
...🌿 🌾 🌾...
Ternyata memang benar kalau sosok itu adalah salah satu anaknya. Dan yang membuat Jasmine bingung adalah kenapa jam segini anaknya itu sudah ada di luar sekolah. Padahal seharusnya jam pulang sekolahnya itu jam setengah 4.
Merasa ucapannya tak ditanggapi oleh Jasmine, membuat Cessie mengikuti arah pandangan Jasmine. Ternyata yang sedang Jasmine lihat adalah keempat gadis berseragam Sma.
Cessie menggoyangkan tangannya kedepan wajah Jasmine. Hal itu membuat arah pandangannya tertuju pada Cessie. "Kau kenal dengan mereka?"
Jasmine mengangguk. "Salah satu dari mereka adalah anakku." Alis Cessie terangkat satu. Dia baru ingat kalau sahabatnya ini sudah menikah. Sayangnya waktu itu dia tidak bisa datang ke acara pernikahan Jasmine, lantaran sedang berada di rumah neneknya.
"Yang mana?" Mendengar pertanyaan itu membuat Jasmine langsung menyebutkan ciri - ciri anak gadisnya itu. "Itu, yang pakai jam merah mudah."
"Yang berambut panjang itu." Cessie memperhatikan sosok yang menjadi anak sambung dari Jasmine. Tapi arah pandangannya beralih kepada gadis di samping Aurora.
Masih dengan pandangan yang sama, Cessie kembali bertanya. "Lalu kau kenal dengan ketiganya?"
Jasmine menggeleng pelan. "Aku tidak begitu kenal dengan mereka. Hanya saja aku pernah bertemu dengan mereka bertiga ketika datang ke sekolah anakku. Dan setahuku mereka bertiga itu adalah temannya."
"Aku sepertinya pernah melihatnya." gumam Cessie pelan yang sayangnya terdengar ke telinga Jasmine.
"Siapa yang pernah kau lihat?" Cessie menunjuk kearah gadis di samping Aurora dengan dagunya. Dan ternyata yang di tunjuk oleh Cessie adalah gadis yang sama yang pernah menatapnya sinis itu.
Siapa lagi kalau bukan Yoela. "memangnya kau melihatnya dimana?"
"Di tempat kerjaku."
Mata Jasmine melebar mendengar ucapan itu. "Kau serius?" tanyanya guna memastikan apakah yang barusan dia dengar itu benar atau salah.
Cessie mengangguk pelan. "Iya, malahan bukan hanya sekali. Tapi sudah beberapa kali."
Sekarang pikiran Jasmine tertuju pada keempat gadis itu. Sejujurnya sejak awal melihat gadis itu, Jasmine merasa ada yang aneh dengannya. Terlebih lagi sikapnya itu.
Dan mendengar Cessie pernah melihatnya di tempat kerjanya, membuat asumsi Jasmine pada gadis bernama Yoela benar adanya.
Untuk apa anak seusianya pergi ke bar. Dan bukan hanya sekali, tapi mungkin berkali - kali. Dan yang Jasmine takutkan adalah Aurora akan ikutan pergi ke bar.
Memang benar, Cessie bekerja di bar. Tapi hanya sebagai pelayan. Bukan pekerjaan yang sampai menjual kehormatan. Lagipula, pekerjaan itu hanya sampingan.
Lagipula kalau hanya untuk makan dan minum. Tanpa bekerjapun, uang ditabunganya akan terus mengalir. Sebab Cessie adalah anak seorang pebisnis yang sukses. Kedua orangtuanya sudah banyak dikenal dari golongan pebisnis.
Namun sayangnya, perhatian dan kasih sayang untuk putri mereka satu - satu itu nol besar. Keduanya jarang berada di rumah. Bahkan tinggalnya juga sudah pisah rumah.
Mereka hanya memberikan uang pada Cessie, tapi tak pernah menghabiskan waktu seharipun dengan Cessie. Jangankan sehari, sejam pun, Cessie ragu kalau kedua orangtuanya itu mau menemaninya.
Makanya, Cessie lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah. Toh dirumahnya pun tak ada siapa - siapa. Paling hanya pembantu dan satpam saja. Dan Jasmine menjadi sahabat satu - satunya yang dimiliki oleh Cessie.
Jasmine sendiri juga sudah tahu bagaimana kisah hidup sahabatnya itu. Dan dia sama sekali tidak keberatan kalau dijadikan sandaran bagi sahabatnya itu.
Jasmine masih memperhatikan Aurora yang kini tengah menyantap makanannya itu. Namun begitu Aurora menoleh kearah kanannya, dia bersitatap dengan Jasmine.
Tertangkap basah tengah memperhatikanya membuat tersenyum kikuk. Jangankan dibalas, Jasmine malah mendapatkan tatapan sinis dari anaknya itu.
Senyum di bibir Jasmine luntur dan dia menghela napas sabar. Jasmine dan Cessie kembali melanjutkan obrolan mereka dan tentunya menyantap makanan yang sudah mereka pesan.
...❤ ❤ ❤...
Rasa resah mulai mengelayuti hati Jasmine begitu tak mendapati anak keduanya itu dirumah. Saat di kafe tadi, Aurora dan ketiga temannya itu lebih dulu meninggalkan kafe.
Jasmine pikir, Aurora akan pulang. Tapi saat dia sampai rumah, Aurora belum pulang begitupun dengan Jackson. Sedangkan Wilson, kata Bi Iyah sudah ada di kamar.
Saat makan malam, Jasmine sudah menyuruh Wilson untuk makan bersama. Tapi dia menolak dengan alasan tidak lapar.
__ADS_1
Deru motor yang terdengar membuat Jasmine segera membuka pintu rumah. Ternyata itu Jackson yang baru pulang. Jackson yang sudah selesai menaruh motor dan helmnya digarasi segera melangkah menuju pintu rumah.
Namun netranya sudah melihat keberadaan istri muda dari ayahnya itu. Hal itu membuat Jackson memutar bola matanya malas.
Baru saja ingin masuk kedalam rumah. Tapi terhenti akibat panggilan dari Jasmine itu. "Kau tidak bersama dengan Aurora?" Alis Jackson bertaut. Kenapa orang di depannya ini bertanya mengenai Aurora. Padahal kan jam segini Aurora ada di kamarnya.
"Tidak." Balas Jackson acuh.
"Bisakah kau telpon adikmu sekarang juga. Soalnya dia belum pulang."
Aneh,
Itulah yang dirasakan oleh Jackson. Tidak biasanya adiknya itu keluyuran jam segini. Kalaupun ingin pergi, pasti mengabarinya atau paling tidak memberitahu orang rumah.
"Kenapa tidak ditelpon?" tanyanya datar. Jasmine mengambil napas panjang. "Sudah bahkan sampai puluhan kali. Tapi tidak satupun yang diangkat." jelasnya.
Jackson mendengus mendengar ucapan itu. Lalu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi adiknya itu. Dan dia sudah mencobanya 3 kali, tapi tak ada satupun yang diangkat membuatnya berdecak kesal.
"Ck." Tanpa mengatakan apapun, Jackson langsung berlalu dari hadapan Jasmine. Bahkan sekedar berpamitan pun tidak dia lakukan.
Jasmine mengikuti langkah Jackson yang kini tengah mengambil helm dan motornya dari garasi.
Baru saja ingin menstater motornya, kedatangan seseorang yang mereka tunggu membuat keduanya menatap kearahnya.
Baru saja tiba, Aurora sudah mendapati sang kakak dan istri muda ayahnya itu di pintu garasi. "Kakak mau kemana? Ini kan sudah malam."
Pertanyaan itu mendapat decakan dari Jackson. Dia sendiripun kembali meletakkan motor dan helmnya dengan kasar. Kini dia melangkah menuju kearah Aurora.
"Seharusnya kakak yang bertanya begitu. Kalau tahu sudah malam. Kenapa kau baru pulang?"
Mendapati pertanyaan seperti itu membuat Aurora gusar. Apalagi sepertinya kakaknya ini tidak dalam mood yang baik. Dan pasti dia akan kena omelan pedas dari kakaknya ini.
"Ta ... di, aku ada kerja kelompok, Kak." ucapnya yang jelas adalah kebohongan. Sayangnya Jackson langsung percaya begitu saja.
Untungnya kakaknya ini langsung percaya begitu saja. Coba kalau tidak, dia pasti akan di interogasi oleh kakaknya itu.
"Ayo masuk. Kau pasti belum mandi, kan." Keduanya masuk kedalam rumah, mengabaikan Jasmine yang sejak tadi menonton mereka.
Setidaknya Jasmine bisa bernapas lega, sebab anak keduanya itu sudah pulang ke rumah dengan selamat. Walaupun untuk alasannya tadi, Jasmine kurang percaya. Tapi yang pasti, anaknya itu baik - baik saja. Itu sudah cukup bagi Jasmine.
Jasmine pun melangkah masuk kedalam rumah. Tapi kenapa pintunya tidak bisa dibuka. Di cobanya sekali lagi, siapa tahu pintu itu memang agak susah dibuka.
Tapi sudah pulang kali Jasmine mencoba untuk membukanya, namun ujung - ujungnya sama saja. Tetap tidak mau terbuka.
"Jackson, Aurora tolong buka pintunya." ucapnya sambil mengetuk pintu itu berulang kali. Tapi tak ada sahutan dari dalam.
Karena merasa lelah, Jasmine memilih duduk di depan pintu baik sesekali mengetuk pintu itu. "Siapapun tolong bukain pintunya." Udara malam berasa menembus ke tulangnya.
Sebab jam sudah menunjukkan pukul 21.54, tentu saja udara menjadi lebih dingin. Tapi walaupun sudah memakai pakaian lengan panjang dan celana panjang. Namun tak menghalangi rasa dingin yang mulai menyelemutinya itu.
Para pekerja jam segini sudah berada di rumah belakang. Rumah yang dibuat untuk para pekerjaan untuk beristirahat. Mungkin yang berada di luar hanya ada satpam saja.
Jasmine menelungkupkan kepalanya dilipatan tangannya. Dia sudah pasrah, kalau memang harus menunggu diluar. Dia juga lupa membawa ponselnya, setidaknya kalau ada ponsel, kan Jasmine bisa menelpon Bi Iyah.
...🌾 🌿 🌾...
Pagi mulai bersambut, pintu yang sejak semalam tertutup kini mulai terbuka, menampilkan sosok paruh baya yang menatap terkejut sosok majikannya.
"Nyonya, bangun. Kenapa malah tidur disini?" ucap Bi Iyah sambil sedikit menggoyangkan bahu nyonyanya itu.
Mendapati tepukan dibahunya membuat Jasmine yang masih terlelap itupun perlahan mendongakkan kepalanya. Tampak langit yang masih kemerahan menerpa netra miliknya.
__ADS_1
"Sudah pagi ternyata." gumamnya begitu pandangannya mulai jelas. Dia menoleh kearah samping kirinya dimana terdapat Bi Iyah yang kini menatapnya bingung.
"Eh, Bibi." Sapanya pada kepala pelayan dirumahnya ini. "Nyonya dari kapan di luar?" Jasmine hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan itu.
Kalau dia jujur, apa mungkin Bi Iyah percaya kalau dia di kunciin sama kedua anaknya itu. Makanya daripada menjawabnya. Lebih baik Jasmine diam saja.
"Bi, anak - anak sudah bangun?"
"Den Jackson dan Den Wilson sudah bangun, Nya."
Mendengar hal itu Jasmine mengangguk. "Tolong, bangunkan Aura ya, Bi. Saya mau mandi dulu. Dan bilang pada anak - anak, kalau nanti kita sarapan bersama."
Bi Iyah mengangguk atas perintah nyonyanya itu. Jasmine pamit berlalu dari sana menuju ke kamarnya. Dia ingin mandi dan siap - siap untuk sarapan bersama anak - anaknya itu.
Tak begitu lama, ketiga anak dari Venson itu sudah melangkah turun menuju ke ruang makan. Mereka sebenarnya malas makan bersama istri muda ayahnya itu. Tapi kalau tidak ingat akan ancaman dari sang ayah yang akan membatasi jam bermainnya. Membuat ketiganya terpaksa makan bersama dengan penganti ibunya itu.
Jackson sudah duduk di kursinya. Sedangkan Aurora dan Wilson baru turun dari tangga terakhir. Pandangan Aurora menyapu kearah meja makan. Tapi objek yang dia cari tidak ada disana, membuatnya mendengus pelan.
Dia paling tidak suka menunggu. Apalagi menunggu orang yang dia tidak suka. Dan kini, istri muda ayahnya itu belum juga datang. Dan itu artinya, dia harus menunda acara sarapannya, sampai istri muda ayahnya itu datang.
"Pagi, Kak." Sapa keduanya pada Jackson yang masih berkutat pada ponselnya itu.
Tanpa menoleh, Jackson membalas sapaan itu. "Pagi." Kedua kakak adik itu segera menempati tempat duduk mereka masing - masing.
"Bi, Dia dimana?" Bi Iyah tahu siapa yang dimaksud oleh anak majikannya itupun langsung menjawabnya. "Nyonya masih bersiap nona. Dan raden serta nona dimohon menunggu sampai nyonya datang.
"Ck, memangnya dia siapa? Rumah ini juga bukan miliknya. Kenapa kita yang harus menunggu dia sih." omel Aurora.
Namun tak lama senyum miring terbit di bibirnya. Sebuah ide mulai melintas di pikirannya. Dan untuk mensukseskan rencananya, dia harus mengalihkan perhatian pelayannya ini.
"Bi, tolong ambilin sepatuku yang warnanya abu - abu." Tanpa protes, Bi Iyah langsung menuju ke ruangan yang berisi sepatu - sepatu milik majikannya itu.
Setelah melihat kepergian sang pelayan, dia langsung menuju ke dapur. Dan keberuntungan sepertinya masih berpihak padanya. Sebab, tidak ada satupun pelayan yang berada di dapur.
Dan itu semakin memuluskan rencananya. Segera diambilnya benda yang dia butuhkan, kemudian dia bawa keluar. Kedua saudaranya hanya diam dan bingung dengan kelakukan Aurora tadi.
"Kau mau ngapain dengan benda itu?"
Pertanyaan dari sang kakak dia hiraukan. Sebab, sekarang dia tengah menuju kearah tangan. Dibukanya benda itu untuk mengeluarkan cairan didalamnya. Masih dengan aktivitasnya tadi, Aurora tersenyum senang karena memikirkan rencananya ini akan berhasil dengan sempurna.
Sekarang, lantai dan 2 tangga terbawah sudah berhiaskan cairan kuning yang bersumber dari minyak goreng. Setelah itu, Aurora kembali menuju dapur setelah mendengar suara langkah kaki dari lantai atas.
Dia kembali duduk dengan tenang, begitu melihat istri muda ayahnya itu mulai turun dari tangga. Di setiap pijakan kaki Jasmine yang semakin mendekat membuat senyum di bibir Jasmine terulas.
Dalam hati dia menghitung mundur. Seolah menantikan peristiwa paling bersejarah dalam hidupnya.
...Lima ......
...Empat ......
...Tiga ......
...Dua ......
...Sa ......
...Bruk...
Jasmine merasa dunianya berputar dalam sekejap. Rasa pening di kepalanya mulai terasa, seolah mencengkeram syaraf kepalanya itu.
Bahkan Jasmine sejenak mati rasa pada kaki kanannya. Bahkan suara teriakan panik Bi Iyah hanya seperti bisikan di telinganya.
__ADS_1
...❤❤❤❤❤❤❤...
...Gimana nasib Jasmine selanjutnya? Tungguin di episode selanjutnya, Ya. Terimakasih💖...