Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
26. Kesalahpahaman


__ADS_3

Kini Jasmine dan Wilson sudah berada di depan kelasnya Aurora. Tapi mereka tidak bisa melihat keberadaan Aurora. Setelah bertanya pada beberapa siswi yang masih ada di dalam kelas, siswi itu berkata kalau Aurora pergi dengan ketiga temannya.


Dan dari sanalah Jasmine dan Wilson kini menuju kearah kantin, sebab kata siswi itu kalau tidak di kantin ya berarti sudah pulang. Untuk opsi kedua, pasti tidak mungkin.


Kalaupun Aurora sudah pulang. Pasti supirnya akan mengabarinya. Sedangkan sampai saat ini, supirnya belum juga mengabari. Terlebih lagi, Aurora tidak mau menunggu lama bila itu berkaitan dengannya.


Jadi opsi pertamalah yang menjadi pilihan Jasmine. Tapi belum sempat melangkah kedalam kantin. Panggilan dari belakangnya membuat Jasmine dan Wilson menoleh.


"Jasmine? Ternyata benar. Aku kira salah orang." Kekeh orang itu begitu sampai di depan Jasmine dan Wilson.


Jasmine tampak berpikir sejenak, mengingat siapakah orang yang memanggilnya itu. Dan seakan ingat, Jasmine langsung memekik senang.


"Bagas! Sedang apa kau disini?" Jasmine masih tak percaya bisa bertemu dengan salah satu teman sekolahnya dulu itu.


Bagas tersenyum begitu Jasmine masih mengenalinya itu. Mengingat keduanya adalah teman masa sekolah jenjang pertama itu. Sudah sejak lama keduanya tidak bertemu.


Mungkin sudah hampir 8 tahun keduanya tidak pernah bertemu. Dan itu bukanlah waktu yang sebentar. "Aku jadi guru disini. Dan kau sendiri sedang apa disini?"


"Aku berniat menjemput anak keduaku. Ooh, ya. Perkenalkan ini anak ketigaku, Wilson. Dan dia ini adalah teman sekolahku dulu." Keduanya saling berkenalan.


Walaupun awalnya, Bagas sedikit kaget mendengar Jasmine sudah punya anak yang sudah smp. Apalagi jika mengingat umur Jasmine yang masih 25 tahun. Rasanya agak aneh jika anaknya sudah smp. Itulah yang dipikirkan oleh Bagas.


Mengabaikan hal itu, kini keduanya saling berbincang tanpa menyadari seseorang yang berada tak jauh dari mereka, sudah mengabadikan momen mereka berdua.


***


Jasmine dan Wilson sudah ada di rumah. Tapi tanpa kehadiran Aurora. Sebab saat di sekolah tadi, keduanya tidak bertemu dengan Aurora. Bahkan saat Jasmine telpon pun, ponsel Aurora tidak aktif.


Dan di rumah pun, Aurora juga tidak ada. Sebenarnya kemana perginya Aurora ini. Sampai sore begini belum juga pulang. Rasa khawatir tentu ada di hati Jasmine. Apalagi setelah mendengar cerita Cessie yang melihat Aurora pergi ke club.


Kini Wilson dan Jasmine tengah berada di ruang santai sembari menonton tv. Tak lupa camilan dan minuman yang sudah Jasmine siapakan.


Suara pintu rumah terbuka terdengar di telinga keduanya. Dengan kompak keduanya menoleh kearah pintu masuk. Dan ternyata orang yang sejak tadi Jasmine khawatirilah yang baru pulang.


"Kau darimana saja, Ra?" tanya Jasmine kepada anaknya itu.


Bukannya dibalas dengan baik, malah nada sinis yang Jasmine dapatkan. "Memang apa urusanmu, huh?"


"Tentu saja aku khawatir. Tadi saat aku dan Wil menjemputmu di sekolah, tapi kau tidak ada disana."


Mendengar hal itu malah membuat Aurora tersenyum sinis. "Kau mencariku atau kau bertemu dengan pacar gelapmu?"


Pertanyaan itu membuat Jasmine mengernyit bingung. "Kau bicara apa? Pacar gelap?" Sedangkan yang ditanya hanya mengendikan bahunya acuh. Kemudian berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Selepas Aurora pergi, Jasmine masih mencerna apa maksud dari perkataan Aurora tadi. Dan siapa yang di maksud pacar gelapnya itu.


***


Beberapa hari setelah pembicaraannya dengan Aurora waktu itu. Jasmine sama sekali belum bicara lagi padanya. Sebab sudah 2 hari, Aurora menginap dirumah temannya.


Dan entah kenapa, Jasmine merasa kalah sikap suaminya sedikit lebih dingin dengannya. Apakah Jasmine ada salah pada suaminya itu, hingga membuatnya sedikit berubah.


Kali ini Jasmine hendak berkunjung ke kantor suaminya. Dia kemari untuk memberikan bekal makan siang yang sudah dia buat. Untungnya ketika dia sampai di lobby, tidak ada kejadian dimana dia harus di hentikan oleh resepsionis.


Sapaan dari kedua resepsionis itu ditanggapi ramah oleh Jasmine. "Bapak, ada di ruangannya?" Pertanyaan itu diangguki oleh keduanya.


Barulah dia menuju ke ruangan suaminya itu. Senyum bahagia masih terpatri di bibir Jasmine. Dirinya tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya itu.


Setibanya di lantai ruangan Venson, Jasmine sudah melihat keberadaan sekertaris suaminya itu. "Bapak ada di dalam?" tanyanya yang diangguki oleh sekertaris tadi.


Dengan langkah ringan, Jasmine mulai membuka pintu ruangan suaminya. Tapi dirinya dibuat terkejut dengan keberadaan sosok perempuan yang saat ini tengah memeluk suaminya.


"Mas," panggilnya pelan. Namun mampu membuat kedua orang di ruangan itu menoleh kearah sumber suara.


Mata Venson terbelalak melihat keberadaan istrinya di ambang pintu ruangannya itu. Segera dia lepaskan pelukan dari wanita ini dengan paksa.


"Sayang, ini tidak seperti yang kau lihat. Kamu salah paham." ucap Venson sambil menghampiri istrinya itu.


Jasmine masih diam di posisinya. Dia masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dia tidak bisa menampik kalau ada bagian di hatinya yang terasa sakit.


Jasmine menolehkan pandangannya kearah Venson yang kini berada di depannya. Melihat Venson yang menggeleng sambil berkata tidak kenal dengan wanita itu membuat Jasmine semakin bingung.


Jasmine menghembuskan napas berat sambil melangkah meninggalkan ruangan suaminya itu. Melihat kepergian Jasmine membuat Venson kalang kabut. Baru saja dia akan mengejar istrinya, tapi tangannya lebih dulu di pegang oleh wanita ini.


"Lepas! Aku tidak kenal siapa kau. Dan jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di kantor ku." ucap Venson datar sambil memyentak kasar tangan wanita itu hingga pegangannya terlepas.


Tatapan Venson kembali datar sembari menatap wanita yang dia sama sekali tidak dia kenal. Dan gara - gara wanita ini, istrinya menjadi salah paham terhadapnya.


"Drian, bawa wanita ini pergi jauh dari ruanganku. Dan jangan biarkan dia masuk kedalam kantor ini. Kau mengerti." Ucapan tegas itu langsung di mengerti oleh Andrian, sang sekertaris dari Venson.


Tanpa menunggu lama, Venson langsung mengejar istrinya yang kemungkinan sudah melangkah jauh. Sedangkan Drian langsung menyuruh wanita itu untuk pergi seperti perintah atasannya tadi.


"Jangan sentuh aku. Aku bisa pergi sendiri." ucap wanita itu ketika ingin di tarik pergi oleh Drian. Dengan angkuh, wanita itu berlalu menjauh dari Drian yang menatapnya jengah.


"Beraninya datang kemari setelah membuat tuan bos amnesia." ucap Drian sinis sambil menatap wanita tadi.


Yap, wanita tadi adalah dalang dibalik kecelakaan yang pernah dialami oleh Venson beberapa waktu itu. Bahkan Venson sampai harus amnesia dibuatnya. Tapi setidaknya Drian bersyukur tuan bosnya itu sudah menikah dengan perempuan baik. Dan bukannya menikah dengan wanita matre satu itu.

__ADS_1


Mungkin itulah hal yang Drian syukuri atas kecelakaan yang menimpa bosnya itu. Entah bagaimana nasib perusahaan ini bila sudah dikuasai oleh wanita itu. Mungkin kebangkrutan lah yang akan menjadi akhir dari perusahaan ini.


Disisi lain, Jasmine sudah berada di lobby. Bahkan dia mengabaikan sapaan dari beberapa orang yang menyapanya itu. Kini kakinya mulai melangkah menuju kearah parkiran.


Tapi dia ingat kalau tadi dia sudah menyuruh sopirnya untuk pulang terlebih dahulu. Jasmine kira dia akan lama berada di kantor suaminya itu. Tahunya dia malah disuguhi adegan pelukan mesra antara suaminya dan wanita yang entah siapa namanya itu.


Dari posisinya, Jasmine sudah mendengar suara Venson yang memanggil namamya itu. Dengan kaget, dia lansung berlari menuju ke arah jalan raya untuk mencari kendaraan umum.


Baru juga sampai di tepi jalan raya, tanganya sudah lebih dulu di pegang oleh suaminya. "Dengarkan dulu penjelasanku." ucap Venson sambil mengatur napasnya itu.


Jujur saja, dia lumayan capek berjalan dari ruangannya menuju ke depan kantornya itu. Bahkan dia tadi harus lewat tangga darurat, karena terlalu lama menunggu pintu lift terbuka.


Bahkan Venson sampai lupa kalau dia punya lift khusus yang digunakan untuk orang penting di kantornya ini. "Apa yang harus aku dengarkan?"


"Mari kita bicarakan baik - baik, ya. Tapi jangan disini." Venson sadar kalau saat ini dia dan Jasmine tengah menjadi tontonan orang - orang.


Ditambah lagi ini sedang jam makan siang. Pasti banyak pegawainya yang keluar kantor untuk makan siang. Ditariknya pelan tangan istrinya itu dan menuntunnya menuju ruangannya.


Tapi Jasmine langsung menghentikan langkahnya begitu sadar kalau Venson hendak membawanya ke ruangannya. Otomatis Venson juga ikut berhenti dan menatap istrinya bingung.


"Kenapa?" Jasmine belum menjawab. Dia hanya memalingkan wajahnya dari Venson. "Kita bicara di ruanganku saja, ya."


Jasmine menggeleng pelan. Jasmine tahunya kalau wanita tadi juga masih ada disana. Makanya Jasmine tidak mau masuk kedalam sana.


Dengan sabar Venson kembali bertanya. Kali ini dia mengelus kepala istrinya lembut. "Memangnya kenapa?"


"Ada pacarmu." Perkataan itu membuat Venson tersenyum tipis. Dia tahu kalau istrinya pasti sedang cemburu. Dan hal itu malah terlihat mengemaskan bagi Venson.


Di angkatnya dagu sang istri untuk menatapnya. "Dia bukan pacarku. Tapi yang di depanku inilah adalah istriku tersayang."


Tanpa diperintah, pipi Jasmine bersemu mendengar hal itu. "Gombal." dengusnya pada ucapan suaminya itu. Tapi kenapa juga pipinya malah semakin merah begitu melihat senyum manis suaminya itu.


Tanpa aha - aha, Venson langsung menggendong Jasmine ala bridalstyle. Hal itu tentu saja membuat Jasmine kaget.


Bukan hanya Jasmine, bukan beberapa gadis yang melihat adegan tadi memekik begitu melihat adegan romantis antara bos mereka dan istrinya itu.


"Malu. Turunin!" Pekik Jasmine yang teredam di dada suaminya itu. Dia sungguh merasa malu akan apa yang telah Venson lakukan padanya itu.


Bahkan hal itu di lihat oleh beberapa orang dan pengguna jalan yang melintas di depan kantor suaminya itu.


"Nggak mau. Kita selesaikan dulu kesalahpahaman kita tadi." ucap Venson tanpa ingin di bantuan sama sekali.


Venson membawa Jasmine menuju ke mobilnya dan setelahnya berlalu dari kantornya itu menuju ke rumah mereka.

__ADS_1


...❤  ❤  ❤...


...Terimakasih...


__ADS_2