
Seorang gadis tengah termenung dengan berbagai macam pikiran hinggap di kepalanya. Sesekali dia terlihat menghembuskan napas panjang untuk sedikit melegakan hatinya yang tengah gundah itu. Arah matanya mulai berpaling pada ponselnya yang terdapat sebuah notifikasi dari seseorang.
Setelah dia baca, ekspresinya sedikit berubah dari sebelumnya. Namun sebuah tepukan dibahunya menyandarkannya dari aktivitasnya itu. Perlahan senyum mulai menghiasi wajah gadis itu, begitu tahu kalau orang yang dia tunggu akhirnya datang juga.
"Tumben kamu ngajakin ketemu disini. Ada apa?" tanya si pemuda yang menjadi tamu dari gadis tadi.
Si gadis yang tak lain adalah Aura itupun hanya menggeleng pelan. Dia berusaha membuat ekspresinya senatural mungkin. Namun seperti pemuda tadi bisa menangkap raut kegelisahan dari balik wajah kekasihnya itu.
"Apakah ada yang menganggumu? Ceritakan saja kalau memamg ada yang menganjal dihatimu." Max tahu dari wajah Aura nampak ada sesuatu yang dia tutupi. Tapi sayangnya Max tidak tahu apa penyebabnya.
Aura menundukkan pandangannya, engan menatap kekasihnya yang sejak tadi menatap kearahnya. Max duduk disamping Aura dan perlahan mendongakan kepala Aura agar bisa bersitatap dengannya.
"Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Kapapun dan dimanapun aku pasti siap mendengarkan." Bukannya berbicara terus terang, Aura malah memeluk tubuh Max dan mulai terisak pelan.
Max sendiri tentu saja panik melihat kekasihnya malah menangis di dadanya. Max berusaha memberikan waktu untuk Aura. Dia tak ingin terlalu menekan Aura untuk berbicara. Max rasa tangisan Aura kini di pengaruhi oleh keterdiaman Aura selama beberapa hari belakangan.
"Or..ang yang a..ku per..caya malah te..ga meng..hianati aku." ucap Aura dengan terbata - bata. Dirinya masih dalam pelukan Max yang masih mencoba menenangkan kekasihnya itu.
Jujur Max bingung akan maksud orang yang di percaya oleh Aura yang malah berkhianat dengannya. Dan Max masih mencoba menebak siapakah orang yang Aua maksud. Masa dirinya sih? itu tidak mungkin, sebab dia tak pernah mengkhianati Aura.
"Siapa yang kau maksud?"
Setelah lepaskan pelukannya, Aura mulai mengatur napasnya yang sedikit tersengal - sengal. "Yoela. Dia telah membohongiku dan dia juga tega menusukku dari belakang." Walaupun masih ada sisa - sisa tangis. Namun tidak dengan matanya yang memancarkan kemarahan.
"Memamgnya dia berbohong tentang apa?"
"Tenyata selama ini Yoela itu mencintaimu, Max." Ucapan Aura tak membuat Max terkejut sama sekali. Sebab dia sudah tahu dari gelagat yang sering Yoela tampilkan di depannya. Bahkan Max juga tahu kalau Yoela tak pernah benar - benar bahagia atas resminya hubungannya dengan Aura.
Aura kembali melanjutkan ucapannya. "Bahkan dia tega menghasutku untuk mencelakakan mama tiriku. Bahkan aku hampir menabraknya dengan mobil." Kali ini Max amat terkejut atas apa yang Aura bilang.
"Maksudmu? Kau mencelakakan mama tirimu begitu?" Max tentu saja tahu kalau Aura memiliki mama tiri. Bahkan saat pernikahan orangtuanya Aura, Max juga ikut menghadiri acaranya.
Dan begitu pertama kali melihat interaksi antara Aura dan mama barunya itu. Max bisa menebak kalau Aura belum sepenuhnya menerima status Jasmine sebagai mamanya. Dilihat dari nada bicaranya dan sorot matanya.
Namun Max sama sekali tidak oerpikiran kalau Aura bisa berniat mencelakakan mamanya sendiri. Aura yang mendapat pertanyaan seperti itupun, hanya bisa memganguk pelan. Max membuang napas pelan sembari menatap Aura yang terlihat tidak baik - baik saja.
__ADS_1
"Aku tahu aku salah. Dan tindakanku itu sungguh diluar nalar. Tapi, saat itu aku begitu kacau. Aku tak bisa berpikir jernih dan malah mengikuti saran Yoela. Sungguh aku menyesal! Sangat - sangat menyesal."
Tangis Aura kembali datang, bahkan bahunya bergetar akibat isakannya itu. Max yang tak tega pun mulai merengkuh bahu Aura dan membawanya kedalam dekapannya. "Tenanglah. Semuanya akan baik - baik saja."
Butuh waktu yang cukup lama agar Aura bisa kembali tenang. Mungkin karena rasa bersalah yang begitu besar dirasakan oleh Aura kepada Jasmine dimasa lalu. Dan kini Aura berniat untuk menebus kesalahannya itu.
"Dan parahnya Yoela tega menjebakku bersama kakaknya, si Ramos." Aura kembali melanjutkan ucapannya. "Mereka berdua berniat menjebakku dan melecehkanku di bar yang katanya tengah di sewa untuk acara ulang tahun temannya Yoela."
Max tak menyela apa yang tengah Aura katakan. Dia mencoba menjadi pendengar yang baik. "Untung saja waktu itu aku di tolong oleh mama Jasmine. Dia masih mau menbantuku, padahal sebelumnya aku sudah terlalu banyak membuat masalah dengannya."
Aura kembali menunduk sembari menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. "Tapi dengan tidak tahu dirinya, aku malah sengaja menutupi fakta yang ada di depan ayahku sendiri."
Tangisnya kembali hadir begitu mengingat kejadian dimana ayahnya itu mulai menyalahkan Jasmine atas kelalaiannya dalam menjaga dan mengurusi kebutuhan Aura beserta kedua saudaranya. Rasa sesak akibat penyesalan itu terus menyiksa batin Aura.
"Lalu apa yang terjadi dan apa yang ingin kau lakukan kedepannya nanti?" Max memberikan pertanyaan setelah sejak tadi hanya menjadi pendengar yang baik untuk Aura. Sejujurnya Max agak kecewa dengan sikap Aura yang tak mau mencoba menerima kehadiran Jasmine.
Tapi dia juga tak bisa menyalahkam Aura sepenuhnya, sebab menerima orang baru di hidup kita bukanlah perkara mudah. Apalagi keberadaan orang itu bukanlah sesuatu yang kita harapkan.
"Aku tidak tahu. Aku bingung harus bagaimana. Awalnya aku kira setelah berhasil membuat hubungan mereka merenggang, aku akan merasa bahagia. Tapi kenapa setelah semuanya terjadi, aku malah semakin merasa menyesal."
"Lebih baik kamu mencoba untuk menerima mama barumu itu. Dari ceritamu tadi, tampaknya dia adalah irang yang baik dan juga penyanyang. Aku tidak mau kamu semakin menyesal bila tetap mementingkan egomu itu."
Dan dari situlah, Aura berani mengambil keputusan untuk mengatakan sejujur - jujurnya pada ayahnya itu. Bukan hanya itu saja, Aura juga memberitahukan hal yang sebenarnya pada Wilson. Sebab Aura tahu, kalau Wilson sempat menjaga jarak setelah rahasia perjanjian pernikahan itu terbongkar.
( * * * )
2 tahun berlalu dengan begitu cepat. Bahkan tak terasa selama itu juga Aura meninggalkan tanah kelahirannya untuk menempuh pendidikannya di Australia. Hubungannya dengan keluarganya sudah membaik, sejak dirinya mulai berani mengatakan hal yang memang seharusnya dia katakan.
Hadirnya baby Jee tentu saja menjadi pelengkap di kediaman Klein. Aura tentu saja menerima kehadiran baby Jee. Bahkan dirinya lah yang paling protektif pada adik perempuannya itu. Namun karena tuntutan pendidikan, membuatnya jauh dari adik kesayangannya itu.
Kali ini dia pulang bukan karena liburan semester, melainkan untuk menghadiri pernikahan kakak sulungnya itu. Dan siapa sangka kalau sahabat mamanya lah yang menjadi kakak iparnya itu. Awalnya Aura hanya mengenal Cessie tak lebih hanya sahabat mama sambungnya itu.
Tapi sekarang, Aura malah mudah akrab dengan Cessie, setelah dengan terang - terangan Cessie menyebutnya putri durjana. Awalnya tentu Aura marah, namun siapa sangka itu menjadi titik kedekatan keduanya. Bahkan saat di bandara pun, Cessie masih membujuknya untuk tidak pergi ke Australia.
Sungguh hubungan yang membagongkan, ya.
__ADS_1
Genggaman halus dia rasakan begitu tangan seseorang terapit manis di sela jarinya yang mungil itu. Dimasing - masing tangan itu sudah terisikan sebuah cincin yang serupa namun berbeda ukuran.
Tanpa diminta, senyum manis penuh cinta mengembang di bibir Aura yang kini tengah menatap sang tunangan. "Ayo, katanya mau ikutan sesi tangkap bunga." ajak pemuda itu sambil mengenggam erat tangan Aura.
Aura tak bisa berhenti tersenyum melihat keberadaan sang tunangan yang sudah beberapa bulan tidak dia temui secara langsung. "Ayo. Aku juga pengen dapet bunga itu."
Keduanya mulai melangkah mendekat kearah panggung pernikahan yang mana sudah di kerubungi oleh orang - orang. Keduanya berada di belakamg, sebab bagian depan sudah terisi. Hingga hitungan ketiga, bunga yang di lemparkan oleh Jackson dan Cessie itupun mendarat di tangan seseorang.
Tapi sayangnya diatara Aura dan Max tidak ada yang mendapatkan bunga itu. Raut sebal hadir di wajah Aura karena tak bisa mendapatkan lemparan bunga. Max pun terkekeh melihat raut wajah sebal yang malah terlihat mengemaskan baginya itu.
"Lagipula nggak perlu dapatin bunga itu. Tunggu hingga kita lulus, aku dan keluargaku akan siap melamarmu."
Ucapan itu tentu saja membuat Aura tersenyum malu disertai merah di wajahnya. Dia Sungguh bahagia memiliki keluarga yang begitu menyanyanginya dan juga mendapatkan seseorang yang tulus mencintainya apa adanya.
Bahkan kalau di utarakan dengan angka, maka kebahagian Aura itu sama halnya dengan lambang infinity yang artinya tidak ada batasnya alias tak terhingga.
"Terimakasih karena sudah mencintaiku setulus ini. Padahal alu banyak kurangnya di bandingkan kelebihannya." ujar Aura sambil memberikan tatapan tulus pada Max selaku tunangannya itu.
Ya, hubungan mereka terus berlanjut bahkan menuju ke tahap yang lebih serius. Aura awalnya berfikir kalau Max akan memutuskan hubungan dengannya setelah mendengar apa yang dia katakan.
Bukannya memutuskan, Max malah engan berpisah setelah tahu masalah rumit dalam hidup Aura. Tentu saja cintanya Max tak sedangkal itu. Hanya karena masalah seperti itu, bukan berarti dia tega membuang Aura begitu saja.
Katakanlah Max sudah terlanjur bucin pada Aura yang sebentarnya pada dasarnya adalah orang baik. Hanya saja Aura di pertemukan dengan orang yang kurang baik. Sehingga ikut terjerumus dalam hal yang dapat merugikan orang lain.
...Terkadang arus pertemanan bisa menyeretmu dalam sebuah kegelapan yang tak berujung ataupun kebahagian yang tak pernah habis......
...( * * * )...
Kalau ada niatan untuk bikin sequel, enaknya bikin cerita dari kisah keluarga Klein sisi yang mana, ya?
Perbucinan si Sulung ?
Persahabatan si Tengah ? Atau
Pembalikan Rasa si Bungsu?
__ADS_1
Mari dipilih #EmotSenyum
...Terimakasih...