan bersalah yang kian tebal dirasakan olehnya. Terlebih dirinya ada sangkut pautnya diantara masalah yang tengah Jasmine hadapi.


Kalian tak akan mengira kalau yang ada di balik tembok itu adalah si Aura.


Iya, Aura! Aurora anaknya ai Venson.

__ADS_1


Dia datang kesini bersama adiknya, Wilson. Sejujurnya ada yang ingin dia sampaikan kepada mama sambungnya itu. Sesuatu yang bisa merubah keadaan yang ada.


"Kakak bisa dengar sendiri, kan? bagaimana menderitanya mama Jasmine saat ini." Ucapan Wilson mampu menyentil hati terdalamnya. Kembali rasa bersalah itu muncul. Aura akui tindakannya kemarin itu sungguh ke kanak - kanakan.


Bahkan dirinya tak bisa lebih dewasa bila di bandingkan dengan adiknya sendiri. Aura merasa malu pada Wilson yang bisa menempatkan posisi dalam keadaan apapun. Jika saja dia tak disadarkan olehnya, mungkin selamanya dia akan lebih memilih untuk diam.


"Jadi apa keputusan kakak? Mau lanjut atau berhenti sampai sini?" Sejenak Aura menatap mata adiknya yang menatapnya dengan sorot ketegasan. Dan beberapa detik berikutnya, Aura balik menatap Jasmine yang posisinya membelakangi mereka.


"Kakak mau menebus semua kesalahan yang telah kakak perbuat. Jadi kakak tak akan mundur begitu saja." Apa yang Wilson harapkan dari kakaknya, akhirnya terwujudkan. Senyum tulus dan bangga Wilson berikan untuk kakak tersayangnya ini.


Ara perlahan bsrjalan mendekati posisi Jasmine saat ini. Mendengar suara langkah kaki, membuat Jasmine menoleh. Bertapa terkejutnya dia saat mendapati anak keduanya berada di depannya.


Aura tentu saja melihat dengan jelas sorot terkejut yang mamanya beri kepadanya itu. Langkahnya menjadi berat, dalam otaknya mulai berkelebat bayangan dimana mamanya tak mau memberikan maaf untuknya.


Dirinya terlarut dalam lamunannya, hingga tak menyadari keberadaan Jasmine yang berdiri satu meter di depannya. Tepukan halus yang Aura rasakan di bahunya, mampu mengembalikan pikirannya kembali.


Tepukan itu berasal dari Wilson yang melihat sang kakak hanya diam saja. Dirinya sempat takut kalau kakaknya itu kembali berubah pikiran. Karena kunci permasalahan yang ada kini ada di tangan Aura.


° { < ¥ > } °


Terimakasih sudah membaca part ini.


Terkaget nggak kalau Aura yang muncul di depan Jasmine?


Dan ada hal apa yang ingin Aura sampaikan ke Jasmine, ya?

__ADS_1


Tunggu di next part, ya.


Stay waiting, guys :-)


__ADS_2